Aku Mencintaimu Tanpa Tanda Tanya.

Aku Mencintaimu Tanpa Tanda Tanya.
Truth


__ADS_3

"Ivan, aku punya rencana. Dan aku butuh kamu untuk menjalankan rencana tersebut." ucap Inez kembali dari lamunannya. Ivan menatapnya penuh tanda tanya.


"Ayo. Aku butuh kamu untuk mencari tahu kemana Melody pergi hari ini." ujar Inez mengulurkan tangannya ke hadapan Ivan.


"Lebih baik kita menunggu penjelasan dari Melody, Nez. Aku yakin dia akan segera menjelaskan apa yang sedang terjadi." Ivan menggenggam tangan Inez dan menahannya. Inez terdiam, matanya kini berkaca-kaca.


"Aku tidak sanggup nunggu kaya gini, Van. Kepala ku terus berputar, pikiran buruk terus menghantui ku. Aku ingin percaya, tapi begitu sulit." Inez berkata, air matanya kini tumpah.


Ivan beranjak dari tempat duduknya, dia memeluk Inez yang kini sedang kalut. Dia tidak bisa berkata-kata lagi. Tapi Ivan memiliki keyakinan bahwa Melody tidak bermaksud seperti apa yang di pikirkan Inez.


Melody membuka pintu rumahnya, mencari keberadaan Inez. Namun tidak dilihatnya keberadaan Inez disana. Melody terdiam untuk berpikir kemana dia pergi. Dia berjalan menuju meja telfon, menghubungi asistennya.


"Halo, pak." sapa Bara dari ujung telfon.


"Handphone saya rusak, saya mau kamu menyiapkan yang baru dengan semua data yang ada di ponsel saya sebelumnya." perintah Melody tanpa basa basi.


"Baik, pak." ujar Bara.


"Saya ingin ponsel itu sudah ada di rumah saya nanti malam jam 7. Terimakasih!" tukas Melody lagi dan segera menutup telfon rumahnya. Dia langsung menuju keluar rumah dan melaju kan mobilnya ke sebuah tempat yang ada di pikirannya. Karena sangat terburu-buru Melody tidak menyadari bahwa di belakang mobilnya ada orang yang membuntutinya.


Mobil Melody berada di komplek kawasan apartment mewah tempat dimana Ivan tinggal. Dia keluar mobil dan berlari menuju meja receptionist.


"Selamat sore, ada yang bisa saya bantu?" sapa receptionist itu tersenyum manis.


"Ya, sore. Saya ingin mengunjungi saudara saya. Ivander Kaivan. Dia kemarin memberi tahu saya bahwa dia tinggal disini, hanya saja ponsel saya sedang rusak dan saya lupa di tower mana dan kamar berapa dia tinggal." ujar Melody memberikan penjelasan.


"Oh baik. Pak Ivan berada di suite room. Dari sini bisa langsung naik lift dan menuju lantai 52. Kamarnya berada di ujung lorong sebelah kanan setelah keluar lift." jelas receptionist yang berbaik hati.


"Terimakasih." ujar Melody berbalik, namun sebelum berlalu dia segera di panggil oleh receptionist itu kembali.


"Maaf pak, bisa tinggalkan ID? Lift nya harus menggunakan akses." tukas receptionist tersebut. Melody membuka dompetnya dan memberikan kartu identitasnya. Dan receptionist itu tersenyum mengetahui siapa yang sedang berada di hadapannya.


"Terimakasih pak Melody. Dan saya percaya bahwa anda tidak seperti apa yang di beritakan." kata receptionist tersebut. Melody menyeringai mendengar komentar dari receptionist tersebut. Dia mengambil kartu akses dan pergi menuju lift dengan terburu-buru.


Dia menunggu di dalam Lift dengan resah, mencoba mengunjungi Ivan hanya untuk mengetahui dimana Inez berada. Karena dia tahu satu-satunya orang yang tahu keberadaan Inez hanya Ivan.


Di dalam mobil, seorang perempuan menunggu tidak jauh dari tempat dimana Melody memarkirkan mobilnya. Dia menunggu dengan tenang, seakan-akan dia usahanya akan membuahkan hasil dengan mengetahui apa yang terjadi pada Melody dan Inez.


Pintu lift terbuka, dia berjalan menuju pintu kamar di ujung lorong. Pintu itu terbuka sedikit, tidak tertutup rapat. Dia langsung membuka pintu itu dan mendapatkan sesuatu yang sangat buruk di hadapannya.


Ivan dengan sadar bahwa ada sepasang mata memperhatikannya lalu segera menoleh. Melody terdiam melihat apa yang ada dihadapannya.


"Melody." ucap Ivan yang juga terkejut mendapatkan Melody ada di hadapannya yang sedang memeluk seorang wanita yang ternyata istri sahabatnya. Ini cukup buruk. Jika keadaan mereka baik-baik saja mungkin jika Ivan memeluk Inez terlihat oleh Melody hanya sebatas persahabatan mereka. Beda dengan keadaan ini, keadaan Melody dan Inez yang memang sedang renggang karena perseteruan mereka.


Inez menoleh dan melepaskan lengannya yang melingkar di pinggang Ivan.


"So, when things start to get worse you go into another man's arms?" desis Melody dengan tatapan tajamnya memandang Inez.


"Don't you dare! Isn't like what you see! And Ivan isn't another man! He's my bestfriend, he's like my brother, my sibling." ujar Inez mengacak pinggang.


"Oh, begitu. Apa yang kamu coba lakukan? Membalasku?" tanya Melody cemburu buta.


"Lody, calm bro. Inez cuma perlu seseorang untuk bercerita. Dan sebaiknya kalian selesaikan masalah kalian." ucap Ivan menengahi mereka.

__ADS_1


"Aku membaca nya. Dan apa yang kamu harapkan setelah aku membacanya? Diam saja? Menunggu semua kebohongan mu terucap dari mulutmu?" omel Inez.


"Kebohongan? Aku tidak bohong Inez! Stop said i'm lied! Kamu lebih percaya sama berita di luar sana di banding suami mu sendiri?" Melody menahan nada nya. Masih berharap ada titik harapan bahwa Inez mempercayainya. Inez terdiam, tampak rasa bersalah melanda dirinya.


"Aku mencarimu hari ini, berharap kamu benar-benar menungguku di rumah untuk sesuatu hal yang ingin aku beritahu. Tapi apa yang aku dapat? Izin pun kamu tidak? Setidaknya kamu meninggalkan sebuah catatan dan menempelkannya di meja semarah apapun kamu kepadaku, Inez." kata Melody, nadanya penuh kekecewaan.


"Apa yang ingin kamu beritahu?" tanya Inez antusias dengan hal itu.


"Tidak bisa disini, kamu harus ikut bersamaku." tukas Melody. Ivan terdiam, dan mengangguk kepada Melody.


"Aku pergi dulu, Van. Thanks for everything." ujar Inez.


Ivan mengangguk dan tersenyum kepada Inez. Inez berjalan mengikuti langkah Melody. Mereka berlalu menuju keluar kamar tersebut.


Melody mengambil tangan Inez, menggenggamnya erat. Mereka memasuki lift . Inez merasakan kejutan listrik di kulitnya yang menyentuh lengan suaminya.


Melody mendorongnya kesudut lift. Memandang Inez tajam, mengambil bibir Inez dengan segala hasratnya, menciumnya. Inez menyambutnya dengan gairah.


"Apa yang kamu lakukan dengannya seharian ini?" tanya Melody dengan kecemburuan yang membara di sela ciumannya. Inez mengerang.


Jemari Melody berjalan menyusuri paha Inez. memaksanya masuk kedalam Inez. Inez terpenjak kaget, sensasi nya begitu nikmat ia rasakan, hingga membuat dia tidak mampu menjawab pertanyaan suaminya.


"Apa yang kamu lakukan?" tanya Melody sambil mengusap lembut dengan jarinya.


"A..a..ku.. han..ya ber..bi..cara dengannya ten..tangmu." jawab Inez di sela desahannya.


Melody melepaskan sentuhannya. Melepaskan Inez dalam ketidakpastian dari sensasi yang suaminya berikan. Melody tersenyum licik.


"Jangan berspekulasi sendiri setelah melihat apa yang aku akan kasih liat. Jangan berasumsi apapun, dan jangan menilainya. Aku hanya ingin kamu ada di sampingku, untuk melalui hari-hari ku menyelesaikan masalah di masa lalu ku." ucap Melody menatap Inez yang masih terdiam. Melody menjalankan mobilnya. Inez mengangguk mengerti.


Mobil Melody melesat keluar dari komplek apartment mewah tersebut, di susul oleh kendaraan di belakangnya yang sejak tadi menantinya di basement dan Melody masih belum menyadarinya.


"Maafkan aku." ucap Inez membuka pembicaraan. Melody menoleh sedikit menatap wajah Inez yang tampak sedih.


"It's okay. Aku yang salah baru memikirkan untuk memberitahumu hal ini sekarang. Hanya saja aku perlu memikirkan beberapa hal. Karena hal ini bukan hal yang cukup baik untuk di konsumsi oleh media. Aku membiarkan berita itu di besar-besarkan, karena jika kenyataannya yang terungkap, sudah pasti image ku akan buruk. Dan aku akan mengecewakan kakek ku." jawab Melody menggenggam tangan Inez.


Akhirnya mereka pun sampai di pekarangan sebuah rumah.


"Rumah siapa?" tanya Inez setelah Melody mematikan mesin mobilnya.


"Rumah nenek buyutku yang sudah lama tidak terisi. Dan aku pernah tinggal disini suatu waktu. Kakekku yang mengharuskan aku tinggal disini saat itu. Dan sekarang," Melody menjawab pertanyaan Inez sambil melangkah mengajak Inez menuju pintu rumah lalu kata-kata Melody terputus. Inez mencoba membaca air wajah suaminya itu.


"Sekarang apa?" tanya Inez. Dan pintu pun terbuka. Seorang gadis lusuh keluar dari pintu, Inez menoleh dan tercengang. Dia menutup mulutnya rapat dan berusaha tidak mengeluarkan komentar sarkastiknya karna dia berjanji kepada suaminya dia tidak akan berasumsi sendiri.


"Hai, Inez." sapa Lexa dengan lembut, senyumannya terukir di wajahnya yang pucat.


Melody menggenggam tangan Inez mengajaknya berjalan memasuki rumah itu. Inez masih terdiam dan mencoba menjernihkan pikirannya.


"Sayang," sapa Melody menyadarkan Inez dari lamunannya. Tatapannya penuh tanya menuju kedua mata milik Lexa. Lexa membalas tatapan itu dengan penuh kesedihan.


"Melody, biar aku yang menjelaskan." ujar Lexa. Inez menelan ludahnya mencoba menyiapkan hatinya untuk mendengarkan penjelasan dari perempuan yang akhirnya ia temukan. Sekilas ia menatap perut Lexa.


"Iya, aku sedang hamil, dan untuk membuat kamu tenang. Ini bukan anak Melody." jawab Lexa airmatanya mengambang di ujung matanya.

__ADS_1


"Tanyakan apa saja yang ingin kamu tahu, Inez. Aku hanya akan mengatakan hal yang sebenarnya dan aku sangat minta maaf. Aku minta maaf mengganggu rumah tangga kalian dengan masalah hidupku. Semua yang terjadi padaku murni bukan kesalahan Melody, dia hanya terlalu baik membantuku melalui masa sulitku." cerita Lexa yang masih menahan airmatanya. Rasa iba muncul di lubuk Inez.


"Sebegitu banyaknya pertanyaan yang sudah aku siapkan saat berangan-angan jika bertemu denganmu, tapi sekarang aku tidak bisa menanyakan hal itu padamu. Melody, maafkan aku. Seharusnya aku lebih mempercayaimu." ujar Inez yang tidak dapat membendung airmatanya. Dia membayangkan bagaimana hal itu jika terjadi padanya. Siapa yang akan rela berkorban seperti Melody pada Lexa.


"Aku yang menelpon Melody untuk mencari perhatiannya agar dia yang menemukanku. Karena aku tidak mampu keluar dengan keadaanku yang sebelumnya." cerita Lexa lagi.


"Keadaan yang sebelumnya? Apa kamu mencoba menyakiti dirimu?" tanya Inez menatap perban di lengan Lexa.


Lexa menggelengkan kepalanya dan berkata "Bukan dalam arti sebenarnya,"


"Saat itu, aku sedang bersama dengan Melody. Setelah dia menyelesaikan wisudanya, dia kembali menggunakan narkoba itu. Dia bersamaku, cukup lama sampai dia akhirnya memutuskan menyusulmu ke LA. Dan saat hari itu datang, aku tahu bahwa Melody pasti menyalahkan dirinya atas keterlibatanku menggunakan barang haram tersebut, dia membawaku ke panti rehabilitasi. Namun, saat itu dalam diriku yang tidak stabil menganggap bahwa hal itu sangat tidak perlu, dan aku bertemu seorang pria di panti itu yang mengajakku untuk pergi dari tempat itu. Selanjutnya kamu pasti sudah bisa menebaknya." lanjut Lexa menceritakan kisahnya kepada Inez.


Inez mengangguk tanda mengerti, dia tahu bahwa memaksa Lexa untuk bercerita lagi hal yang dilaluinya sudah pasti akan menyakitkan bagi dirinya.


"Dan akhirnya setelah aku menarik perhatian Melody, dia menemukanku. Aku tidak tahu bahwa kamu akan mengetahuinya." ucap Lexa menundukan wajahnya dan akhirnya meneteskan airmatanya. Dia sangat malu pada dirinya sendiri.


"Aku mengetahuinya dari salah satu akun gosip di media sosial yang mendapatkan foto kalian berpelukan." jawab Inez menerangkan darimana dia mengetahui soal suaminya yang bertemu seorang gadis.


Melody terdiam, menggenggam kedua tangannya, kepalanya terasa berputar karena semua hal yang terjadi. Bahkan dia pun merasa malu menatap istrinya sendiri. Masa lalunya sangat buruk.


"Dan Melody membawaku kesini. Ke rumah ini," ucap Lexa berdiri dari tempat duduknya, berjalan menyusuri rumah menuju pintu kamarnya dan dia membukanya. Inez dan Melody mengikutinya dari belakang.


"Ini rumah kakekku, dulu sebelum aku memutuskan untuk kuliah di Jogja, kakekku memulihkan aku dari ketergantungan narkoba dengan tinggal di sini." terang Melody kepada Inez.


Inez melangkah masuk ke dalam kamar itu, kamar itu tampak menyeramkan bagi Inez. Dindingnya yang di balut busa putih dan dari dalam jika siang hari mungkin tidak akan menikmati cahaya matahari karena jendelanya pun tertutup rapat oleh busa putih.


"Aku terpaksa membawanya kesini. Karena dia sedang mengandung 5 bulan. Dan jika aku bawa dia ke panti rehabilitasi berita akan mengetahui apa yang sebenarnya terjadi." ujar Melody saat Inez mengangkat alisnya seakan-akan bertanya mengapa tempat ini yang Melody pilih.


"Jika Melody mampu lepas dari hal itu, aku yakin aku akan segera pulih" tukas Lexa. Inez tetap terdiam. Hatinya sunggu berkecamuk. Iba, kesal pada suaminya soal masa lalunya yang tidak pernah ia ceritakan dan harus mengetahuinya dengan cara seperti ini.


"Maaf. Ini terlalu banyak." ujar Inez mengusap airmatanya.


"Tidak apa-apa. Aku harap kamu mampu mencernanya pelan-pelan. Aku hanya ingin mengatakan. Maaf, bahwa aku hadir sebagai orang yang membawa masalah di kehidupanmu. Bahwa dulu, Melody sering bercerita tentangmu, dan membuat aku ingin berteman denganmu. Aku sangat menyesal, bahwa kita di pertemukan dengan cara seperti ini." jawab Lexa.


"Dan jangan salahkan Melody. Karena aku bersyukur bahwa dia menolongku. Dan bahwa hanya dia yang mampu melakukan ini." ucap Lexa lagi. Inez mencoba tersenyum.


"Maafin aku, sayang." ucap Melody mengulurkan tangannya kepada Inez. Inez mengambil genggamannya. Menjatuhkan tubuhnya kepelukan Melody, hanya satu yang ia lakukan menangis dalam pelukan orang yang ia cintai.


"Iya, sayang. Aku juga minta maaf karena tidak mempercayaimu dan curiga sama kamu, sedangkan seharusnya aku berada disini bersamamu. Kita mampu melalui ini bersama kan? Dan selalu seperti itu." jawab Inez. Lexa tersenyum, air matanya kini menetes karena bahagia bahwa Melody dan Inez kembali bersama.


"Ahh.. maaf. Apa kamu sudah makan?" tanya Inez mengalihkan pembicaraan. Lexa menggelengkan kepalanya.


"Kita akan makan malam bersama. Di luar. Bagaimana?" tanya Inez merangkul lengan suaminya dan menyentuh lengan Lexa dengan bersahabat. Lexa tampak berpikir.


"Aku rasa kamu sudah bisa melihat cahaya kota Jakarta lagi." ujar Melody memberikan senyum.


Mata Lexa berbinar-binar mendengar persetujuan Melody.


"Baiklah, sekarang aku akan mempersiapkanmu. Aku akan membuat wajah cantik ini menutupi kesedihanmu." Ajak Inez merangkul pundak Lexa. Lexa tersenyum bahagia merasa di sayang.


"Aku akan berbicara kepada beberapa staff keamananku." ucap Melody pamit. Inez dan Lexa masuk ke dalam kamar lain, dimana kamar tersebut memiliki meja rias dan lemari yang berisi penuh baju baru yang dibelikan oleh Melody untuk Lexa.


"Ayo. Aku sudah lama ingin memiliki seorang adik kecil." komentar Inez mengajak Lexa masuk kedalam kamar tersebut.

__ADS_1


__ADS_2