
"Tumben sepagi ini sudah sampe kampus" Sapa Berlian di lorong kampus. Ivan yang sedang membaca sebuah Novel menoleh dan tersenyum. Pesona nya memang tidak bisa di bohongi.
"Pagi tadi aku harus nyerahin tugas ke Pak Jarwo, Berl. Aku baru tahu kalau kamu juga datang sepagi ini." Jawab Ivan.
"Kalau aku memang biasa datang pagi. Beberapa hal harus aku bereskan dulu di ruang BEM. Kalian kan setiap habis rapat atau berkumpul disana langsung pulang tanpa membereskannya." Jawab Berlian. Ivan menyeringai.
"Sorry deh sorry. Nanti kita akan biasain diri buat beresin ruangan BEM" Kata Ivanm
"It's okay sih. Oh iya aku nemuin sebuah buku di ruang BEM." Berlian memberi tahu. Menunjukan sebuah buku dengan cover hitam.
"Ada namanya?" Tanya Ivan. Berlian menggelengkan kepalanya. Lalu Ivan mengambilnya dari tangan Berlian. Membolak-balik an buku tersebut.
"Kamu ga coba buka?" Tanya Ivan lagi menoleh Berlian. Berlian masih menggelengkan kepalanya. Ivan melanjutkan membuka cover tersebut. Mereka masih tidak menemukan sebuah nama di lembara pertama buku tersebut. Tidak sengaja Ivan membuka halaman yang dibatasi sebuah pembatas buku.
'Hari ini sebuah kabar memekakan telingaku. Seperti kata Moemar Emka 'Dan aku tetap ingin bungkam. Mengingatmu hanya dalam diam. Biar dalam mimpi saja aku berpeluh mengejar bayanganmu yang mulai hilang. Aku terus bertanya, apakah kamu tidak melihatku setidaknya bayanganku? Mengapa kamu bersikap begitu dingin hingga neraka ini tidak terasa panas karena sikapmu.'"
"Van" Panggil Berlian untuk membuat Ivan berhenti membacanya. Ivan berhenti membacanya. Ivan menatap Berlian heran.
"Siapa yang menurutmu type picisan seperti ini di BEM?" Tanya Ivan kepada Berlian.
"Aku ga tahu. Siniin bukunya. Nanti aku umumkan dari intercom. Mungkin bukan punya anak-anak. Bisa jadi punya salah satu pacar mereka." Gumam Berlian mencoba meraih buku tersebut. Namun, Ivan menjauhkannya.
"Tunggu, Berl." Sanggah Ivan. Berlian berhenti mencoba meraihnya.
"Tidak perlu di umumin. Biar aku saja yang bertanya kepada yang lainnya nanti." Ucap Ivan. Berlian terpaksa mengangguk.
"Oke, tapi jangan sampai Lody tahu tentang buku ini. Dia pasti akan membaca semua isinya baru mengembalikannya." Berlian mengingatkan kepada Ivan. Mereka pun beranjak dari duduknya dan berjalan menuju ruangan BEM. Saat Pintu ruangan terbuka, muncul Lody dari dalam ruang tersebut.
"Hey..." Sapa Lody yang terkejut dengan kedatangan Ivan dan Berlian.
"Lo ngapain, Lody?" Tanya Ivan. Lody menatap mereka berdua sesaat lalu mengajak mereka berjalan ke arah kantin.
"Ya beresin apa yang kita berantakin semalam." Jawab Lody santai.
"Biasanya Berlian." Sanggah Ivan.
"Tadi juga gue nunggu lo, malah baru datang jam segini." Omel Lody kepada Berlian.
"Yaa gimana tadi papasan ketemu Ivan di lorong, eh kita bersosialisasi dulu deh." Jawab Berlian.
"Ngerumpi itu bersosialisai yang menyimpang, tau" Ledek Lody.
"Ilmu dari mana itu?" tanya Ivan tertawa.
"Yang jelas, ngerumpi soal orang lain bukan hal yang bagus." Tukas Lody.
"Siapa yang ngomongin orang lain. Kita lagi ngomongin..." Ucapan Ivan terpotong sama Berlian
"Ngomongin soal kita." Lanjut Berlian. Ivan dan Berlian saling menoleh. Berlian menyenggol tubuh Ivan yang hampir keceplosan soal Buku yang ia temukan tadi.
"Sejak kapan kalian berdua jadi 'kita?'" Tanya Lody penasaran.
"Anyway, gimana proses Skripsi lo?" Tanya Ivan mengalihkan pertanyaan Lody. Berlian menghela nafas.
"Hari ini gue ketemu dosen pembimbing. Kalau udah di terima tanpa revisi gue tinggal nunggu sidang nya di bulan Januari nanti." Jawab Lody menjelaskan.
Mereka pun berbincang soal perkuliahannya yang sedang menuju tahap akhir. Ivan sesekali memergoki Lody sedang melamun dan terkadang tidak fokus dengan apa yang mereka bicarakan.
"Udah ah, gue mau cari Bu Latifah." Lody beranjak dari tempat duduk nya, menyesap es teh nya lalu pergi meninggalkan Ivan dan Berlian.
"Dia lagi kenapa sih?" Tanya Berlian.
"Mungkin dia lagi terlalu banyak pikiran sama skripsinya." Jawab Ivan meneruskan memakan sarapannya. Berlian hanya terdiam, tidak tahu apa yang ingin dia bahas lagi.
Sementara itu, di sebuah bandara Inez sedang mengantri masuk ke ruang boarding.
Setelah ia duduk dalam pesawatnya, ia melakukan beberapa panggilan telfon.
__ADS_1
"Saya berharap besar dengan kepergian saya, Semua perusahaan tetap berjalan dengan baik ya, Pak." Ucap Inez kepada pak Gunawan di ujung telepon.
"Baik, Miss. Semoga perjalanannya lancar. Hubungi saya jika terjadi kendala disana. Di Jakarta partner saya sudah menunggu kedatangan Miss Inez disana ya." Jawab Pak Gunawan.
"Oke. Terimakasih." Inez menjawab terakhir sebelum ia menutup telfonnya. Menghela nafas.
'Ini akan menjadi sebuah perjalanan yang menarik. Jika dia tidak bisa hadir di dalam hidupku menjadi selayaknya seorang ayah. Aku yang akan hadir didalam hidupnya dan berlaku selayaknya seorang anak.' Gumam Inez tersenyum kecut menatap tiket pesawatnya.
"Saya mau tahu, apa tujuan dia pergi ke Jakarta. Ikuti dia setiap waktu, laporkan ke saya apa saja yang dia lakukan." Suara Lody memerintah ke salah satu anak buahnya. Anak buahnya mengangguk dan satu-satu pergi untuk menjalankan tugas.
'Jika kamu melakukan sebuah kesalahan dengan mencintai seseorang yang tidak mampu membalas perasaan itu. Aku akan membuat kamu mencintaiku.' Gumam nya menatap wajah Inez dalam ponsel nya yang terlihat sedang duduk menunggu di bandara.
Lody pergi menyusuri jalan di kampusnya menuju dimana ruang dosen pembimbingnya berada.
"Selamat siang bu." Sapa Lody masuk ruangan tersebut.
"Selamat siang, Melody." Jawab Ibu Latifah.
"Ini Skripsi yang saya harapkan, saya akan memberikan jadwal sidangnya dan di awal tahun kamu akan segera wisuda. Kerja yang bagus, Melody." Lanjut Ibu Latifah memuji hasil kerja Melody.
Melody tersenyum bangga dan mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan Ibu Latifah. Ibu Latifah tersenyum menyambut tangan Lody.
Kini, ia memiliki waktu banyak untuk mempersiapkan dirinya mencari Inez. Dia mengingat kejadian kemarin setelah melihat Inez keluar dari pintu ruang dekan. Dan mendapat kabar dari Lala bahwa Inez mengundurkan diri dari kuliahnya. Itu salah satu Motivasi terbaiknya menyelesaikan Skripsinya.
'Sore itu aku untuk pertama kalinya aku berjumpa dengannya. Melihatmu yang bersikap acuh membuat aku ingin mengetahuimu lebih. Hanya dari kejauhan aku bisa melihatmu tertawa dan tersenyum dengan seorang yang selalu berada disampingmu. Inez... Namamu adalah sebuah doa yang selalu melewati bibirku.'
Ivan membaca tulisan itu. Ia masih mencoba berpikir siapa yang memiliki perasaan terpendam pada Inez. Dia menutup buku itu kesal, bukan karena cemburu tapi dia masih marah dengan menyebut nama Inez. Terngiang apa yang Inez ucapkan di depan pemakaman.
'Aku hanya pergi bersenang-senang bersama Pria yang aku cintai tapi dia hanya menganggap aku Adiknya yang butuh di lindungi.'
Kata-kata Inez terngiang kembali. Ivan sangat membenci kalimat itu.
"Bodoh! Kenapa kamu mengucapkan hal itu! Bodoh sekali aku terlalu pengecut mendengar kalimat itu keluar dari mulutmu!!!! Bodoh!!! Bodoh!!!!" Umpat Ivan yang sedang duduk di belakang kampus. Tempat itu yang selalu menjadi tempat ia menyendiri.
"Miss Inez." Sapa suara itu.
"Antar aku ke kantor Ayahku." Perintah Inez sambil terus berjalan.
Inez diantar oleh salah satu pengacara terbaik di sana untuk menemui Ayahnya. Inez menikmati pemandangan Kota hari itu. Dalam hatinya ia bertanya mengapa tidak dari dulu dia melakukan hal itu. Mengapa harus tertahan dengan segala logika melakukan hal hal yang hari ini ingin lakukan.
"Siapkan apapun yang bisa memberatkan ia jika ia menolakku!" Perintah Inez kepada pengacara tersebut.
"Baik, Miss" Jawab pengacara tersebut yang bernama Pak Indra.
Mobil memasuki perkantoran yang bagus dan gedungnya sangat tinggi. Inez keluar dari mobil tersebut. Beberapa pasang mata menatapnya dan berbisik setelah mengetahui siapa dia.
Dia berjalan menaiki elevator dan tiba di meja receptionist kantor ayahnya.
"Maaf, Miss Inez. Mr. Wilson sedang tidak bisa menerima tamu." Sanggahnya
"Saya bukan tamu. Saya Anaknya." Jawab Inez berlalu pergi dan seketika masuk ke dalam ruangan Ayahnya.
Ayahnya hanya menoleh. Inez menatapnya tajam. Ia masuk lalu duduk di depan ayahnya
"Apa kamu menerima pesan ku?" Tanya Inez
"Halo Inez." Sapa ayahnya tidak menghiraukan pertanyaannya.
"Yaa, aku sedang menunggu kapan aku akan pergi ke neraka." Ledek Ayahnya.
"Berikan alasanku untuk tahu mengapa kamu meninggalkanku dan menjauhiku lima tahun terakhir ini." Pinta Inez.
Ayahnya menatap matanya. Memandangnya baik-baik. Menyadari bahwa mata, hidung, kulit nya benar-benar mirip dengannya. Ayahnya berdiri dan membuka sebuah brankas.
"Aku tidak perlu uangmu." Bentak Inez yang mengira Ayahnya akan memberikan uang dan menyuruhnya pergi. Tapi semua itu dugaan Inez yang salah. Ayahnya memberikan sebuah pucuk surat, dan beberapa robekan koran yang berisi foto Inez dan berita terkait tentang Inez.
__ADS_1
"Tanpaku, aku tahu kamu adalah Gadis dengan usia 17 tahun yang memiliki kekayaan yang tidak akan habis dalam waktu dekat." Ucap Ayahnya.
Inez segera membaca secarik surat yang di berikan oleh ayahnya. Ternyata itu surat dari ibunya.
' Dear, Dylan.
Aku pergi. Membawa sebagian dari dirimu. Aku tidak ingin menjadi salah satu wanita yang menyakiti sesama kaumnya. Jika, Serena datang dan berbagai cara untuk memilikimu, dia hanya cukup memintanya kepadaku. Dan waktu itu telah tiba. Setelah segala yang ia lakukan untuk membahayakan ku, dan menyakitiku. Aku merelakanmu. Bukan karena aku tidak mencintaimu. Tapi karena aku mencintaimu. Bayi dalam kandunganku adalah hal yang harus ku jaga dari tangan jahat wanita itu.
Jika ia dewasa nanti, aku hanya minta tolong. Ketika serena masih ada di hidupmu, jangan temui anak kita nanti. Jangan bahayakan anak ini, biarlah ia tumbuh dengan kehidupan nya yang aman.
Aku mencintaimu, berlebih dan tak berkurang. Jika anak ini terlahir perempuan aku akan memberinya nama 'Inezstasia Zakeisha' . jika laki-laki aku akan menamainya 'Dave Nallendro'.
Inez membacanya, matanya berkaca-kaca. Ia berusaha menahan tangis dan rasa kesalnya.
"So? Apa masih ada Serena di hidupmu?" Tanya Inez penasaran. Ayahnya menghela nafas.
"Yes, She's still here. Setelah ku ceraikan dia lima tahun yang lalu, aku tahu dia akan berbagai cara untuk menemukanmu dan melukaimu. Maka aku berhenti bertemu denganmu. Karena aku anggap itu permintaan terakhir ibumu." Jawab Ayahnya.
"Aku tidak peduli padanya! Sekarang kamu tahu itu. Sebanyak apa tenaga dia melukaiku aku akan membalasnya seribu kali. Aku akan menunjukan padanya bahwa aku memiliki darah Wilson. Aku seribu langkah di depannya." Jawab Inez dengan percaya diri.
Ayahnya menatapnya tersenyum bangga.
"Baiklah. Karena kamu sudah berada disini. Apa yang mau kamu lakukan?" Tanya ayahnya.
"Aku ingin pergi dari negara ini. Aku ingin pergi ke california dan menyelesaikan pendidikanku disana." Jawab Inez semakin yakin.
"Kamu yakin?" Tanya Ayahnya. Inez mengangguk dengan antusias.
"Oke. Akan aku persiapkan keberangkatan mu dan segala yang kamu butuhkan disana. Sementara tunggu aku di rumah?"
Inez mengangguk lalu tanpa berkata langsung meninggalkan kantor ayahnya. Ayahnya hanya menggelengkan kepalanya melihat perubahan dari anaknya tersebut.
Ayahnya melakukan beberapa panggilan untuk mengatasi semua urusan untuk Inez. Inez tersenyum puas dan berjalan berlalu meninggalkan gedung pencakar langit itu.
"Tidak terlalu sulit" Gumamnya ketika di mobil.
"Persiapkan beberapa orang pengawal. Buat pengawal tersebut tidak terlihat seperti pengawalku. Aku ingin mendapatkan sebuah bukti bahwa seorang Serena adalah orang yang melukaiku." Tukas Inez.
"Baik, Miss. Sekarang anda ingin saya antar kemana?" Tanya Pak Indra.
"Antar saya ke mall." Ucap Inez membuka ponselnya. Dia mengubah akun Instagramnya menjadi akun publik. Menghapus foto-foto Inez bersama Ivan. Meng upload beberapa foto dirinya yang berada di Morotai Islands saat itu.
Inez menikmati hari ini dengan meluangkan waktunya untuk berbelanja pakaian baru untuk mengisi lemarinya. Sepatu baru, Tas baru , jam tangan baru dan beberapa hal yang ia sukai.
Beberapa pengawal sudah di tugaskan. Seperti intruksi Inez di awal. Mereka tidak tampak seperti pengawal.
Hanya satu yang di tugaskan di samping Inez. Ian. Dia membantu membawakan semua barang yang Inez beli.
Inez berbelanja sampai malam hari. Ia pulang ke salah satu hotel terbaik di Jakarta yang memiliki penthouse.
Ponsel nya berdering menunjukkan no yang tidak ia kenal.
"Halo." Sapa Inez mengangkat telpon tersebut.
"Mengapa kamu menginap di hotel?" Tanya Ayahnya di ujung telfon..
"Ooh, jangan keberatan soal aku akan merepotkan untuk berada disana. Aku akan menunggu persiapan kepergianku ke California di hotel ini. Jika kamu ingin berkunjung silahkan. Karena aku hanya akan menemuimu di kantor mu." jawab Inez.
"Oke baiklah jika itu yang kamu inginkan. Mungkin butuh waktu tiga hari untuk mempersiapkan itu semua. Selamat malam, My little girl." Ucap Ayahnya.
"Good night" Kata Inez dan menutup telponnya.
Inez semakin bangga pada dirinya sendiri. Dia membuka laptopnya dan membaca beberapa laporan terkait perusahaan ibunya yang ia tinggalkan untuk di kelola oleh Pak Gunawan.
__ADS_1