
"Nez, pulang yuk." ajak Ivan yang sudah melihat Inez menggeletakan kepalanya di meja bar.
"Dia saja tidak berusaha menghubungiku!" bentak Inez.
"Mungkin dia mencarimu hingga malam gini." ujar Ivan yang mulai mengangkat tubuh Inez beranjak dari tempat duduknya.
Inez merasakan tubuhnya yang tidak dapat berdiri tegap. Dia terlalu banyak meminum cocktail yang bercampur alkohol.
"Gimana, mas Agus" tanya Lala yang sedang menatap seorang ahli komputer mencari tahu sumber berita itu berasal.
"Iya, mba Lala. Sabar ya. Saya masih memecahkan beberapa kode untuk mendapatkan alamat IP pengirimnya." ujar Mas Agus.
"Gimana Mbak Tika?" tanya Bara yang juga tidak sabar menunggu hasil yang mereka kerjakan. Mbak Tika menoleh menatap Mas Agus yang juga tersenyum melihatnya.
"Duh, kalian berdua itu bawel banget sih. Kalau ga sabaran nih kerjain sendiri." ujar Mbak Tika yang sewot.
"Eh jangan mbak." ucap Bara. Lala meliriknya dan melototinya.
"Laper nih aku." ujar Mbak Tika.
"Oh ya mbak, kita pesenin makanan ya. Mbak Tika sama Mas Agus mau apa?" tanya Bara dengan sigap.
"Nasgor aja, minum nya jus mangga." jawab Mbak Tika tersenyum senang.
"Aku samain aja sama Mbak Tika." ujar Mas Agus. Lala melirik Bara.
Bara dan Lala berjalan keluar kamar apartmentnya.
"Hahaha... Thanks for tonight. Aku tidak tahu apa jadinya aku jika kamu tidak menemaniku malam ini." ujar Inez dengan suara yang tampak mendayu-dayu karena terlalu banyak menghabiskan minuman beralkoholnya malam ini.
Melody terbangun karena suara gaduh yang di buat oleh Inez. Melody menatap Inez yang sedang dalam kondisi mabuk. Ivan berusaha memapahnya berjalan.
"Inez." panggil Melody. Ivan menoleh mengisyaratkan butuh bantuan. Melody menghampir Inez dan berusaha memegang tangannya. Inez terlepas dari genggaman Ivan dan berada di dalam pelukan Melody.
"Hmmm... Suamiku bau wanita lain." bisik Inez menggoda tertawa geli di telingan Melody.
__ADS_1
"Bicara apa kamu." ujar Melody yang memahami bahwa Inez sedang dalam keadaan mabuk.
"Tunggu sini. Silahkan duduk dimana saja. Anggap rumah sendiri." ujar Melody kepada Ivan. Ivan mengangguk.
"Apa wanita itu sangat membuatmu puas sehingga kamu berhenti menyentuhku pagi ini?" ujar Inez menyindir Melody. Melody menggendong tubuhnya menyusuri anak tangga.
Melody membuka kan sepatu heels milik Inez, menggantikan bajunya dengan kaos tidur yang ia ambil dari lemarinya.
"Maafkan aku." Bisik Melody mencium kening istrinya. Inez telah tertidur pulas. Melody melangkahkan kakinya dan menemui teman lamanya.
"Apa yang sebenarnya lo lakukan?" tanya Ivan seketika Melody duduk di hadapannya.
"Gue ga bisa ngomong soal itu saat ini. Yang jelas ga seperti kelihatannya. Gue tahu lo pasti akan menjaga nya juga. Terimakasih telah menjaga nya dan membawanya pulang." ujar Melody merasa bersalah tampak di wajahnya yang tampan.
"Bagaimanapun jika gue tahu lo berniat menyakitinya, gue orang pertama yang akan membuat bekas biru di muka lo." ancam Ivan.
"Lo di Jakarta berapa lama?" tanya Melody.
"Seharusnya besok gue pulang. Tapi gue ga tahu lagi kalau lihat Inez kaya gini. Seleseiin deh apapun masalah lo itu." ucap Ivan.
"Senayan City Residence." jawab Ivan sebelum melangkah pergi keluar rumah Melody.
Melody menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Dia tidak sadar bahwa Inez terbangun dan menatapnya dari atas tangga.
Melody menoleh mendengar suara langkah kaki dari anak tangga.
"Sayang." sapa Melody menatap mata Inez yang penuh dengan kemarahan.
"Apa kamu juga memanggilnya dengan panggilan itu?" sindir Inez. Melody menghela nafas.
"Kamu tampak tidak baik-baik saja. Sebaiknya kita kembali tidur." Melody menolak untuk membicarakan hal itu. Dirinya lelah dengan masalah yang menimpanya.
"Siapa yang akan baik-baik saja melihat foto suaminya bermesraan dengan perempuan lain? Perempuan yang tampak kumuh tidak terawat! Apa kamu memakai narkoba bersamanya? Apa kamu kembali menjadi seorang Junkie?" Inez merongrong Melody dengan segala pertanyaannya. Melody tidak bisa berkata dia hanya menatap Inez dengan rasa tidak menyangka bahwa kalimat-kalimat itu keluar dari mulutnya.
"Kenapa diam? apa aku perlu menganggap diam mu adalah ya?Jelaskan padaku dengan segala kebohongan mu! Apa kamu merasa aku sebodoh itu??? Tatap mataku dan katakan sekali lagi kebohongan itu 'tidak ada yang lain selain dirimu, Inez!' Katakan!!!!" suara Inez meninggi, emosinya kini pecah meluap bagaikan gunung yang memuntahkan lahar panas.
__ADS_1
"Inez..." ucap Melody.
"Inaz Inez Inaz Inez!!! Bisakah kamu menyebut selain satu kata itu! Aku muak mendengarmu menyebut namaku!" Omel Inez.
"Jika memakiku menghilangkan amarahmu, maki aku sepuas mu. Jika memukulku menyembuhkan rasa sakit hatimu, pukul aku sesuka hatimu. Selesaikan setelah itu kita istirahat. Aku akan memberitahukan semua nya setelah aku sudah menyelesaikan semua masalahku. Aku hanya ingin kamu percaya padaku, Inez." ucap Melody memohon. Inez menatapnya dengan penuh kemarahan, Melody bersikukuh untuk tidak memberitahu apa yang akan terjadi pada Lexa malam ini melihat tingkat kemarahan Inez yang meledak-ledak. Dan Inez terdiam dengan seribu bahasa. Membalikkan tubuhnya naik ke atas kamarnya. Melody menyusulnya menuju kamarnya.
Melody melihat Inez sedang memasukkan beberapa baju dari lemarinya ke dalam tas genggamnya yang agak besar.
"Where you going?" tanya Melody.
"I'm leaving you." ketus Inez sambil membereskan beberapa pakaian nya ke dalam tas.
"No, you ain't! Come back!" bentak Melody yang marah dengan sikap Inez yang tiba-tiba ingin meninggalkannya. Melody menarik lengan Inez. Melempar pakaian Inez keluar dari dalam tas nya.
"Bisakah kamu mempercayaiku?!!!!" teriak Melody kehabisan kesabaran. Inez tercekat mendengar nada suara Melody.
"Ini yang kamu lakukan? Membentakku ketika kamu salah? Bagaimana dengan janjimu mencintai ku tanpa tanda tanya? Hah?" Inez meninggikan suaranya juga.
"Aku mencintaimu, Inezstasia. Aku tidak berbohong dengan apa yang aku katakan, bahwa tidak ada orang lain selain dirimu." desis Melody yang mendekatkan tubuhnya ke arah Inez.
"Aku akan menyelesaikan masalahku, setelah itu aku akan menceritakan kepadamu. Tapi aku mohon kamu percaya padaku. Aku mohon." ujar Melody melanjutkan kata-katanya. Suaranya serak, menatap istrinya yang sangat ia cintai hampir meninggalkannya malam ini. Tubuh Inez terpojok menempel dengan dinding kamar. Melody menggenggam kedua pipi Inez dengan tangannya.
"Aku tidak bisa. Ini terlalu berat. Yang kamu lakukan bukan hal sepele, Melody!!! Kamu mengkhianati ku! Apa dia salah seorang pel*c*r mu!" umpat Inez. Melody sangat marah mendengar Inez dengan kata-kata nya yang bagai sampah keluar dari mulut Inez. Melody mengepalkan tangannya dan memukul tembok di samping wajah Inez. Inez terkejut dengan apa yang Melody perbuat.
"Apa kah kamu tidak cukup mendengar kataku, bahwa aku mencintaimu! Apa kamu tidak mendengarnya?!" bisik Melody di telinga Inez, hembusan angin dari setiap kata yang ia bisikkan membuat dewi batinku bangkit dari tidurnya.
'Shit! Tubuhku ikut mengkhianatiku!' batin Inez.
Jemari Melody menyentuh seluruh tengkuk leher Inez. Inez memalingkan wajahnya. Setiap syaraf di dalam tubuhnya bereaksi terhadap sentuhan Melody.
"Hanya kamu." bisik Melody lagi di telinga Inez sebelah kiri. Kini dewi batinnya melonjak kegirangan.
"Melody." desis Inez menahan keinginannya.
Melody menatap Inez dengan mata penuh kasih sayangnya, mendekati bibir Inez yang terkunci rapat. Ia ingin menolak nya tapi tubuhnya kini telah berkhianat menerimanya.
__ADS_1
Melody masih mencium Inez dengan lembut, perlahan Inez menyambut ciuman tersebut. Mereka tenggelam bersama malam penuh kehangatan. Segala emosi becampur aduk. Beradu dalam keinginan terbesar mereka. Bersama. Somewhere only they know.