Aku Mencintaimu Tanpa Tanda Tanya.

Aku Mencintaimu Tanpa Tanda Tanya.
5. 9 September 2015


__ADS_3

Alarm berbunyi. Hari ini Inez sudah resmi menjadi mahasiswa baru di salah satu Perguruan Tinggi Negeri terbaik di Yogyakarta.


Inez terbangun dari tidurnya, menatap langit-langit. Hari ini adalah hari baru. Karena selain dunia perkuliahan yang merupakan hal baru, manjadi mahasiswa yang bukan private juga sesuatu yang baru. Dia akan bertemu banyak orang. Sesuatu hal yang menyebalkan bagi dia. Bukan karena dia tidak bisa berinteraksi. Jika saja Inez mau membuka diri nya terhadap dunia luar, dia tipe gadis yang akan memiliki banyak teman yang menyayanginya. Karena sebenarnya dia adalah orang yang baik, rendah hati dan terkadang melakukan hal konyol untuk membuat orang di dekatnya tertawa.


Namun, setelah apa yang telah terjadi pada dirinya, mengetahui Ibunya meninggal dunia setelah melahirkan dia dan Ayahnya juga menjaga jarak padanya itu membuat dia tumbuh memiliki teori bahwa orang-orang yang baginya amat sangat penting akan di ambil darinya. Dan dia tidak mau merasakan kehilangan lagi. Dia memilih untuk orang-orang yang merasakan apa yang ia rasa. Dan untuk orang- orang yang belum mengenalnya lebih baik tidak mengenalnya dengan baik. Maka dari itu, dia menghilangkan segala sifat baiknya. Dia memilih menjadi orang yang di sebut Angkuh, dan Cuek.


Setelah bersiap siap, hari ini Inez memilih pakaian Hoodie Hitam, celana jeans hitam dan sepatu boots. Rambut cokelat gelapnya di biarkan terurai.



"Bude, panggil pak yanto. Suruh panasin mobilnya. Aku sudah mau berangkat. Dan hari ini aku akan pergi dengan Ian, satu pengawal saja." Perintah Inez.


"Baik, Mba Nez." Jawab Bude Suci setelah menyiapkan sarapan Inez.


Ian berdiri di samping Inez, pengawalnya itu dilarang berbicara padanya selain dia yang memulai pembicaraan.


"Ian, nanti kamu ke ruang Dekan. Minta surat Ijin untuk mengawalku hanya saat tidak di dalam kelas. Bawakan Dekan salah satu Jam terbaik yang belum di buka di dalam lemari Aksesorisku, berikan kepadanya." Perintah Inez lagi acuh sambil memakan sarapannya.


"Siap, Miss Inez" Jawab tegas Ian.


Inez tidak menghabiskan sarapannya, ia berjalan membawa tas notebooknya dan handbag nya melenggang keluar rumah.


Ia pun berangkat.


Sesampainya di kampus, Inez meminta di drop di lobby kampus. Saat dia turun banyak mata memandang. Dan ada dua pasang mata yang menatapnya lekat. Mata Ivan. Inez membuka kacamata hitamnya dan matanya pun tertangkap oleh Ivan. Namun, Inez langsung mengalihkan pandangannya seperti tidak melihat siapapun.


Inez berjalan ke arah pintu masuk dimana Ivan berada. Dan melewatinya begitu saja. Beberapa teman kuliah Ivan dibuat kebingungan dengan sikap Inez.


"Van, itu Inez kenapa?" tanya Lody. Lody adalah pria yang terbilang tampan, rambutnya yang terurai panjang membuat dirinya terlihat gagah. Bisa di bilang sebenarnya sudah lama Lody ingin mengenal Inez lebih dekat, hanya Ivan memang tidak pernah lagi membawa teman-temannya ke rumahnya. Lody beberapa kali melihat Inez ketika tidak sengaja bertemu di sebuah Mall bersama Ivan yang pergi bersama Inez atau di Parangtritis.


"Biarin aja" Jawab Ivan acuh. Dia tidak ingin teman-temannya tahu bahwa keadaan mereka sedang tidak baik-baik 4 bulan terakhir.


Hari ini adanya Orientasi Mahasiswa Baru. Inez menuju ruang Dekan bersama Ian. Setiap lorong yang ia lalui, seperti ia sedang berjalan di Catwalk. Semua orang memandangnya. Dan beberapa orang juga ada yang berbisik. Namun, Inez tidak merasa terganggu karena dia tidak peduli terhadap orang lain.


Ian mengetuk pintu dekan.


"Silahkan masuk."


"Selamat pagi, Inezstasia Zakeshia Wilson" Sapa Dekan .


"Selamat pagi Bu Rosalie, Ineztasia Zakeshia. Tanpa Wilson." Jawab Inez ketus. Dekan terkejut bahwa Inez menghapus nama belakangnya.


"Iya, baiklah. Saya senang bahwa anda termasuk Mahasiswa baru terbaik yang terpilih masuk ke universitas ini." Sambut Dekan.


"Terbaik karena nama keluarga saya? Cukup basa basi nya, Bu. Saya kesini meminta Izin bahwa saya selama jam kuliah akan membawa satu pengawal. Ian. Dia hanya akan menjaga saya saat di luar kelas." Ucap Inez tersenyum kecut.


"Oh soal itu. Oke, tidak masalah. Asal tidak mengganggu proses belajar mengajar di Universitas ini saya persilahkan." Jawab Dekan.


"Tidak akan. Terimakasih." Jawab Inez berpaling menuju pintu keluar. Sebelum membuka pintu dia berbalik lagi


"Oh ya, Ini ada sedikit hadiah untuk Ibu." Ian meletakan kotak jam nya.


"Terimakasih atas perhatiannya.Saya rasa sepertinya tidak perlu" Jawab Dekan.


"Oh saya bersikeras." Ucap Inez keluar ruangan.


'Bagi Mahasiswa baru diharapkan berkumpul di tengah lapangan. Bagi Mahasiswa baru di harapakan berkumpul di tengah lapangan. Sekarang'


Suara dari intercom terdengar.


Inez berjalan menuju lapangan kampus. Ian mengikutinya di belakang.


"Kali ini kamu tidak perlu mengawalku ke lapangan. Kamu hanya perlu tunggu di samping lapangan atau di tempat lain yang tidak jauh dari lapangan, Ian" Perintah Inez.


"Siap Miss" Jawab Ian tegas.


Inez berjalan ke tengah lapangan, dia sangat mempersiapkan diri dia sebagai mahasiswa. Membuktikan ke semua orang bahwa dia tidak perlu menghabiskan banyak waktu dengan banyak orang. Yang dia perlukan hanya fokus pada kuliahnya.


Terlihat Ivan berdiri di jajaran Senior di depan. Ivan menjadi salah satu anggota BEM. Anggota Mahasiswa yang akan memberikan orientasi kepada Mahasiswa baru.


"Halo Mahasiswa Baru. Perkenalkan saya Melody Dirgantara. Ketua BEM. Hari ini, hari pertama Ospek. Kalian semua saya harapkan sudah mempersiapkan segala perlengkapan yang sudah di sampaikan di grup whatsapp setiap prodi masing-masing. Tugas hari ini membentuk sebuah kelompok." Ucap Lody menggunakan Microphone.


"Dalam satu kelompok harus terdiri dari 8 orang. Nama kelompok harus diberi nama. Nama kelompok diambil dari Nama-nama pulau yang ada di seluruh Indonesia. Seperti contohnya Kelompok Pulau Pahawang yang terdapat di Kota Lampung." Lanjut Lody.


"Penjabaran Tugas kalian akan saya serahkan untuk disampaikan oleh wakil saya, Ivander Kaivan"


"Seperti yang dikatakan Kak Lody. Nama kelompok kalian dinamakan dari nama pulau. Dan Tugas kalian dari menamai kelompok kalian harus mengetahui seluk beluk tentang Pulau tersebut. Nantinya salah satu dari kalian harus ada yang mempresentasikan apa saja keistimewaan Pulau tersebut, dijabarkan selengkap-lengkapnya." Ucap Ivan yang sekarang berdiri diatas podium. Matanya terus mencari dimana Inez berdiri. Bagaimana Inez melalui tugas ini.


"Setelah itu, Tugas selanjutnya kalian harus membuat satu hiburan bisa menyanyi, berpuisi, menari, stand up comedy, dan sebagainya yang bisa kalian baca di kertas yang kalian pegang." Lanjut Ivan menjelaskan.


Akhirnya Ivan menemukan dimana Inez berdiri. Inez terlihat mendengarkan dengan seksama apa yang dia katakan. Beberapa orang disampingnya terlihat memandangnya juga, ada yang memandang Inez kagum ada yang memandang Inez seperti orang yang menyebalkan.


"Sekarang kita akan memilih kelompoknya. Karena semua ini masih berbaris belum sesuai fakultas masing-masing. Mari kita hitung delapan orang ke samping." Ucap Lody.


Lody memberikan intruksi kepada teman-temannya yang berjumlah 12 orang untuk membantu memilihkan kelompok. Ivan berjalan ke arah barisan dimana Inez berdiri.


"Hai, kita satu kelompok" Suara seseorang menyapa Inez dari samping kirinya. Inez hanya menoleh tanpa ekspresi.


"Oke" Jawabnya singkat.


"Gue Lala. Gue dari jakarta. Gue sering banget pakai perusahaan travel bokap lo buat pergi kemana-mana." Komentarnya mencoba ramah.


"Oke lala" Jawab Inez lagi singkat. Inez menatap seseorang yang sepertinya tidak menyukai dia.


'Bagus deh, Ada juga yang gak suka sama aki di kelompok aku. Jadi aku ga susah-susah untuk bersikap acuh.'Gumam Inez dalam hati.


"Anyway, Lo sering ke Jakarta dong ya?" Tanya Lala mengajak ngobrol Inez.


"Pernah tapi ga sering. Oh ya Lala, Kuliah ini sangat penting buat gue. Jadi gue ga punya waktu untuk berteman. Bisa gak apa yang kita bicarakan terkait tugas kelompok aja. Selebihnya gue keberatan untuk ngebahasnya." Jawab Inez memberi pengertian.


Dalam hati kecil Inez, dia tidak tega terhadap orang yang pada dasarnya baik untuk menerima perilaku buruknya. Jadi dia memilih, untuk memberi pengertian seperti itu.


"Tapi kalau buat orang-orang kaya Lo, Lo dan Lo gue sangat tidak masalah. Karena gue yakin, Isi kepala lo tentang gue sama kaya Isi koran yang setiap hari gue buang ke tong sampah" Seru Inez kepada tiga orang teman kelompoknya yang sedari tadi tidak sengaja ia dengarkan berbincang tentang bagaimana Inez menghabiskan waktu nya di malam hari.


Lala di buat heran dengan sikap Inez. Ivan memandang kejadian tersebut tidak begitu jauh dari sisi sebelah kanan Inez. Ivan tersenyum karena Inez mau berbicara kepada orang lain. Mungkin Ivan akan mencoba mengambil peluang pada kondisi saat ini.


"Kalian sudah dapatkan kelompoknya?" Ucap Ivan yang tiba-tiba muncul dari sisi Lala. Lala memandang Ivan terpaku. Lala menikmati pesona Ivan.


"Sudah kak. Kami sudah menemukan kelompok nya." Jawab Lala masih memandang Ivan dengan sangat lucu. Inez mengalihkan pemandangannya ke kertas yang ia genggam karena tidak ingin berbicara pada Ivan.


"Perkenalkan saya Rosmala, Kak. Panggilannya Lala." Ucap Lala menarik tangan Ivan. Ivan yang canggung hanya tersenyum pada Lala, sesekali melirik Inez yang masih membaca kertas yang ia bawa.


"Oke kalau kalian sudah dapat kelompoknya, kalian bisa memilih tempat dimana kalian akan berdiskusi. Tempatnya hanya boleh di sekitaran lapangan kampus dan Graha ini ya." Perintah Ivan. Sebelum pergi sekali lagi Ivan menatap Inez yang masih menyibukan diri.


'Aku akan menemukan waktu dimana kamu akan berbicara lagi sama aku, Nez.Melihatmu sedekat ini, aku sudah cukup senang' Ucap Ivan dalam hati.


Kelompok Inez terdiri dari 4 Perempuan yaitu Lala, Agis, Fira, dan Inez. 4 Laki laki yaitu Sultan, Rio, Agung, dan Dimas. Mereka berempat berkumpul di lorong dekat Graha. Memilih milih nama kelompok yang mereka ketahui.


"Vote aja lebih baik. Diantara Pulau Komodo, Pulau Seram, Pulau Gili trawangan, atau Nusa lembongan, Gimana?" Tanya Dimas .


Inez masih diam. Dia tidak banyak memberikan komentar pada teman-teman kelompoknya.


"Kalau menurut kamu apa, Nez?" Tanya Sultan.


"Apa aja terserah kalian" Jawab Inez singkat.


"Diantara empat pulau itu kira-kira yang kalian kuasai tentang pulau itu yang mana?" Tanya Agis.


"Kalau aku tahu tentang Nusa lembongan, tahun lalu aku sudah pernah kesana. Dan disana Indah." Jawab Fira.


"Kalau gue juga tau Nusa Lembongan sama Pulau Seram sih" Jawab Lala.


"Kalau gue sih, baru aja liburan kemarin ke pulau komodo." Jawab Agis.


"Ini tuh lagi nyari nama kelompok bukan kalian pamer abis kemana kemana" Sanggah Inez.


"Iya iya tahu yang udah pasti pernah ke semua pulau. Secara orang tuanya pemilik usaha travel paling terkenal" Sindir Fira.


"Lo tuh ga tau apa-apa. Gue belum pernah ke semua tempat yang lo sebutin tadi. Tapi gue tau keistimewaannya semua pulau yang lo sebutin barusan." Omel Inez dengan ketus, Teman-temannya terdiam karena jawaban Inez.


"Serius lo, Nez?" Tanya Rio


"Ga perlu gue jelasin. Yang jelas gue ngomong sesuai sama fakta" Ucap Inez lagi masih ketus.


"Yaudah jangan pada ribut. Kita pilih aja Morotai Island" Jawab Agung.


"Nah, itu bagus juga." Ucap Lala.


"Oke kita kasih info ke Senior. Nez, Lo yang ngomong ke senior ya sama Lala." Pinta Dimas.


"Rio sama Agis ke Graha ambil kertas." Agung menginterupsi.


"Fira dan Dimas, siapin Notebook sama Internetnya" Lanjut Agung.


"Aku sama Sultan siapin meja sama kursi nya" Ucap Agung lagi menepuk bahu Sultan.


"Gue aja deh yang nyiapin Internet" Sanggah Inez. Tapi sebelum yang lain berkomentar Lala sudah menarik Inez berjalan ke arah Senior.


"Lala! Lepasin gak!!" Bentak Inez.

__ADS_1


"Iiihh Inez galak banget sih lo." ucap Lala berhenti berjalan.


"Lo ngerti gak sih apa yang gue bilang barusan!" omel Inez lagi.


"Denger ya Inez, putri tunggal nya Mr. Dylan. Apapun masalah pribadi lo, itu masalah lo. Tapi kalau lo menjauhi orang-orang karena masalah pribadi lo buat gue itu nonsense. Ga cuma lo yang menderita. Banyak-banyak main deh, biar lo bisa tau ada orang yang lebih menderita daripada lo! Dan ga seharusnya lo bersikap ga jelas kaya tadi membenarkan apa yang orang gosipin tentang lo!" Omel Lala menasihati Inez.


" Tau apa lo tentang derita?" Ketus Inez memalingkan wajahnya dari cahaya matahari. Dari kejauhan Ivan memandang kejadian perseteruan Inez dan Lala. Dan sangat ingin tahu apa yang sedang mereka debatkan. Tapi ia tidak bisa mendekat untuk lebih tau.


"Pokonya gue tau! Dan bagi gue, apa yang terjadi sama lo itu belum ada menderita menderitanya banget dari apa yang pernah orang-orang gue temuin dan mereka masih hidup normal." Ucap Lala.


Inez terdiam. Dia memandangi Lala cukup lama.


"Lo mau tanning kulit berjemur di matahari begini. Kalau kuliah ini bagi lo penting, begitupun bagi gue. Daripada berdebat tentang penderitaan lebih baik kita lakuin apa yang tadi di tugasin" Imbuh Lala.


Inez mengikuti lala, lalu menarik lengan lala.


"Oke, sebelumnya ini gue kasih tau ke lo dulu. Ini gue nih. nah ini pager diri gue. Lo masih ada di depan pager diri gue ya. Jadi jangan coba-coba runtuhin pertahanan diri gue. Kita kesana tapi gue yang nyampein ke senior yang gue pilih sama siapa senior yang bicara sama kita." Kata Inez memberi tahu sambil memperagakan tangannya memberi batas di depan dada nya.


"Oke, Nez. paling cuma butuh seminggu buat gue lompat masuk ke pagar pertahanan lo." Goda Lala. Inez memutar matanya dan berjalan. Lala mencoba menyusul Inez yang berjalan dengan cepat ke arah senior. Ivan melihat mereka berjalan ke arah dia.


Namun, Lala melewati Ivan dan menghampir Lody yang berdiri tiga langkah tidak jauh dari Ivan.


"Siang, Ka Melody" Sapa Inez.


"Hai. Inez kan?" tanya lody tersenyum.


"Iya, Kak Melody" jawab Inez.


"Panggil Lody aja.Gimana?" Ucap Lody selanjutnya.


"Saya dan Lala menyampaikan bahwa kita sudah dapat nama untuk kelompok kita. Namanya Morotai Island kak." Jawab Inez antusias. Lala berdiri dibelakang Inez memandangi Ivan yang sedang menatap Inez.


"Oke, kita cek dulu ya. Nama kelompok itu udah ada belom, Van?" Tanya Lody ke Ivan. Ivan mengalihkan pandangannya ke binder yang ia pegang dan mencari dari daftar nama-nama kelompok. Inez tidak menoleh sama sekali, Dia hanya menatap Lody menunggu jawabannya.


"Belum, dy." Jawab Ivan singkat. Lala tersenyum mendengar jawaban Ivan. Ivan pun membalas senyuman Lala.


"Oke, approve. Morotai Island ya. Oh ya, Dari kedua belas orang senior di bagi 4 untuk handle beberapa kelompok. Jadi kelompok kalian nanti di handle sama Aku, Ivan dan Berlian ya." Ucap Lody kepada Inez sambil tersenyum.


"Oke kak Lody, kita balik ke kelompok lagi dulu kalau gitu" Jawab Inez membalas senyuman Lody dan berpaling.


Inez berjalan meninggalkan Lala yang masih berdiri di depan Ivan. Setelah setengah lapangan dia tidak melihat Lala, dia menoleh ke belakang Lala masih terpaku menatap Ivan.


"Lalaa!!!!!" Teriak Inez sampai beberapa pasang mata menoleh ke sumber suara tersebut. Termasuk Lala yang sedikit terkejut bahwa dia sedang termenung menatap Ivan yang masih tersenyum dan beberapa senior menertawakan Lala. Lala berlari kecil mengejar Inez.


"Jangan bodoh kenapa sih? Kaya ga pernah liat orang blasteran" Omel Inez setelah Lala mendekatinya. Lala langsung menggandeng lengang Inez.


" Iiiih Inez, dia ganteng banget. Makhluk Tuhan paling ganteng." Jawab Lala kepalanya di tempel di pundak Inez mesra.


Ivan tersenyum melihat Inez membuat kemajuan berteman dengan salah satu kelompoknya.


"Van, Gue nanti main ke rumah lo ya." Ucap Melody.


"Mau ngapain?" Jawab Ivan.


"Kemajuan pesat nih, kalau dulu ketemu Inez pas sama lo kan dia mana mau ngobrol. Dia cuma asik main hp dan ga pernah hirauin gue yang mau kenal dia. Hari ini dia nyamperin gue buat nyampein nama kelompok. Kenapa ga ke lo aja coba? Berarti kan Lampu hijau nih buat gue" Lody merasa percaya diri karena Inez melakukan hal seperti itu barusan.


"Eh Melody Dirgantara. Inez kaya gitu karena lagi gak mau ngomong sama Ivan. Hahahahahaha" Ledek Berlian.


"Ya setiap hari aja kalian gitu ya. Hitung-hitung bantu temen." Jawab Lody lagi menimpali.


"Enak di lo ga enak di gue" Canda Ivan.


"Eh gue haus nih. Gue mau beli minum. Ada yang mau nitip ga?" Tanya Berlian.


"Gue nitip satu ya, Ber." Jawab Ivan.


"Gue juga. Makasih sayang" Canda Lody.


"Awas baper anak orang lo sayang sayang" Ledek Ivan. Berlian hanya memutar bola matanya melihat dua temannya yang saling meledek.


Hari berlalu, sisa dua kelompok yang akan presentasi dalam kelompok yang di handle Ivan, Lody dan Berlian.


Sementara itu di kelompok Morotai Islands masih berdiskusi siapa yang akan presentasi. Inez hanya mengotak-atik Notebooknya.


"Inez" Ucap Dimas, Lala, dan Agung berbarengan.


"Hmmmm" gumam Inez


"Kamu yang presentasi ya." Pinta Dimas.


"Iya, bener. Kan kamu yang paling banyak kasih refrensi tentang morotai nih. Jadi pasti kamu yang paling menguasai materinya." Ucap Agis.


"Gue ada pilihan menolak ga?" Tanya Inez.


"Hmmm." gumam Inez.


"Hmmm berarti iya kan?" Tanya Lala.


"Hmmmm" jawab Inez lagi.


"Sekali lagi bilang Hmmmm nanti pas disuruh tampil hiburan juga lo juga yang maju,Nez stand up." Omel Lala.


Inez terdiam kecut.


Ivan sesekali menatap Inez yang masih asik bermain Notebooknya. Ivan sangat merindukan Inez, 4 Bulan ia melalui tanpa Inez sangat terasa hidupnya sepi. Karena sudah terbiasa hadirnya Inez.


'Aku gak pernah keberatan untuk menemanimu, Nez.' Ucap Ivan dalam hati.


"Morotai Island" Panggil Melody pakai TOA.


Teman-teman Inez menyenggol lengan Inez untuk menarik perhatian Inez.


"Nez, Ayo." Ucap Lala. Inez bangkit dari kursinya dan berjalan menuju depan. Semua mata tertuju pada Inez.


"Halo semuanya.. Nama saya Ineztasia Zakeshia. Saya dari Prodi Pariwisata" Ucap Inez membuka presentasi.


"Halo Inez" Suara semua kelompok menjawab Inez.


"So, Morotai Island. Kenapa Morotai Island?


Sebabnya Pulau Morotai terkenal sebagai tempat menyelam terbaik di Indonesia. Ada 28 titik keindahan alam bawah laut Pulau Morotai yang bisa kamu nikmati. Bukan hanya faktor terumbu karang yang indah dengan ikan berwarna-warni, tapi juga ada sisa-sisa peperangan Perang Dunia II. (Ref: Google)." Cerita Inez. Semua nya antusias mendengar presentasi Inez.


"Pulau Morotai punya sejarah yang unik. Nama Morotai berasal dari pemberian nama Kerajaan Moro. Karena Kerjaan Morotai merupakan daerah jajahan Kerajaan Moro waktu  Abad 15-17 M. Kerajaan Moro menamakan jajahan mereka ada dua yakni, Morotia yang berarti Moro daratan, dan Morotai yang berarti Moro lautan. Pada tahun 1942, Morotai jadi lapangan terbang Jepang selama Perang Dunia II. Kemudian diambil alih oleh Amerika Serikat pasca pertempuran hebat di 1944 hingga, klimaksnya, sekutu meluncurkan bom atom ke Hiroshima dan Nagasaki." (ref:www.jababekamorotai.com) Inez mempresentasikan nya dengan baik, seperti seorang guru yang sedang menceritakan muridnya sebuah dongeng. Ini dia pelajari dari pelajaran Public Speaking pada Home Schooling.


Ivan tak berhenti menatap Inez yang dengan lenturnya menjelaskan kepada teman-temannya. Bahwa ia kagum, bahwa ketakutan ia selama ini salah. Bahwa sebenarnya Inez adalah gadis supel yang hanya membatasi dirinya untuk mengeksplore dirinya pada dunia luar.


"Kalian tahu apa yang menarik lagi dari pulau ini. Pulau ini adalah destinasi ikonik wisata di Pulau Morotai. Yang bikin pulau ini jadi ikonik ialah saat air pantai sedang surut. Kamu akan melihat pasir putih terbentang sepanjang 500 meter yang menyambungkan pulau Dodola besar dan pulau Kecil." (ref: www.jababekamorotai.com)


"Menyisiri pasir putih yang terbentang di sepanjang 500 diantara pulau Dodola besar dan kecil dengan orang tersayang adalah destinasi perjalanan yang indah. Disamping kanan dan kiri kamu akan terhampar air yang sangat jernih sampai kamu bisa memandang terumbu karang dengan mata telanjang." Cerita Inez masih antusias.


"Seperti yang kalian tahu. Morotai yang berarti Kerajaan Moro Lautan. Ada 28 titik diving memiliki keindahan dan keunikannya masing-masing. Dan bagaimana cara pergi kesana? Ada tiga cara untuk pergi ke pulau Morotai yaitu melalui jalur darat, udara dan jalur laut. Ketiga cara ini memiliki perbedaan waktu tempuh masing-masing." (ref: www.jababekamorotai.com)


"Nez." Suara Ivan memotong penjelasan Inez . Inez mendengar suara tersebut berhenti seketika dan menoleh ke arah sumber suara. Ivan memandangnya lekat-lekat.


"Nez, weekend nanti kita pergi kesana." Ucap Ivan di depan banyak orang. Lala menganga melihat senior yang ia kagumi bicara seperti itu. Lody juga tercengang, Ivan berani melakukan hal itu didepan puluhan pasang mata. Inez tidak dapat bersuara. Dia sama terkejutnya dengan ucapan Ivan. Dan itu bukan pertanyaan tapi pernyataan. Ivan tersenyum.


"Silahkan di lanjutkan." Ucap Ivan memandang kedua mata Inez yang berkaca-kaca dan tidak dapat berkata. Inez menatapnya memohon untuk tidak melakukan hal itu dengan menggelengkan kepala dan mengigit bibir bawahnya. Inez tidak dapat menahan air matanya. Dan berlari menuju kelompoknya menyerahkan kertas presentasinya kepada Lala. Lala memandangnya sedih karena melihat Inez menitik kan air mata.


Inez berlari menuju toilet. Ivan pun beranjak mengejar Inez.


"Nez" Panggil Ivan.


"What you try to do Ivan?!!!!" Inez marah.


"I just want you to talk to me. Ini menyiksa ku, Nez. Aku salah apa, Nez?" Jawab Ivan mencoba menahan nada kecewanya.


"Ivan, kamu mencoba mempermalukan aku?" Tanya Inez menuduh


"Bukan, Nez."


"Kamu pikir kamu satu satu nya orang yang bisa menemaniku?" Tuduh Inez lagi.


"Cukup, Nez!" Bentak Ivan sambil menggebrak pintu toilet. Inez terkejut dengan nada Ivan dan apa yang Ivan lakukan.


"Kamu menyiksa ku agar aku membenci kamu? Lalu, menjauhimu? Kamu pikir dengan cara menjadi diri orang lain itu berhasil? Kamu tidak tahu apa-apa, Nez. Kamu tidak tahu bahwa aku mengenalmu, baik burukmu. Dan tidak ada satu alasan di dunia ini yang bisa membuat aku membenci kamu. Dan jika kamu berpikir bahwa kamu membenci dirimu, Stop! Please, Stop! Kalau aku bisa menyayangi sisi baik bahkan terburukmu, why you blame your self?! that's not your fault! your mom or your dad left you it's not your fault. If your mom die when you're born is mean God try to tell you. Bahwa kamu memiliki cinta dari orang-orang lain. Cukup syukuri, Nez. bukan mengutuk diri. If your dad left you try to forget you it's not your fault too, it's because He is a Jerk! Dan lihat apa yang kamu lakukan? Menyakiti orang-orang yang peduli pada mu supaya kamu tidak merasa ditinggalkan that's why you left them first, right??? Bukan nya kita berjanji untuk melawan dunia bersama? It's always you, Nez." Ivan berbicara panjang lebar semua ucapan Ivan adalah fakta yang membuat Inez menangis.


Lagi-lagi Inez di buat tidak dapat berkata-kata. Dia hanya menangis menyesali perbuatannya.


Ivan menarik Inez dalam pelukannya. Kini, Inez menangis dalam pelukan Ivan. Ivan membelai rambut coklat Inez yang terurai.


Lima menit berlalu dalam diam, tangisan Inez mulai mereda. Inez menggunakan kaos Ivan untuk mengusap air matanya.


"Hingus nya sekalian, Nez" Goda Ivan, karena memang biasanya setelah nangis bermenit- menit biasanya Inez menggunakan kaos Ivan untuk mengusap air mata dan mengusap air dari hidungnya karena efek menangis.


Inez hanya menepuk dada Ivan, dan menatap Ivan.


"Boleh?" Tanya Inez dengan suara seraknya setelah menangis. Ivan mengangguk.


Lalu Ivan menggenggam kedua pipi Inez, merapikan rambut Inez.

__ADS_1


"Pasti jelek banget deh aku" Ucap Inez masih sesenggukan karena menahan tangisnya.


"Ngga, kamu tetep cantik bahkan lebih cantik dari seingatku terakhir kamu menangis." Jawab Ivan menatap wajah Inez lekat-lekat.


"Do you Love me?" Tanya Inez tiba-tiba. Ivam tersenyum


"Do I love you?"


"Jangan jawab pertanyaan dengan pertanyaan!" Omel Inez melepaskan kedua tangannya dari wajahnya. Sekarang Inez cemberut kesal, karena Ivan menggodanya.


"Udah jam 6 sore. Kita keluar lagi yuk. Orang-orang pasti udah nunggu." Kata Ivan.


"Kamu duluan. Aku mau cuci muka dulu." Jawab Inez.


"Aku tungguin di depan" Ucap Ivan sambil membuka pintu toilet.


Di depan toilet ternyata sudah banyak orang yang sudah menunggu, ada beberapa orang yang kepo ingin mendengarkan apa yang terjadi sebagian lagi karena memang benar-benar harus menggunakan toilet dan saat pintu terbuka langsung masuk.


Inez di dalam Toilet masih menyegarkan wajahnya dengan air. Beberapa orang masuk dan tersenyum menatap Inez. Inez hanya membalas dengam senyuman. Lalu, ia keluar toilet melihat Ivan masih berdiri di dekat pintu Toilet.


"Sudah?" tanya Ivan. Inez mengangguk.


"Sekarang lagi jadwal Ishoma. Kamu mau makan apa?" tanya Ivan.


" Aku harus ke kelompok ku dulu. Habis itu baru kita makan" Interupsi Inez sambil berjalan.


"Ya sudah, Aku tunggu dekat Graha. Aku juga harus ambil tas ku." Jawab Ivan.


Inez dan Ivan berjalan terpisah. Inez berjalan ke arah teman-teman kelompok nya yang tidak jauh dari tempat ia berdiri tadi.


"Lo kenal deket sama Ivan?" Tanya Lala langsung ketika Inez menghampiri nya.


"Dari gue lahir." Jawab Inez sambil merapikan Notebook dan perlengkapan kuliah nya yang lain.


Yang laim memandang Inez dengan heran.


"Terus, lo pacaran sama Ivan?" Tanya Lala.


"Mungkin" Jawab Inez ragu. Karena memang mereka berdua juga tidak tahu disebut apa hubungan mereka itu.


"Mungkin apa, Nez?" Tanya Lala.


"Mungkin Ngga, Mungkin Iya." Jawab Inez lagi.


"Ah jawaban nya gak jelas." Omel Lala.


" Ya jadi jangan nanya yang gak jelas juga." Jawab Inez.


"Nez, kita nanti kumpul disini lagi habis ishoma. whatsaapan aja ya." Ucap Dimas sambila berlalu bersama yang lainnya. Inez melambaikan tangannya kepada yang lainnya.


"Nah lo ngapain disini?" Tanya Inez heran kepada Lala yang masih berdiri di samping Inez.


"Makan bareng sama lo." Jawab Lala.


"Bener mau ikut makan bareng gue? Gue makan bareng Ivan. Nanti jelouse lagi liat gue sama Ivan" Goda Inez.


"Iya, ngga kok. Lagian gue cuma kagum doang. Agis tuh yang diem-diem suka sama Ka Ivan. Lo ga tau apa tadi dia bete banget sambil ngedumel lihat Ivan ngejar lo" Dumel Lala.


"Biarin aja. Suka-suka dia mau ngomongin gue apa. Setidaknya yang sekarang sama Ivan kan gue bukan dia. hahahaha" Inez tertawa bersama Lala. Sambil berjalan menghampiri Ivan yang menunggu di Graha bersama Melody dan Berlian.


"Sudah?" Tanya Ivan. Inez mengangguk.


"Mau makan apa?" Tanya Ivan lagi.


"Belum tahu. Coba nanti lihat-lihat menu nya. Oh ya, Lala mau ikut." Jawab Inez.


"Yaudah yuk." Ajak Ivan menggandeng tangan Inez.


"Gue juga ikut kalau gitu, Van" Ucap Lody.


"Kalau lo ber?" tanya Ivan.


"Gue udah makan. Disini aja deh gue. Kantin Rame banget juga." Jawab Berlian.


"Oke, Yaudah. Kita makan dulu ya." Ucap Ivan.


Ivan berjalan sambil merangkul Inez. Lala di sebelah Inez berjalan sambil memainkan ponselnya. Melody berada disamping Lala mencoba mengalihkan mata nya dari pemandangan Inez dan Ivan.


"Ada Bakso, atau Nasi goreng yang rekomen sih di kantin ini." Cerita Ivan pada Inez. Inez menatap ke atas berpikir ingin makan apa.


"Anyway, Kapan kamu terakhir makan?" Tanya Ivan melirik Inez.


"Tadi pagi" Jawab Inez.


"Sejak kapan kamu makan hanya pagi dan baru makan lagi jam segini? Pengawal mu tidak memberi makan tadi siang?" Omel Ivan.


"Speakin' Of the devil, aku lupa dengan pengawalku." Inez berhenti melangkah dan menepuk keningnya.


"Tenang, pengawalmu tepat berada di belakang kita." Jawab Ivan menunjuk 30 Meter kebelakang.


"Apa dia memang kamu larang untuk bicara?" Tanya Lody.


Lala yang asik bermain ponsel tidak sadar bahwa dia berjalan sendiri karena teman-temannya berhenti.


"Lala!" Teriak Inez memberhentikan langkah Lala yang terkejut dengan panggilan Inez dan sekalo lagi melangkah dia akan menabrak tempat sampah. Lala celingak celinguk mencari temannya.


"Lala!" Panggil Inez lagi . Lala berlari kecil menghampiri Inez.


"Simpan dulu Ponsel Lo. Main jalan aja. Untung ga nabrak tempat sampah!" Omel Inez.


"Kalau berhenti bilang-bilang dong." Keluh Lala.


"Ngapain juga jalan sambil mainin hp. Kaya ada yang hubungin aja." Omel Lody.


"Ka Lody jangan begitu. Walaupun jomblo gini masih ada yang ngejar-ngejar gue tau!" Dumel Lala.


"Ian. Kamu bisa pulang sama Pak Yanto. Saya pulang sama Ivan" Perintah Inez kepada pengawalnya.


"Baik, Miss." Ian berlalu pergi.


"Lala, lain kali kalau mau ikut gue gak ada ya mainan hp. Belum tentu lo semujur tadi. Kalau nabrak yang lain gimana?" Omel Inez


"Nabrak orang ganteng gitu? itu namanya lebih mujur" Jawab Lala bercanda.


"Yaudah yuk. Jalan lagi laper nih" Keluh Lody.


Mereka berjalan memasuki kantin kampus. Saat mereka masuk ke dalam area kantin, beberapa ada yang menyadari kedatangan mereka. Kebanyakan Mahasiswa Baru. Karena Mahasiswa malam hari ini tidak terlalu banyak.


Lala dan Inez memesan Nasi Goreng. Sedangkan Ivan dan Lody memesan minuman.


"Gue baru kali ini jalan di lihatin banyak orang. Seru juga ya." Ucap Lala.


"Tunggu sampai akhirnya lo merasa udah ga punya privasi." Ujar Inez.


"Lagian lo tajir melintir sih" Komentar Lala sambil duduk. Ivan dan Lody malah tertawa mendengar komentar Lala itu.


"Ngga lah. Yang tajir bukan gue." Ujar Inez.


"Nih ya, lo sendirian aja udah tajir tujuh turunan dari usaha Batik yang udah mendunia juga. Gimana nanti bener-bener mewarisi usaha travel bokap lo. Belum lagi kalau lo nikah sama Ivan, tujuh kali tiga turunan gak miskin miskin." Jawab Lala lagi kali ini dia menghitung dengan mimik wajah yang serius dan polos. Inez yang mendengar komentar tersebut terbatuk-batuk. Ivan mengusap punggung Inez.


"Kalau ngomong yang bener dikit." Omel Inez.


"Bener kok. Ya ngga Ka Ivan?" Lala mencoba mencari pembelaan. Ivan hanya tersenyum seringai.


Makanan telah datang, mereka segera menyantap makanan tersebut. Setelah makan, mereka melakukan kegiatan terakhir pada hari ini hinggal pukul 8 malam.


Inez pulang bersama Ivan. Ini pertama kalinya Inez naik mobil hadiah ulang tahunnya Ivan. Sesampainya di rumah Ivan, Pak Djoko seperti biasa masih duduk di teras rumah.


Terkejut melihat Ivan pulang bersama Inez.


"Ndo, ya ampun kangen Om sama kamu." Komentar Pak Djoko pertama kali menyapa Inez sambil memeluk Inez.


"Inez juga. Om sehat kan?" Tanya Inez.


"Sehat syukur alhamdulillah om sehat."


"Bagaimana hari pertamamu?" Tanya Pak Djoko antusias ingin mendengar cerita Inez.


"Drama, Om" Keluh Inez sambil tersenyum.


"Tapi ceritanya besok aja ya, Dad. Inez harus istirahat. Besok dia harus pagi banget." Ivan memotong Inez yang ingin memulai cerita.


"Oke." Ujar Pak Djoko tersenyum gembira.


"Inez pulang ya Om. See you, Om" Inez berjalan kearah keluar diantar Ivan sambil melambaikan tangan..


Ivan mengantar Inez sampai depan pintu rumahnya.


"Masuk" Perintah Ivan lembut.

__ADS_1


"Oke. See you, Van." Jawab Inez membuka pintu dan memeluk Ivan erat-erat. Inez sangat merindukan moment bersama Ivan.


Ivan melambaikan tangan sebelum Inez menutup pintu rumahnya.


__ADS_2