Aku Yang Tak Diakui

Aku Yang Tak Diakui
Like Father Like Son


__ADS_3

"Kau mau ke mana, Nak?" tegur Pak Budi saat mendengar Miki berpamitan.


"Saya mau ke kelas untuk membereskan peralatan sekolah," jawab Miki, datar.


"Bersikaplah sopan terhadap orang tua, Miki! Kami semua belum membubarkan diri. Apa sopan jika kamu pergi begitu saja di saat pertemuan belum usai?" tegur Bela saat melihat Miki yang kelakuannya tidak lazim sebagai seorang anak kelas 4 SD.


"Percuma Anda menegur halus anak itu, Jeng. Orang tuanya memang tidak pernah mengajari dia sopan santun. Karena itu sikapnya kepada orang dewasa pun tidak sopan," timpal Nyonya Gita.


Wajah Argha memerah karena marah. Dia pun ikut beranjak dari kursi.


"Sepertinya memang sudah tidak ada lagi yang perlu dibicarakan, Bapak Kepala Sekolah. Anak saya sudah menerima keputusan Anda. Dengan segala hormat, kami permisi!" lanjut Argha.


Pak Budi hanya bergeming saat melihat anak dan ayah itu keluar dari ruangannya.


"Hmm, like father like son," gumam Pak Budi, menatap punggung kedua orang berbeda generasi hingga menghilang dari balik pintu ruang kantor.


Di luar ruang kepala sekolah.


"Tunggu, Miki!" teriak Argha begitu melihat Miki hendak berbelok menuju koridor kelas.


Anak kecil itu menghentikan langkahnya. Namun, dia sama sekali tidak berniat untuk menoleh kepada orang yang telah memanggilnya.


Melihat sikap Miki seperti itu, Argha mengalah. Dia kemudian menghampiri Miki.


"Kita pulang bersama. Om tunggu kamu di tempat parkir," ucap Argha.


Saat di hadapan orang lain, dia menyebut dirinya Papa. Namun, saat hanya berhadapan berdua, dia memanggil dirinya Om. Huh, sungguh orang munafik yang paling sempurna! Miki mendengus kesal dalam hatinya.


"Do you hear me, Boy?" tanya Argha yang membuyarkan lamunan Miki.


"Up to you!" balas Miki seraya kembali melangkahkan kaki menuju kelasnya.


Argha menghela napas melihat sikap masa bodoh Miki. Meskipun anak itu baru saja mendapatkan hukuman. Namun, sepertinya hukuman tersebut tidak terlalu mempengaruhinya.


Ish, Bram. Sifat anak lo enggak jauh beda dengan diri lo. Pepatah yang mengatakan buah jatuh tidak jauh dari pohonnya memang benar, batin Argha seraya menatap punggung Miki yang semakin mengecil


Like father like son, itulah pepatah yang tepat untuk Miki dan Bram. Setidaknya itu yang ada dalam pikiran Argha. Kilasan kenangan masa SMA kembali melintas dalam ingatan Argha.


"Dengar, Bramantyo! Ibu akan menghukum kamu jika kamu masih mengulangi perbuatan kamu itu," tegas Bu Nanda yang merasa marah karena lagi-lagi dia mendapatkan laporan tentang kenakalan yang dilakukan Bram.


Hukumlah, Bu. Saya tidak peduli. Selama mereka mengganggu perempuan lemah, selama itu juga saya akan mematahkan jari-jari mereka, jawab Bram seraya berlalu pergi.

__ADS_1


"Hmm, aku yakin jika Miki memiliki alasan kuat kenapa sampai menendang kakak kelasnya. Tapi balasan Miki juga bukanlah perbuatan terpuji. Sebaiknya, nanti malam aku coba bicara dengannya," gumam Argha.


Setelah melihat anak angkatnya menghilang dari ujung koridor, Argha melangkahkan kaki menuju tempat parkir. Tiba di sana, dia membuka pintu mobil dan mulai menyalakan mesin. Sejurus kemudian, Argha melajukan mobilnya dan berhenti tak jauh dari pintu masuk sekolah.


🍁🍁🍁


Entah kenapa hari ini Putri begitu rewel. Gintani sendiri sampai dibuat mengelus dada saat melihat tingkah putrinya.


"Sebenarnya Putri kenapa, Min?" tanya Gintani kepada pengasuh putrinya.


"Tadi pagi, Non Putri ingin mengikuti anak-anak tetangga yang hendak bersekolah, Bu. Tapi saya melarangnya. Mungkin karena itu Non Putri jadi rewel," lapor Mina.


"Astaghfirullah, Dek. Enggak boleh seperti itu, Nak. Kakak-kakak itu, 'kan mau sekolah, bukan mau main. Jadi Putri enggak boleh menggangu mereka," ucap Gintani, mencoba memberikan pengertian kepada gadis kecil berusia tiga tahun itu.


"Sekolah itu apa, Ma?" tanya Putri.


"Sekolah itu adalah tempat untuk menuntut ilmu. Supaya kita menjadi orang yang bermanfaat bagi orang tua, masyarakat, agama, juga negara kita ini," papar Gintani.


"Oh, biar pintar ya, Ma," timpal Putri.


"Nah, itu Putri tahu," jawab Gintani.


"Kalau gitu, Putri juga mau sekolah sama kakak-kakak yang tadi. Boleh, 'kan?" pinta Putri.


"Boleh ya Ma, ya?" ulang Putri.


"Iya, Nak. Tapi nanti ya, setelah usia Putri segini!" ucap Gintani seraya menunjukkan kelima jarinya.


"Satu ... dua ... tiga ... empat ... lima .... "


Putri menghitung kelima jari ibunya. Dahinya sedikit mengernyit, pertanda dia kurang memahami ucapan ibunya.


"Ma, kapan usia Putri menjadi lima?" tanya Putri.


"Nanti, Sayang. Menunggu dua kali kita berziarah ke makam kakek dan nenek bang Dendi. Setelah itu, baru usia Putri genap lima tahun," tutur Gintani.


Putri mengerucutkan bibirnya saat mengetahui jika itu adalah waktu yang cukup lama. Hmm, untuk sekali berziarah saja, Putri harus menunggu lama. Apalagi dua kali ziarah, pikir Putri.


"Enggak mau ah! Ziarah ke makan kakek nenek bang Dendi, 'kan lama sekali. Putri enggak mau! Pokoknya, Putri mau besok sekolahnya. Titik!"


Putri berteriak seraya pergi ke kamar. Panggilan Gintani dan Mina pun tidak dihiraukan.

__ADS_1


"Ish, Bu. Non Putri itu pasti mirip ayahnya, ya. Kalau sudah punya keinginan, pasti harus terkabul hari itu juga. Beda banget sama sikap Ibu yang santai dan sabar," celetuk Mina tanpa sadar telah membandingkan kedua orang tua putri asuhnya.


Gintani sedikit terkejut mendengar ucapan pengasuh anaknya. Namun, tidak dia pungkiri, jika sikap Putri memang sama persis dengan Argha saat sedang menginginkan sesuatu.


Ya Tuhan ... kenapa gen seperti itu harus turun dominan pada diri Putri? Hmm, buah jatuh memang tak jauh dari pohonnya, batin Gintani.


🍁🍁🍁


Tok-tok-tok!


Argha mengetuk pelan pintu kamar Miki. "Apa Om boleh masuk?" tanyanya.


Tak ada sahutan dari dalam kamar. Namun, beberapa detik kemudian, pintu kamar terbuka.


Miki kembali menuju meja komputernya setelah membuka pintu. Argha mengikuti dari belakang.


"Apa yang sedang kamu kerjakan?" tanya Argha.


"Anda punya mata, 'kan? Jadi Anda bisa melihat apa yang sedang saya kerjakan," ucap Miki datar.


Uuh tidak adakah pertanyaan yang berfaedah? batin Miki mendengus kesal.


Argha menarik kursi meja belajar Miki dan menaruhnya di samping meja komputer. Dia kemudian duduk seraya melipat kedua tangannya di dada. Matanya seakan tak berkedip saat melihat kelincahan Miki dalam mengotak-atik komputernya. Ish, bisa jadi hacker handal nih bocah kalau kemampuannya diasah, batin Argha.


"Ki, boleh Om bicara sama kamu?" tanya Argha setelah cukup lama mereka saling membisu.


"Apa saya punya hak untuk melarang Anda berbicara?" Miki balik bertanya tanpa mengalihkan pandangannya dari layar komputer.


Argha menghela napas. Lagi-lagi, pertanyaan yang cukup menohok yang dia dapatkan dari anak mendiang Ilona. Astaga, dikasih makan apa nih bocah saat masih berada di panti? Kembali Argha bermonolog dalam hatinya.


"Sebenarnya apa yang terjadi di sekolah tadi, Ki? Om yakin, pasti ada alasan kuat kenapa kamu sampai melakukan semua itu. Kita tinggal satu atap, Ki. Jika ada masalah, kamu bisa cerita sama Om. Supaya Om bisa membantu kamu," tutur Argha.


"Huh yang benar saja, bahkan Anda sendiri tidak pernah bisa menyelesaikan masalah Anda. Bagaimana mungkin Anda bisa membantu masalah saya. Sudahlah, tidak usah sok peduli. Saya bisa mengurus diri saya sendiri. Sedikit pun saya tidak membutuhkan bantuan Anda," papar Miki panjang lebar.


"Tapi, Ki ...."


"Jika sudah tidak ada yang ingin dibicarakan lagi, silakan Anda keluar dari kamar saya!" Miki mengusir Argha secara halus, tapi cukup tegas.


Astaga ... kelakuan anak lo, Bram. Sama persis dengan lo!


Lagi-lagi Argha menggerutu dalam hatinya. Rasanya, dia sudah jengah menghadap sikap acuh tak acuh Miki.

__ADS_1


Puas menggerutu dalam hati, Argha pun pergi dari kamar Miki.


__ADS_2