Aku Mencintaimu Tanpa Tanda Tanya.

Aku Mencintaimu Tanpa Tanda Tanya.
5 Mei 2020


__ADS_3

Pagi ini Melody terbangun mencari-cari keberadaan Inez. Ini hari kelima Melody masih belum bercerita tentang masalah nya dengan Lexa. Tidurnya hanya nyenyak ketika Inez berada di sampingnya. Ketika Inez terbangun lebih dulu dan pergi mandi, Melody langsung tertarik kedalam mimpi buruknya yang sangat gelap.


"Inez!!" teriak Melody dari kasurnya. Inez yang sedang bersiap-siap di ruang ganti mendengar Melody berteriak.


"Hei... heii.. aku ada disini." ujar Inez membangunkan Melody yang sedang bermimpi. Melody membuka kedua matanya, menarik Inez dalam pelukannya.


"Jangan tinggalin aku." ujar Melody sambil memeluknya erat. Inez kebingungan.


"Aku gak kemana-mana. Aku disini." Inez menenangkan suaminya. Memberinya segelas air minum yang selalu tersedia di meja samping tempat tidur mereka.


Melody menengguk air putih itu hingga habis. Degup jantungnya terasa cepat, keringat membasahi dirinya. Melody terdiam memegang sebuah gelas. Hatinya masih ragu bagaimana ia jelaskan bahwa selain ke kantor kesibukannya adalah mengecek keadaan Lexa yang masih dalam pantauan untuk melepaskan kecanduannya terhadap narkoba.


"Mengapa akhir-akhir ini kamu terbangun dengan mengigau menyebut namaku?" tanya Inez mencoba menggoda suaminya.


"Aku hanya minta, jika kamu ingin bangun dari tempat tidur bangunkan aku juga." tukas Melody bangkit dari ranjangnya dan memberikan gelas kepada Inez, dan mencium kening Inez. Inez mengerutkan keningnya melihat mood Melody yang berubah pagi ini.


Menoleh menatapnya masuk ke dalam kamar mandi, terdengar suara kucuran air dari shower yang dinyalakan oleh Melody.


'Ada sesuatu yang terjadi. Kalau kamu tidak ingin memberitahuku, aku akan mencari tahu sendiri. Apa kamu memiliki gadis lain di luar sana?' pikir Inez terlintas di benaknya.


'Aku tidak dapat berbohong dari kedua mata itu. Bagaimana aku harus jujur? Bagaimana mulai mengatakannya? Inez, kamu tahu ada seorang gadis yang kini sedang hamil? ngga ngga dia akan kehilangan akal sehatnya seketika mendengar kalimat itu. aaargggghh pers*t*n dengan omong kosong ini.'


Melody tenggelam bersama pikirannya dibawah pancuran air.


"Ivan" Inez berbisik di suara telpon.


"Why you whispering?" tanya Ivan di ujung telpon.


"Ada sesuatu yang terjadi pada Melody. Aku tidak tahu harus bagaimana? Bisakah kamu menemuiku di kantor ku? Kita akan pergi ke suatu tempat dimana kita bisa membicarakannya." ujar Inez masih berbisik.


"Ya, asal tempat itu bisa membuatmu berbicara dengan normal bukan berbisik seperti ini." ledek Ivan.


"Baiklah, aku akan menelponmu kembali." ucap Inez masih berbisik. Dari arah belakangnya dia tidak sadar bahwa Melody memperhatikannya.


"Apa yang kamu lakukan?" tanya Melody sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil. Melody keluar kamar mandi hanya di balut handuk yang menggantung di pinggangnya. Otot-otot bisepnya membuatnya tampak seksi karena basah.


"Aku hanya mencoba menggunakan fitur voice note, bagaimana jika aku lakukan itu dengan berbisik. Apakah masih terdengar jelas." ucap Inez memberikan alasan.


'Stupid! Alasan apa itu. Bodoh bodoh...' Inez menyadari kebodohannya membuat sebuah alasan untuk berbohong.


Melody mengerutkan keningnya. Inez mengangkat bahunya. Berjalan menghampiri suaminya. Menciumnya dengan lembut dan menggoda.


"Apakah kamu tidak ingin sarapan pagi ini?" tanya Inez menggoda Melody. Melody tersenyum hangat.


"Mungkin ada beberapa hal yang ingin kamu sampaikan kepadaku disaat efek endorphine menyerangku." ujar Inez lagi membelai lembut setiap otot tubuh Melody.


"Aku sudah terlambat hari ini. Bisakah kita melakukannya malam ini?" Melody menolak penawaran dari Inez. Inez terdiam menatap suaminya tidak percaya.


"Apa kamu baru saja menolakku?" tanya Inez tidak percaya.


"I'm sorry sayang aku tidak bermaksud menolakmu. Hanya beberapa pikiran di kantorku yang membuat aku susah fokus dan ada pertemuan dengan klien pagi ini. Dan itu akan membuatku terlambat." Melody menghampiri istrinya yang sedang cemberut.


"Apa kamu bertemu gadis lain?" tanya Inez yang membuat Melody tertawa.


"Hahaahahaha... tidak ada gadis lain." ujar Melody menatap kedua mata Inez. Inez menatapnya tajam, mencari-cari kebohongan yang mungkin akan dia temukan dari wajah tampan suaminya itu.


"Awas kalau ada. Aku akan pergi ke belahan dunia dimana kamu tidak akan bisa menemukanku lagi." Ancam Inez. Melody masih tertawa mendapati istrinya yang cemburu buta.


"Apa kamu tahu, aku senang melihatmu seperti ini." ujar Melody menyentuh ujung hidung milik Inez.


"Baiklah, cepat kamu bersiap. Aku akan pergi sama Pak Yanto." ucap Inez menyuruh suaminya bersiap-siap. Ya, supir pribadi Inez pak Yanto di pindah tugaskan untuk mengantar Inez di Jakarta sejak dua hari yang lalu.


"Aku akan mengendarai mobil sendiri." Melody memberi tahu istrinya.


"Baiklah, take care. Jangan lupa untuk makan siang kalau sudah waktunya." Inez mengingatkan sebelum Melody mencium kening Inez dan pergi berlalu ke luar kamar lebih dulu.


Inez menatap langit-langit kamar. Melody sudah membuatnya merasa candu akan hubungan intimnya yang hampir setiap malam mereka lakukan.


"Kamu tidak perlu membayarku dengan uang untuk berita yang kudapatkan ini. Aku hanya ingin kamu mempostingnya sebagai annonymous, buatlah berita ini menjadi viral." Perintah suara wanita itu, memberikan sebuah flashdisk kepada seseorang pria. Dan pergi meninggalkan lokasi tersebut tanpa di ketahui.


Melody telah sampai rumah tua dimana semua pengawalnya menjaga ketat pintu masuk ke dalam ruangan tersebut. Dari dalam terdengar suara Lexa yang sedang menggedor pintu tersebut.


'buukkk.. buukkk..buukkk'


Suara ketukan tangan Lexa yang memantul di bantalan busa di balik pintu kamarnya.


"Melody..." lirih terdengar dari suara Lexa memanggil namanya.


"Aku tahu kamu ada di sini!!!!!" bentak Lexa dari dalam. Suara nya sedikit teredam karena efek bantalan busa tersebut membuat ruangan itu masih kedap suara tapi butuh suara sangat keras untuk terdengar keluar.


'Buuukkkk....Buukkkkk'


Suara pintu lagi, kali ini Lexa mengetuknya dengan keras.


"Melody..." panggil Lexa lagi sambil menangis di sela nafasnya.


Melody membuka pintu kamar tersebut, Lexa melompat ingin lari darinya, tapi karena badannya yang mungil tidak dapat melangkahi tubuh Melody. Melody segera menyergapnya, memeluknya keras karena kini ia meronta.


"Aaaarrgggh... lepasin gak! Lepasin gue!!" teriak Lexa mengamuk. Melody mendudukannya di kasur busa. Lexa memeluk lututnya dan duduk menjauhi Melody. Menatapnya dengan mata yang cekung.


"Kamu hanya menghabiskan tenaga untuk melawanku. Ikuti saja, nikmatin rasa sakitnya sehingga tubuhmu bisa melawan keinginan mu menggunakan barang itu." tukas Melody merapikan rambut milik Lexa. Badan Lexa yang gemetaran tidak beraturan dan nafasnya yang berdegup kencang membuat nya kehilangan akal sehatnya. Melody membuka perlahan kancing kemeja milik Lexa. Lexa menarik diri.


"Jangan melawanku. Yang harus kamu lawan rasa candumu!" bentak Melody menarik lengan Lexa.


"Aku ga mau mandi, Melody." bisik Lexa masih menjauhinya. Melody menarik nafas mencoba bersabar menghadapi orang di hadapannya.


Melody menggendongnya, Lexa meronta. Perut nya yang kini kandungannya sudah berusia 5 bulan sudah sedikit merubah bentuk tubuh mungil Lexa. Lexa memukul pundak Melody. Melody membawa nya ke kamar mandi dimana Bath tub sudah terisi penuh dengan air dingin.


"Aaarrrggggg B*j*ng*n!!!!! Melody!" Lexa berteriak mencaci maki Melody. Melody meletakkan Lexa perlahan memasuki air didalam bath tubnya.


"Dingiiiiinnnnnn!!!!!" teriak Melody.


"Ssshhhhhttt." Melody mengguyur bagian kepala Lexa.


"S*t*nnnnn!!!!!" teriak Lexa. Pakaian Melody juga basah dia sudah mempersiapkan beberapa pakaian bersih di mobilnya. Karena hari ini menurut hitungannya, Lexa akan menimbulkan gejala kecanduan yang sangat parah. Jika tidak di temani mungkin dia akan melukai dirinya sendiri.


Lexa menatap tajam Melody. Dia sangat marah terhadap Melody. Tubuhnya kini sangat merasakan gemetaran, air matanya terus mengalir di pipinya.

__ADS_1


"Sakit, Melody." rintih Lexa.


"Gue mau pergi makan siang. Jika laki gue nanya bilang aja gue punya pertemuan penting sampe lupa mengabari." ujar Inez memberitahu Lala yang sedang tercengang menatap berita disalah satu akun gosip di Instagramnya.


"Lala?" panggil Inez karena Lala tidak memperhatikannya.


"Iya, Nez. Lo lagi pergi ke pertemuan penting. Yaudah cepetannya sana pergi." jawab Lala yang gugup menyuruh bos nya untuk pergi. Inez mengerutkan kening ingin tahu, tapi karena dia sudah di tunggu Ivan di lobby kantor jadi dia tidak sempat untuk menggoda Lala yang sedang gugup. Inez melambaikan tangan dan melesat pergi keluar kantor.


Lala segera menghubungi sekretaris pribadi Melody.


"Bara!!!" panggil Lala dari ponselnya.


"Lo udah baca berita dari lambelambemu?" mereka berdua serempak menanyakan hal yang sama.


"Gue ke kantor lo sekarang!" ujar Bara dari ujung telpon.


"Makan waktu, ahh. Kita harus segera take down beritanya sebelum semua orang ngerepost! ketemu di tengah-tengah aja. Kantin laras?" pinta Lala.


"Oke. Cepet ya!" ujar Bara.


Lala melesat keluar kantor dengan terburu-buru. Ia pergi ke pinggir kantor untuk memanggil ojek yang biasa mangkal di pinggir kantornya.


"Kantin laras, bang. Cepet!" pinta Lala.


Ivan dan Inez pergi makan siang di sebuah kedai kopi yang berada di dalam Mall.


"Jadi, tadi pagi aku ngajak dia melakukan itu kan, trus ga biasanya dia nolak, van." cerita Inez membuka obrolan. Ivan tersenyum geli karena pipi Inez memerah.


"Melakukan apa?" tanya Ivan pura-pura tidak mengerti.


"Itu lohhh, Van." ujar Inez memberitahu.


"Itu loh apa?? aku ngga paham maksud kamu, nez." Ivan menahan tawanya, karena Inez menahan malunya.


Wajah Inez maju dan ia mulai berbisik.


"Itu, melakukan hubungan suami istri. M*k*ng Love." bisik Inez. Ivan tertawa terbahak-bahak. mendengar penjelasan Inez yang sebenarnya dari awal sudah dia pahami apa maksudnya.


"Ivan!!!" tegur Inez. Semua orang yang duduk tidak jauh dari nya menatap mereka berdua.


"Gak percaya!!! Dia malah ketawa." keluh Inez.


"Habis wajahmu itu lucu, tiba-tiba merah kaya kerang rebus. Di tambah lagi penjabaranmu itu loh." ujar Ivan menahan tawanya.


"Udahlah, males cerita." Inez ngambek.


"Ya udah, skip soal hubungannya. Cerita permasalahannya dimana? apa karena dia menolak aja?" tanya Ivan. Inez masih terdiam.


'Sebel ahhh! Tapi gue bisa cerita ke siapa lagi coba kalau bukan cerita ke Ivan.Aaargggggh' ucap Inez didalam hatinya.


"Beberapa hari ini, semenjak dapat telpon asing dari suara seorang perempuan sebelum kejadian wanita tua si Serena itu, Melody jadi sering ngigau tiap aku udah ga ada di kasur. Tapi malemnya tidur nyenyak. Cuma kalau tiap pagi cuma ditinggal mandi atau siap-siap, dia langsung teriakin namaku." cerita Inez wajahnya nampak gelisah.


Ivan mencoba menelaah cerita Inez.


"Biasanya pria kalau lagi kaya gitu, bisa jadi ada dua hal. Dia sangat cemas tentang kamu atau dia sedang merasa bersalah sama kamu." jawab Ivan.


"Aku gak tahu. Aku bukan Melody, kan. Yang jelas kalau kamu berpikir dia ada wanita lain itu gak mungkin. Aku tahu bagaimana dia mencintaimu." jelas Ivan. Inez tampak berpikir keras.


Dering ponsel milik Ivan mengagetkannya.


"Aduh bikin kaget aja." ucap Inez. Ivan melihat bahwa Berlian menghubunginya.


"Berlian?" tanya Inez yang melihat Ivan menatap layar dengan kecewa. Ivan mengangguk.


"Coba baca whatsappku!" perintah Berlian ketika Ivan mengangkat ponselnya.


"Apa lagi sih, Berl. Sudah lah, aku tahu selama kita pacaran juga kamu sering mabuk-mabukan bersama teman-temanmu dan berakhir di ranjang pria lain." ujar Ivan menolak Berlian.


"Ini bukan tentang itu! Baca sajalah! Aku hanya khawatir terhadap sahabat kecilmu itu!" bentak Berlian menutup ponselnya. Ivan menatap Inez tercengang.


"Apakah itu benar terjadi?" tanya Inez tidak percaya mendengar jawaban Ivan untuk Berlian. Ivan mengangguk memberikan kode bahwa dia tidak ingin membicarakan itu.


"Sebentar, ada yang perlu aku lihat." ujar Ivan membuka aplikasi whatsappnya. Ivan menatap pesan dari Berlian. Sebuah Screenshot dari akun gosip di kirimkan oleh Berlian. Ivan menatapnya dengan fokus. Membesarkan skala foto yang Berlian kirim.


"Ini Melody?" tanya Ivan tidak sadar bahwa di depannya Inez sedang mendengarnya. Inez meraih ponsel itu dari tangan Ivan. Inez menatap layar ponsel yang menunjukan sebuah foto Melody sedang di peluk seorang wanita mungil.


"Gak mungkin, katamu barusan??" tanya Inez menyerahkan ponsel tersebut kepada Ivan. Ivan terdiam. Inez terbakar api cemburu. Ia sangat marah saat ini. Ivan tidak mengeluarkan kata-kata lagi. Membiarkan Inez tenggelam bersama pikirannya dan bayangan foto tersebut di kepalanya.


"Bisa-bisa nya dia berbuat seperti itu!" desis Inez mengatakannya dengan kesal. Ivan memegang tangan Inez.


"Kita harus tahu dari Melody nya langsung, Nez." ujar Ivan memberi nasihat.


"Buat apa ya? Dia punya waktu kok untuk membicarakannya padaku setiap hari jika itu bukan seperti yang kelihatannya. Dia memilih wanita kumuh untuk di sembunyikan dariku! Lihat, cara berpakaiannya, Van! Apa dia menggunakan barang haram itu lagi bersama wanita itu." desis Inez masih kesal. Dia menahan suaranya, karena mereka berada di sebuah kedai kopi. Cukup mereka heran melihat Inez yang tiba-tiba menangis. Ivan beranjak dari bangkunya. Ivan meraih tangan Inez menariknya pergi keluar karena berita itu sepertinya sudah mulai menyebar dan semua orang tahu siapa pria tersebut.


Melody menunggu mbak Tien memakaikan baju kepada Lexa. Sementara itu dia juga mengganti bajunya yang basah.


"Sakit, Melody..." rintih Lexa dari dalam kamar mandi. Wajahnya kini sudah pucat, badannya yang masih terus bergetar kedinginan meringkuk di atas kasur.


Melody masuk mengelus kepala Lexa lembut.


"Kamu bisa melaluinya. Aku tahu kamu sanggup melaluinya." ujar Melody.


"Sakit...." rintih Lexa


"Sedikit aja, Melody. Aku hanya butuh sedikit." ujar Lexa.


"Jika aku berikan kamu hari ini hanya sedikit, usahamu akan sia-sia yang kamu lawan dari kemarin-kemarin akan sia-sia. Kita tidak akan pernah berhasil kalau aku memberikanmu walau hanya sedikit." ujar Melody.


"Tapi ini sakit, Melody!!!!" bentak Lexa menatap wajah Melody yang penuh iba.


Melody beranjak dari posisinya berjalan keluar kamar.


"Maafin aku, Melody. Maafin aku. Jangan tinggalin aku. Melody!!!!! Jangan tinggalin aku!!!" teriak Lexa menabrakan dirinya ke pintu.


'dug..dug..dug..dug'


Lexa menjedotkan kepalanya ke tembok yang sudah ada bantalan busanya. Dia sangat kesulitan menghadapi perasaan inginnya menggunakan narkoba. Membuatnya ingin menyakiti dirinya sendiri. Mencoba mencakar seluruh tangannya.

__ADS_1


Melody masuk lagi membawa makanan dan minuman untuk Lexa. Melihat lengan Lexa yang sudah penuh darah karena dia mencakarnya menggunakan kukunya.


"Mbaaaakkk Tiiiennn!!" teriak Melody. Mbak Tien datang tergopoh-gopoh.


"Sudah saya bilang, gunting kukunya. Di cek setiap hari!" omel Melody.


"Maaf, mas Lody." jawab Mbak Tien yang menunduk merasa bersalah.


Ponsel Melody terus bergetar di sakunya. Dia tidak menghiraukan panggilan tersebut.


"Ambil kotak P3K dan gunting kuku sekarang!" perintah Melody. Mbak Tien langsung pergi keluar kamar. Melody menggenggam kedua tangan Lexa. Ponsel di sakunya terus bergetar.


Mbak Tien kembali ke dalam kamar menbawa sekotak P3K dan gunting kuku. Menyerahkan kepada Melody. Membantunya mengobati luka di lengan Lexa yang di sebabkan oleh cakarannya sendiri.


"Gak diangkat juga! Jual aja itu handphone!" bentak Inez di dalam mobil. Ivan juga mencoba menghubungi nomor ponsel sahabatnya juga.


"Dia nggak biasanya kaya gini, Van! Dia selalu mengangkat telpon ku. Sekalipun dia sedang meeting." ucap Inez merasakan kecewa di dalam hatinya teramat dalam.


"Aku tidak akan bisa memaafkannya!" desis Inez penuh amarah.


"Ssssttt. Tenangkan dulu pikiranmu. Kamu tahu, kamu terbiasa mengeluarkan kalimat-kalimat yang seharusnya tidak kamu ucapkan hanya untuk menyakiti hati seseorang. Aku rasa kamu bukan lagi Inez yang seperti itu." tegur Ivan mencoba menenangkan hati Inez.


"Tapi untuk masalah yang ini, dia sudah membangkitkan aku yang dulu. Tidak akan lepas kemana-mana mereka sebelum mulutku menyakiti hati mereka seperti mereka berpelukan tanpa berpikir panjang bahwa akan ada hati yang mereka lukai!" omel Inez yang sekarang menangis. Ivan menariknya dalam pundaknya.


"Gunakan bajuku. Sekalian lap hidungmu. Jika kamu bertanya apakah boleh. Ya, itu boleh. Hanya kamu yang bisa melakukan itu, Nez." ucap Ivan meledek Inez tentang kebiasaan lalu nya menangis di pelukannya menggunakan baju Ivan sebagai alat menyeka untuk air mata dan bahkan air yang keluar dari hidungnya. Inez terpaksa tertawa mengenang betapa lucunya kebiasaan dirinya.


"Aku bawa sapu tangan, kok." gumam Inez menyudahi tangisannya. Inez mengambil sapu tangan dari tas nya. Sapu tangan itu terukir inisial nama huruf I&M . Inez dan Melody. Inez mengingat ketika mereka memutuskan memberikan souvenir pernikahan berupa sapu tangan eksklusif.


"Huruf M&I aja." ujar Inez saat itu.


"I&M aja." pinta Melody.


"Sama aja sayang." ucap Inez.


"Beda, sayang. I&M seperti I'm dalam bahasa inggris. Artinya aku. Kata ganti ketiganya Mine. Milikku." jawab Melody menjelaskan sesuatu hal yang romantis. Inez menatapnya terpukau saat itu.


Berbeda dengan saat ini, Inez menatap sapu tangan itu dengan kesal. Setelah di gunakan untuk menyeka hidung dan air matanya, dia membuangnya keluar.


"Kenapa di buang? Emang ga mau nangis lagi?" tanya Ivan masih mencoba membuat lelucon agar Inez melupakan kekesalannya.


"Aku gak suka sama sapu tangannya!" rajuk Inez, matanya mulai berkaca-kaca lagi.


"Boleh pinjem baju nya?" tanya Inez tersedu menangis. Inez tenggelam bersama tangisannya di pelukan Ivan.


'Kelakukan bodoh macam apa yang coba kamu lakukan, Lody!' geram Ivan di dalam hatinya.


"Aduuuhhh. Mbak Inez coba menghubungi gue berkali-kali. Gue nggak berani angkat ah." ucap Bara yang kebingungan bersama Lala di kantin Laras.


"Ini kalau handphone gue nyalain juga pasti banyak panggilan masuk dari dia. Aduh pusing deh gue, Bar." ujar Lala yang memegang kedua kepalanya sambil menyedot es jeruknya melalui sedotannya.


"iihh bukan mikir, malah minum es terus. Gimana nasib kita ini habis ini, ya Allah. Gue pasti bisa di amuk abis-abisan sama mas Melody." keluh Bara yang menarik sedotan dari mulut Lala.


"Eeehhh.. kok diambil sih. Itu nyegerin otak gue, biar gue bisa mikir, Bara." ujar Lala merebut es nya kembali.


"Sekarang kita cari tahu deh siapa yang punya akun gosip itu. Dan kita cari tahu siapa yang mulai nyebar gosip itu." tukas Lala kepada Bara. Bara mengangguk. Beranjak dari kursinya dan mengajak Lala untuk ke kantornya.


"Udah, kita serahin ke team IT kantor gue." ujar Bara.


"Yeee, mending kita kontak team IT gue." Lala tidak mau kalah.


"Lagian ya, kerja team IT gue itu lebih bagus ketimbang perusahaan lo itu." Lala menjelaskan.


"Team gue lah lebih bagus kemana-mana." Bara juga tidak ingin mengalah.


"iiihh.. yaudah.. Lebih baik lo telpon team lo gue telpon team gue. Nanti kita ketemuan di apart lo aja. Kita kerjain nya jangan di kantor. Menghilang dulu kalau bisa sih kita." ucap Lala memberikan saran.


"Kadang-kadang pinter juga ya lo." ujar Bara tersenyum jahil meledek Lala.


Lala menarik nafas berkali-kali. Mencoba menenangkan dirinya.


"Ngapain sih lo? Mau beranak?" tanya Bara.


"Gue takut nyalain handphone nih." ucap Lala. Bara mengambil ponsel Lala dan menekan tombol power ponsel tersebut.


"Kalau Mba Inez telpon atau Mas Melody, kita angkat barengan bilang aja kita lagi ga enak badan." saran Bara. Lala mengangguk.


Ponsel Lala memiliki notifikasi panggilan dari Inez sebanyak 20 kali panggilan. Dari Ivan juga 10 panggilan.


"Aduuh gue pusing, iih." keluh Lala. Bara yang sedang mencoba menghubungi team IT nya sudah berbicara memberikan instruksi untuk bertemu di apartmentnya. Begitupun juga Lala yang mencoba menghubungi team nya.


"Sekali suap lagi, Lex." ujar Melody menyendokkan bubur di tangannya. Lexa menolaknya.


"Udah kenyang, Melody." tukas Lexa menggelengkan kepalanya.


"Aku akan sangat marah jika kamu membuang-buang makanan. Lagipula,seharusnya kamu makan dengam dua porsi untuk bayi di dalam kandunganmu." omel Melody. Lexa terpaksa memakan suapan terakhir dari sendok. Melody memberikan obat vitamin untuk Lexa dan air putih.


"Aku akan mengurus beberapa hal. Kamu tidak perlu berusaha menyakiti dirimu sendiri. Itu hanya sebuah fase." ucap Melody memberitahu Lexa.


"Kamu tahu apa?!!!! Kamu tidak merasakan menjadi aku seperti ini!!" teriak Lexa yang memang emosinya tidak terkendali.


"Aku tahu. Dan kamu salah. Aku pernah merasakan di posisimu. Kamu pikir tempatmu tidur itu kupersiapkan untukmu yang tidak tahu pada awal aku menemuimu? Kamu pikir semua ruangan ini di desain untuk mengatasimu? Aku tahu Lexa. Dan aku harap kamu melawan rasa inginmu. Karena jika aku bisa melaluinya aku yakin kamu juga bisa." ucap Melody dengan tatapan penuh luka. Dia berpaling dan menutup pintu kamar tersebut. Meninggalkan Lexa yang menatap kosong ke arah Melody melangkah.


Melody merogoh sakunya mengeluarkan ponsel nya dari dalam sakunya. Dia melihat ada beberapa panggilan tidak terjawab. 25 panggilan dari Inez, 10 dari Ivan, 8 dari Melinda, 4 dari Mamanya.


Melody membuka beberapa pesan yang di tinggalkan di whatsappnya. Yang pertama ia buka dari Inez. Jantungnya berdegup kencang, kepanikan menyerang dirinya menatap sebuah foto screenshot yang di forward kepadanya.


"Sialan!!!!!!!!!" bentak Melody melempar ponselnya hingga hancur berantakan. Pengawalnya datang dan menundukkan wajah.


"Tidak ada satupun dari kalian yang akan buka mulut terkait hal ini kepada istriku! Biar aku yang mengurusnya!" bentak Melody berjalan pergi menuju mobil dan melesat pergi.


Melody menuju kantor Inez, mencari Inez di kantornya tidak ada. Dia juga mencari Lala, juga tidak ada di kantornya. Ia pergi menuju kantornya mencari asistennya juga tidak ada di kantornya. Ia pergi menuju rumah besar tempat keluarganya tinggal, mereka semua tidak ada di rumah itu.


"Sial!!! Sial!!! Sialan!!!" bentak Melody yang hingga matahari tenggelam tidak menemukan Inez berada dimana. Melody masuk ke dalam rumahnya, rumahnya kosong. Tidak ada tanda-tanda bahwa Inez telah kembali pulang.


Melody mengambil sebuah gelas dan membuka wine yang dulu adalah sebuah hadiah dari Ivan. Ia meminumnya sendirian di ruang keluarga. Mencoba menenangka pikiran untuk berpikir bagaimana menjelaskan ke Inez.


Melody terlelap diatas sofa nya. Menunggu istrinya yang tidak kunjung pulang. Dan dia tidak bisa mengabarinya karena ponselnya rusak.

__ADS_1


__ADS_2