
Putri berlari pulang ke rumahnya. Selama dalam perjalanan pulang, hatinya merasa aneh. Sesak akan satu keinginan yang belum juga dia capai. Saat Putri belum mampu meraihnya, dadanya akan terasa terimpit beban yang begitu berat. Sesak, dan sulit bernapas.
Tiba di rumah, Putri segera ke kamar dan menghempaskan tubuhnya di atas ranjang. Tubuhnya terasa lemas, hatinya terasa sakit. Namun, dia bukan anak cengeng yang langsung menangis jika sedang merasakan sakit.
Kalimat-kalimat Eca masih menggaung di telinga Putri. Seketika, kening Putri mengernyit saat dia mengingat kembali jika sang bunda belum mengizinkan dirinya untuk masuk sekolah.
"Ish, kenapa mama selalu menolak keinginan Putri?" gerutunya kesal seraya melempar boneka beruang hadiah ulang tahun dari papanya.
"Ups!"
Gintani yang masuk membawa nampan makanan, seketika mengelak saat boneka beruang sebesar tubuh bayi, melayang ke arahnya.
"Ish, kamu ini apa-apaan sih, Put? Tiap kali kesal, pasti yang dilempar si Inot -nama boneka kesayangan putriβ kasihan tau si inot, bisa remuk tulangnya karena dibanting terus sama kamu," gurau Gintani sambil meletakkan nampan di atas nakas.
"Enggak lucu Mama!" ketus Putri, "Inot, 'kan cuma boneka, mana bisa dia punya tulang," lanjut Putri bermain logika.
"Hehehe, emang kamu tuh anak Mama yang paling pinter ... emmh, pinter ngeles maksudnya," goda Gintani.
Putri hanya mengerucutkan bibirnya mendapatkan godaan dari bunda tersayang.
"Putri kenapa lagi? Pasti Putri sedang kesal ya, kalau si Inot-nya ampe dilempar gitu?" terka Gintani.
"Hidih, Mama sok tahu, nih," sangkal Putri.
Hmm, tentu saja Mama tahu, Nak. Kelakuan kamu itu, 'kan mirip banget sama papa kamu. Menjadikan benda sebagai korban jika sedang merasa kesal, batin Gintani menatap putri semata wayangnya.
"Sembilan bulan Mama mengandung Putri, tentu saja Mama tahu apa yang sedang Putri rasakan saat ini. Memangnya Putri kenapa? Lagi kesal sama seseorang? Oh iya, Putri, 'kan tadi pamit mau bermain ke rumah Eca. Apa Putri marahan sama Eca?" selidik Gintani.
"Enggak, Putri enggak marahan sama Eca. Putri cuma sebel aja sama Eca," jawab Putri, mendayu.
Gintani langsung menegakkan tubuhnya mendengar jawaban Putri. Dari nada bicaranya, Putri seolah sedang mengalami kesedihan.
"Kesal kenapa, Nak?" tanya Gintani mengulurkan kedua tangannya untuk membenahi rambut Putri yang acak-acakan.
"Eca pergi sekolah, tapi dia sama sekali enggak ngajakin Putri," rengut Putri.
Gintani menghela napas. Lagi-lagi, ini tentang sekolah, batinnya.
"Eca enggak ngajakin Putri, karena Putri emang belum terdaftar jadi murid di sekolahnya Eca," ucap Gintani, mencoba memberikan penjelasan.
__ADS_1
"Lalu kapan Putri bisa sekolah?" tanya Putri.
Hening.
πππ
"Ish, dasar psikopat kecil!" Dion mendengus kesal saat melihat Miki tidak mengindahkan perintahnya.
"Sudah, biarkan saja. Sama gilanya kalau kita berurusan dengan orang gila seperti dia," tukas Rezvan, menengahi.
Sayangnya, perkataan Rezvan masih terdengar jelas di telinga Miki. Secepat kilat, tangan mungil itu melayangkan tinju yang membabi buta kepada temannya.
Namun, sepertinya hari ini adalah hari nahas Miki. Pada saat dia sedang memukuli teman sekelasnya, tiba-tiba segerombolan orang yang pernah merasakan tendangan maut Miki, melintas di depan kelas. Mereka pun berlarian memasuki kelas dan beramai-ramai memegangi tangan Miki.
Agung yang pernah menjadi korban tendangan Miki, tak menyia-nyiakan kesempatan itu. Dengan penuh murka, dia membalas rasa sakitnya berulang-ulang.
Tujuh lawan satu. Tentu saja perkelahian itu tidak seimbang. Miki akhirnya ambruk ke lantai. Sesaat, mereka mencemooh Miki.
"Bangun kamu, Miki! Dasar pecundang! Aku tahu kamu selalu berhasil lolos dari sekolah ini karena uang papa kamu, 'kan? Cih, dasar anak pungut! Jangan sok belagu, Miki. Sekali anak pungut, tetap aja akan menjadi anak pungut. Enggak mungkin bakalan berubah menjadi anak sultan meskipun kamu tinggal di kerajaan papa kamu. Karena kamu hanyalah anak adopsi tuan Argha, hahaha!" Agung begitu puas menghina musuhnya.
Masih segar dalam ingatan Agung saat tanpa sengaja, dia membaca formulir pendaftaran Miki di sekolah ini. Dalam formulir tersebut, tertera dengan jelas jika tuan Argha yang diketahui sebagai wali Miki, ternyata hanya seorang ayah angkat bagi Miki. Bahkan, di balik formulir tersebut, terdapat surat lampiran adopsi sebagai surat keterangan. Agung pun menyeringai puas setelah mendapatkan kartu As musuhnya.
Setelah melumpuhkan musuhnya, Miki menepuk-nepuk seragamnya untuk menghilangkan debu yang melekat. Masih dengan ekspresi datar, dia keluar kelas tanpa menghiraukan rintihan dan erangan korban.
Di bawah kolong meja, di sudut ruangan. Kedua bola mata Clara membulat sempurna saat melihat kebrutalan Miki dalam menjatuhkan lawan-lawannya. Clara langsung membekap mulutnya, agar tidak mengeluarkan suara keterkejutan.
πππ
Heru meraih tas kantor karena hendak melakukan meeting penting dengan seorang klien yang berada di luar kota. Namun, saat dia hendak melajukan kendaraan, tiba-tiba ponsel di saku jasnya bergetar. Heru kemudian menarik tangannya yang hendak memasukkan kunci mobil. Sedetik kemudian, dia merogoh saku jas.
"Mina?" gumam Heru tatkala melihat nama yang tertera dalam layar ponsel. Heru pun menggeser tombol jawab.
"Ya, kenapa Min?" tanya Heru, langsung.
"Assalamu'alaikum, Tuan. Mohon maaf mengganggu waktunya Tuan. Tapi Mina bingung harus menghubungi siapa lagi," sahut Mina di ujung telepon.
Mendapatkan suara Mina yang terdengar panik, Heru pun jadi ikut panik. Dia mulai memiliki pikiran buruk tentang keadaan Gintani dan putri angkatnya.
"Iya, wa'alaikumsalam Min. Kenapa? Kok sepertinya nada suara kamu terdengar panik begitu?" balas Heru.
__ADS_1
"Mina emang lagi panik, Tuan. Duh ...."
Mina seolah kehilangan kata-kata untuk menggambarkan keadaan di tempatnya. Mendengar Mina menjeda kalimatnya, Heru semakin merasa gundah.
"Kalau ngomong itu yang jelas, Min. Katakan ada apa?" perintah Heru.
"Ini, Tuan. Non Putri kembali merajuk. Dari kemarin dia rewel terus. Bahkan, pagi ini pun dia masih rewel. Dia merengek minta sekolah kepada nyonya Gintani. Hmm, nyonya Gintani sendiri sampai kewalahan dan tidak bisa menenangkan non Putri. Mina khawatir, Tuan. Non Putri, 'kan suka tiba-tiba sakit kalau keinginannya tidak terpenuhi," cerocos Mina terdengar cemas.
"Ya sudah, sekarang juga saya ke sana," pungkas Heru sambil menutup teleponnya.
Heru mengurungkan niatnya untuk pergi ke luar kota bertemu klien. Dia melajukan mobil hendak membujuk putri angkatnya. Dalam perjalanan, Heru menghubungi sang asisten.
πππ
Di pabrik olahan makanan instan, Alex dibuat khawatir oleh sikap bosnya. baru saja dia mendapatkan telepon jika bosnya belum juga sampai. Padahal, perjalanan dari rumah menuju perbatasan kota hanya memakan waktu satu jam.
"Ish, ke mana perginya Heru?" gumam Alex.
Pada saat dia berjalan mondar-mandir di ruangannya, tiba-tiba ponsel Alex berdering. Alex mengambil benda pipih itu dari atas meja kerjanya.
"Assalamu'alaikum, Lex," sapa Heru di ujung telepon.
"Waalaikumsalam. Kamu sudah sampai mana, Her? Ini sekretarisnya pak Joni sudah menanyakan keberangkatan kamu. Katanya kamu belum sampai juga di tempat tujuan," kata Alex.
"Sori Lex, kamu bisa gantikan aku untuk bertemu pak Joni, 'kan? Hari ini Mina menelepon, dia bilang jika sudah beberapa hari Putri rewel, dan Gintani mulai kewalahan menghadapi rengekan Putri. Karena itu, aku hendak pergi ke rumah Gintani untuk membujuk Putri. Kamu bisa, 'kan gantiin aku," pinta Heru.
"Hmm, anak kamu itu Her, selalu saja tidak tahu sikon," gurau Alex.
"Hahaha, namanya juga anak kecil, Lex. Ya sudah, aku tutup teleponnya, ya. Assalamu'alaikum!"
"Wa'alaikumussalam."
Alex meletakkan kembali ponselnya di atas meja. Seulas senyum tipis tersungging di bibir Alex.
Uuh, Ar ... seandainya kamu tahu kelakuan anak kamu, batin Alex, membayangkan jika posisi Argha berada pada posisi Heru saat ini. Alex yakin jika Argha pun akan melakukan hal yang sama untuk putrinya.
"Ah, dasar laki-laki bodoh!" umpat Alex seraya mengemasi berkas-berkas salinan untuk meeting dengan kliennya.
Setelah menuruni anak tangga, Alex keluar dari pabrik menuju tempat parkiran. Tak ingin terlalu terlambat menemui pak Joni, dia pun segera melajukan mobilnya.
__ADS_1