Aku Mencintaimu Tanpa Tanda Tanya.

Aku Mencintaimu Tanpa Tanda Tanya.
7. 12 September 2015


__ADS_3

"Ivaaaannnnnnn!!!!!" Teriak Inez yang berlari mengejar Ivan di atas hamparan pasir putih.


Ivan terus berlari menghindari Inez.


"Ayo, apa kamu bisa mengejar ku?" Tanya Ivan berteriak yang jaraknya cukup jauh dari Inez.


"Aduuuhh.. aduuh..." Ujar Inez memegang kepalanya dengan kedua tangan. Ivan yang melihatnya langsung panik dan berlari ke arah Inez. Setelah hanya berjarak beberapa langkah, Inez langsung menerjang Ivan membuat Ivan terjatuh menerpa hamparan pasir. Inez hanya tertawa terbahak-bahak.


"Oh kamu melakukan hal itu." Ujar Ivan kesal karena sudah tertangkap oleh Inez. Posisi Inez sekarang sedang tengkurap diatas tubuh Ivan yang terbaring diatas pasir. Inez masih tertawa, Ivan menatapnya dalam, jemarinya mengambil rambut yang terlepas dan menyelipkan ke telinga Inez. Inez pun tiba-tiba gugup dan berhenti tertawa. Detak jantung Inez kini tidak beraturan, entah karena terlalu lelah mengejar Ivan atau karena apa yang sedang terjadi sekarang.


Ivan masih menatap Inez dalam. Inez yang canggung langsung mengambil sikap untuk berdiri. Inez tidak berani menatap mata Ivan.


"Nez" Panggil Ivan mencoba menangkap tangan Inez yang sedang sibuk merapikan Hoodie hitamnya yang terkena pasir pantai.


"Hmmm.." gumam Inez.


"Nez, look at me." Pinta Ivan, membuat Inez terdiam dan menoleh perlahan menatap mata Ivan.



'aku tidak tahu apa yang kulakukan. Ini berlebihan. Mata abu-abu yang menatapku kini membuatku takut. Tapi aku tidak tahu apa yang aku takutkan. Ivan..' Gumam Inez dalam hatinya.


"Nez," Panggil Ivan lagi yang masih menatap Inez lekat. Tidak lama kemudian Ivan menjawil hidung Inez lalu tertawa.


"Hahahaahhaha kamu seharusnya lihat wajahmu barusan, Nez!!!!! hahahaahha" Canda Ivan menertawakan Inez yang sekarang cemberut menatapnya.



Inez tidak menyangka Ivan akan membuat lelucob seperti itu. Inez menatap Ivan dengan kesal.


"Nez, cepet buka jaketnya. Kita main air. Ayo." Ajak Ivan mengulurkan tangannya. Inez menghiraukannya, dia melepaskan jaketnya dan tas nya. Kini, ia hanya menggunakan Kaos putih yang sangat tipis dan celana jeans pendek. memberikan ponsel nya ke Ivan yang di terima Ivan dengan bingung.


"Karena kamu mengerjaiku dengan lelucon terburukmu, sekarang kamu akan menjadi fotografer ku. Foto aku." Pinta Inez masih dengan nada kesal.


"Baiklah, aku akan memotret mu. Kenapa tidak dari tadi kamu memberikan ponselmu supaya bisa ku abadikan wajah aneh mu tadi. Lagipula, apa kamu gugup? Ekspresi apa barusan?" Tanya Ivan yang masih menggodanya.


"Diam dan Foto saja aku." Perintah Inez, Ivan masih tertawa seperti anak kecil.

__ADS_1




Ivan menatap Inez dari kamera ponsel nya.


'Aku mengenalmu sejak kamu masih merah, sekarang kamu tumbuh sebagai gadis yang cantik, Inez. Aku akan selalu menjagamu. Dan tidak akan membiarkan seseorang menyakiti hatimu.' Gumam Ivan dalam hati.


Ivan menyerahkan ponsel kepada Inez. Inez tersenyum lebar melihat hasil fotonya.


"Ini bagus, ini bagus, ini bagus, aaaaa semua bagus." Ucap Inez melihat fotonya satu persatu.


"Siapa dulu fotografernya." Bangga Ivan.


"Thankyou, Monkey!" Seru Inez melompat memeluk Ivan yang tubuhnya lebih tinggi dari padanya.


Ivan memeluk Inez dan sedikit menggendongnya lalu langsung memutar tubuhnya. Inez berteriak untuk meminta berhenti melakukan itu tapi itu membuat Ivan semakin keras berputar.


"Hahahahaha" Ivan tertawa.


" Gak lucu!" Omel Inez. Entah apa yang terjadi pada perasaannya bahwa dia tidak suka dengan beberapa lelucon Ivan hari ini.


Setelah pagi hari tadi Inez dan Ivan melakukan Diving dan melihat keindahan di bawah laut, dan menjelang sore bermain-main di pantai. Kini, Inez telah menanti Sunset di pinggir pesisir.


"Mana kamera ponsel mu, Ketika Sunset tiba aku akan mengabadikan dengan sesuatu yang sangat kau cintai." Ujar Ivan.


Inez memberikan ponselnya.


"Bisakah kamu tidak bercanda seperti siang tadi?" Inez membuka perbincangan.


"Kenapa? Apa kamu mulai mencintaiku?" Tanya Ivan menggoda nya lagi.


"Bukan itu, hanya saja... hanya..." Inez berusaha mengelak tapi hatinya tidak dapat berbohong. Perasaan di hatinya terhadap Ivan telah berubah. Kini dia menginginkan Ivan lebih. Dari setiap sentuhan yang di berikan Ivan kulitnya bereaksi berlebihan. Seperti ada kupu-kupu di perut Inez.


"Aku akan jujur padamu." Ucap Inez menolehkan pandangannya ke Ivan yang sedang asik memotret diri Inez secara candid.


"Hmmm.. " Ivan bergumam mengiyakan. Inez segera menatap matanya.

__ADS_1


"Van, i think i..."


"Nez, Sunset nya udah mulai." sela Ivan menunjuk Sunset di ujung pantai. Inez menghela nafas, dia menengok kearah matahari yang segera tenggelam.



"Ayo, satu dua ... ti.. ga" Suara kamera ponsel terdengar. Ivan tersenyum memberikan ponsel kepada Inez menunjukan hasil potret nya.


"Tadi kamu mau jujur apa?" Tanya Ivan melanjutkan perbincangannya.


Inez menggelengkan kepalanya.


"Masuk ke dalam yuk. Kita siap-siap buat makan malam" Ajak Ivan.


Inez mengangguk dan mengikuti Ivan masuk ke dalam.


'Apa-apaan sih tadi. Untung aja belum jadi ngomong. Mau jadi apa gue kalau kata-kata itu keluar duluan dari mulut gue. Lagian Ivan kayanya bersikap seperti biasanya. Gue nya aja yang aneh.' Inez berbicara dalam hatinya.


Mereka berdua masuk ke dalam kamar masing-masing. Ivan merebahkan tubuhnya di atas kasur. Dia memikirkan hari ini. Tawa dari Inez, setiap senyumannya, semua terlintas dalam kepalanya. Hingga dia terlelap karena kelelahan.


Sementara itu, Inez sedang bersiap untuk pergi ke Restaurant. Karena kata Ivan dia akan menemuinya di Restaurant. Inez berdiri di depan pintu penghubung. Ingin mengetuk pintu tapi ia urungkan niat itu, menggelengkan kepalanya, lalu berjalan keluar ruangan menuju restaurant.


Inez melirik jam nya, pukul 19.22


Ivan masih belum juga muncul. Hampir setengah jam dia belum juga tiba. Hati Inez sumringah.


'apa dia mau kasih kejutan ya?' Pikir Inez. Dia menunggu sambil menyesap wine dan hidangan pembuka.


Sekarang sudah puku 19.57 Ivan juga tidak kunjung datang. Inez mulai gelisah menunggu. Hidangan utama sudah disajikan dan mulai dingin. Inez masih mencoba menunggu hingga pukul 20.20 ia kesal sendiri menanti Ivan. Akhirnya dia bangkita dari Restaurant dan menuju kamar nya.


Dengan kesal, dia membanting pintu kamarnya. Dengan segera dia mengetuk pintu penghubung kamar antara mereka berdua.


'tok.tok.tok.tok' Inez mengetuknya dengan kencang. Tidak ada suara dari dalam. Ia mencoba mengetuknya sekali lagi. Dan juga tidak ada jawaban. Dia mencoba membuka pintunya. Masuk kedalam perlahan. Dan ia melihat Ivan sedang tertidur pulas, raut wajahnya terlihat melelahkan. Inez yang tadinya kesal berubah jadi simpatik. Melihat Ivan tidur. Mendengarkan suara nafas tidurnya.


'Apa yang kamu impikan?' Tanya Inez dalam hatinya memandang Ivan.


Sebelum beranjak pergi, Inez mendekat ke arah wajah Ivan. Dan menempelkan bibir mungilnya ke bibir Ivan. Inez mengecup lembut hanya sebentar. Inez tersenyum dan mengangkat kepala nya lagi. Lalu ia berlalu dari kamar Ivan.

__ADS_1


Didalam kamar Inez mengganti baju nya dengan baju tidurnya. Ia mencoba untuk tidur sambil menatap langit-langit. Jemarinya memainkan bibirnya yang baru saja mengecup bibir Ivan.


'Aku tidak tahu apa yang terjadi dalam hatiku. Kamu bisa membuatku bahagia, marah, kesal, konyol dalam satu waktu. 17 tahun kamu menemaniku tumbuh bersama. Mengikuti segala perkembangan terbaru ku dari kecil. Orang pertama yang akan selalu berbahagia dengan keberhasilan ku. Orang pertama yang berduka dengan kesedihan yang menimpaku, Orang yang menaruh namaku di daftar pertama dalam hidupnya, mengapa semua ini aku baru sadari sekarang. Mengapa sebelumnya aku mengelaknya, berbuat sesuka hatiku tanpa memikirkan perasaannya. Apa dia memiliki perasaan yang sama terhadapku, apa aku perlu mendengar kalimat itu? Ya, aku tidak mau dibunuh oleh keraguanku. Aku perlu mendengar kalimat itu langsung dari Bibir Ivan. Aku mencintainya. Dan apakah dia mencintaiku?' Gumam Inez dalam hati. Perlahan sayup matanya dan terpejam.


__ADS_2