
"Thank's God is Friday" Ujar Inez yang hari ini memutuskan untuk bangun siang. Inez terbangun pukul 9 pagi karena mencium harum masakan.
"Pasti Soto Daging nya Bude Suci" Gumam Inez mengendus harum yang menembus kamarnya. Inez segera turun dari kamarnya yang berada di lantai atas. Sesampainya di lantai bawah, Dia mendengar suara Ivan yang tertawa bersama Bude Suci.
"you talk about me. Don't you?" Sapa Inez masuk ke ruang makan.
"Jangan terlalu percaya diri. Bude lagi mendengar cerita Mas Ivan soal Ospek kemarin." Jawab Bude Suci.
"Morning, Sunshine" Sapa Ivan tersenyum mengulurkan tangannya dan Inez menyambutnya dengan tangannya juga, dan duduk diatas pangkuan Ivan.
"Cerita bagian yang mana?" Tanya Inez penasaran.
"Waktu Maba di beri tugas untuk meminta tanda tangan senior. Satu-satunya yang tidak kamu miliki hanya tanda tanganku, Kan?" Goda Ivan.
"Memang sengaja aku tidak ingin memintamu menandatanganin milikku." Jawab Inez sambil mengambil mangkok dan berpindah tempat duduk.
"Kenapa? bukannya kamu juga bisa meniru tanda tanganku? hahaahha" Goda Ivan lagi.
"Aku tidak mau curang. Kalau aku sampai punya tanda tanganmu, teman sekelompok ku pasti mencurigainya aku meminta nya saat di rumah, bukan saat kamu ketiduran di meja perpustakaan dimana tempat kamu bersembunyi." Ujar Inez menuang Kuah soto ke dalam mangkuknya.
"Oh jadi yang memberi tahu teman-temanmu tempat persembunyianku itu kamu?" Tanya Ivan menebak.
"Iya dong. Memang siapa lagi yang tahu selain aku."
"Pantas yang punya tanda tanganku hanya kelompok mu. Setelah ketahuan aku ubah tempat persembunyian tidak ada yang menemukanku lagi" Keluh Ivan.
"Aku tahu, Kamu di Balkon lantai 7 Fakultas hukum. Dimana orang-orang malas harus memutar blok ke arah sana untuk mencarimu." Ucap Inez sambil menyuap Soto nya.
"Kamu mau kemana hari ini? kenapa jam segini udah rapi?" Tanya Inez lagi.
Ivan memberikan amplop berisi tiket pesawat menuju Morotai Island. Inez menatapnya tidak percaya.
"Kapan aku menyetujuinya?" Tanya Inez heran sambil mengunyah makanannya
"When i ask a permission?"
"Why you did what i did?" Tanya Inez lagi
"What you did?" Ivan menggoda Inez
"Aku gak akan pergi kalau kau terus melakukan itu." Keluh Inez.
"Lakukan apa?"
"Answer my question with a question!" Inez menjawab dengan sebal.
"Kalau kamu ingat sore itu aku mengatakan 'Nez, weekend ini kita pergi kesana' That is a statement. Not a question." Jawab Ivan dengan yakin.
__ADS_1
'seandainya kamu juga melakukan itu ketika aku bertanya apa kamu mencintaiku. selalu ada tanda tanya setelah kalimat itu. yang kubutuhkan tanda titik bahkan tanda seru untuk meyakinkanku'
"Jadi, habis ini langsung mandi dan siap-siap,okay? jadwal nya jam 2 siang kita berangkat." Ivan memberi tahu.
Inez mengangguk menyelesaikan makanannya. Lalu, ia bangkit dari kursinya dan menuju ke lantai atas untuk bersiap-siap.
"Ke Morotai Island sama Ivan?" tanya suara di ujung telepon.
"Iya, seneng banget kan. Ternyata dia udah siapin semuanya. Jam 2 ini gue berangkat." Jawab Inez bercerita.
"Oh ya, Nez. Sampai kapan disana? Senin, kita ada presentasi mata kuliahnya pak Ambang loh" Suara Lala terdengar dari telpon.
"Kita cuma pergi sampai hari Minggu malam udh di sini lagi"
"iih ga asik banget cuma 3 hari." Ledek Lala di telepon.
"Nanti gue bakal ceritain semua apa yang gue bisa lakuin disana dalam waktu tiga hari. Jangan envy yaaaa... " Goda Inez lagi
"Abadikan di Instagram! Follback gue. Gue udah follow lo dari hari pertama Ospek. Kenapa belum di Follback? " Omel Lala.
"Gue jarang main IG, La. Kan lo tau sendiri. Isi fotonya aja isi foto gue sama Ivan doang. Follower dan siapa yang gue follow juga cuma punya Bude Suci yang terpaksa punya IG buat jadi follower gue, sama Pak Djoko yang lebih Eksis di dunia maya." Cerita Inez.
"Yaudah makanya Follow back gue. Buka akun lo jadi akun publik jangan di private. Pasti satu kampus dari angkatan paling tua sampe yang muda udah pasti follow akun lo. Terkadang terbatasnya privasi kehidupan itu jadi suatu yang merugikan, Nez. Kita nya aja yang harus ubah sudut pandang kita." Ujar Lala
"Sehabis pulang dari Morotai aja deh kita urus soal itu." Jawab Inez mulai tertarik dengan ide Lala.
Inez selesai bersiap-siap dan mandi, dia segera turun membawa satu koper miliknya. Melihat Ivan yang sudah menanti di ruang keluarga.
"Lama ya?" Tanya Inez. Saat turun dari tangga perlahan membawa koper. Ivan menoleh melihat Inez yang menggunakan Dress Flora, Dan slip on yang senada dengan bajunya.
"Hmmm.." Gumam Ivan menahan senyuman.
"Kenapa?Jangan protes, kamu harus mulai membiasakan diri mu yang sudah 4 bulan ini tidak melakukan hal ini" Ujar Inez yang membuat Ivan akhirnya tersenyum.
"Ini yang aku rindukan. Ayo." Ajak Ivan. Mereka berpamitan dengan Bude Suci. Bude Suci ini usia nya sekarang sudah 50 Tahunan. Jadi Bude Suci selain mengurus Administrasi persoalan Usaha Batik yang Ibunya Inez tinggalkan, dia di bantu oleh asisten rumah tangga yang masih muda-muda.
Ivan dan Inez pergi diantar oleh Pak Yanto ke Bandara. Ini pertama kalinya Inez pergi keluar kota selain Jakarta.
"Siap melihat dunia?" Tanya Ivan sambil menggenggam tangan Inez saat berada di pesawat. Inez menjawab dengan anggukan yang antusias. Wajahnya tersenyum cerah. Inez memilih untuk duduk di sisi dekat jendela pesawat. Itu adalah sisi yang ia sukai, yang mengurangi kegelisahan dia saat pesawat lepas landas.
Mereka pun menempuh perjalanan cukup lama. Sesampainya di salah satu Resort terbaik di Morotai Island, Ivan melakukan Check in yang sebelumnya sudah ia reservasi.
"Ini kunci kamar kamu." Ucap Ivan memberikan kunci kepada Inez yang sudah mulai menikmati pemandangan malam yang indah yang di sediakan oleh Morotai Island
"Aku di sebelah mu, di kamar ada pintu penghubung" Lanjut Ivan menjelaskan.
"Oke, aku akan segera mandi lalu kita akan menikmati malam di Morotai ini kan?" Tanya Inez sebelum pergi menuju kamarnya.
__ADS_1
"Pastinya. Sayangnya kita terlalu lama menempuh jalan darat tadi jadi tidak sempat mengejar Sunset pertamamu di Morotai." Ujar Ivan mengeluh.
"It's okay, Van. This is wonderful. Aku suka. Dan lagipula kita masih memiliki sunset esok hari." jawab Inez antusias. Dan mereka masuk menuju pintu kamar masing-masing.
Inez meletakkan tas nya dan membaringkan tubuhnya langsung di atas kasur yang empuk.
"Terimakasih ya Allah." Ucap Inez memejamkan mata. Lalu ia bangkit menuju kamar mandi.
Setelah ia mandi, ia menunggu Ivan di kamarnya.

Lalu ada suara ketukan dari pintu penghubung.
"Masuk" Jawab Inez masih bermalas-malasan di kamar nya menatap pemandangan Laut dari kejauhan kamarnya. Ivan menghampirinya tersenyum.
"Kenapa kamu sangat memberikan hal yang sempurna ini?" Tanya Inez manja.
"Maka dari itu, membawa mu kesini salah satu untuk menyempurnakan semua yang ada disini." Jawab Ivan.
"Darimana kamu belajar merayu seperti itu?" Ledek Inez, melempar bantal kepada Ivan.
"Kenapa memangnya? Kamu terbuai?" Tanya Ivan yang juga menggodanya
"Ivan, berhenti! Yang bisa melakukan hal itu hanya aku. Keahlian menjawab pertanyaan dengan pertanyaan itu adalah aku. Kenapa kamu tiba-tiba jadi seorang yang Expert dalam hal itu?" Omel Inez memasang wajah cemberut.
Ivan terkekeh mendengar komentar Inez.
"Aku hanya mencoba menjadi kamu. Untuk merasakan apa yang kamu rasakan. Untuk mengerti apa yang kamu pikirkan. Bisakah kamu lebih terbuka lagi tentang apa yang ada di dalam kepala mu? supaya jika kamu lagi merajuk seperti empat bulan yang lalu. Aku tidak perlu waktu selama itu untuk mengerti apa yang sedang terjadi padamu." Ujar Ivan duduk disebelah Inez. Inez terdiam cukup lama sambil memandang wajah Ivan lekat.
"I'm so sorry. No reasons. Aku salah." Ucap Inez termenung mengalihkan wajahnya menatap ke jendela lagi. Ivan mengusap rambut Inez.
"Okay. Apologize accepted!" Seru Ivan menjawil ujung hidung Inez. Inez bangkit dari posisinya yang sedang tengkurap .
"Dinner?" tanya Ivan mengulurkan telapak tangannya.
"Ayo. Aku mulai lapar." Jawab Inez.
Mereka pun menuju Restaurant Resort yang sudah menghidangkan makan malam untuk mereka. Karena ini bukan High Season jadi Resort tersebut tidak terlalu ramai.
Setelah makan malam mereka masih duduk di Restaurant tersebut. Dan memesan beberapa Wine.
"Sauvignon Blanc, please." Ujar Inez meminta kepada Ivan.
"Okay. Walau usiamu belum resmi untuk minum alkohol it's okay if you drink wine." Jawab Ivan menyipitkan matanya. Inez tertawa senang.
Malam segera berlalu, mereka masuk ke dalam kamar mereka masing-masing. Karena terlalu lelah dalam perjalanan mereka segera terlelap.
__ADS_1