
Di belahan Benua lainnya. Ivan sedang duduk di meja makan bersama Pak Djoko. Ivan mencoba memakan sarapannya. Pikirannya sejak semalam terganggu melihat foto Inez bersama Melody semalam. Di meja makan pun ia masih membuka Laptopnya dan mencoba mencari kabar terbaru. Dia mencoba membuka akun instagramnya yang dulu. Dia berhenti aktif dari akun tersebut. Dan tidak ingin membuat yang baru.
Dan itu membuat Berlian sedikit kesal karena tidak bisa memamerkan pacarnya kepada teman-teman dunia maya nya. Ya, sesekali Ivan bisa di lihat di Update nya Berlian. Tapi karena Ivan mengaku tidak punya akun media sosial dia tidak pernah memposting apapun tentang Berlian.
Ketika Ivan membuka akun Instagram lamanya, ia melihat foto bersama Inez. Hatinya sangat sedih. Ia langsung membuka akun Instagram Inez. Dan ada pembaruan terbaru di feednya. Sebuah foto kebersamaan Inez dan Melody.
Tertulis caption nya, This ******* just arrive in town #StoryOfMyLife #FriendOfMyLife
beberapa teman dunia mayanya memberikan komentar
'Inez?This is you?'
'All you guys, This is the king who take you down to get her heart.'
'Inez! I like your smile with this guy"
Rata-rata komentar di berikan oleh teman-teman nya di California. Ivan merasa kesal melihat foto tersebut.
"Aku berangkat dulu, Dad." Ucap Ivan beranjak dari kursinya, ia tidak menghabiskan sarapannya. Pak Djoko memandangnya Aneh.
"Kamu kenapa, toh?" Tanya Ayahnya.
"Cuma beberapa klien yang minta deadline cepat, Dad." Jawab Ivan menutup laptopnya dengan kesal dan memasukkannya kedalam tas.
Ivan pergi mengarahkan mobilnya ke arah rumah Berlian tinggal. Satu-satunya tempat dia melarikan diri dari masa lalunya hanyalah menghadapi orang di hidupnya sekarang.
Ivan mengetuk pintu rumah Berlian. Lalu, muncul Berlian di depan pintu yang sudah bersiap diri untuk pergi.
Berlian Natadiningrat
"Aku kira kamu akan sibuk seharian." Ucap Berlian ketika melihat Ivan di depan pintu rumahnya.
"Not today. Kamu mau kemana?" Tanya Ivan.
"Aku harus ke TapHouse, Sayang. Untuk Reserve tempat buat acara ulang tahunku" Jawab Berlian.
"Aku antar ya" Ivan mengajukan diri mengantar Berlian. Berlian sedikit terkejut. Tidak biasanya Ivan mengajukan diri untuk mengantarnya ikut dalam kegiatannya.
"Nanti beberapa teman ku ada disana, is that okay?" Tanya Berlian memberi tahu. Karena Ivan tidak begitu suka dengan teman-teman wanita nya Berlian. Karena terlalu sosialita. Yang mereka gosipkan tentang barang-barang branded baru yang mereka baru beli. Dan terkadang Berlian selalu terobsesi dengan barang branded yang edisi terbatas.
"It's Okay. Asal mereka tidak membicarakan aku ketika aku ada disamping mereka." Goda Ivan. Berlian tersenyum senang dan memeluk Ivan.
"Ayo berangkat" Ajak Ivan.
"Sebelum ke TapHouse, aku harus ke Bank dulu sayang. Aku lupa ada kartu kreditku yang ke blokir karena salah password lagi" Kata Berlian sambil memasukkan barang-barang pentingnya seperti kaca, lipstick dan sisir ke dalam tas nya.
"Okay." Jawab Ivan memasukan tangannya ke saku nya. Mereka berdua berjalan menuju mobil.
Sepanjang jalan Ivan fokus menyetir mobil, Berlian membuka Instagram, dan ketika dia menscroll ke bawah. Dia melihat feed baru dari Melody, dan tercengang.
"Oh my god!!! This is real????" Komentar Berlian melihat foto tersebut, dan menunjukan kepada Ivan. Ivan hanya terdiam ketika Berlian menunjukan foto yang membuatnya kesal pagi ini.
"Aku sudah lihat" Ketus Ivan tanpa berpikir. Berlian meraba nada yang di keluarkan Ivan.
"Are you mad?" Tanya Berlian mencoba mencari tahu darimana rasa kesal Ivan muncul.
"Nggak. Hanya aku tidak perlu melihatnya lagi." Jawab Ivan masih ketus.
Berlian berpikir bagaimana Ivan bisa melihatnya lebih dulu. Berlian mencoba mencari nama akun Ivan yang selama ini nonaktif. Dan ternyata aktif. Dan ternyata isi Instagram Ivan adalah foto di masa lalu yang semuanya bersama Inez.
Berlian terdiam. Lalu ia mencoba bertanya kepada Ivan.
"Bagaimana kamu melihatnya?"
"Dari instagram Daddy." Ivan berbohong. Berlian tersenyum kecut. Ivan tidak tahu bahwa Berlian baru saja mengecek Instagramnya.
"Stop." Ketus Berlian menyuruh Ivan menepi.
"Ada apa?" Tanya Ivan kaget.
"Why you lie to me?" Tanya Berlian.
"Bohong? Bohong apa? apa yang aku katakan memang?" Tanya Ivan lagi meminta Berlian untuk mengulang jawabannya.
"Kamu bilang kamu udah lihat foto Melody dan Inez, aku tanya dimana kamu melihatnya. Kamu bilang, kamu lihat dari Instagram Daddy. Kamu bohong. Karena aku baru tahu kamu mengaktifkan Instagram lamamu. Dan aku tahu kamu selalu ingat kata sandinya. Dan kamu tidak ingin mengaktifkannya karena isi akun tersebut semua fotomu bersama Inez!!!" Bentak Berlian marah.
__ADS_1
Ivan menutup matanya. Mengingat bahwa ia tidak sadar bahwa telah mengatakan beberapa kebohongan.
"I'm Sorry." Ucap Ivan.
"Do you still Love her?" Tanya Berlian mendorong Ivan untuk jujur.
"Kamu tahu dari dulu bagaimana aku ke dia. Dia itu seperti adik ku sendiri. Cinta itu gak mungkin ada diantara kita. Terkecuali rasa sayang yang memang aku punya sejak ia kecil, Berlian" Terang Ivan.
"Kalau begitu katakan apa yang membuat kalian saling menjauh? Adik kakak tidak akan mungkin bermusuhan dan membenci satu sama lain selama hampir lima tahun!" Tukas Berlian. Ivan merenung mendengar kata-kata Berlian. Dia mencoba memutar otaknya untuk mencari tahu apa yang cocok untuk di katakan untuk pertanyaan Berlian supaya dia berhenti membahas hal ini.
"Bisakah kita tidak membahas itu. Bagiku itu sudah masa lalu, apa yang membuat mu berhenti membahas ini?" Ivan tampak kelelahan mencari jawaban dan hanya bisa mengatakan hal itu. Berlian tampak memanfaatkan kondisi tersebut untuk membuktikan bahwa Ivan tidak mencintai Inez.
"Hapus semua foto yang ada di Instagrammu. Isi dengan foto-foto kita." Pinta Berlian. Ivan menghela nafas.
"Okay. Sesampai kita di TapHouse aku akan menghapus semua foto lama ku. Mengganti dengan yang baru." Jawab Ivan menyetujui permintaan Berlian. Berlian tersenyum puas. Dia memeluk Ivan, dan Ivan mulai mengendarai mobil lagi.
Inez terbangun dari tidurnya. Dia merasakan kehangatan dalam tidurnya. Inez mengusap matanya, ketika sudah cukup tersadar dia terbangun dari tidurnya dan menyadari bahwa dia sedang memeluk seseorang. Tangannya melingkari dada seseorang. Dia mendengar suara nafas yang tenang dari atas kepalanya. Karena panik Inez mengangkat kepalanya dan terkejut melihat Melody sedang tertidur merangkulnya.
"Melody!!!!!!" Teriak Inez mengagetkan Melody . Membuat Melody terbangun dan ikut berteriak ketika melihat Inez berada dalam pelukannya..
"Aaaaaaarrhhhhhhh" Teriak Melody dan Inez, dan segera menjauhkan diri masing-masing.
"What you've done?!" Omel Inez
"Kamu yang ngapain tidur di kamar ku?" Tanya Melody yang juga terkejut. Mereka terdiam dan mengingat apa yang terjadi tadi malam. Lalu mereka menyadari bahwa mereka tidak melakukan apa-apa. Dan mereka tertawa bersama-sama.
"Stupid." Melody melemparkan bantal ke wajah Inez.
"Kamu bodoh. Kamu duluan yang tidur." Jawab Inez melempar balik bantal ke wajah Melody.
"Jam berapa sekarang?" Tanya Inez.
Inez menatap jam nya. Jam menunjukan pukul 9 pagi.
"Brunch?" Tanya Melody. Inez tampak memikirkannya sebelum ia mengangguk.
"Okay, biarkan aku mencuci muka ku dahulu." Ucap Inez melangkahkan kaki ke kamar mandi.
Melody merebahkan diri lagi diatas kasur. Tenggelam bersama pikiran dan perasaanya yang aneh. Ini pertama kalinya seorang wanita tertidur di kamarnya tanpa melakukan apapun. Biasanya wanita hanya akan berakhir bersama pesan operator di handphonenya dan akan berganti setiap malamnya.
"Melody.." Panggil Inez dari kamar mandi.
"Do you have an extra toothbrush?" Tanya Inez yang melongok kan kepalanya di pintu kamar mandi dan menyeringai. Melody tersenyum dan mengambil sikat gigi dari lemari penyimpanan dan memberikan kepada Inez.
Inez menutup kembali pintu toiletnya dan bersenandung dari kamar mandi. Melody tersenyum mendengarnya. Setelah Inez keluar kamar mandi, Melody gantian membersihkan diri.
Inez menunggu dengan membuat beberapa panggilan dengan telponnya.
"Hi, Dad." Sapa Inez di ujung telponnya.
"Aku bertanya-tanya apakah kamu bersama cucu kesayangan kapolri itu?" Tebak ayahnya di ujung telpon.
"Dad, Aku menelponmu bukan untuk membahas itu. Tapi jika kamu ingin tahu. Ya, aku bersamanya. Aku hanya memberi tahu, aku akan handle beberapa urusan dari sini." Jawab Inez sambil menyisir rambutnya.
"Take your time. Katakan, apa yang kamu ingin kan untuk hadiah kelulusanmu?" Tanya Ayahnya.
"Aku tidak membutuhkan apapun darimu untuk saat ini." Ucap Inez menutup telpon. Ayahnya tidak sabar untuk membawa Inez untuk mengatur perusahaan utama di Jakarta dan London. Tapi bagi Inez ada yang terlewat dalam hidupnya. Dia ingin menikmatinya untuk saat ini. Empat tahun belakangan ini, Inez tampak teralihkan dunia hanya dengan mementingkan kuliah dan perusahaan batik dan beberapa anak perusahaan travel milik ayahnya.
Melody keluar dari kamar mandi setelah berganti baju.
"Ingin berganti pakaian, Ngga?" Tanya Melody kepada Inez.
"Menurut mu aku cocok menggunakan kaos-kaos mu itu?" Tanya Inez lagi.
"Aku ada beberapa hoodie. Mau coba pakai?" Tanya Melody. Ia mengambilkan sebuah Hoodie dan melemparkan kepada Inez. Inez menjatuhkan ponselnya refleks karena ingin menangkap Hoodie nya.
"Melody" Tukas Inez kesal. Ia mengambil ponsel nya yang terjatuh.
"Berbalik" Suruh Inez kepada Melody, karena dia malas ke kamar mandi untuk mengganti pakaiannya. Melody pun memutar badannya menghadap ke jendela kamar. Inez membuka pakaiannya. Hanya tersisa Bra nya yang berwarna hitam. Melody melihat siluet tubuh Inez dari pantulan jendela kamarnya.
"Menikmati apa yang kamu lihat?" Tanya Inez menyadarkan Melody dari lamunannya.
Melody memutar tubuhnya dan menyeringai.
Mereka menggunakan mantel sebelum keluar, karena ini di bulan desember maka di Los Angeles sedang musim dingin.
Setelah keluar gedung, udara dingin menerpa kulit Inez. Melody langsung meraih tangan Inez dan menggandengnya ketika berjalan.
__ADS_1
Mereka menuju salah satu restaurant ternama yang menyajikan menu sarapan yang lezat.
Ketika mereka menunggu pesanan nya datang, mereka masing-masing bermain ponselnya.
"Foto yang semalam kamu update di Instagram sepertinya sedang ramai." Ucap Melody sambil menyesap milkshake nya.
"Iya nih. Hal pertama untuk kesekian kalinya bersamamu." Jawab Inez santai.
"Kalau dari Instagramku hanya komentar dari beberapa teman kuliah." Lanjut Inez. Melody membaca satu persatu komen yang ada di Instagramnya.
"Di tempatku tidak menarik." Jawab Melody.
Inez membuka foto mereka dari profile Melody.
"Ohh ternyata ini yang membuatmu meninggalkanku di Indonesia." Gumam Inez membacakan salah satu komentar yang paling terbanyak di reply. Melody tersenyum jahil.
"Apa karena ini kamu tidak ingin angkat tlp ku? setidaknya balas pesanku!! *******" Inez masih membacakan balasan lainnya sambil tersenyum geli.
"Memang kamu siapa? kamu siapa? aku pacarnya sampai minggu kemarin? kamu siapa? Aku pacarnya juga sampai hari ini. Apa yang dia katakan untuk menjadi pacarmu?" Inez tertawa terbahak-bahak. Membuat Melody tersipu malu. Melody merebut ponsel Inez dari tangannya.
"Ehhhh... Siniin." Omel Inez mencoba meraih ponsel nya
"Sudah. sudah " Ucap Melody merajuk
"No. Itu balasanmu karena menggelitiku hingga aku pingsan." Goda Inez berhasil merebut kembali ponselnya.
" Kamu bukan pingsan karena aku gelitikin. Tapi karena terlalu banyak smoke weed." Jawab Melody membela diri.
"Aku akan mencoba membalas komentar orang-orang ini sekarang." Ide Inez memicingkan mata nya ke Melody. Melody hanya tersenyum melihat kekonyolan Inez.
"Ya coba saja. Itu membantuku menyingkirkan mereka semua." Ucap Melody merasa bersyuku mencubit pipi kiri Inez gemas. Inez menepis tangan Melody iseng.
"Oke. Berterimakasihlah padaku, karena aku melakukan ini." Tukas Inez dengan wajah yang sangat konyol.
Inez mulai mengetik balasannya oleh orang-orang ini.
'Bae, Apa yang mereka katakan sih sebenarnya'
Melody tersenyum geli membaca komentar yang Inez berikan.
Hidangan mereka pun datang. Mereka segera memakannya.
Setelah mereka makan, Inez mengajak Melody membuat sebuah foto lain lagi yang ingin dia upload ke Instagramnya. Karena seketika follower Inez bertambah dan itu semua adalah wanita-wanita yang pernah di kencanin Melody. Begitu sebaliknya, Melody pun banyak akun laki-laki yang mutual friends nya adalah Inez mengikuti Instagramnya.
"Apa ini seperti kontes buang air kecil?" Gumam Melody melihat pria-pria itu berkomentar di foto Inez.
Inez mengupload foto terbaru mereka berdua.
"Apa kamu akan tahun baru di sini?" Tanya Inez kepada Melody.
"Aku tidak akan pulang tanpamu." Jawab Melody sambil menyalakan rokoknya. Inez ternganga mendengarnya. Melody menatapnya lucu.
"Yaa kalau gitu kita lihat berapa lama kamu akan bertahan bersamaku disini." Jawab Inez meletakkan ponselnya.
"Jangan coba menantangku." Melody menyeringai.
"I'm not" Singkat Inez memanggil Waiters. Waitersnya menghampiri Inez dan bertanya ada yang perlu di pesan lagi atau tidak. Inez menggeleng.
"Check please." Jawab Inez.
Waitersnya memandang Melody yang tersenyum sambil kedua tangannya menopang dagunya.
"I'm sorry miss. No check for this ordered." Jawab Waitersnya gugup. Inez yang aneh menoleh ke Melody yang sedang menahan senyumnya.
"Apa maksudnya?" Tanya Inez kepada Melody.
Melody memberikan Intruksi je waitersnya untuk pergi. Waitersnya tersenyum dan mengangguk.
"Ini restaurantmu?" Tanya Inez terkejut. Melody mengangguk dan beranjak dari kursinya. Membawa mantel milik Inez dan menarik tangan Inez untuk berjalan keluar restaurant. Semua pegawai disana menganggukan kepalanya.
"Ehhhh... berhenti dulu." Perintah Inez menahan langkahnya. Melody pun berhenti, dan memakaikan mantel ke pada Inez. Wajah mereka saling mendekat, Melody bisa mendengar setiap nafas yang di hembuskan Inez. Begitupun sebaliknya.
"Aku akan menunggu kamu, setahun? dua tahun? Empat tahun sekalipun aku tunggu. Aku tidak akan meninggalkan sahabatku di negeri orang, walau aku tahu seberapa hebatnya ia menguasai dunia ini dibawah tangannya. Sebenarnya aku ingin menggunakan kata 'gadisku' tapi sepertinya aku sudah harus berjanji berhenti mengejarmu. Dan aku berhenti mengejarmu. Karena aku sudah disini. Aku hanya perlu menunggumu. Menunggumu mencintaiku. Aku tunggu berapapun lamanya. Disini, di Indonesia, di belahan dunia lainnya. Dan jangan kamu berpikir untuk pergi dari ku lagi tanpa sepatah kata. Meninggalkan wajah tanpa senyum untuk di ingat selama empat tahun." Aku Melody sambil menaikan resleting mantel Inez dan tersenyum menatap wajah Inez yang terpaku mendengar pernyataan Melody.
"Apa kamu baru saja menyatakan cintamu?" Tanya Inez bertanya tanpa ekspresi. Lalu Inez menutup mulut Melody dengan jari telunjuknya.
"Jangan di jawab deh. Kalau itu berhasil untuk cewe-cewe di luar sana. Sayangnya di aku, kamu harus lebih extra usaha." Goda Inez, yang jarinya telunjuknya masih di bibir Melody dan menatap Melody dengan jahil. Tiba-tiba Melody mencoba menggigit telunjuk milik Inez yang menyentuh bibirnya. Inez refleks menjauhkannya . Mereka tertawa bersama. Melody melingkarkan tangannya merangkul Inez berjalan.
"Pulang?" Tanya Inez.
__ADS_1
"Aku sudah di rumah." Jawab Melody menggombal. Inez mencubit perutnya dan membuat Melody tertawa.
"Ayo, aku antar kamu kembali ke hotelmu." Ucap Melody.