
"Bagaimana ini bisa terjadi?????!!!!!!!!!" Bentak Ivan memandang foto Instagram terbaru Inez dan Melody.
Suara Ivan terdengar sampai ke luar kantornya. Semua karyawannya tersentak dan menoleh. Semua tampak heran dengan sikap atasannya yang akhir-akhir ini bertingkah aneh. Terkadang suasana hatinya tiba-tiba berubah menjadi seseorang yang galak. Tiba-tiba diam seharian tanpa ingin di ganggu. Keceriaan hilang dari sosok Ivan.
Ponsel nya terus berdering, No yang tidak terduga menghubunginya. Inez.
Ivan segera menerima panggilan tersebut.
"Hai..." Sapa di ujung suara. Ivan menutup matanya mendengar suara tersebut. Hatinya seketika tenang mendengar suaranya. Seperti obat yang telah lama ia cari untuk menghilangkan luka hatinya.
"Inez." Panggil Ivan dengan suara serak menahan kesedihannya. Hatinya bahagia karena akhirnya Inez menghubunginya, tapi dia juga merasakan sakit yang bersamaan ketika realita menamparnya bahwa Inez kini bertunangan dengan Melody.
"Hai, Ivan. I'm so sorry." Ucap Inez membuka obrolan yang di sertai keheningan beberapa detik itu.
"Maaf untuk apa? Kembalilah pulang. Aku perlu bicara pada mu secara langsung." Pinta Ivan. Di ujung telfon Inez tersenyum mendengar suara Ivan setelah sekian lama.
"Aku akan memberimu kabar ketika aku pulang. Aku telah memaafkan diriku, maka dari itu aku ingin kamu memaafkanku." Suara Inez mulai serak karena terharu dengan kata-katanya. Ia juga tidak bisa membohongi dirinya bahwa dia merindukan sosok Ivan.
Melody sedang mendengarkan Inez berbicara sambil memandangnya. Ivan terdiam dengan kata-kata Inez.
"Tidak ada yang perlu dimaafkan. Pulanglah." Pinta Ivan lagi. Hatinya begitu hancur, dia hanya ingin bertemu Inez. Memeluknya dan tidak akan melepaskan pelukan itu lagi.
"Aku juga merindukan mu. Jaga dirimu baik-baik, Okay?" Ucap Inez. Ivan tanpa sadar mengangguk.
"Aku akan menelponmu lagi. Salam untuk Om Djoko." Lanjut Inez, sebelum menutup telpon. Ivan hanya terdiam sampai Inez menutup telponnya. Air matanya tidak terbendung lagi. Ivan menangis, merunduk dibawah meja kantornya. Memeluk lututnya menguatkan dirinya sendiri.
Inez meneteskan air matanya, Melody menghapus air mata tersebut.
"heii.. it's okay..." Ucap Melody menghibur Inez.
"Lima tahun aku menjauhi dia. Sedangkan 17 tahun dia selalu menemaniku. Begitu egois nya aku mementingkan perasaanku tanpa tahu bahwa itu membuatnya kehilanganku juga." Gumam Inez bercerita kepada Melody.
"Aku tahu. Dan aku sangat tahu bagaimana dia menghabiskan hari-harinya berusaha untuk tidak mencarimu. Dia sahabatku. Aku berharap apapun yang dia pilih adalah terbaik untukny." Jelas Melody.
Inez mengangguk setuju. Mengusap matanya menghapus airmata yang menetes di pipinya.
__ADS_1
Melody tersenyum dan Inez juga tersenyum setelahnya.
"Terimakasih telah menemukanku disini. Membuatku memaafkan diriku sendiri." Ucap Inez menggenggam tangan Melody.
"Heii.. Aku memang harus menemukanmu. Aku harus mencintaimu dan terjun bebas bersamamu. Berharap tidak sia-sia. Sekecil apapun itu. Karena kesempatan itu selalu ada. Kapanpun itu." Ucap Melody. Inez tersenyum.
"Kamu mengutip buku apa kali ini?" Tanya Inez mengerutkan keningnya.
"Salah satu buku dari lemarimu. Karangannya Moammar emka." Melody meringis dan Inez tertawa. Inez mengeluarkan sebuah Amplop dari dalam lacinya.
"Apa itu?" Tanya Melody menerima sebuah amplop tersebut. Dia terkejut membukanya.
"Kita akan pulang ke Indonesia lusa, sayang?" Tanya Melody tidak percaya. Melody sangat ingin sekali membawa Inez ke hadapan keluarganya.
Inez mengangguk sambil tersenyum menyandarkam dirinya ke meja dengan siku nya yang menopang tubuhnya.
"Aku tahu kamu sangat merindukan Indonesia." Ujar Inez, karena beberapa waktu Melody mengajak makan di sebuah restaurant yang menyajikan sajian Khas Indonesia di New york. Melody mengerutkan keningnya seperti penasaran pada sesuatu hal.
"Apa kamu tidak akan pernah kembali ke Indonesia jika aku tidak mengejarmu kesini?" Tanya Melody penasaran.
Melody mengangguk-angguk.
"Jangan terlalu bangga dengan jasamu." Ledek Inez mencubit lengan Melody. Melody mencubit kedua pipi Inez dengan gemas. Inez dengan kesal menepis tangan Melody, dan melemparkan keripik singkong ke arahnya. Melody menghindar. Berlari memutari meja makan dan Melody menangkap Inez dari belakang dan menciumi pipinya. Inez tertawa geli.
"Oh ya.. Bagaimana perkembangan restaurant milikmu disini?" Tanya Inez mengingatkan Melody tentang pekerjaannya.
"Kurasa aku bisa memantaunya dari Indonesia. Tidak ada alasan yang bisa menahanku untuk membawamu pulang." Ledek Melody memicingkan matanya.
"Tapi aku akan melakukan beberapa panggilan kepada beberapa karyawanku disini." Lanjut Melody meraih saku nya mengeluarkan ponselnya.
"Aku akan mencoba menghubungi ayahku." Ucap Inez mencium pipi Melody. Melody melangkah ke ruang televisi. Dia merebahkan tubuhnya di atas sofa dan melakukan beberapa panggilan terkait pekerjaannya.
Inez menunggu telpon ayahnya di angkat. Setelah beberapa deringan ayahnya mengangkat telponnya.
"Hai, Little girl." Sapa ayahnya.
__ADS_1
"Aku bukan gadis kecil lagi, Dad." Omel Inez di telpon.
"Apa yang membuatmu menelpon pria tua ini, sayang?" Tanya Ayahnya yang mencoba tertawa. Ines tersenyum mendengar komentar ayahnya.
"Apa kamu sudah tahu?" Tanya Inez. Walau jarak memisahkan mereka, ayahnya selalu memiliki orang khusus untuk mencari tahu tentang perkembangan Inez. Seperti saat Inez berusia 17 tahun saat di Jogja. Ayahnya mengumpulkan potongam surat kabar yang memberitakan tentang Inez. Dan beberapa pengawal yang masih dipekerjakan oleh Inez untuk menyamar seperti orang biasa juga masih melakukan tugas mereka hingga kini. Untuk berjaga-jaga jika Mantan Istri Ayahnya yang gila itu membahayakan Inez seperti dulu dia membahayakan Ibunya Inez.
"Soal cucu kesayangan Kapolri itu yang melamarmu?" Tanya Ayahnya menebak.
"Yes, about that." Jawab Inez lagi.
"Aku baru saja mengetahuinya. Apa kamu akan melaksanakan pernikahannya di New york?" Tanya Ayahnya lagi.
"No, Daddy. Aku akan segera pulang. Tepatnya lusa aku akan kembali ke Jakarta. Aku ingin tinggal di rumah besar di Jakarta." Ucap Inez. Di ujung telpon ayahnya tersenyum mendengar kabar itu.
"Aku akan mempersiapkan kepulanganmu. Apa kamu akan mengadakan pesta homecoming?" Tanya Ayahnya lagi yang antusias dengan kepulangannya.
"Dad, kamu tahu jika kamu mengadakan pesta itu adalah isinya orang tua sebayamu" Ucap Inez menggoda ayahnya.
"Oke baiklah. Hanya kita saja kalau begitu" Gumam ayahnya tampak kecewa.
"Mungkin setelah itu kita akan mengadakan press confrence tentang kepulanganmu" Lanjutnya menjelaskan.
"Aku akan melakukannya." Jawab Inez lembut.
"Kamu akan menyiarkan berita tentang pertunanganmu juga kan?" Tanya ayahnya.
"Aku akan melakukannya, Daddy." Jawab Inez lembut.
"Ahhh... aku akan memberikan hadiah yang cukup besar untuk Melody karena telah menjadikan putri ku putri yang penurut." Tukas ayahnya.
"Itu hanya sementara. setelah itu aku akan kembali membangkang.Hahahahahaha" Ledek Inez tertawa.
"Baiklah. Itu akan membuatku tampak lebih muda." Jawab ayahnya menimpali candaan Inez.
"Okay. See you when i see you, dad." Ucap Inez mengakhiri perbincangan mereka. Inez terbiasa menutup telpon ayahnya lebih dulu. Dan membuat Ayahnya menggelengkan kepala untuk permasalahan itu.
__ADS_1
Inez tersenyum senang. Hidupnya akan sangat sempurna. Dan dia siap kembali ke Indonesia. Tanpa ia tahu ada beberapa hal buruk yang menantinya di Indonesia. Tidak ada yang sempurna Inez. Tidak ada yang sempurna.