Aku Yang Tak Diakui

Aku Yang Tak Diakui
Hilang


__ADS_3

"Harusnya Anda tidak semudah itu menyelesaikan perkara, Tuan Argha," tegur Bagas saat mereka menuju pelataran parkir untuk mengambil mobilnya masing-masing.


"Jujur saja, Tuan Bagas. Saya enggan berurusan dengan mereka," jawab Argha.


"Saya tahu, Tuan Argha. Tapi setidaknya, kita juga harus tahu alasan putra Anda melakukan hal itu. Justru, sebenarnya ini yang mereka harapkan dari setiap kasus yang melibatkan orang-orang seperti kita. Bukannya saya hendak menyombongkan diri, saya hanya belajar dari pengalaman keponakan saya saja, Tuan. Dulu Arumi sempat dibully hanya karena pendiam. Ketika kakak ipar saya menyelesaikannya dengan uang, ternyata pembullyan kepada Arumi semakin gencar, karena si pelaku merasa begitu mudah mendapatkan uang. Beruntung istri saya cepat bertindak dan menyelidikinya. Sejak saat itu, setiap kasus kenakalan siswa yang terjadi di sekolah ini, selalu ditelaah terlebih dahulu dari kedua belah pihak. Gunanya, ya untuk menghindari hal-hal seperti tadi," papar Bagas.


"Maaf, Tuan Bagas. Saya sendiri tidak tahu aturan yang ada di sekolah ini," balas Argha.


"Sudahlah, saya yakin pihak sekolah pasti bisa memakluminya," ucap Bagas seraya menepuk pelan bahu rekan kerjanya.


Argha mengangguk sambil tersenyum tipis.


"Kalau begitu, saya permisi dulu, Tuan Argha," pungkas Bagas begitu tiba di halaman parkir sekolah.


"Iya, silakan Tuan," ucap Argha.


Sejenak Argha berdiri untuk menghormati temannya yang memasuki mobil terlebih dahulu. Setelah mobil Bagas melaju, Argha pun memasuki mobilnya.


🍁🍁🍁


"Ke mana tuan Argha?" tanya Mr. Frank begitu dia memasuki ruang meeting.


Mr. Frank merasa heran saat pertemuan siang ini dipimpin oleh Bram, sang asisten. Padahal, sebelumnya Argha pernah mengatakan jika asistennya tengah mengambil cuti kerja untuk berbulan madu. Tapi kenapa sekarang rapatnya dipimpin Bram? pikir Mr. Frank.


"Kebetulan, atasan saya memiliki pekerjaan penting yang tidak bisa ditinggalkan, Mr. Karena itu beliau menugaskan saya untuk meeting siang ini," jawab Bram.


"Hmm, i see," sahut Mr Frank seraya memainkan janggut tipisnya. "Ya sudah, kalau begitu mari kita mulai rapatnya," lanjut Mr. Frank.


Bram mulai mengeluarkan berkas yang sudah disiapkan Mita. Sedetik kemudian, dia memberikan salinan berkas tersebut kepada Tuan Frank, asistennya dan juga sekretaris Tuan Frank. Selanjutnya, Bram menyalakan laptop yang telah tersambung pada infocus. Bram mulai membuka soft file tentang kontruksi apartemen yang akan dibangun beserta rincian biaya. Lepas itu, pembahasan pun dilanjutkan kepada kesepakatan kerja.


Seperti biasanya. Tidak sulit bagi seorang Bramantyo Ahmad Jalaluddin untuk mengambil hati klien. Dalam hitungan jam, penandatanganan kontrak pun sudah dilaksanakan.


"Terima kasih Mr Frank. Semoga kerja sama ini menguntungkan kedua belah pihak," ucap Bram seraya menjabat tangan kliennya.


"Wajib itu, Tuan Bram!" gurau Mr Frank, seraya tersenyum lebar.

__ADS_1


Bram pun ikut tersenyum menimpali gurauan pria paruh baya yang masih sangat terlihat ketampanannya.


"Baiklah, Tuan Bram. Karena kesepakatan kita sudah ditandatangani, saya permisi dulu. Masih banyak pekerjaan yang harus saya lakukan," pamit Mr. Frank.


"Oh, iya. Silakan, Mr Frank. Biar sekretaris saya yang akan mengantarkan Anda beserta rombongan," sahut Bram.


Mr. Frank hanya mengangguk seraya mengangkat tangannya sebagai isyarat agar Mita mamandu mereka keluar kantor.


"Mari, Mr!" kata Mita.


Dengan cekatan, Mita menekan handle pintu dan membukanya. Dia pun mengantarkan rombongan Mr Frank untuk keluar kantor.


🍁🍁🍁


Mobil Argha memasuki basement apartemennya. Setelah memarkirkan mobil, dia segera menaiki lift menuju unit apartemen miliknya. Rasa penasaran begitu membuncah di hati Argha. Dia sudah tidak sabar untuk meminta penjelasan Miki atas kasus pertama yang dibuatnya. Dengan langkah lebar, Argha berlari menuju unitnya.


"Miki! Miki! Di mana kamu, Miki!" teriak Argha begitu memasuki apartemen.


Argha berlari ke sana kemari seraya terus memanggil Miki. Setiap sudut ruangan dia sambangi untuk mencari keberadaan anak angkatnya.


Nihil! Argha sama sekali tidak melihat bayangan Miki di apartemennya. Dia kemudian menghempaskan tubuhnya di atas sofa. Rasa lelah menderanya. Bukan hanya mendera fisiknya, tapi juga dengan hatinya.


Argha mengeluarkan ponselnya. Sejenak, dia menatap ponsel tersebut. Menggulir nomor kontak yang ada di dalam ponselnya. Namun, Argha bingung harus menghubungi siapa untuk mencari Miki. Karena di dalam ponselnya, tak satu pun terdapat nomor kontak para orang tua murid kelas satu. Bahkan kontak wali kelasnya pun tidak ada.


"Ish, ayah macam apa gua?" gerutu Argha seraya melemparkan ponselnya ke atas meja.


Argha menyandarkan punggung. Kedua matanya terpejam. Bayangan Gintani mulai menari-nari di pelupuk mata Argha.


Di mana kamu, Gin? Mas benar-benar merindukan kamu. Seandainya kamu ada di sini, tentunya Mas tidak akan kesulitan untuk mengurus Miki, batin Argha.


Setiap mengingat Gintani, kedua sudut mata Argha pun berair.


🍁🍁🍁


Geisha membolak-balik pakaian temannya yang telah selesai dijahit oleh Gintani. Tak henti-hentinya dia memuji pekerjaan Gintani. Sedangkan Dendi sang anak, masih asyik mengajak Putri bermain di ruang tengah.

__ADS_1


"Gin, apa aku boleh menanyakan sesuatu?" tanya Geisha.


Gintani yang sedang menggunting sisa benang pada pakaian yang telah dijahitnya, seketika mendongak. Dia tersenyum kepada Geisha.


"Kamu ini lucu, Ge. Mau nanya kok minta izin dulu," jawab Gintani.


"Soalnya, apa yang mau aku tanyain, itu bersifat pribadi, Gin," cicit Geisha.


Sejenak, Gintani menghentikan pekerjaannya. Dia menatap lekat ke arah sahabatnya.


"Mau nanya apaan sih, Ge?" tanya Gintani, penasaran.


"Tapi kamu jangan marah, ya?" Geisha merayu.


"Aish, pertanyaannya saja Gintan enggak tahu, gimana Gintan mau marah," tukas Gintani.


"Hehehe ..." Geisha terkekeh. 'Itu, Gin ... emmm, ka-kamu enggak ada niatan buat nikah lagi?" tanyanya.


Sontak gunting yang dipegang Gintani terjatuh saat mendapatkan pertanyaan Geisha. Dia kembali mendongak dan menatap Geisha dengan ekspresi wajah yang sedikit pucat. Entahlah, mendengar kata nikah, sungguh membuat hati Gintani begitu perih.


"Ma-maaf, Gin. A-aku tidak bermaksud menyinggung perasaan kamu," sesal Geisha yang melihat wajah Gintani berubah sendu.


Gintani tersenyum tipis. "Tidak apa-apa, Ge," jawabnya.


"Kamu marah?" tanya Geisha lagi.


"Enggak, Gintan enggak marah kok. Cuma bingung saja kenapa kamu menanyakan hal itu," tutur Gintani.


"Sebenarnya Putri yang menjadi alasan aku menanyakan hal tersebut kepada kamu, Gin," jawab Geisha seraya menatap Putri yang sedang tertawa bergembira bersama putranya.


Gintani mengerutkan keningnya. "Maksud kamu?"


"Saat ini, Putri masih terlalu kecil untuk memaknai keluarga utuh, Gin. Namun, seiring berjalannya waktu, dia akan bertambah besar dan akan mulai memahami peran seorang ayah. Saat itu terjadi, dia pasti akan merasa heran dan tentunya akan bertanya ke mana ayahnya menghilang. Kalau boleh aku saranin. Sebaiknya kamu mulai memikirkan pasangan lagi, Gin. Mumpung Putri masih kecil juga. Jadi saat dia beranjak besar, dia tidak akan pernah merasakan kehilangan kasih sayang seorang ayah," papar Geisha.


Hening.

__ADS_1


Keheningan tercipta di antara mereka. Sungguh, Gintani tidak pernah memiliki pikiran sejauh itu. Dia selalu berpikir jika Putri akan baik-baik saja meskipun tanpa kehadiran seorang ayah di sisinya.


"Gin!"


__ADS_2