
Setelah Melody dan Inez kembali dari bulan madunya yang sedikit berubah dari rencana, karena tidak melanjutkan perjalanan mereka ke Itali. Inez masih mencari kabar terbaru tentang ayahnya. Mereka berdua masih belum mengetahui kabar ayahnya.
"Beberapa pengawalku akan menjalankan rencananya hari ini." ujar Melody menenangkan hati Inez.
"Apa sebenarnya yang kamu rencanakan?" tanya Inez. Melody tersenyum.
"Kamu segera mengetahuinya. Percaya kan padaku bahwa aku selalu berhasil dalam sebuah rencana?" tanya Melody. Istrinya memaksakan senyumnya karena masih khawatir tentang ayahnya.
Dering ponsel Melody terdengar. Melody menatap nomor tidak di kenal yang menelponnya dan mengerutkan keningnya.
"Angkat" Suruh Inez. Menatap Melody yang ragu untuk mengangkat telpon Inez.
"Halo." sapa Melody mengangkat telpon tersebut.
"Halo." sapa Melody lagi karena tidak ada suara dari ujung telpon.
"Halo!" Bentak Melody lagi yang mulai kesal. Inez tersentak mendengar nada suaranya.
"Kamu tidak akan bisa pergi dengan tawa bahagia, ketika kehidupanku kamu rusak." ucap suara di ujung telpon. Melody berusaha mengenali suaranya.
"Maksud kamu apa?" tanya Melody. Inez mengambil ponsel dari tangan Melody. Mengklik sebuah simbol speaker.
"Kamu tidak akan lepas dari kesalahan ini. Kamu akan bertanggung jawab dengan apa yang kamu buat." Kata sebuah suara itu lagi yang terdengar oleh Inez juga.
"Kemana ayahku?!" bentak Inez menuduh
"Oh halo Mrs. Dirgantara. Senang mendengar suaramu! Pertanyaanmu salah! Seharusnya yang kamu tanyakan, siapa ayahnya?" suara wanita itu bukan seperti suara Serena. Inez dan Melody tidak tahu apa yang sedang wanita di ujung telpon itu bicarakan.
"Apa maksudmu?! Jika kamu berniat sesuatu yang buruk terhadap keluargaku, kamu tidak akan bisa lari kemanapun! Aku pasti akan menemuimu! " bentak Melody membentak lagi.
"Melody. Selalu khas, apa kamu pikir kamu sudah berubah? Tidak Melody, sisi gelapmu menanti kehidupan bahagiamu. Siap menghancurkanmu berkeping-keping. Dan for the record, kamu tidak perlu mencari ku. Aku yang akan menemuimu." ancam wanita itu. Samar-samar Melody mengingat wanita itu. Dia langsung menutup telponnya.
"Kenapa kamu tutup?" tanya Inez curiga.
"Tidak perlu lagi dengan omong kosong." jawab Melody tampak berpikir.
"Apa yang kamu sembunyikan?" tanya Inez. Melody menolehnya.
"Aku tidak memiliki sesuatu untuk di sembunyikan." ujar Melody tampak kesal.
"Lalu apa yang kamu miliki dengan masa lalumu? Selama ini, kita sama-sama tahu. Bahwa selalu tentang masa laluku yang di bicarakan. Kita tidak pernah membicarakan tentang masa lalu mu." tukas Melody.
"Karena masa lalu bagiku hanya masa lalu. Untuk apa aku bicarakan lagi? Membahas kehidupanku yang gelap? Membuatmu mengasihani kehidupanku?" tanya Melody menyerang Inez dengan pertanyaan dan kilatan mata amarah. Melody tidak begitu suka tentang hal ini.
"Jika aku bisa memaafkan diriku atas masa lalu ku. Ku rasa kamu harus begitu juga." ujar Inez yang pergi meninggalkan Melody di ruang keluarga. Tertampar dengan kata-kata Inez. Melody terdiam mengingat sebuah nama yang membuat hatinya terbakar rasa amarah.
Melody dan Inez tinggal di sebuah rumah yang Melody beli di Jakarta. Di kawasan Elite yang terletak di Kemang, Jakarta Selatan. Jaraknya di tengah-tengah antara rumah keluarga Inez dan Melody.
"Apa yang coba kamu lakukan, Lexa?" gumam Melody menggenggam ponsel nya.
Di satu sisi Inez sedang memikirkan bagaimana mencari ayahnya. Sudah berkali-kali mencoba menghubungi Lala tetap saja tidak terhubung.
"Apa yang aku hadapi kali ini?" gumam Inez menatap lurus ke luar dari Jendela kamarnya.
"Apa aku siap dengan apa yang akan terjadi?" gumamnya lagi sebelum suara pintu kamar terbuka. Melody menghampirinya. Inez masih bersikap acuh.
"Apa kamu marah?" tanya Melody. Inez menggelengkan kepalanya.
"Apa yang kamu rasakan?" tanya Melody lagi.
"Aku bingung." jawab Inez.
"Maafkan aku. Aku tidak ingin mengusikmu dengan masa laluku ketika kita harus bersiap diri menghadapi masalah kita terhadap Serena. Kita akan menghadapi nya bersama-sama,kan?" ucap Melody yang sebenarnya pertanyaanya itu untuk meyakinan untuk dirinya sendiri. Inez menoleh nya menatapnya penuh dengan kasih.
__ADS_1
"Maafkan aku. Kita harus bersiap menghadapi semua kemungkinan yang akan terjadi pada kita. Baik atau buruk. Ya, kita akan menghadapinya bersama-sama. Menyelesaikannya bersama-sama" tukas Inez senyum mengembang di wajahnya. Melody memeluknya erat.
"Menyesal kembali ke Indonesia??" tanya Inez menggoda suaminya yang tampak diam.
"Sepertinya aku harus mengikuti instingmu menjauhi masalah." Ledek Melody lagi.
"Tapi aku suka menyelesaikan masalah bersamamu. Dan hari ini kurasa kita bisa melakukan hal selama ini kamu ingin lakukan setelah 7 hari" Inez menggoda Melody. Melody mencium bibirnya halus. Adrenalin dalam diri mereka memecahkan ketegangan yang terjadi diantara mereka.
"Lala!!!" Panggil Mr. Wilson.
Lala datang menghampiri pria tua tersebut.
"Siapkan helikopter. Saya akan pulang ke Jakarta." Perintah Mr. Wilson. Mr.Wilson beserta orang kepercayaannya telah bersembunyi di sebuah pulau terpencil. Pada hari ini Mr. Wilson memutuskan untuk kembali ke Indonesia, di karenakan mimpi buruk terjadi di dalam tidurnya beberapa hari ini. Dia melihat tubuh gadis kecil yang terbujur kaku. Dia membalikkan tubuh itu ternyata tubuh itu milik Inez.
Alam bawah sadarnya menyadari bahwa anak satu-satunya yang ia miliki sedang dalam bahaya. Dia tidak ingin itu terjadi. Dia tidak ingin bahwa dia lah penyebab anak perempuannya di posisi bahaya seperti ini, namun dia tidak berada disampingnya untuk mencegahnya. Dia tidak ingin lari kali ini. Dia memutuskan untuk menghadapinya.
Lala mengangguk pergi dan membuat beberapa panggilan untuk mempersiapkan kepulangan atasannya tersebut.
Inez memandang Melody yang diam sejak berada di mobil.
"Kita mau kemana?" tanya Inez membuka pembicaraan.
"Kita akan segera tahu apa yang ingin Serena lakukan." ujar Melody sambil menoleh memandang Inez.
"Bagaimana caranya?" tanya Inez.
"Dengan caraku." jawab Melody.
Mereka memasuki sebuah gedung tua yang tidak terawat. Jantung Inez kini berdetak dengan cepat. Tangannya menggenggam erat Melody.
"It's okay. I'm here." ujar Melody menatap Inez.
Mereka keluar dari mobil dan memasuki sebuah ruangan. Inez menatap tidak percaya Melody menculik Serena.
"B*j*ngan tengik!" Teriak Serena menatap Melody.
"Wanita sok suci!" teriak Serena mendengar Inez memarahi Melody.
"Aku membuatnya pergi kesini dengan keinginannya." tukas Melody.
Melody memiliki banyak pengawal yang tidak tampak seperti pengawal. Dia menjalankan sebuah rencana yang membuat Serena pergi ke tempat ini dengan kemauannya.
Melody memutar sebuah rekaman CCTV.
"Apa tampak pengawalku seperti menculiknya?" tanya Melody, Inez melihat rekaman tersebut. Serena terlihat dengan senang hati mengikuti pengawal Melody.
"Apa yang kamu lakukan?" tanya Inez.
"Aku hanya memiliki beberapa kejahatan yang ia tutupi. Aku memerasnya dengan itu." Melody menjelaskan dengan senyum puas di wajahnya.
Inez menatapnya dengan rasa bersalah.
"Kali ini aku terdiam bukan setuju dengan caramu. Tapi...."
Sebelum Inez menyelesaikan kalimatnya, telpon Inez berdering. Inez terkejut senang mendapatkan kabar dari ayahnya. Ia segera mengangkat telpon dari ayahnya.
"Aku sedang bersama Serena. Ya, Melody yang membawanya. Apa?" Inez tampak mengerutkan kening.
"Mengapa aku tidak boleh bicara dengannya? Aku ingin tahu apa yang membuat dia mengejarku untuk membuatku dalam bahaya. Apakah dengan membuat ibuku pergi darimu itu tidakkah cukup?" tanya Inez dari ujung telpon.
"Tidak. Kamu tidak bisa melarangku" tukas Inez lagi. Setelah itu dia menutup telponnya. Inez menatap Serena yang tersenyum kecut.
"Apa yang membuatmu membenciku?" tanya Inez kepada Serena. Serena terdiam masih dengan senyum angkuhnya menatap Inez tajam dari tempat ia duduk.
__ADS_1
"Dengan kamu di lahirkan dari rahim wanita yang sangat ku benci, itu seharusnya sudah cukup sebagai alasanku membencimu. Namun, ayahmu menambah kebencianku terhadapmu!" jawab Serena dengan sinis.
"Aku tidak pernah memilih ingin menjadi anak siapa?!!!!! Jika aku bisa memilih aku tidak akan ingin berada di posisi ini. Lagipula, apa salahku???? Jika kamu membenci kedua orangtua ku, lakukanlah kepada mereka! it's not unfair kalau harus mencelakakan ku? Bisakah kamu memaafkanku?" tanya Inez menatap mata Serena.
"Maaf tidak akan mengembalikan apa yang telah ayah kamu renggut!" Bentak Serena.
"Apa yang telah ayah aku ambil? Semua hartamu? Aku akan kembalikan semua itu!" Inez membalas dengan suara tinggi. Melody menggenggam tangannya.
"Inez!" teriak suara ayahnya yang menerima pesan lokasi dari Melody. Melody dan Inez menoleh.
"Saya ingin tahu, siapa sebenarnya yang anda tuju? Benarkah istri saya? Atau sebenarnya itu hanya tipuanmu supaya ayah mertua saya datang untuk menyelamatkan anaknya." tukas Melodu mengintimidasi Serena.
"Salah satu kesalahan Anda membawaku kesini adalah membiarkanku tidak di ikat." ujar Serena. Serena dengan gerakan cepatnya mengambil senjata dari balik bajunya bagian belakang. Menembaki ke arah Mr. Wilson dengan brutal. Inez terhenyak menatap ayahnya yang tidak berdaya di tembaki di bagian dada. Melody menggenggam tangan Inez tidak membiarkan ia menghadang satu peluru pun yang menghujani tubuh ayahnya.
Ayahnya terpental jatuh. Serena tampak tersenyum puas.
"Daaaaaddddd!!!!!!" teriak Inez histeris. Melody memeluknya erat.
"Itu yang ku rencanakan." tukas Serena membalikkan tubuhnya.
"Dan ini yang kurencanakan." balas Melody tersenyum penuh kemenangan. Menunjukan sebuah ponsel dimana dari akun Instagram milik nya memutar ulang kejadian Serena menembak ayah mertua nya. Serena terhenyak. Seluruh dunia tahu apa yang ia lakukan. Melody menggunakan Live instagram untuk merekam semua kejadian tersebut dari balik tubuh Inez. Selang beberapa menit, ayah Inez berdiri. Dia tidak terluka sedikit pun.
"Apa yang kalian lakukan!!!" Teriak Serena yang sekarang histeris. Melody tersenyum puas, Inez menghela nafasnya. Memeluk suaminya.
"Dia telah membunuh ayahku!!! Demi sebuah persaingan bisnis dia membunuh ayahku!!!" teriak Serena. Inez pun terkejut.
"Ya, darah wilson yang mengalir di tubuhmu adalah darah pembunuh! Ayahmu seorang pembunuh!" ucap Serena. Mr. Wilson terhenyak mendengar Serena membongkar kejahatannya di masa lalu. Inez menatapnya tajam. Bertanya-tanya apakah benar ayahnya melakukan itu. Melody menyuruh pengawalnya menangkap Serena. Serena berusaha mengelak dengan mengamuk.
"Kalian semua pembunuh!" bentak Serena sebelum dibawa pergi oleh pengawalnya. Beberapa pengawal Melody adalah seorang polisi.
"Aku akan menyerahkan diriku. Ya, aku membunuhnya." ujar Mr. Wilson menyerahkan tangannya ke salah satu pengawal Melody. Melody tidak dapat berkata apa-apa. Inez juga menatapnya kecewa.
"Dad, jaga dirimu baik-baik. Aku harap semua ini akan bisa menebus rasa bersalahmu." tukas Inez menutup matanya membalikkan tubuhnya tidak ingin melihat ayahnya di bawa oleh pengawal Melody. Melody menganggukkan kepalanya.
Inez terduduk lemas. Bahwa semua tidak seperti dengan apa yang ia harapkan. Ayahnya akan di sidang terkait pembunuhan kepada pesaingnya yang kala itu adalah ayah mertuanya.
"Aku tidak tahu bahwa harta dapat membutakan orang dari sebuah norma." ujar Inez menutup wajahnya dengan tangannya. Ia menangis. Lala yang sedari tadi berada di sana juga menangisi apa yang telah terjadi.
"Lala, supirku akan mengantarkan kamu pulang. Kembali esok hari ke rumahku." ujar Melody memberi Lala perintah. Lala mengangguk dan pergi dari gedung tua itu.
Melody mengangkat tubuh Inez, memapahnya dan memeluknya.
"Maafkan aku." ujar Melody. Inez terus menangis hingga sampai di rumahnya. Melody membawa nya ke kamar. Menyalakan air yang mengucur di bath tub.
Inez terduduk kali ini dia tenggelam bersama pikirannya.
"Aku bukan pembunuh." ujar Inez. Melody menghampirinya yang sedang duduk. Inez memeluk Melody yang berdiri di depannya. Tangannya melingkari pinggang Melody. Melody mengusap lembut rambut Inez.
"No. You're not." jawab Melody.
Melody membuka perlahan kancing kemeja Inez.
"Aku akan memandikan mu." ujar Melody, membawa Inez masuk ke dalam Bath tub kamar mandi yang telah dipenuhi air hangat.
"Bagaimana ayahku bisa masih hidup setelah di tembak oleh Serena?" tanya Inez mengangkat wajahnya menatap Melody yang tampak serius mengguyurkan air hangat ke tubuh Inez.
"Aku mengiriminya pesan. Dan memperingatkan untuk dia menggunakan jaket anti peluru." cerita Melody.
"Bagaimana kamu bisa menyuruhnya menggunakan jaket anti peluru sedangkan kamu biarkan aku tanpa jaket itu. Setidaknya kemungkinan dia menembakku karena membenciku." omel Inez.
"Sebenarnya saat aku mendapatkan tentang beberapa laporan kejahatan tentang Serena yang telah di tutup kasusnya. Ada yang aku temukan terkait ayahmu. Ayahmu pernah di duga sebagai pembunuh ayah Serena, tapi dia memiliki alibi kuat dan tidak ada bukti yang bisa merujuk dia sebagai pembunuh. Dan hari ini ayahmu mengakuinya dan itu sudah cukup untuk membuat ayahmu di penjara." jawab Melody terdiam. Ia membuka kancing kemeja nya dan masuk ke dalam bath tub.
"Jadi aku tahu bahwa yang ia tuju bukan kamu. Kamu hanya alat untuk memancingnya mengikuti permainannya. Namun, aku memilih untuk menciptakan permainanku lebih dulu. Karena aku tidak ingin kamu menyerahkan diri sebagai umpan tanpa aku di sampingmu. Aku akan gila jika itu terjadi padamu." bisik Melody di telingan Inez. Inez menoleh suaminya. Menciumnya kasar. Memegang seluruh kendali. Menggenggam kedua wajah suaminya. Melody tampak terkejut Inez melakukan hal seperti itu.
__ADS_1
"Jantungku berdegup kencang." ujar Inez memberi tahu disela ciumannya yang mulai melembut.
"Aku tahu apa yang kamu butuhkan." jawab Melody tersenyum.