Aku Mencintaimu Tanpa Tanda Tanya.

Aku Mencintaimu Tanpa Tanda Tanya.
24 Oktober 2015


__ADS_3

'Kamu membuatku menemukan sesuatu yang nyata. Ketika seorang manusia di lahirkan, semua orang tersenyum. Bukankah seharusnya seperti itu? Tidak bagiku. Karena di hari kelahirkanku bukan hanya aku yang menangis. Tapi semua orang juga menangis.


Apa yang berarti jadinya di hidup ini? Aku dilahirkan sebagai putri tunggal dari pewaris pengusaha yang seperti orang kebanyakan bilang mungkin tidak akan habis sampai tiga kali keturunan setelah ku. Keturunan? ya jika aku memilikinya. Ini kehidupan terbaikku. Nothing to lose. Apa yang bisa hilang dariku saat ini? lost my mind? aku rasa sudah lama aku kehilangannya? lost my heart? aku manusia yang tidak memiliki hati. Silahkan mencari sesuatu yang kamu sendiri tidak tahu apa yang hilang'


Inez menulis jurnal hariannya. Ini sudah hari ke 40 setelah kematian Bude Suci dan kepergian Ivan. Inez melaluinya menjadi orang yang baru. Ia merasa dirinya seperti dilahirkan kembali. Tetapi kali ini berbeda, dia tidak memilih untuk berbicara tentang dirinya atau pun mendengarkan sesuatu tentang orang lain dengan siapapun, termasuk teman barunya Lala. Ia hanya menyibukkan diri menjadi orang terbaik di kelasnya.


Karena fakultas Ivan dan Ine terletak berlawanan, mereka pun juga tidak saling bertemu. Di sekitaran residence rumahnya pun mereka berdua tidak saling mencari. Ivan yang bertindak untuk tidak di temukan, sedangkan Inez bertindak untuk tidak mencari.


"Halo, keponakan Aunty yang cantik." Sapa Miya yang sudah sebulan tinggal di rumah besar. Inez tidak menghiraukan sapaannya.


"Berapa banyak uang yang kamu butuhkan untuk pergi dari rumah ini, dan tidak datang kembali?" Tanya Inez saat duduk. Miya tersentak dengan pertanyaan Inez.


"Are you serious, Inez?" Tanya Miya masih terkejut dengan keberanian Inez bertanya terkait hal itu.


"Apa saya pernah menghabiskan waktu untuk bercanda akhir-akhir ini?" Inez melakukan keahliannya mengintimidasi. Wajah angkuhnya membuat Miya merasa kesal dengan sikap Inez.


"Oh relax, honey. Aku penolong mu membantu menghandle beberapa perusahaan batik ibumu." Miya membuat pernyataan untuk Inez berhenti mengusirnya.

__ADS_1


"Apa perlu saya bacakan surat warisan yang ada di pengacara saya? Sebutkan harganya!! Saya ingin kamu enyah dari kehidupan saya" Bentak Inez sambil mengoleskan mentega ke rotinya.


Miya semakin terpaku dengan pernyataan Inez. Kehadirannya sama sekali tidak di harapkan.


"Cepat! Berapa yang kamu inginkan! Saya ingin ketika kembali ke rumah ini sudah tidak melihat wajah dan barang-barangmu." Tukas Inez.


"Berikan saya 1 Miliar. Saya tidak akan kembali." Ucap Miya.


"Oke. Setelah kamu menerima uang itu silahkan pergi dan jangan pernah kembali. Pengacara saya akan memberimu surat perjanjian tertulis." Inez bangkit dari tempat duduknya, membawa sarapannya dan pergi berlalu.


Didalam mobil Inez segera menghubungi pengacara nya untuk menyelesaikan perjanjian itu.


"Baik, Miss. Saya akan segera mengerjakannya. Ada lagi yang Miss inginkan untuk saya kerjakan?" Tanyanya di ujung telpon.


"Rapikan rumah besar itu. Renovasi semua bagian rumah tersebut." Perintahnya lagi.


"Baik, Miss. Oh ya, siang ini jika Miss sempat Kantor utama membutuhkan anda untuk menghadiri beberapa Rapat penting." Ujar pengacara nya memberikan intruksi.

__ADS_1


"Saya akan segera kesana setelah makan siang." Ujar Inez lalu menutup telfonnya.


"Setelah dari kampus, antar saya ke Kantor Bantul. Suruh Endang membawa kan satu koper yang sudah saya siapkan." Ucap Inez kepada Pak Yanto supirnya.


"Siap, Miss." Jawab Pak Yanto singkat.


"Satu lagi. Dilarang memberi info apapun terkait pendidikan saya." Perintahnya lagi.


"Baik, Miss." Pak Yanto mengangguk.


Inez berjalan sendiri tanpa pengawal, karena dia tidak membutuhkan itu. Baginya kini dia dapat mengatasi semua yang ada di hadapannya dengan sikap intimidasinya. Tidak ada yang dia anggap berarti. Inez berjalan menyusuri lorong menuju kantor Dekan. Untuk menuju ke ruang Dekan dia harus melalui Fakultas Teknik Sipil.


Lody yang melihat kedatangannya dari jauh mencoba tersenyum dan melambaikan tangan. Tapi Inez sengaja untuk tidak melihatnya, tatapannya lurus kedepan melalui semua orang di sekitarnya.


Sesampai ruang Dekan. Inez mengajukan surat pengunduran dirinya dari kampus tersebut. Karena Inez memutuskan untuk pergi dari Indonesia. Dia mengambil jalur akselerasi di Universitas ternama di California.


Setelah selesai mengurus segala hal yang di butuhkan untuk membereskan permasalahan kuliahnya. Inez pergi menuju mobilnya. Dan dari kejauhan Inez menatap Ivan yang sedang berbicara dengan beberapa temannya.

__ADS_1


'Biarkan ini menjadi pemandangan indah terakhir dari yang ku ingat tentang kehidupanku disini. Aku akan memulainya dengan Inez yang baru dan tanpamu di dalamnya. Goodbye Ivan.'


Inez segera masuk ke dalam mobil disaat Ivan menolehkan pandangannya ke arah Inez. Ivan merasa ada seseorang yang memperhatikannya. Dia tidak mengetahui bahwa itu adalah Inez karena mobil itu segera berlalu. Ivan melanjutkan perbincangannya bersama teman-temannya.


__ADS_2