Aku Yang Tak Diakui

Aku Yang Tak Diakui
Menjenguk Aki Surya


__ADS_3

Putri menoleh saat seorang pria yang kira-kira seumuran Pak Munir, datang menghampiri mereka.


"Tuan!" ucap Pak Munir seraya mundur beberapa langkah untuk memberikan jalan kepada tuannya.


"Kakek siapa?" tanya Putri.


Tuan Jaya bergeming. Wajah Putri mengingatkan dia kepada seseorang, tapi entah siapa.


"Hei, kakek!" panggil putri seraya menarik ujung pakaian Pak Munir.


"Iya, Nak," jawab Pak Munir.


"Dia siapa? Kok Putri tanya malah enggak jawab," ucap Putri.


Pak Munir tersenyum. "Beliau itu, majikan Kakek. Namanya Tuan Jaya. Beliau juga yang memberikan kamu mainan ini," jawab Pak Munir.


"Benarkah?" tanya Putri dengan mata berbinar.


Pak Munir mengangguk. Putri pun menghampiri Tuan Jaya. Dia meraih tangan Tuan Jaya sambil menariknya. Meminta Tuan Jaya untuk berjongkok hingga sejajar dengan tubuh mungilnya.


Awalnya, Tuan Jaya merasa heran. Namun, beningnya kedua bola mata gadis kecil itu, seolah menghipnotis Tuan Jaya. Hingga akhirnya dia berjongkok untuk mensejajarkan tubuhnya dengan gadis kecil yang sangat menarik perhatiannya.


"Terima kasih hadiahnya, Kakek Tuan," ucap Putri seraya melingkarkan kedua tangannya di leher Tuan Jaya


Hangat. Entah kenapa kehangatan menjalari sekujur tubuh Tuan Jaya. Kedua tangan Tuan Jaya pun membalas pelukan gadis kecil itu. Untuk sejenak, mereka saling berpelukan. Hingga tanpa terasa, bulir hangat mulai menggenang di kedua sudut mata Tuan Jaya.


"Non, Putri! Ayo pulang!"


Teriakan perempuan muda, sontak membuat Tuan Jaya dan Putri saling melepaskan pelukan. Kening Putri berkerut saat melihat kedua mata orang tua itu berkaca-kaca.


"Kakek Tuan menangis?" tanya Putri dengan polosnya.


"Eh, enggak Nak," sahut Tuan Jaya seraya menyeka kedua sudut matanya dengan ujung jari telunjuk, "sepertinya kakek kelilipan saja," sangkal Tuan Jaya.


"Ayo sini, biar Putri tiup matanya," balas Putri seraya mendekati wajah Tuan Jaya.


Namun, saat Putri hendak meniup mata Tuan Jaya, Mina kembali berteriak memanggilnya.


"Ayo, Non. Mamanya udah nunggu tuh!" teriak Mina.


Putri mengurungkan niatnya. "Maaf ya, Kakek Tuan, Putri enggak bisa menolong Kakek. Putri sudah dipanggil Uteng," kata Putri sambil mengelus pipi Tuan Jaya.


Lagi-lagi, hati Tuan Jaya terasa tenang mendapatkan sentuhan mungil gadis kecil itu.


"Iya, tidak apa-apa, Nak. Pergilah!" sahut Tuan Jaya.


Putri tersenyum. Setelah kembali mengucapkan terima kasih, Putri pun pergi meninggalkan kedua orang tua yang saling tatap penuh arti.

__ADS_1


🍁🍁🍁


"Non Putri bicara sama siapa?" tanya Mina begitu Putri tiba di hadapannya.


"Sama kakek dan kakek tuan," jawab Putri.


Mina menautkan kedua alisnya. "Kakek dan kakek tuan? Siapa mereka?" Mina kembali bertanya.


Putri hanya menggedikkan kedua bahunya.


"Non Putri enggak kenal mereka?" Kali ini Mina bertanya dengan ekspresi terkejut.


"Enggak," jawab Putri singkat.


"Astaghfirullah, Non. Kok sembarangan ngobrol sama orang lain, sih. Gimana kalau mereka itu berniat jahat sama Non? Gimana kalau mereka itu penculik dan berniat untuk nyulik Non?" cecar Mina yang mulai panik dengan kecerobohannya yang melepaskan Putri di pusat perbelanjaan


"Hahaha, Uteng aneh. Masa penculik udah tua," sahut Putri tergelak karena merasa lucu melihat wajah panik pengasuhnya.


"Ish, Non Putri ... yang namanya penculik itu, enggak tua enggak muda. Kalau profesinya tukang nyulik, ya dia kang nyulik juga," tukas Mina.


"Enggak mungkin Uteng ... mana ada kang nyulik ngasih Putri ginian," ucap Putri seraya menunjukkan skateboard yang sudah tanpa bungkus.


"Non dapat dari mana tuh mainan? Bukannya mama Non nggak jadi beliin mainan itu, 'kan? Non nyuri?" tuding Mina.


"Eh, sembarangan!" sahut Putri, "ini tuh dikasih sama kakek tuan yang tadi," lanjutnya.


Putri dan Mina sontak menoleh.


"Eh, Nyonya," kata Mina.


Gintani tersenyum. Namun, sepersekian detik kemudian, senyum Gintani hilang saat melihat putrinya memegang sebuah benda.


"Eh, apa itu Putri?" Tunjuk Gintani pada benda tersebut


Putri melirik benda yang sedang dipegangnya. "Ini skateboard, Ma," jawab Putri.


"Iya, Mama tahu itu namanya skateboard. Tapi kamu dapat dari mana tuh skateboard?" tanya Gintani menyelidik.


"Ini pemberian dari kakek tuan, Ma. Tahu enggak Ma, kakek tuan itu orangnya baik banget," jawab Putri.


Gintani mengerutkan keningnya seraya bertanya kepada Putri, "Kakek tuan? Siapa dia?"


"Itu, kakek yang sedang berdiri di sana!"


Telunjuk mungil Putri menunjuk ke depan sebuah toko donut sebagai tempat pembicaraan dia dengan kedua kakek yang baru ditemuinya. Namun, kedua orang tua itu telah menghilang dari sana.


"Mana, Put?" tanya Gintani.

__ADS_1


"Tadi ada di sana, kok," sahut Putri.


"Ish, Put. Jangan ngada-ngada deh. Sekarang juga, kamu jujur sama Mama. Dari mana kamu dapatkan benda itu?" tanya Gintani yang menganggap Putri sedang mempermainkannya.


"Ih, serius Ma. Putri tadi dikasih sama kakek tuan," jawab putri.


"Ya kakek tuan siapa Put? Masak dia enggak punya nama?" ucap Gintani yang mulai merasa gemas dengan sikap Putri.


"Putri enggak tahu, Ma. Lupa lagi namanya," jawab Putri.


"Hhh ..." Gintani menghela napas. Dia kembali pasrah dengan keras kepala putrinya. Dia pun mengalah dan membiarkan Putri memiliki benda yang tadi dia larang.


"Ya sudah, lupakan saja. Tapi kamu sudah berterima kasih, 'kan, kepada kakek itu atas pemberiannya," ucap Gintani yang kini suaranya mulai lembut kembali


"Sudah, Ma," jawab Putri


"Ya sudah, ayo kita pulang!"


🍁🍁🍁


Sementara itu, dalam perjalanan menuju rumah mertuanya, Tuan Jaya masih asyik melamun membayangkan raut wajah gadis kecil yang tadi bertemu.


Hmm, siapa anak kecil itu? Kenapa wajahnya mirip Dewi? Apa dia memiliki kekerabatan dengan keluarga almarhum? batin Tuan Jaya


Saking asyik melamun, Tuan Jaya sampai tidak menyadari jika mobil yang ditumpanginya sudah sampai di sebuah pekarangan rumah sederhana.


"Sudah sampai, Tuan," ucap Pak Munir. Sontak lamunan Tuan Jaya menghambur berlarian.


Sementara itu, di dalam rumah.


Enin Ifah yang sedang menyuapi suaminya, seketika berhenti saat mendengar suara kendaraan memasuki halaman rumahnya. Dia pun mulai menajamkan pendengarannya.


"Sepertinya ada orang yang datang kemari, Nin," ucap Aki surya.


"Iya, Ki. Apa jangan-jangan itu Jaya?" guman Enin Ifah menduga-duga.


Aki surya menautkan kedua alisnya. "Memangnya Jaya mau datang kemari, Nin?" Kembali Aki Surya bertanya.


"Iya, Ki. Maafkan Enin yang sudah memberi tahu Jaya tanpa sepengetahuan Aki Surya. Dua hari yang lalu, Jaya menelepon untuk menanyakan kabar Aki. Akhirnya Enin katakan kondisi Aki yang sebenarnya. Jaya berjanji jika ada waktu luang, dia akan datang kemari buat jenguk Aki," tutur Enin Ifah panjang lebar.


Aki Surya hanya manggut-manggut mendengar penuturan sang istri.


"Ya sudah, sana buka pintunya!" perintah Aki Surya. "Tak baik membiarkan tamu menunggu," lanjutnya.


Enin Ifah mengangguk. Dia kemudian menyimpan piringnya di atas nakas. Setelah berpamitan kepada suaminya, Enin Ifah kemudian keluar untuk menyambut kedatangan sang menantu.


"Bagaimana perjalanannya, Jay? Lancar?"

__ADS_1


__ADS_2