Aku Yang Tak Diakui

Aku Yang Tak Diakui
Rencana Pernikahan


__ADS_3

Rumah Jahit Putri. Itu nama yang Gintani berikan untuk usaha barunya. Dia sangat bersyukur karena dulu telah memilih menjahit daripada kuliah yang ditawarkan almarhum sang kakek. Setidaknya, pekerjaan yang dia geluti saat ini tidak membuat dia harus meninggalkan putrinya. Meski tak jarang, Gintani merasa kerepotan di saat Putri mengacak-acak peralatan jahitnya.


"Putri, Sayang ... jangan main gunting, Nak!" ucap Gintani saat dia melihat putri kecilnya memainkan benda tajam.


Tiba-tiba, seseorang mengucap salam di depan pintu rumah Gintani.


"Wa'alaikumsalam," jawab Gintani yang langsung menggendong putrinya dan berjalan ke depan untuk membuka pintu.


Ceklek!


Pintu terbuka. Sesaat Gintani terpaku melihat Heru dan Mina berdiri di hadapannya.


"Apa kabar putrinya Papa?" sapa Heru seraya mengulurkan tangannya.


"Papa ..." celoteh Putri sambil mencondongkan badan meminta digendong oleh pria yang dianggapnya ayah.


Heru tersenyum, dia pun mengulurkan tangannya untuk menggendong Putri. Sejurus kemudian, dia mengarahkan Putri kepada Mina.


"Coba lihat, Papa datang sama siapa?" kata Heru.


"Uteng ... yeaaay Uteng," Putri berteriak kegirangan saat melihat pengasuh yang dirindukannya.


Mina langsung menghampiri tuanya. "Non Putri, Uteng kangen sama Non Putri," ucap Mina.


Putri mengulurkan tangan, meminta Mina untuk menggendongnya. Heru pun menyerahkan Putri kepada Mina.


"Ayo masuk, Mas?" ajak Gintani.


Mereka kemudian memasuki rumah Gintani. Ruang tamu terlihat seperti kapal pecah. Rupanya Gintani sedang mengerjakan pekerjaannya. Dan Putri? Tentunya anak itu sedang menemani ibunya sambil bermain.


Heru melihat ada barang-barang yang sangat berbahaya jika dimainkan oleh anak seusia Putri. Karena itu, niatnya membawa Mina kemari memang sudah tepat.


"Mas ingin kamu mengizinkan Mina untuk mengasuh Putri di sini, Gin," ucap Heru.


Gintani terkejut. "Tapi, itu tidak perlu, Mas. Gintan masih sanggup mengurusi Putri, kok," jawab Gintani.


"Kamu lihat keadaan rumah kamu, Gin! Begitu banyak benda-benda yang berbahaya yang bisa dimainkan Putri saat kamu bekerja. Apa kamu tidak khawatir akan keselamatan anakmu?" tanya Heru.


Gintani diam. Apa yang dikatakan Heru memang benar. Tadi juga, Putri hampir menjadikan gunting sebagai mainannya.

__ADS_1


"Tapi, Mas ... Gintan tidak punya cukup uang untuk membayar tenaga seseorang," jawab Gintani.


"Sudah, kamu jangan memikirkan hal itu. Mina bekerja untuk Mas, sudah tugas Mas untuk menggajinya," kata Heru.


"Mas, Gintan tidak mau merepotkan Mas lagi. Gintan sudah terlalu banyak berhutang budi sama Mas Heru," ucap Gintani.


"Tolong jangan ditolak, Gin. Mas melakukan ini demi keselamatan Putri. Lagi pula, kamu sudah punya usaha sendiri. Mas hanya akan menggaji Mina sampai kamu sanggup menggajinya sendiri. Mas yakin suatu hari nanti, usaha baru kamu ini akan menjadi sebuah usaha yang cukup besar. Setelah itu, kamu boleh menggaji Mina dengan uangmu sendiri," kata Heru.


Gintani tersenyum. "Terima kasih, Mas."


"Iya, sama-sama. Ngomong-ngomong, Mas dengar dari Alex kalau jahitan kamu sangat rapi sekali, benarkah itu?" tanya Heru, penasaran.


"Ah, bang Alex hanya membesar-besarkan saja. Jahitan Gintan sama kok, dengan para penjahit yang lain," ucap Gintani.


"Boleh Mas lihat contohnya?" pinta Heru.


Gintani mengambil salah satu kemeja laki-laki yang baru saja selesai dia jahit. Dia kemudian menyerahkannya kepada Heru.


Heru menerima kemeja itu dan mulai mengamatinya. Apa yang dia dengar memang tidak salah, jahitan Gintani terlihat sangat rapi.


"Kalau begitu, Mas pesan 2 kodi untuk pakaian seragam pabrik," ucap Heru.


"Serius, Mas?"


Heru mengangguk.


"Tapi, Gintan bisa mengerjakannya minggu depan. Sekarang, Gintan sedang mengerjakan pesanan teman-teman Geisha. Nggak pa-pa, 'kan, Mas?"


"Iya, terserah kamu saja. Yang penting bisa selesai sebelum akhir tahun."


"Siap, Bos!"


Heru tersenyum lebar melihat rona kebahagiaan terpancar di wajah Gintani yang semakin meneduhkan.


🍁🍁🍁


Di kantor APA Architecture.


Argha terus memainkan ballpoint-nya. Otaknya terasa panas saat mengingat kelakuan Miki. Setiap hari, selalu saja ada hal yang membuat darah Argha mendidih. Namun, tatkala dia mengingat jika Miki seorang anak piatu, Argha hanya bisa mengelus dada. Dia teringat akan kata-kata aki Surya saat menanggapi keluhan istrinya tentang sikap dia waktu kecil.

__ADS_1


"Begitulah anak yatim ataupun anak piatu, Nin. Mereka pasti akan menguji kesabaran kita. Bersabarlah! Kesabaran kita dalam mengurusnya, justru akan menjadi kifarat dosa-dosa kita. Hmm, tanpa kita sadari, dia akan menjadi ladang pahala kita, Nin."


"Mungkin memang benar, dia akan menjadi ladang pahala bagiku, tapi bagaimana jika aku lepas kendali?" gumam Argha.


Hmm, apa tidak sebaiknya aku beri tahu Bram tentang keberadaan Miki. Cepat atau lambat, Bram juga harus mengetahui darah dagingnya sendiri, batin Argha.


Argha melemparkan ballpoin yang tadi dimainkannya. Dia kemudian beranjak dari kursi untuk menemui Bram di ruangannya. Namun, saat Argha membuka pintu. Tampak Bram dan adiknya sedang berbincang di meja sekretaris.


"Bagaimana, Fa. Apa kamu sudah siap menjadi Nyonya Bramantyo Ahmad Jalaluddin?" tanya Bram seraya mengerlingkan sebelah matanya.


Nadhifa tersenyum manis. "Hmm, iya Kak. Insya Allah, Fa sudah siap buat jadi istri Kak Bram. Selama ini, Fa sudah banyak belajar dari kak Gintani bagaimana menjadi istri yang baik, solehah, pintar, dan penyabar," jawab Nadhifa panjang lebar.


Terdengar helaan napas yang cukup berat dari seorang Bramantyo.


"Setiap orang memiliki karakter masing-masing, Fa. Kakak bukan bermaksud membandingkan kamu dan Gintan. Namun, harus kakak akui jika kesabaran Gintani sebagai seorang istri memang tidak ada bandingnya. Selama ini, Kak Bram belum menemukan seorang istri yang seteguh Gintani. Ya, kamu sendiri tahu, 'kan, bagaimana arogansi kakak kamu. Tapi sedikit pun, Gintani tak pernah mengeluh menghadapi sikap arogan kakak kamu," papar Bram yang langsung terkenang akan kesabaran Gintani dalam menghadapi ujian pernikahannya dulu.


"Iya, Kak," timpal Nadhifa, "ah ... entah di mana kak Gintan saat ini. Fa sangat merindukannya. Mungkin, sekarang keponakan Fa sudah besar ya, Kak? Bahkan Fa sendiri enggak tahu keponakan Ga itu laki-laki atau perempuan. Sepertinya cuma Fa, satu-satunya onty yang bodoh di dunia ini," ucap Nadhifa sendu.


"Sudahlah, Fa. Semua ini bukan salah kamu, kok. Mungkin ini jalan Tuhan untuk mereka. Mungkin Tuhan tahu jika hati Gintani sudah lelah menghadapi sikap mr. arrogant itu," tukas Bram.


Argha mengepalkan tangan. "Sialan, asisten ma sekretaris gue malah gibahin gue. Huh, belum ngerasain kena SP emang tuh bocah dua," gerutu Argha, kesal.


Argha hendak melangkahkan kaki untuk menegur kedua karyawan spesialnya itu. Namun, lagi-lagi langkahnya terhenti saat mendengar percakapan mereka berlanjut.


"Gimana, Kak. Kolega papa dan om Jamal sudah diundang, 'kan?" tanya Nadhifa.


"Iya, Fa. Semalam Kakak sudah bikin list-nya. Tinggal diprint dan nunggu cetak undangannya selesai. Nanti kita suruh si Kevin aja buat nempelin nama-namanya," jawab Bram.


"Ya sudah, terserah Kakak saja," sahut Nadhifa.


"Oh iya, Fa. Kakak mau nyiapin materi meeting dulu ke ruangan kakak kamu. Jangan lupa, nanti jam makan siang kita pergi ke WO untuk memilih tema pernikahan kita," pesan Bram.


"Pernikahannya, 'kan masih beberapa minggu lagi, Kak," tukas Nadhifa.


"Enggak pa-pa, Fa. Kita harus mempersiapkan pernikahan kita sedini mungkin, biar lebih sempurna," jawab Bram. "Ya sudah, Kakak temui dulu Argha, ya," pungkas Bram seraya beranjak dari kursi di depan meja Nadhifa.


Argha yang melihat Bram mengayunkan langkah menuju ruangannya, buru-buru kembali ke tempat dan duduk manis di kursi kebesarannya. Dia mengambil salah satu berkas dan berpura-pura menelaah berkas tersebut hingga ketukan pintu di ruangannya pun terdengar.


"Permisi Bos, apa saya boleh masuk?"

__ADS_1


__ADS_2