Aku Mencintaimu Tanpa Tanda Tanya.

Aku Mencintaimu Tanpa Tanda Tanya.
Secret


__ADS_3

"Yes!!!!" seru Tika dan Agus bersamaan. Bara dan Lala yang sudah mulai mengantuk tersentak kaget.


Agus dan Tika sama-sama menoleh ke arah Bara dan Lala duduk.


"Gimana? apa yang kalian dapatkan?" tanya Bara . Lala mengucek matanya mencoba mengahapus kantuknya.


Tika menjelaskan "Kita menemukan lokasi dimana akun tersebut memposting. Kemungkinan itu letak dimana ia tinggal."


"Kalau gitu sekarang kita kesana. Ayo, tunggu apa lagi?" Lala mengajak mereka semua.


Bara tampak ragu, begitu pula Agus dan Tika yang juga berpikir.


Bara bertanya dengan mengerutkan keningnya "Kalau kita kesana, lalu apa yang akan kita lakukan, La?"


Lala terdiam lalu ia mengangkat bahu nya juga tanda mereka belum memikirkan tindakan mereka selanjutnya.


"Yeee, gue pikir lo berdua udah minta kita cari tahu lokasi tempat akun gosip itu, udah tahu mau berbuat apa." ujar Tika yang nampak sewot. Bara dan Lala saling pandang, mereka kehabisan akal apa yang mereka harus lakukan. Karena tidak mungkin di pagi buta seperti ini mereka mendatangi tempat lokasi tersebut dan menanyakan terkait kabar yang mereka posting.


"Aduh, kayanya kalau gini emang kita harus nunggu intruksi mas Melody atau mba Inez deh." ucap Bara menghela nafas karena terlalu lelah berpikir.


"Iya sih, emang kita harus berhadapan sama mereka yang udah pasti kita kena semprot." keluh Lala kembali ke tempat duduknya.


"Terus gimana, nih?" Agus bertanya


"Yaudah, malam ini kalian semua tidur sini aja. Kebetulan gue ada kasur lipet. Gue sama mas Agus di kasur lipet, kalian cewe-cewe di spring bed." tukas Bara memberikan intruksi. Lala langsung mengambil posisi di atas ranjang dan memeluk guling. Dia memang tidak biasa menahan ngantuk sampai sepagi itu. Dan mereka pun terlelap untuk beberapa jam sebelum waktunya berangkat kerja.


Hingga pagi menjelang, Melody masih menatap langit-langit. Hatinya begitu pilu melihat istrinya yang sedang tidur dalam pelukannya.


"Maafkan aku, sayang. Aku akan segera memperbaiki kesalahanku dan menyelesaikan masalahku." bisik Melody mencium lembut bibir istrinya. Mencium kening nya juga sebelum ia beranjak dari tempat tidur.


Sebelum Melody pergi, dia mempersiapkan sebuah aspirin dan jus jeruk untuk istrinya di meja sebelah tempat tidurnya. Memberikan sebuah catatan kecil untuk dibaca oleh istrinya ketika ia terbangun.


Jam menunjukan pukul 6 pagi, matahari baru saja terbit. Melody melajukan mobilnya dengan kecepatan yang normal. Dia butuh waktu berpikir, memikirkan setiap langkah untuk rencananya. Dia tidak ingin menyakiti hati istrinya, jika hal ini berjalan tanpa ada berita gosip terkait hal itu, semua akan berjalan sesuai dengan rencana awalnya.


Tanpa Melody sadari, mobilnya sedang di buntuti hingga ke tempat tujuannya. Seorang wanita dengan kacamata hitamnya untuk melindungi matanya dari sinar matahari yang sedang menyorotnya dimana ia berdiri memandang Melody dari kejauhan. Wanita itu tampak penasaran dengan apa yang terjadi di dalam rumah tua itu. Dia tampak melihat beberapa pengawal sedang berbicara dengan atasannya. Wanita itu tersenyum licik, masuk ke dalam mobilnya dan ia melesat pergi.


"Lexa..." panggil Melody saat masuk ke dalam ruangan tersebut. Lexa sedang tertidur lelap, menurut laporan pengawal yang berjaga, sejak malam hari Lexa terbangun dan menangis. Mengeluarkan suara bising nya untuk berteriak meminta tolong, dan baru terlelap sekitar subuh tadi.


Lexa masih terlelap dengan nyenyak. Melody mengelus halus rambutnya. Matanya berkaca-kaca menatap gadis malang itu. Dia sangat terpukul dengan rasa bersalahnya.


"Apa yang bisa ku berikan untuk menebus kesalahanku." gumam Melody yang duduk di sisi kepala Lexa. Melody memegang kedua kepalanya dia menangis tanpa suara.


Inez terbangun tanpa Melody di sisinya. Dia membuka matanya hanya ada secarik kertas diantara aspirin dan jus jeruk yang telah di sediakan.


"Shit!" Inez mengumpat memegang kedua kepalanya. Kepalanya terasa berat. Dia mencoba mengingat apa yang terjadi semalam. Ada bercak darah kecil di kasurnya. Inez mengingat tangan suaminya yang memukul keras tembok hingga tembok sedikit hancur. Inez menghela nafas, dia mengambil aspirin dan meminumnya dengan jus jeruk. Dia juga mengambil secarik kertas yang di letakkan oleh Melody di meja tersebut. Inez membuka perlahan lipatan kertas tersebut.

__ADS_1


'Inezstasia, my lovely wife.


Jangan berhenti membaca secarik tulisanku. Aku harap kamu mempercayaiku, bahwa tidak ada wanita lain yang membuatku seperti caramu membuatku bahagia dan tertawa. Caramu membuatku terluka karena mencintaimu, caramu membuatku terbangun dari keterpurukan ku karena meninggalkan ku walau kamu tidak merasa bahwa ada hati yang kamu lukai saat kamu melangkah keliar dari perbatasan negara ini. Inez, bisakah kamu mempercayaiku? Enam tahun tanpamu adalah neraka bagiku, dan aku tidak tahu bahwa salah satu kisah itu menantiku di awal pernikahan kita. Aku benar-benar ingin memberitahumu di saat yang tepat. Jangan tinggalkan aku, tunggu aku kembali. Aku hanya butuh waktu 24 jam untuk menjelaskan semuanya. Aku tidak bermaksud berbohong atau tidak mengatakan semua ini kepadamu. Hanya saja semua ini terlalu tiba-tiba terjadi padaku. Aku tidak ingin membebankanmu dengan masalah ini ketika pikiranmu terkuras dengan masalah yang baru saja terjadi. Aku hanya ingin kamu bahagia bersamaku. Maafkan aku jika kamu merasa aku dengan sengaja melakukan ini. I don't mean it. I love you. I love you. I love you.


Inez membaca setiap katanya baik-baik. Air matanya tidak terbendung lagi, hatinya sangat pilu.


"Melody!!!! I hate you!!!!" teriak Inez mengepal kertas itu dan melemparkannya jauh darinya. Dia beranjak dari kasurnya dan menuju kamar mandi untuk bersiap. Setelah dia selesai mandi, dia meraih tas genggamnya yang cukup besar semalam, meraih baju-baju ny uang berserakan di bawah lantai. Memasuki baju tersebut ke dalam tas itu. Dia melangkah pergi dengan kemarahan yang membara.


Ivan sedang tertidur pulas menikmati mimpinya. Dia terbangun karena seseorang telah mengetuk pintu kamarnya. Ivan melangkah menghampiri pintu kamar apartmentnya, dan membuka pintu tersebut. Tampak Berlian berdiri diambang pintu.


"Apa yang kamu inginkan, Berl?" tanya Ivan masih mengantuk. Berlian menerobos masuk ke dalam kamar Ivan. Ivan tampak kesal karena sikap Berlian.


"Bagaimana keadaanmu?" tanya Berlian prihatin pada Ivan.


"Aku baik-baik saja hingga kamu muncul pagi ini." ketus Ivan membuka lemari es dan mengambil sebotol air dingin.


Berlian menatap Ivan lekat dan berkata, "Bisakah kita melupakan apa yang terjadi pada hubungan kita. Aku tidak menginginkanmu untuk kembali bersamaku."


Ivan menolehnya dan membaca air muka milik Berlian. Berlian mengatakannya dengan sungguh-sungguh.


"Jadi apa maumu?" tanya Ivan.


"Apa kita tidak bisa berteman seperti dulu? Aku sendirian di jogja, hanya beberapa fake friends yang berteman denganku hanya ingin menikmati uangku." Berlian tampak sedih menerima kenyataan bahwa dia tidak benar-benar memiliki seorang teman.


"Baiklah. Kita akan kembali berteman. Maafkan aku karena menyakitimu. Aku tidak bermaksud." ujar Ivan menghampiri Berlian mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan. Berlian menyambut tangan Ivan dan tersenyum.


Pintu kamar Ivan kembali berbunyi. Suara ketukan keras yang membuat Ivan tersentak.


"Apa kamu memiliki seseorang yang di tunggu?" tanya Berlian. Ivan menggeleng dan berjalan menuju pintu. Dia lebih terkejut dengan kehadiran Inez di hadapannya dengan menangis dan membawa sebuah tas tanpa berkata-kata Inez segera masuk ke dalam kamar apartment Ivan tidak menyadari keberadaan Berlian disana.


"Aku ingin pergi sejauh mungkin. Bawa aku kemanapun tempat yang tidak bisa di temukan lelaki itu!" omel Inez berkacak pinggang. Kemarahan mengambil alih dirinya.


Berlian terdiam menatap Inez, dan itu membuat Inez tersadar akan kehadiran Berlian disana.


"Oh, I'm sorry. Apa aku mengganggu kalian?" tanya Inez. Ivan menghampiri Inez. Berlian hanya tersenyum tipis.


"Tidak, kamu tidak mengganggu. Berlian akan segera pergi dari sini, ya kan?" ujar Ivan. Berlian menyadari kehadirannya yang sepertinya mengganggu mereka.


"Oh iya, aku hanya mengecek keadaan Ivan. Karena dia tidak jadi kembali semalam ke jogja. Oh, Inez... I'm sorry to hear that." jawab Berlian.


"Sorry for what? My dad or My as*h*le husband?" Sarkasme khas Inez.


"Both." jawab Berlian dengan wajah sedih. Inez tersenyum tipis.


"It's okay. Aku hanya butuh pergi dari semua ini." jawab Inez menenangkan hatinya sendiri. Berlian segera pamit pergi, Ivan mengantarkan kedepan pintu.

__ADS_1


"Aku akan menghubungimu. Jaga dirimu baik-baik. Jangan terlalu mudah untuk laki-laki." Ivan memberikan sedikit wejangan pada mantan kekasihnya itu.


Berlian mengecup pipi Ivan perlahan sebelum melangkahkan kakinya pergi.


"Aku butuh ide kemana aku harus pergi!" Dengan kesal Inez masih membahas tentang tujuannya mencari Ivan.


"Jangan ceroboh. Jangan mengambil keputusan ketika marah." Lagi-lagi Ivan memberi nasihat kali ini kepada Inez. Inez melipatkan kedua tangannya di pinggangnya.


"Aku tidak ingin bertemu dengannya. Aku tidak bisa menahan keinginanku ketika bersamanya. Hasrat ini menguasaiku."


Ivan terbatuk karena keterbukaan Inez terkait hubungan intimnya bersama suaminya.


"Apa yang terjadi?" tanya Ivan duduk di kursi santainya. Inez terdiam tampak berpikir.


"Apa kamu tidak ingin duduk dan menceritakan apa yang terjadi ketika kamu terbangun pagi ini?" tanya Ivan lagi. Inez meliriknya lalu menjatuhkan tubuhnya di sofa.


"Semalam setelah kamu pulang aku sudah terbangun. Dan perbincangan tidak jelas pun terjadi. Aku tidak bisa membuat dia membuka rahasia nya. Dia tidak ingin memberitahu ku apapun hingga kami terbawa suasana yang membuat kami jadi liar." cerita Inez mengenang apa yang terjadi semalam. Kulitnya berkedut mengingat bagaimana Melody menyentuh nya, bagaimana Melody memperlakukannya membuat dirinya dan dewi batinnya terbang hingga terjun dalam kenikmatan yang tidak pernah ia duga.


Inez tidak sadar bahwa dia sedang di melamun dan diamati oleh Ivan. Ivan tersenyum melihat Inez.


"Ngelamun jorok?" tukas Ivan mengagetkan Inez. Inez kesal bahwa Ivan menggodanya.


"Dan setelah itu dia hanya meninggalkanku secarik kertas yang inti dari semua kalimatnya adalah Dia mencintaiku, dan dia meminta aku untuk percaya kepadanya." keluh Inez.


"Then trust him." Ivan mencoba meyakini Inez, namun rasa cemburu dan amarahnya sudah menguasai hati dan pikirannya.


Inez menggelengkan kepalanya, dia hanya tidak ingin merasakan perasaan yang sudah ia tidak rasakan lagi selama enam tahun.


"Dulu, aku butuh enam tahun untuk memulihkan hatiku dari perasaan di tinggalkan. Dan aku tidak tahu jika kenyataan pahit bahwa Melody mengkhianatiku, aku tidak bisa membayangkannya, Ivan." Inez berbicara dengan menangis. Ivan menghampirinya dan memeluknya.


Lexa terbangun dari tidurnya. Dia membuka matanya perlahan, merasakan kantuk yang amat sangat.


"Hei.." sapa Lexa yang menyadari kehadiran Melody yang sedang menundukkan wajahnya meletakkan keningnya di kedua lututnya. Melody menoleh. Menghapus matanya yang sedari tadi basah.


"I'm a mess." ucap Melody. Lexa menatapnya merasa bersalah dan berkata "Maafkan aku."


"Ssssttt... kamu tidak salah. Inilah kekacauan yang aku buat, membawa mu dalam kehidupan buruk seperti ini, membuat keputusan pada hidupmu, padahal aku tidak berhak. Dan sekarang berita tentang aku bersamamu membuat Inez berpikir bahwa aku mengkhianatinya." Melody mencurahkan isi hatinya. Lexa beranjak untuk duduk mensejajarkan posisinya dekat dengan Melody, meraih tangan Melody. Melody terdiam.


"Bawa Inez kesini. Biarkan dia dapat penjelasan sejelas-jelasnya terkait masalahku yang membawa kalian dalam posisi seperti ini. Aku tidak ingin merusak kebahagiaan kalian. Dan aku akan mengatakan ke Inez sebuah kebenaran." Lexa menahan air matanya, merasakan kesedihan yang di rasakan Melody. Dia tidak bisa membiarkan Melody dalam keadaan rumit seperti sekarang.


Melody menoleh menatap Lexa terkejut bahwa Lexa menyarankan untuk membawa Inez kesini mengetahui sebuah fakta dan rahasia masa lalu nya yang kini membuat dia harus bertanggung jawab.


"Aku tidak masalah. Aku yakin dia tidak akan menilai apa yang terjadi padaku." Lexa berkata meyakinkan Melody.


"Aku akan memikirkannya. Sementara biarlah seperti ini." ujar Melody menyembunyikan kesedihannya lagi.

__ADS_1


__ADS_2