
"Jadi, Anda berniat untuk memindahkan Miki?" tanya Pak Budi saat Argha menemuinya secara khusus.
"Iya, Benar Pak," jawab Argha.
"Apa ini ada hubungan dengan kejadian hari ini?" Pak Budi menyelidik.
"Ada hubungannya ataupun tidak, saya sadar jika putra saya sudah tidak nyaman lagi bersekolah di sini. Saya tidak mau hal ini mengganggu perkembangan psikis putra saya. Mutiara Bangsa memang sekolah terbaik di kota Jakarta. Namun, tidak bisa membuat putra saya merasa nyaman karena kekurangannya. Saya sadar, putra saya memang memiliki banyak kekurangan, dan sayangnya teman-teman yang mengetahui kekurangan putra saya, justru malah menjadikan hal itu sebagai sebuah kesempatan untuk menggangu putra saya," tutur Argha.
Pak Budi pun menghela napas. Apa yang dikatakan Argha memang sangat tepat. Sejak tahu jika Miki selalu emosi saat disinggung tentang status dan identitasnya, maka para siswa nakal pun semakin gencar mencari celah agar Miki emosi dan marah. Terlebih lagi kesan pertama Argha yang selalu menyelesaikan masalah dengan uang, membuat Miki seolah menjadi ladang penghasilan bagi anak-anak yang tidak bertanggung jawab.
"Baiklah, saya mengerti dengan keputusan Anda. Saya juga tidak bisa memaksa putra Anda untuk tetap bersekolah di sini. Terlebih lagi ada sebuah kesepakatan yang memang harus ditepati jika Miki kembali berulah. Sekarang, silakan Anda menemui wali kelasnya dan juga guru kesiswaan untuk mengurusi kepindahan putra Anda. Semoga di sekolah baru, Miki bisa beradaptasi lebih baik lagi," jawab Pak Budi.
"Terima kasih, Pak."
Argha berdiri dan menjabat tangan Pak Budi sebagai ucapan perpisahan. Setelah itu, dia pun keluar dari ruang kepala sekolah dan segera menuju kelas Miki untuk menemui wali kelas.
🍁🍁🍁
Gintani dan Heru tiba di Kober Siti Fatimah. Sebuah kelompok bermain yang menerima murid-murid usia prasekolah. Usia Putri yang memang baru menginjak empat tahun, memerlukan sekolah seperti ini agar tidak cepat jenuh.
Pembelajaran yang dikemas melalui permainan, memang membuat para siswanya tidak akan merasa bosan saat belajar. Terlebih lagi, mereka sendiri tidak menyadari jika mereka tengah belajar di atas permainan-permainan edukasi yang disuguhkan para gurunya.
Putri tampak antusias begitu tiba di sekolah tersebut. Apalagi kedatangan Putri bertepatan dengan jam istirahat, di mana para siswa siswi Kober Siti Fatimah tengah bermain ke sana kemari. Ada yang bermain petak umpet, ayunan, perosotan, dan menyusun istana dari balok kayu.
"Putri, sini!" teriak Eca saat melihat sahabatnya tiba di arena bermain.
Putri tersenyum lebar, sedetik kemudian, dia berlari menghampiri Eca yang sedang menyusun balok kayu menjadi sebuah rumah-rumahan.
"Kamu mau sekolah di sini juga, Put?" tanya Eca.
"Iya, Ca. Putri mau sekolah bareng kamu," sahut Putri. "Oh iya, apa Putri boleh ikut bermain sama kalian?" tanya Putri kepada Eca dan kawan-kawannya.
"Tentu saja, Boleh. Ayo!" ajak Eca. "Eh teman-teman, kenalin nih, ini tuh namanya Putri, teman main Eca kalau di rumah," lanjut Eca memperkenalkan Putri kepada teman-teman sekolahnya.
"Hai Put, aku Dayu!" ucap seorang anak yang memiliki rambut lurus.
"Aku Lani," timpal anak berkepang dua.
"Kalau aku, Siti," lanjut anak yang mengenakan kerudung.
__ADS_1
"Saya, Adina Putri Disastra, tapi panggil saja Putri," sahut Putri menyalami teman barunya satu per satu.
"Tuh, lihat Gin. Putri, 'kan pinter banget bergaul. Mas rasa, dia tidak butuh waktu terlalu lama untuk beradaptasi di lingkungan sekolah ini," tutur Heru seraya menunjuk Putri yang mulai bergabung membuat istana balok dengan teman-teman barunya.
Gintani tersenyum tipis. Seketika dia teringat akan masa kecilnya. Mungkin memang Putri mewarisi sifat Gintani yang mudah bergaul. Sekelebat pertemuan pertamanya dengan Argha kecil, tiba-tiba membuat jantung Gintani berdegup kencang. Pertemuan manis yang berujung pahit.
"Ayo kita temui kepala sekolahnya, Gin!"
Beruntung Heru mengajak Gintani pergi ke ruang kepala sekolah. Dengan begitu, Gintani tidak terlalu larut dengan bayangan masa lalunya yang pilu.
🍁🍁🍁
Setelah mendapatkan surat pindah sekolah, Argha kemudian pergi ke rumah sakit tempat para siswa dirawat akibat tendangan maut putranya. Jujur saja, Argha merasa malu dan gengsi harus merendahkan diri untuk meminta maaf kepada para orang tua murid. Jauh sebelum membawa Miki ke rumahnya, Argha dikenali sebagai tuan arogan yang tidak pernah meminta maaf kepada siapa pun. Sekalipun dia berada dalam posisi bersalah. Tapi sekarang, Argha harus menundukkan kepala gara-gara ulah anak angkatnya.
Setelah meminta maaf, tak lupa Argha memberikan uang kompensasi atas kerugian secara fisik dan psikis yang dialami korban. Tidak tanggung-tanggung, nominal uang yang mereka minta pun cukup tinggi. Sebesar sepuluh juta rupiah per anak.
Huh, ini sih namanya perampokan. Sudah biaya rumah sakit gua yang tanggung, eh masih minta uang kompen juga, gerutu Argha dalam hati.
Namun, mau tidak mau, Argha menuruti permintaan mereka. Semoga setelah ini, aku tidak pernah berjumpa lagi dengan mereka. Monolog Argha dalam hatinya.
Setelah selesai dengan urusan di rumah sakit, Argha menjemput Miki di sekolahnya. Tiba di depan sekolah, anak itu terlihat berjalan melewati gerbang. Argha menghentikan mobilnya tepat di depan Miki yang baru keluar gerbang. Dia kemudian menurunkan jendela mobilnya.
Miki mendengus kesal. Rasanya, dia ingin menjauh dari laki-laki yang dibencinya. Namun, bersikap seperti itu pun tidak akan menyelesaikan masalahnya. Dia sadar jika hari ini, dia telah membuat laki-laki itu kecewa lagi.
Huh, apa peduliku! ucap Miki dalam hatinya.
Miki menuruti perintah Argha. Dia kemudian membuka pintu mobil orang yang dianggap ayahnya. Setelah mendaratkan bokongnya, Miki menutup kembali pintu mobil.
Argha melajukan mobil sesaat setelah pintu tertutup. Kendaraan melaju cukup kencang. Tak ada percakapan yang mengiringi perjalanan mereka dari mulai sekolah hingga sampai ke apartemen.
Argha menurunkan Miki di lobi apartemen. Dia meminta Miki untuk pergi terlebih dulu ke unitnya. Sedangkan dia sendiri melajukan mobilnya menuju basement.
Beberapa menit kemudian, Argha tiba di unit apartemen. Setelah masuk, dia memamggil Miki. Namun, rupanya Miki tidak menghiraukan panggilan Argha. Bocah itu masih setia berdiri di depan jendela kamar sambil memasukkan kedua tangan di saku celana sekolahnya.
"Rupanya kamu di sini," tegur Argha setelah membuka pintu kamar anak angkatnya.
Miki diam. Dia sama sekali tidak tertarik untuk menyahuti teguran Argha.
"Apa kamu sudah tahu jika Om memindahkan sekolah kamu?" tanya Argha seraya berdiri di samping Miki dengan melipat kedua tangan di dadanya.
__ADS_1
Miki masih tetap diam.
"Kau tidak ingin bertanya kenapa Om memindahkan kamu?" tanya Argha lagi.
"Saya tidak peduli!" Akhirnya Miki buka suara.
"Semoga di sekolah baru, kamu tidak akan terlibat perkelahian lagi," harap Argha.
Miki tersenyum sinis. "Saya tidak janji!" sahutnya, ringan
Argha membuang napasnya kasar, emosinya sedikit terpancing dengan ulah Miki yang seolah tidak menghargai usahanya.
"Kenapa kamu selalu membuat ulah, Ki? Apa kamu tidak bosan bermasalah? Om saja sudah bosan harus dipanggil pihak sekolah dengan kasus yang sama," ucap Argha.
Miki diam. Dia merasa jika dia tidak pernah membuat ulah. Dia hanya memberikan sebuah akibat atas sebab yang mereka lakukan. Apa itu salah? Namun, Miki pun enggan memberikan menjelaskan, terlebih lagi untuk membela diri.
"Sekali lagi, baik-baiklah di sekolah baru kami, Ki. Jangan sampai membuat ulah lagi." Argha mengulangi ucapannya seraya menepuk pelan bahu putra angkatnya.
Miki masih bergeming.
Merasa pembicaraan ini hanya membuang waktu percuma, akhirnya Argha memutuskan untuk keluar dari kamar Miki.
"Om ke kamar dulu. Pikirkan apa yang Om ucapkan barusan, Ki. Semua itu demi kebaikan kamu juga. Jangan pernah membenci Om karena telah memindahkan sekolah kamu. Om lakukan semua ini demi masa depan kamu. Sekali lagi Om minta, tolong jangan berulah lagi di sekolah baru," tutur Argha seraya membalikkan badan.
"Anda tidak ingin saya membuat ulah?" tanya Miki yang langsung menghentikan langkah Argha.
"Apakah ini sebuah ajuan kesepakatan?" tanya Argha.
"Terserah pendapat Anda," jawab Miki.
"Katakan, apa kesepakatannya agar kamu tidak berulah?" Argha menjawab masih dengan mode memunggungi Miki.
"Hmm, saya tidak yakin Anda bisa melakukannya." Miki tertawa sinis seakan mengejek Argha.
Darah argha mendidih mendengar kalimat ejekan yang keluar dari bocah kelas 5 SD.
"Katakan!" perintah Argha.
"Berikan aku identitas!"
__ADS_1