Aku Mencintaimu Tanpa Tanda Tanya.

Aku Mencintaimu Tanpa Tanda Tanya.
30 April 2020


__ADS_3

"Pengusaha sukses Travel dan pemilik beberapa hotel bintang lima yang tersebar di beberapa negara di putuskan menjalani hukuman penjara selama 20 tahun. Bagaimana nasib perusahaannya kini?" suara pembaca berita di televisi mengisi kekosongan ruang keluarga rumah Melody dan Inez.


Mereka sedang berkumpul bersama Ayah dan Mama nya Melody mendengarkan terkait berita di televisi.


"Saya Inezstasia telah mengambil alih semua perusahaan milik ayah saya. Ya, bagaimanapun dia telah bersalah. Semoga hukuman yang ia terima sepadan dengan rasa bersalah yang menaunginya. Saya akan merubah sistem dan cara kerjanya selama ini, di bantu oleh suami saya dan beberapa rekan saya di tempat saya menuntut ilmu." ujar suara Inez dari speaker televisi menjawab pertanyaan pers terkait kasus hukum yang menjerat ayahnya.


Inez tertunduk malu di depan kedua mertuanya.


"Sabar, nak. Kita semua ada disini. Kamu tidak sendirian." ujar Mama mertuanya yang menghampirinya untuk memeluknya.


Pagi ini Inez akan berangkat ke perusahaan induk yang ada di Jakarta. Dia telah berpakaian rapi bersama Melody yang akan mengantarnya ke kantor tersebut. Karena hari ini Melody juga memiliki meeting penting bersama klien restaurant yang segera di buka di New york.


"Aku yakin kamu bisa mengatasi ini semua." ujar Melody memberikan support sebelum Inez keluar dari mobil nya. Inez memeluknya erat dan mencium bibir Melody lembut.


"Apa kamu akan menjemputku?" tanya Inez.


"Aku akan menjemputmu setelah aku selesai. Semangat, sayang. You can do this!" ucap Melody lagi sambil tersenyum lucu menatap Inez.


Inez berjalan menyusuri anak tangga di depan Lobby gedung kantornya. Nampak Lala yang sudah menunggunya di depan pintu masuk Lobby tersebut. Inez menoleh ke belakang, Melody melambaikan tangannya.


"Jalan, pak. Ke kantor di Sudirman." perintah Melody kepada supirnya.


Masa lalu Melody terlintas menenggelamkan Melody dalam pikirannya. Apa yang akan dia lakukan terhadap masa lalu nya, Lexa.


Alexandra Putri


Salah satu wanita yang pernah menghabiskan waktu bersama Melody sebelum Melody memutuskan untuk pergi mengejar Inez ke Los Angeles.


Melody menghela nafasnya mengingat tentang Lexa. Dia wanita yang cukup lama bertahan bersama Melody. Sebuah mimpi tentang Inez yang menariknya dari sebuah kegelapan.


Malam itu Melody bersama Lexa menghabiskan waktu berpesta dan memakai narkoba jenis Metemfetamin dan jenis MDMA.


Lexa memiliki wajah yang manis, dia memiliki sebuah senyum dan tawa yang khas. Bersamanya bagi Melody seperti mengisi rongga-rongga hati yang hilang karena kepergian Inez. Setelah skripsi, Melody kembali menjalani kehidupan yang suram. Keluarganya cukup khawatir tentang perubahan Melody yang drastis. Berbagai cara bahkan kembali mengikuti sesi terapi sudah di coba nya. Melody tetap sama saat itu.


Melody dan Lexa bersama di atas satu atap. Melakukan hal melanggar norma berkali-kali. Malam itu, dimana Melody kehabisan pengaman. Namun, Lexa memaksakan keinginannya. Melody terasa mual mengingat kejadian malam itu. Dia menyuruh supirnya berhenti di pinggir jalan untuk memuntahkan isi sarapannya. Wajah Melody memucat, ia meraih ponselnya dan menghubungi seseorang.


"Aku tidak ingin tahu bagaimana caranya!!! Yang aku ingin tahu cepat temukan wanita itu!" bentak Melody kepada orang yang menerima telponnya.


Supirnya tampak terdiam, dia memikirkan kemungkinan besarnya untuk menutupi apa yang terjadi pada tuannya dari nyonya nya.


"Jangan katakan apapun kepada istri saya." perintah Melody. Kegelapan seperti menghampirinya. Melody menahan dirinya. Mengingat setiap senyuman, tangisan yang berada di wajah istrinya yang terus membawanya kembali mendapatkan cahaya.


"Hai, Lala. Perkenalkan ini Vincent. Dia temanku di Los Angeles. Dan dia satu-satunya orang yang menemaniku mencari rendang di sana." ujar Inez memperkenalkan Lala dengan rekannya.


"Baik, Miss Inez." ujar Lala. Inez menoleh dan melototi Lala. Lala bingung dengan pandangan Inez.


"Panggil gue apa???" tanya Inez heran. Vincent menatap mereka berdua lucu.


"Miss Inez." ujar Lala hati-hati dia telah merasakan setahun bekerja bersama ayahnya yang cukup temperament. Dia tidak ingin kena bentak dari Inez juga.


"Panggil gue Inez. Apa-apaan sih, La. Walau lo disini sebagai asisten gue, gue ga mau ya lo pake bahasa kaya gitu buat ngobrol sama gue. Anggap kita kaya waktu di kampus pas ospek." Senyum Inez mengembang di wajahnya membuat Lala melepaskan nafasnya yang menggantung. Dia lega.


"Okay, Vin. Ini Lala. Dia yang bertanggung jawab untuk segala jadwal meeting, jadwal perskon, sama berbagai macam hal terkait sama perusahaan ini. Gue sih juga masih mempelajari beberapa sistem disini, cuma laki gue udah mutusin untuk ubah sistem kerja di sini. Semua orang disini bebas memberi pendapat dan harus sesuai dengan persetujuan para direksi masing-masing baru nyampe ke gue." tukas Inez memberikan mereka sebuah tugas. Vincent menatap Inez terkesima.


"Gue ga pernah nyesel kalau dulu pernah jatuh cinta sama Inezstasia Zakeisha Wilson." ledek Vincent.

__ADS_1


"Jangan berani-berani.. Kali ini udah ada yang memenangkan hati gue." ledek Inez.


Vincent tampak berpikir.


"Oh ya, Melody. Gue rasa juga lo harus tahu tentang sepak terjang dia di Indonesia. Selain banyak catatan kriminal terkait kepemilikan narkoba yang selalu lolos dari tuduhan sebagai pengedar atas bantuan kakeknya sih itu udah pasti, gue gatau apa yang lo liat dari suami lo." ucap Vincent yang keceplosan. Lala memandang Inez tercengang.


"Gue tahu soal itu. Itu jauh sebelum ketemu gue. Dan itu tidak merubah apapun dengan apa yang terjadi sama gue dan dia sekarang. So, semoga kalian bisa bekerja sama dengan baik. Okay?" jawab Inez santai memberikan isyarat kepada Lala untuk membawa Vincent keluar dari kantornya.


Setelah Lala mengajak Vincent keluar dari kantornya, Inez mengerutkan kening. Dia berjalan menuju tepi jendela kaca milik kantornya. Menatap kota Jakarta dari atas sana. Teringat dengan telpon asing yang menghubungi ponsel suaminya. Inez berjalan menuju bangku kantornya. Untuk pertama kalinya dia duduk di bangku ayahnya. Inez membuka ponsel miliknya. Membuka galeri kamera menatap fotonya bersama Melody yang mereka ambil saat perjalanan bulan madunya. Inez tersenyum menatap foto tersebut.



Dering ponsel menariknya kembali ke dunia nyata. Panggilan dari Ivan.


"Hai, strangers" ledek Ivan menyapa Inez saat Inez mengangkat telponnya.


"Monkey!!! When you come home?" tanya Inez


"Tomorrow. I'm so sorry to hear about your dad." ujar Ivan dengan suara yang lembut.


"It's okay. I never knew about him. Aku tidak tahu bahwa dia mampu melakukan hal itu hanya untuk sebuah kekayaan. Sebenarnya aku malas menjalankan perusahaan ini. Tapi benar jika aku melepas perusahaan ini, itu hanya saja seperti dia yang lari dari kenyataan." tukas Inez bercerita.


"Hei, i miss you. Apakah kamu sudah mengandung seorang keponakan untukku?" Ledek Ivan mengubah topik pembicaraan.


"Tidak untuk saat ini. Banyak yang terjadi, dan itu membuatku terlalu memikirkan hal lain. Bisakah sebelum kembali ke jogja kamu mampir ke kantorku. Ada yang ingin ku bicarakan." ucap Inez.


"Okay, baiklah. Besok segera aku menghampirimu." jawab Ivan mengakhiri perbincangan mereka.


"See you, Nez."


Inez menghela nafas menutup ponselnya. Dia menundukkan wajahnya dan menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


Melody keluar dari gedung kantornya, menaiki sebuah mobil yang di setir oleh supirnya. Sepasang mata cantik itu menatapnya dari kejauhan, menyalakan mobilnya dan mengikuti kemana mobil Melody membawanya pergi.


Melody berhenti di sebuah apartment kumuh yang cukup jauh dari Jakarta. Wanita itu menatapnya dari balik kaca mobilnya. Tersenyum karena dia memiliki ide yang cemerlang untuk mendapatkan sebuah foto.


Ketika Melody berdiri menatap gedung tersebut, keluar seseorang gadis yang telah berbadan dua memeluk tubuh Melody. Wanita dari dalam mobil mengambil beberapa foto tersebut dan pergi menjalankan mobilnya keluar dari arah parkiran.


"Lexa!" bentak Melody melepaskan pelukannya.


"Aku tahu kamu akan menemuiku." ujar Lexa.


"Apa yang kamu inginkan?" tanya Melody. Melody menatap Lexa yang kumuh seperti dimana ia tinggal, pakaiannya tampak lusuh, rambutnya berantakan, wajahnya cekung.


"Apa kamu menggunakan nya lagi?" tanya Melody. Sebelum Melody pergi ke LA, ia sempat mengantarkan Lexa pergi ke pusat rehabilitasi di bogor. Dan sekarang kenyataannya, Melody melakukan sebuah kesalahan yang belum ia tuntaskan. Menatap perut Lexa yang sedikit mengembung.


"Apa kamu hamil?" tanya Melody. Lexa menundukkan wajahnya dan mengangguk.


"Apa aku adalah ayah dari anak yang kamu kandung?" tanya Melody. Lexa ragu menjawab. Dia menggelengkan kepalanya.


"Tadinya aku menelponmu ingin mengatakan bahwa aku mengandung anakmu. Namun, ketika aku mendengar berita tentang ayah mertuamu, aku tidak sanggup melakukan itu kepada istrimu." ujar Lexa bercerita.


"Baiklah. Aku akan membawamu pergi dari sini. Dan kita akan mengobrol dengan layak." ucap Melody ketus menyuruh pengawalnya membawa masuk Lexa ke dalam mobil.


"Aku harus mengambil ponsel ku." ujar Lexa.

__ADS_1


"Masuklah. Barang-barangmu akan di urus oleh orang-orangku." tukas Melody.


Ekspresi Melody sulit di tebak. Dia ingin marah karena menemukan Lexa dengan keadaan seperti ini, namun hatinya juga pilu. Yang membawa Lexa mengenal dunia seperti ini adalah dirinya. Melody merasa bersalah. Dia harus membenahkan masalahnya sendiri. Sebelum semakin besar.


Melody pergi bersama Lexa. Menaiki salah satu mobil milik pengawalnya. Supirnya di perintahkan olehnya kembali ke kantornya. Melody menyetir dengan tatapan tajam dan tetap diam.


"Apa kamu ingin makan?" tanya Melody. Lexa menggelengkan kepalanya.


"Apa kamu baru saja memakai benda itu?" tanya Melody. Lexa mengangguk.


"Berapa banyak kamu gunakan?" tanya Melody.


"Hanya 3/4. Nanti malam aku akan makan." kali ini Lexa menjawab pertanyaan yang dilontarkan Melody. Melody tampak sedang berpikir keras.


"Kemana kamu akan membawaku?" tanya Lexa.


"Tempat yang layak. Dimana kamu tidak akan mencari barang itu selagi kamu mengandung." jawab Melody santai.


"I swear to god! Jangan bawa aku ke tempat itu lagi!" bentak Lexa mulai kalut.


"Relax, Lex. Aku tidak akan membawa mu kesana. Aku akan menyediakan tempat tinggal yang layak untukmu. Hingga kita memikirkan caranya dan menemukan solusi aku akan merawatmu! Dengan satu syarat, tutup mulutmu rapat-rapat! Pertama, beritahu aku bagaimana kamu bisa hidup seperti ini?" Melody melirik gadis hamil di sebelahnya. Dia tampak sedang sedih. Lalu, air mata pun pecah membanjiri di sekitaran matanya.


"Maafkan aku. Setelah dua hari di tempat itu aku tidak sanggup. Aku pergi bersama pria yang ku kenal di tempat itu. Kami melakukan hal-hal gila seperti malam bersamamu. Dan setelah dua bulan berlalu dengan segala habit kami, aku positif hamil. Dia pergi meninggalkanku ketika aku tertidur. Awalnya aku mencoba membunuh diriku, karena aku tidak sanggup membunuh bayi ini." cerita Lexa menangis. Iba menampar keras hati Melody.


"Maafkan aku." ucap Melody.


"Aku tahu kamu pergi karena memutuskan untuk mengejar Inez. Aku tahu bahwa hubungan kita akan segera berakhir ketika kamu terbangun pagi itu dan meneriakkan namanya. Tapi, untuk melakukan hal buruk terhadapmu aku tidak sanggup. Aku ingat bagaimana hari-hari mu menghilangkan mimpi burukmu. Aku ingat bagaimana mimpi itu menghantuimu. Ketika kamu terbangun dan berani menghadapi hal terburuk yang terjadi dalam mimpimu, itu adalah hal terbaik yang pernah aku lihat terjadi di hidupmu. Aku tidak menyesal berada di kehidupanmu walau beberapa saat. Aku senang di saat-saat sulitmu bahwa aku selalu ada untukmu. Dan sekarang kamu bahagia bersama Inez, adalah suatu keinginan terbesarku." ucap Lexa menatap wajah Melody yang sedang menatap jalan di hadapannya.


"Begitupun aku, tidak akan kemana-mana ketika masa sulit menghampirimu. Hanya saja caramu yang salah menelponku dan meneror istriku dengan kalimatmu." Melody tersenyum mengusap rambut Lexa.


"Aku akan memikirkan bagaimana memberitahu istriku. Dan aku akan cari orang yang membuatmu seperti ini." lanjut Melody lalu Lexa terdiam.


Melody sampai di sebuah rumah tua. Tidak terlalu besar. Rumah dengan dua kamar yang dia ingat kamar itu tempat ia di kurung oleh kakeknya saat masa remaja. Saat itu Melody tertangkap basah menggunakan narkoba oleh kakeknya. Dan selama dua minggu Melody di kurung di rumah tua itu. Kamarnya sudah di desain oleh kakeknya untuk menghadapi Melody yang dalam kondisi kecanduan yang tak terlampiaskan. Melody mengingat gejala tubuh yang terjadi akibat pemberhentian pemakaian narkoba secara mendadak. Membuat emosinya mengendalikannya. Dia hampir membunuh dirinya sendiri hanya saja di dalam kamar itu tidak ada benda tajam satupun. Hanya ada kasur busa, jendela kamar yang di tutup oleh bantalan busa tebal hingga ke tembok. Bahkan ke pintu nya.


"Masuklah." perintah Melody kepada Lexa. Beberapa pengawal lainnya sudah berada di area rumah tersebut.


"Aku tidak akan tinggal di kamar itu!" bentak Lexa.


Melody memeluk Lexa yang sedang meronta.


"Sssshhh... Aku tidak akan kemana-mana. Percayalah padaku ini yang terbaik untuk kamu dan bayi di kandunganmu." ujar Melody menenangkan Lexa. Melody memeluknya dan membawa Lexa masuk ke dalam kamar tersebut yang bernuansa putih karena bantalan busa tebal telah menutupi setiap tembok. Pendingin ruangan tersebut di nyalakan. Lexa tampak takut. Dia duduk di atas kasur busa dan memeluk lututnya.


Melody keluar dari kamar dan menutupnya. Mengunci nya dari luar.


"Siapkan semua pakaian dia. Bersihkan dirinya. Jauhkan beda tajam darinya. Beri makan dia dengan sendok dan piring plastik. Pastikan makanan itu habis! Beli vitamin untuk ibu hamil, berikan dia vitamin itu secara teratur! Berikan aku pesan kode jika terjadi sesuatu yang tidak kalian sanggup tangani!" perintah Melody. Pengawalnya memberikan ponsel milik Lexa. Dia mengambilnya melihat beberapa isi dari ponselnya.


"Cari pria ini juga. Dia pernah sama-sama di rehab di tempat rehab yang di bogor. Cari informasi pasien yang kabur bersama Lexa pada akhir tahun kemarin." imbuh Melody lagi. Pengawalnya mengangguk tanda mengerti. 5 Pengawal dan 1 asisten rumah tangga untuk masak dan mencuci pakaian di tempatkan di rumah tua itu.


Mobil Melody melesat dengan cepat. Hatinya sangat pilu melihat wanita itu yang dia anggap seperti adiknya, sahabatnya, dan pernah menjadi kekasihnya mengisi hati nya yang terluka saat itu dalam keadaan yang sangat terpuruk.


Melody menempuh kecepatan yang sangat tinggi, menyusuri jalan tol yang cukup lenggang sore itu. Mengarahkan mobilnya ke gedung perkantoran milik istrinya.


"Aku dibawah." ujar Melody kepada Inez dari ponselnya. Nada nya yang tidak jelas sangat sukar ia sembunyikan. Dia tidak tahu ingin mulai dari mana untuk bercerita tentang masa lalu nya. Dia terlalu malu pada dirinya sendiri.


"Aku akan segera turun." jawab Inez.

__ADS_1


"Hahahahahaahahhahaa... Kalian tidak akan lepas dari cakarku." Wanita itu berbicara kepada dirinya sendiri. Menatap beberapa foto di ponselnya yang dia ambil dari apa yang dilihatnya.


"Tidak ada yang sempurna." ucapnya lagi.


__ADS_2