Aku Yang Tak Diakui

Aku Yang Tak Diakui
Pernikahan Nadhifa


__ADS_3

Hanya tinggal menunggu waktu kurang dari seminggu, pernikahan Bram dan Nadhifa akan diselenggarakan. Undangan pun telah disebar, dan rona kebahagiaan terpancar jelas di raut wajah Nadhifa, adik Argha satu-satunya.


Melihat sang adik yang begitu bahagia dengan rencana pernikahannya, Argha kembali mengurungkan niat untuk memberi tahu Bram tentang keberadaan Miki.


Sepertinya Miki tengah fokus dengan sekolahnya. Lagi pula, dia sudah tidak pernah bertanya lagi tentang siapa ayahnya. Sebaiknya, untuk beberapa waktu, aku rahasiakan dulu hal ini dari Bram. Aku tidak mau pernikahan Nadhifa dan Bram berakhir tragis hanya karena keberadaan anak itu, batin Argha.


🍁🍁🍁


"Bagaimana, apa kalian bahagia akan menikah dalam waktu dekat ini?" tanya Argha kepada Bram dan Nadhifa saat mereka sedang makan siang bersama di ruangannya.


"Pertanyaan konyol seperti apa itu, Kakak? Tentu saja kami bahagia dengan rencana pernikahan kami" jawab Nadhifa seraya bergelayut manja di lengan kanan calon suaminya.


"Jika di kemudian hari ada rintangan yang mungkin akan menghalangi rumah tangga kalian, apa yang akan kalian lakukan?" tanya Argha lagi.


"Tergantung seperti apa rintangannya, Kak? Jika itu rintangan kecil yang hanya melibatkan kami berdua, tentu saja kami akan menghadapinya. Namun, jika rintangan tersebut sudah melibatkan keluarga besar ... entahlah," jawab Nadhifa lagi.


"Tapi yang jelas, sebesar apa pun rintangan itu, tentu akan kami hadapi bersama. Benar, 'kan, Fa?" timpal Bram.


Nadhifa tersenyum. "Tentu saja, Kak."


Ya Tuhan ... mungkin senyum itu akan sirna seketika jika aku memberi tahu tentang sosok Miki kepada mereka. Ilona benar, jika sampai ayah kandung Miki terungkap, maka semua kebahagiaan Nadhifa akan hilang. Lagi-lagi Argha bermonolog dalam hatinya.


"Hmm, Kakak do'akan, semoga hubungan kalian langgeng," lanjut Argha.


"Terima kasih, Kak," jawab Nadhifa.


"Thanks Bro." Bram menimpali ucapan Nadhifa.


🍁🍁🍁


Kevin membolak-balikan undangan yang diberikan Bram. Besok, sahabatnya itu akan melepas masa lajangnya. Dalam hati, Kevin mendengus kesal. Bram ternyata selangkah lebih maju darinya. Hingga bisa naik ke pelaminan terlebih dahulu.


"Ish, sekarang tinggal gua yang jomblo. Sepertinya julukan jomblo akut sudah mendarah daging dalam hidup gua," gerutu Kevin seraya melempar undangan tersebut ke sembarang arah.


"Tapi tunggu! Bukankah si kalem Alex juga belum merit? Uuh, jangankan merit, gua rasa tuh anak belum nyicipin kue serabi juga, nih. Hehehe,..." gumam Kevin sambil terkekeh.


Apa kabar tuh bocah? Sudah lama juga gua enggak denger kabarnya, telepon dia ah ... batin Kevin yang langsung meraih ponselnya dari atas meja.


"Hallo, Bro! How are you?" sapa Kevin sok berbahasa Inggris.


"Alhamdulillah, kabar baik, Kev," jawab Alex di ujung telepon.

__ADS_1


"Oh ya, Bro. Lo udah dapat undangan dari si Bram, belum?" tanya Kevin.


"Iya, Bram udah DM, kok," jawab Alex.


"Lo datang, 'kan?" Kevin kembali bertanya.


"Entahlah." Terdengar nada keraguan dari jawaban Alex di ujung telepon.


"Ayolah, Al ... ini pernikahan sohib kita. Masak iya lo nggak mau datang?" bujuk Kevin.


"Sorry Kev, aku punya pekerjaan yang tidak bisa aku tinggalkan," jawab Alex berusaha memberikan alasan yang cukup masuk akal.


"Al, pernikahan Bram hanya sekali dalam seumur hidupnya. Dan pekerjaan lo? Ish, lo bahkan punya ribuan waktu untuk mengurusi kerjaan lo. Ayolah, Al. Kapan lagi kita bisa berkumpul seperti dulu lagi?" Kali ini, bujukan Kevin berubah menjadi nada merayu.


"Kev, aku sudah tidak punya waktu untuk bisa berkumpul seperti dulu lagi," tukas Alex.


"Meski cuma sehari? Al, gua tahu lo sempat salah paham sama Argha. Tapi, yang merit itu sahabat kita. Setidaknya, lo kesampingkan dulu urusan lo sama si Argha. Lagi pula, semua itu terjadi beberapa tahun yang lalu. Masak iya, lo masih menyimpan dendam sama si Argha," balas Kevin.


"Ini tak ada hubungannya dengan Argha. Aku memang nggak punya waktu untuk menghadiri pernikahan Bram. Sorry!" tegas Alex.


"Ah, nggak asyik lo, Al!" pungkas Kevin.


Karena merasa kesal mendengar jawaban sahabatnya, Kevin pun memutuskan sambungan telepon. Ada rasa kecewa di hati Kevin. Namun, dia sendiri tidak mungkin memaksakan kehendaknya kepada Alex.


🍁🍁🍁


Mungkin memang terkesan jahat. Alex sendiri tidak akan memungkiri, Bram pasti kecewa jika dia tidak datang dalam acara yang sangat berarti dalam kehidupannya. Tapi bertemu Argha? Bagi Alex itu bukan satu pilihan yang bagus.


Jujur, Alex takut tidak bisa menguasai emosi saat harus bertemu dengan Argha. Terlebih lagi, Gintani pernah bilang jika Argha hendak menikahi gadis itu. Gadis yang pernah Alex lihat di rumah sakit dulu. Dan, mungkin saja saat ini mereka sudah menikah, pikir Alex. Karenanya, Alex lebih baik menghindar daripada harus berselisih paham lagi dengan sahabatnya yang begitu arogan.


🍁🍁🙏


Sore harinya, Alex memutuskan untuk mengunjungi Gintani.


"Apa kamu sudah tahu jika besok Bram akan menikahi Nadhifa?" tanya Alex kepada Gintani.


"Gintan enggak tahu, Bang. Dan jujur saja, Gintan enggak mau tahu," tegas Gintani.


"Kamu tidak ingin menghadirinya, Tan?" tanya Alex lagi.


"Hmm, tentu saja enggak, Bang. udah deh, jangan bahas apa pun lagi tentang keluarga itu. Sungguh, Bang ... Gintan tidak ingin tahu apa-apa lagi tentang mereka. Kalau Abang memang ingin menghadiri pernikahan teman Abang itu, pergilah! Tapi Gintan mohon, jangan beri tahu siapa pun tentang keberadaan Gintan dan Putri di sini," lanjut Gintani.

__ADS_1


"Abang pun berpikir untuk tidak menghadirinya, Tan," ungkap Alex.


"Tapi kenapa?" tanya Gintani seraya menautkan kedua alisnya.


"Abang malas saja Tan," jawab Alex.


"Jangan begitu, Bang. Kak Bram itu sahabat Abang. Kalau sampai Abang tidak datang, Kak Bram pasti akan sangat kecewa. Saran Gintan sih, Abang datanglah, walaupun hanya sebentar," kata Gintani.


"Nanti Abang coba pikirkan lagi," jawab Alex. "Oh iya, Tan. Abang lihat, sepertinya Heru sangat menyukai kamu, tuh," lanjutnya.


"Udah deh Bang, nggak usah ngelantur ya, omongannya?" tukas Gintani.


"Abang serius, Tan. Setiap kali dia membicarakan kamu, Abang lihat, matanya selalu berbinar-binar," sambung Alex.


"Abang, mas Heru itu orang baik. Dia akan bersikap baik kepada siapa pun juga. Dan baik itu, bukan berarti cinta," sangkal Gintani.


"Yeayy, cinta juga nggak pa-pa kali, Tan," goda Alex.


"Nggak Bang, jangan sampai itu terjadi!" tegas Gintani.


"Loh, kenapa Tan?" tanya Alex, heran.


"Sudahlah, Gintan tidak mau membahasnya," ucap Gintani terkesan malas ketika membicarakan urusan perasaan.


Tanpa mereka sadari, seseorang dibalik pintu begitu terkejut mendengar pembicaraan mereka. Dengan langkah gontai, Heru kembali menuju mobil yang sudah terparkir di halaman rumah Gintani. Dia pun mengurungkan niatnya untuk menemui Gintani.


🍁🍁🍁


Hari ini, ballroom hotel Crown kembali dihias begitu indah. Pernikahan putri bungsu Disastra Amijaya menjadi alasan kenapa ballroom itu dihias begitu megah. Mungkin ini pernikahan terakhir dalam keluarga Amijaya, mengingat tuan Jaya hanya memiliki dua orang anak saja.


Pukul 8 pagi, acara akad nikah dimulai.


"Bramantyo Ahmad Jalaluddin, saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan putri saya, yang bernama Nadhifa Putri Adisastra binti Disastra Amijaya, dengan maskawin seperangkat alat salat beserta uang tunai sebesar 500 juta, dibayar tunai!"


"Saya terima nikah dan kawinnya Nadhifa Putri Adisastra binti Disastra Amijaya, dengan maskawin tersebut, dibayar tunai! ucap Bram dalam satu tarikan napas.


"Bagaimana para saksi? Apakah sah?" tanya pak penghulu.


"Sah ...!"


"Sah ...!"

__ADS_1


Ucapan kata sah menggema di ballroom yang sangat luas. Semua orang tampak bahagia dengan acara pernikahan tersebut. Terlebih lagi pasangan raja dan ratu sehari itu.


__ADS_2