Aku Mencintaimu Tanpa Tanda Tanya.

Aku Mencintaimu Tanpa Tanda Tanya.
3. 16 Mei 2015


__ADS_3

"Make a wish, Mas Ivan" Ucap Aunty Tasha.


Ivan menutup matanya untuk mengucapkan doa nya di hari ulang tahunnya. Lalu ia membuka matanya dan meniup Lilinnya.


"Selamat datang kehidupan usia legal alkohol" Gumam Ivan bercanda. Pak Djoko menepuk kepala Ivan.


"Boleh tapi jangan yang macam-macam. Wajahmu boleh ke barat-barat an . Tetap junjung budaya Indonesia. Mommy bangga sekali terhadap budaya ini. Maka nya dia mau pindah kewarganegaraan." Imbuh Pak Djoko kepada Ivan yang meringis dan Aunty Tasha tertawa.


"Iya, Dad. I will" Jawab Ivan mengelus kepala nya.


"Inez ndak kesini toh mas ?" Tanya Aunty Tasha.


"Memang setiap tahun dia tidak pernah kesini untuk merayakan ulang tahunku, Aunty. Biasanya baru besok nya dia kasih aku kado dan selamat." Jawab Ivan. Aunty Tasha mengangguk angguk kepala mendengar jawaban Ivan.


'We don't deal with outsiders very well


They say newcomers have a certain smell


Yeah, trust issues, not to mention


They say they can smell your intentions


You're lovin' on the freakshow sitting next to you


You'll have some weird people sitting next to you


You'll think, "How did I get here, sitting next to you?"


But after all I've said, please don't forget. (Heathens - Twenty One Pilots)


Inez asik mendengarkan Lagu dari Ipod nya. Sambil bersenandung dan tenggelam bersama pikirannya.


Aku yang biadab atau orang-orang? Aku bersikap seperti itu hanya tidak ingin mereka pergi setelah aku mengenalnya dengan baik. Menurutmu lebih baik meninggalkan atau ditinggalkan? I prefer to Leave it.


Inez menulis di dalam jurnal hariannya. Itu salah satu bakat yang menurun dari ibunya. Tadi setelah mandi Inez mencoba menghubungi Daddynya. Dan masih sama yang menjawab adalah Asisten pribadinya. Mengatakan bahwa Daddy nya sedang di Luar Negeri sampai bulan depan. Alasan itu sudah dia dengar bulan April kemarin.


"Maaf, Miss Inez. Mr. Wilson sedang berada di Luar Negeri." Jawab Asisten nya dari ujung telfon selular.


"Bisakah aku minta nomor pribadi dia? Aku ini anaknya" Ketus Inez.


"Akan segera saya sampaikan ke beliau bahwa anda meminta di hubungi dari nomor pribadinya ya, Miss." Jawab Asistennya lagi.

__ADS_1


"Kamu ini tidak paham ya. Saya ini minta nomor pribadi, bukan minta di hubungi dari nomor pribadinya" Omel Inez.


"Maaf, tapi saya tidak berwenang tanpa seijin beliau untuk memberikan nomor pribadinya."


"Aku ini anaknya, Sudahlah. Sampaikan pesan saya saja ini. Tolong lakukan persis seperti apa yang ku ucapkan." Pinta Inez.


"Baiklah saya akan merekam panggilan ini dan memberikan ke beliau untuk di dengarkan." Jawab Asistennya lagi.


"Hello Daddy. Go to hell!" Bentak Inez di telpon.


"Sudah kamu rekam?" Tanya Inez lagi kepafa asisten itu.


"Sudah, Miss. Sampaikan pesan itu. Itu sebuah Amanat!" Perintah Inez, Lalu dia menutup telpon itu. membanting Iphone nya ke lantai.


Karena terlalu lelah menangis, Inez terlelap.


Keesokan harinya. Alarm membangunkan Inez yang tidur dengan pulas. Jam menunjukan pukul 4 pagi. Inez terbangun dan bersiap untuk melakukan rutinitasnya 'killing time' hari demi hari.


Pagi ini dia akan berlari mengitari komplek rumahnya. Inez dan Ivan tinggal di Hyarta Residence, sebenarnya itu masih di kawasan Sleman. Udara paginya pun sejuk.


Inez memasang headset di telinganya, lalu menoleh ke arah rumah Ivan. Inez tahu bahwa semalam ulang tahun Ivan, dan sejak usia 8 tahun Inez berhenti merayakan Ulang tahun, Ulang tahun dirinya maupun Ivan. Dia sangat membenci hari ulang tahun. Bagaimana dia bisa menyukainya, jika Tanggal ulang tahunnya adalah tanggal kematian ibunya pula. Jadi sejak usia 8 tahun dia berenti merayakan ulang tahunnya. Bahkan di tanggal ulang tahun nya sendiri dia akan memilih tidur seharian dan melewati nya. Begitupun hari ulang tahun Ivan, dia biasanya memberi kado di sore hari nya atau malam harinya.


Namun, karena kalimat Ivan semalam yang tidak sengaja menyebutkan tentang ibunya dia masih kesal. Sebenarnya bukan kesal pada Ivan, tapi dia lebih menyalahkan dirinya sendiri. Yang bisa merubah mood nya untuk lebih baik lagi hanya menghabiskan tenaga. Selain marah-marah dia juga bisa menghabiskan nya dengan berlari. Inez mulai berlari mengelilingi residence tempat ia tinggal.


"Ivan, Bangun. Sudah pukul 7 pagi." Ucap Pak Djoko.


"Hmmm.. iya sebentar lagi." Gumamnya masih menutup mata.


"Bangunlah. Ini hari ulang tahunmu, kamu tidak ingin melakukan hal yang spesial dengan hadiahmu?" Tanya Pak Djoko.


Ivan membuka matanya. mengusap kedua matanya.


"Hadiah apa?" Tanya nya masih mengantuk


"Lihatlah kedepan" Jawab Pak Djoko tersenyum.


Ivan beranjak dari kasur lalu berjalan lunglai ke teras rumah. Dia menatap sebuah Mobil sambil masih mengusap matanya.


"Daddy?" tanyanya


"Itu untuk hadiah 21 Tahun mu. I wish you like it." Jawab Pak Djoko.

__ADS_1


"I Loved it, Dad!" Seru Ivan sambil memeluk Pak Djoko. Pak Djoko tersenyum bahagia.


Ivan langsung menghampiri mobil Audi A5 berwarna grey Metalik yang terparkir cantik di teras rumahnya.


"Waahhh... Mendapatkan yang di inginkan saat ulang tahun adalah Anugerah terbesar dari Tuhan" Seru Inez dengan nada sarkastik yang tiba-tiba ada di depan gerbang.


"Kamu tidak perlu membenci hari ulang tahunku, itu sudah kado terindah juga di hari ini" Jawab Ivan menghampiri Inez.


"Oh ya? Aku tidak membenci hari ulang tahunmu. Hanya bagiku bukan prioritasku untuk merayakannya." Jawab Inez masih ketus.


"Bisakah setidaknya kamu berpura-pura bahagia untukku?" Tanya Ivan memandang Inez dalam.


"Seperti kamu yang biasa berpura-pura untuk membuat aku merasa lebih baik? Nope, Ivan. This is who i am" Ketus Inez.


Pak Djoko memandang mereka dari kejauhan, tidak bisa mendengar apa yang mereka bincangkan, sedikit khawatir karna wajah Inez tampak tidak senang.


"Apa maksudmu?" Ucap Ivan nada nya mulai tersinggung.


"Bagaimana tahun depan ku pilih hari ini untuk hari kematianku. Kamu akan mengerti bahwa hari ini bukanlah hari yang perlu perayaan. Atau kamu akan tetap merayakan karena akhirnya kamu terlepas dari bebanmu menemaniku?" Inez sarkastik. Ivan terdiam, kesal terhadap apa yang Inez ucapkan.


"Sudahlah, Nez. Tidak perlu mengucapkan kalimat yang seharusnya tidak kamu ucapkan untuk memperburuk hariku. Aku tahu kamu tidak bermaksud mengucapkan itu." Jawab Ivan malas meladeni.


" I Mean it, Ivan. I mean it. From now, stay away from me. Aku pun akan melakukan itu terhadapmu. Kita tidak perlu lagi berpura-pura membutuhkan satu sama lain. Kamu berpura-pura memprioritaskan ku hanya rasa iba darimu karena aku tidak memiliki siapa-siapa. Karena aku juga tidak perlu menghabiskan waktu ku untuk mengkhawatirkan kapan kamu akan pergi atau diambil dariku. Aku melepaskanmu." Ucap Inez, dengan kuat Inez menatap mata Ivan dan menahan bulir air mata di sudut matanya.


"Kamu tahu? Benar, aku memang sudah lelah meladeni kegilaanmu." Jawab Ivam marah.


"Ya, bagusnya kamu akui itu. Because you know what? Aku lebih baik tidak memiliki siapa-siapa, lebih baik tidak mengenal siapa-siapa daripada aku harus menikmati mengenal orang-orang di sekelilingku hanya untuk kehilangannya. So, now we're done." Jawab Inez sambil melepas cincin persahabatannya dengan Ivan yang pernah Ivan berikan saat Inez berusia 7 tahun dan mereka bermain sebuah pernikahan.


Inez memberikan cincin itu kepada Ivan. Pak Djoko hanya memandang mereka dengan sedih. Sesuatu yang buruk telah terjadi.


'Tetaplah disini, Nez.' Dalam hati Ivan mengeluh.


"Kamu tahu, aku tidak akan mengejarmu." Ucap Ivan saat Inez berpaling darinya.


"Jangan. Memang jangan." Jawab Inez akhirnya menitikan air matanya dan menjaga suaranya supaya tidak terdengar parau karena menangis. Inez berlalu.


Ivan termenung menggenggam cincin yang di berikan Inez.


'Bagiku tidak perlu kamu mati pada ulang tahunku tahun depan, hari ini kamu berhasil membuat aku membenci hari ini, Nez.' Gumam Ivan masih dalam hatinya. Ivan tidak merasa bahwa matanya pun berkaca-kaca, hingga menetes pula air mata itu dari sudutnya. Hatinya sangat hancur.


Pak Djoko menhampiri Ivan, mengusap pundak Ivan.

__ADS_1


"Apa yang terjadi?" Tanya Pak Djoko.


"Sesuatu yang tidak pernah kubayangkan terjadi, Dad. I lost her." ucap Ivan mengusap air matanya, lalu berpaling masuk kedalam rumah.


__ADS_2