Aku Yang Tak Diakui

Aku Yang Tak Diakui
Kebingungan Putri


__ADS_3

Argha kembali ke kamar. Hatinya benar-benar dongkol melihat reaksi Miki yang selalu saja memancing emosinya. Entahlah, seakan anak itu sedang menantang dirinya atas setiap perkataan dan perbuatan.


Ish, Ilona ... kenapa kamu selalu menempatkan kesusahan untuk diriku? Pencarian aku terhadap Gintani saja belum usai, tapi kenapa kau malah memberikan aku beban yang sangat berat. Aku benar-benar benci padamu, Ilona! batin Argha mengumpat orang yang sudah meninggal.


🍁🍁🍁


Miki memejamkan mata sesaat setelah pintu kamarnya tertutup. Bayangan ibu Maria dan teman-teman pantinya, melintas dalam ingatan Miki. Tanpa terasa, setitik air mata mulai menetes di kedua sudut matanya. "Iki rindu ibu," gumamnya seraya menyeka air mata.


Tak ingin larut dalam kesedihannya, Miki berjalan menuju meja belajar. Dia meraih buku gambar dan mulai mencorat-coretnya. Kecintaan dia kepada anime, membuat Miki gemar menggambar tokoh-tokoh anime. Tokoh favoritnya yaitu Itachi Uchiha dalam sebuah anime Naruto, telah membuat Miki memiliki tekad kuat untuk bisa berdiri di atas kedua kakinya sendiri. Dia yakin jika dia mampu menjadi orang besar meski tanpa bantuan Argha, pria dewasa yang dianggapnya sebagai ayah kandung.


"Hidup itu bukan untuk mencari jati diri, melainkan untuk menciptakan jati diri," gumam Miki seraya terus memainkan pensilnya di atas kertas putih.


🍁🍁🍁


"Bagaimana keadaan anak Anda, Tuan Argha?" tanya Bagas saat dia dan Argha sedang mengontrol pembangunan showroom miliknya.


"Sebelum saya menjawabnya, bisakah kita buat kesepakatan terlebih dahulu?" tanya Argha.


Kening Bagas mengernyit, dia sendiri tidak begitu paham dengan maksud perkataan rekan kerjanya.


"Hmm, begini Tuan Bagas. Ini bukan di kantor. Dan kalaupun di kantor, Anda tidak perlu memanggilku tuan. Kesannya terlalu formal," jawab Argha yang seolah mengerti akan kebingungan yang tergambar jelas di raut wajah Bagas.


"Bisakah kita memanggil dengan panggilan nama masing-masing saja? Seperti dulu, saat pertama kali kita mulai menjalin bisnis," tutur Argha panjang lebar.


Bagas tersenyum tipis. "Sebenarnya, saya sependapat dengan Anda. Tapi jujur saja, perkataan calon istri Anda masih terngiang di telinga saya," jawab Bagas.


"Tolong bersikaplah seperti seorang kolega Bisnis, Tuan. Apa pantas seorang kolega bisnis memanggil nama kepada rekan kerjanya? Hmm, saya rasa itu bukan etika bisnis yang benar!" dengus Ilona saat dia mendengar Bagas memanggil nama kepada Argha tatkala sedang melakukan rapat penting.


Teguran Ilona di hadapan para pemegang saham APA Architecture, membuat wajah Bagas memerah. Rasa malu, kesal dan marah bercampur menjadi satu. Sejak saat itu, Bagas mulai menjaga jarak dan bersikap lazimnya teman kerja yang hanya sebatas partner kerja saja kepada Argha.


Argha tersenyum kecut. Tidak bisa dia pungkiri jika perkataan Ilona saat itu, sungguh keterlaluan. Tapi Argha sama sekali tidak ingin mengingatnya. Ingat Ilona, itu hanya akan menambah rasa bersalah dia kepada mantan istrinya, Gintani.


"Sudahlah, Pak Bagas. Lagi pula, dia sudah tidak ada lagi di dunia ini. Mengingat wanita itu, hanya menambah luka di hati saya saja," jawab Argha .


"Hmm, Anda benar Pak Argha. Saya sendiri tidak menyangka jika dia bisa berbuat sekeji itu. Namun, dia sangat beruntung karena masih bisa bertobat dan mengakui kesalahannya sebelum ajal menjemput. Semoga saja dia tenang di alam sana," timpal Bagas.

__ADS_1


Argha tersenyum tipis. Dia pasti tenang, Gas. Karena dia telah meninggalkan ketidak tenangan dalam hidup saya, batin Argha menatap kosong bangunan yang hampir rampung.


🍁🍁🍁


Tanpa terasa, setahun telah berlalu. Namun Putri masih belum melupakan keinginannya untuk sekolah. Hampir setiap hari dia merajuk kepada Gintani. Terlebih lagi, saat sekumpulan anak-anak berseragam lewat di depan rumahnya.


Hari ini, Putri hendak bermain ke rumah Eca, salah satu tetangga dekatnya. Kedatangan Putri bertepatan dengan kedatangan Eca yang baru pulang dari sekolah.


Putri sedikit mengernyit saat melihat Eca mengenakan baju dan sepatu. Terlebih lagi, tas yang digendong Eca sangat menarik perhatian Putri. Seketika, gadis kecil itu teringat dengan kakak-kakak yang selalu melewati rumahnya saat pagi dan siang hari.


"Hai Putri! Sedang apa kamu di depan rumah Eca?" tanya Eca sambil melepaskan tangannya dari genggaman sang pengasuh.


"Putri mau main sama kamu, Ca," jawab Putri.


"Oh, boleh. Ayo kita main!" ajak Eca yang langsung menyambar tangan Putri untuk memasuki rumahnya.


Sumi, sang pengasuh segera membuka pintu rumah majikannya. Sejurus kemudian, masih bergandengan tangan, Eca dan Putri memasuki rumah.


Eca hendak mengajak Putri untuk bermain di taman belakang. Namun, saat dia hendak melangkahkan kakinya, Sumi memanggil.


Tangan mungil Eca menepuk jidatnya sendiri. "Omaygat! Eca lupa, Mbak!" " sahut Eca.


Gadis kecil itu langsung berlari lagi memasuki rumah seraya berteriak kepada temannya. "Put, kamu duluan saja ke gazebo taman belakangnya, ya. Eca mau ganti baju dulu!"


Lagi-lagi, Putri menautkan kedua alisnya. Kenapa Eca begitu ketakutan jika bajunya kotor. Apa baju yang sedang dia pakai itu sangat berharga, hingga Eca yang biasanya suka membangkang perintah sang pengasuh, kini langsung berlari menuruti perintah Bik sumi, batin Putri.


Tak ingin terlalu bingung memikirkan sikap sahabatnya, Putri pun melanjutkan langkah kakinya menuju gazebo yang berada di taman belakang. Untuk beberapa saat Putri menunggu Eca, hingga akhirnya teman sebayanya itu tiba dengan pakaian bermain.


"Ayo kita main sekolah-sekolahan, Put!" ajak Eca yang sudah membawa papan tulis kecil lengkap dengan spidol whiteboard-nya.


"Sekolah-sekolahan?" ulang Putri kembali mengernyitkan kening, "apa itu, Ca?" tanyanya.


"Itu loh, Put. Kita bermain guru dan murid. Eca jadi gurunya, Putri jadi muridnya," sahut Eca.


"Tapi Putri tidak tahu permainan itu, Ca," balas Putri.

__ADS_1


"Sudah ya, Putri ikuti Eca saja. Nanti juga tahu sendiri," perintah Eca kepada sahabatnya.


Eca kemudian memberikan sebuah buku bergaris dan pensil kepada Putri. Setelah itu, dia meletakkan papan tulis bersandar di dinding gazebo. Eca lalu menulis bulatan-bulatan kecil di papan tulis. Setelah selesai, dia membalikkan badannya.


"Ayo anak-anak, sekarang tulis lingkaran kecil ini di buku tulis kalian, ya. Buat lima baris. Siapa yang tulisannya rapi, nanti Ibu kasih hadiah," kata Eca menirukan tingkah laku gurunya di sekolah.


Putri hanya bisa bengong melihat sikap Eca. Sungguh, tidak biasanya Eca berbicara seperti itu. Putri semakin kebingungan.


"Ca, boleh Putri tanya sesuatu sama Eca?" ucap Putri pelan.


Eca melepaskan kacamata milik ibunya. "Tanyakan saja, Put?"


"Apa Eca baik-baik saja?" tanya Putri lagi.


Eca mengernyit. "Maksud kamu?" tanyanya.


"Putri bingung lihat sikap Eca. Kok Eca ngomongnya gitu, sih. Seperti orang dewasa saja," cicit Putri.


Ish, Put ... 'kan kita sedang main sekolah-sekolahan. Eca itu sedang berpura-pura jadi ibu guru. Nah, ibu guru Eca di sekolah, dia suka berbicara seperti itu," jawab eca.


"Eca sudah sekolah?" tanya Putri lagi.


Eca mengangguk.


"Apa sekolah itu menyenangkan?" Putri kembali bertanya.


Sekali lagi Eca mengangguk.


"Seperti apa, Ca?" tanya Putri lagi.


"Jadi di sekitar itu kita belajar ...."


Secara gamblang, Eca menceritakan beberapa kegiatan yang ada di sekolahnya. Dia juga bercerita tentang teman-teman dan para guru di sana.


Cerita Eca membuat dada Putri terasa bergemuruh. Entah apa yang gadis kecil itu rasakan saat ini. Tiba-tiba Putri beranjak dan segera mengenakan alas kakiknya.

__ADS_1


"Putri pulang dulu, Ca!"


__ADS_2