
Senja tiba. Sinar mentari mulai berubah warna mejadi jingga. Miki melompat dari bangku yang selama berjam-jam dia duduki. Setelah puas menyendiri, Miki akhirnya memutuskan untuk pulang ke apartemen.
Dengan langkah tegap dan berwibawa, Miki terus mengayunkan langkahnya menyusuri jalan setapak danau. Hingga tiba di tepi jalan, Miki menaiki taksi yang sedang menunggu penumpang di depan danau Nirmala.
"Apartemen Andalusia, Pak!" ucap Miki begitu menaiki taksinya.
Sopir taksi menoleh ke belakang. Dahinya mengernyit saat mendapati seorang bocah telah duduk manis di kursi belakang. Sedikit keraguan terpancar dari raut wajahnya. sejenak, dia melirik ke kiri dan ke kanan. Mencari kedua orang tua dari bocah yang tengah duduk melipat dada di kedua tangannya. Miki pun mulai paham dengan apa yang dirasakan sopir taksi itu.
"Tidak usah khawatir, aku punya uang untuk membayar ongkos taksi ini. Jalan!" tegas Miki dengan wajah datarnya.
Si sopir bergidik ngeri melihat tatapan tajam anak itu. Seperti orang yang terhipnotis, dia pun mulai menyalakan mesin mobilnya. Hatinya menolak perintah si bocah. Namun, entah kenapa tubuhnya tidak sejalan dengan kata hatinya.
.
.
Di apartemen.
Lelah menunggu, akhirnya Argha terlelap di atas sofa. Sepatu dan jas masih melekat di tubuhnya. Sepanjang sisa harinya, pikiran Argha melayang pada apa yang telah terjadi. Berulang kali dia merutuki nasibnya yang harus terjebak pada masa, di mana dia mengurusi anak dari wanita yang telah membuat rumah tangganya hancur.
Klek!
Bunyi kunci pintu apartemen yang terbuka, seketika membangunkan Argha. Matanya mengerjap karena silau dari lampu otomatis yang sudah menyala di ruangannya.
"Astaga, ini pasti sudah malam," gumam Argha seraya mengucek kedua matanya.
Sudut mata Argha menatap bayangan Miki yang hendak memasuki kamarnya. Sontak Argha teringat kembali kejadian yang membuat dia untuk pertama kalinya mendapatkan panggilan dari pihak sekolah. Argha pun memutuskan untuk bertanya dan berbicara dengan anak asuhnya.
"Dari mana kamu?" tanya Argha.
"Bukan urusanmu! jawab Miki seraya terus mengayunkan langkah kaki menuju kamarnya.
"Tunggu, Miki!" Cegah Argha. "Kita harus bicara," lanjutnya.
"Maaf, aku mau istirahat," jawab Miki dengan santainya.
__ADS_1
Harus bicara? Uuh, sejak kapan dia peduli dan ingin berbicara denganku? dengus Miki dalam hatinya.
Mendapati perkataannya yang tidak digubris oleh Miki, Argha mulai merasa geram. Dia beranjak dari sofa. Dengan langkah lebar, dia mulai mendekati Miki dan menutup pintu kamar yang telah sedikit terbuka.
Brak!
"Sopanlah sedikit jika orang tua sedang bicara!" tegur Argha.
"Cih, apa Anda juga sopan, membanting pintu kamar orang seenaknya," balas Miki, sinis.
"Ini salah satu kamar yang berada di apartemen aku. Jadi, suka-suka aku untuk melakukan apa pun terhadap ruangan dan benda-benda di sini," tutur Argha penuh penekanan.
"Tapi jangan lupa jika Anda sudah memberikan kamar ini padaku!" tegas Miki.
"Oke-oke ... aku menyerah, Miki! Aku tidak ingin berdebat lagi denganmu. Silakan lakukan apa pun yang kamu suka dengan kamar ini. Tapi aku mohon padamu, kita harus bicara saat ini. Aku hanya ingin tahu dengan kejadian hari ini di sekolah kamu. Apa yang terjadi? Kenapa ada orang tua murid yang melaporkan kamu ke pihak kepala sekolah sehingga aku harus datang ke sana. Katakan, Miki!" pinta Argha yang mulai lelah melewati perdebatan tak ada habisnya.
"Hmm, dasar tukang ngadu," gumam Miki yang masih bisa didengar oleh Argha.
"Cukup Miki! Kita tidak sedang membicarakan anak yang kamu pukul itu. Yang sedang kita bicarakan saat ini adalah tentang kamu, sikap kamu! Kenapa kamu memukulnya? Apa alasan kamu menganiaya teman kamu hingga giginya tanggal seperti itu? Apa kamu ingin menjadi preman di sekolahmu, Hah?" teriak Argha.
Bukannya takut, Miki hanya memutar kedua bola matanya, jengah. Dia sama sekali tidak tertarik untuk mendengar ocehan Argha. Miki segera menyingkir dari hadapan Argha dan membuka kembali pinta kamarnya.
"Tunggu Miki, aku belum selesai bicara!" teriak Argha.
Klek!
Namun, hanya bunyi kunci pintu yang menjawab teriakan Argha.
Ya Tuhan, Braaaammm ...! jerit Argha dalam hatinya seraya menjambak rambutnya sendiri.
🍁🍁🍁
"Gimana Sayang, apa semua kebutuhan untuk perjalanan kita sudah kamu masukan ke dalam koper?" tanya Bram kepada istrinya
"Sudah, Yang. Tuh!" Nadhifa menunjuk dua buah koper yang ada di sudut kamar.
__ADS_1
Bram mengernyitkan keningnya. "Sebanyak itu, Sayang?"
"Iya, Kak. Soalnya kita, 'kan perginya mau lama. Dua Minggu," sahut Nadhifa.
Lagi-lagi, Bram menautkan kedua alisnya. "Dua Minggu? Hmm, bukankah jatah waktu yang dikasih papa itu cuma seminggu ya, Sayang?" tanya Bram memastikan.
"Memang seminggu, sih. Sisanya Fa yang tambahin, hehehe," jawab Nadhifa seraya terkekeh
Bram hanya menggelengkan kepalanya mendengar jawaban Nadhifa. Jika dia pergi selama dua minggu, siapa yang akan membantu Argha menghadapi klien-kliennya? pikir Bram.
Sejenak, Bram mendekati Nadhifa yang sedang melakukan perawatan sebelum tidur. Pria tampan itu meletakkan kedua tangannya di bahu Nadhifa. Dia pun mulai memijit pelan kedua bahu istrinya.
"Sayang ... jika kita pergi selama itu, siapa yang akan membantu kakak kamu meng-handle pekerjaannya? Kamu, 'kan tahu sendiri jika perusahaan kakak kamu sedang naik daun. Ada banyak permintaan rancangan bangunan dari para kolega di luar kota. Kakak takut, kalau kakak kamu repot sendiri jika harus kita tinggal lana-lama," tutur Bram mencoba bernegosiasi.
Nadhifa tampak berpikir. Memang benar apa yang dikatakan suaminya. Namun, Nadhifa juga enggan melewatkan momen bulan madu begitu saja. Dia pun mulai merengek kepada suaminya
"Ih, Kaak ... 'kan enggak seru kalau cuma seminggu. Boleh ya, ditambah? Kak Argha pasti ngerti kok," rajuk Nadhifa.
Suami mana yang bisa tahan mendengar rengekan manja istrinya. Begitu juga dengan Bram. Seketika, hatinya luluh mendengar Nadhifa yang mulai merajuk. Bram meraih tubuh Nadhifa untuk berdiri. Tubuh Bram menggiring tubuh semampai itu hingga terjatuh ke ranjang. Tangan Bram menekan kedua bahu istrinya hingga tidur telentang.
"Terserah kamu saja, Sayang," bisik Bram di telinga sang istri.
Nadhifa tersenyum lebar, seketika dia memiringkan wajahnya dan mulai mengecup pelan bibir sang suami.
🍁🍁🍁
Tiga tahun kemudian.
"Gin, Mas minta maaf jika Mas telah lancang. Namun, Mas tidak bisa menutupi perasaan Mas lagi. Mas sudah tidak sanggup memendam semua ini sendirian. Mas tahu, mungkin setelah ini, kamu akan merasa kecewa terhadap Mas. Tapi Mas tidak punya pilihan lain. Mas ...."
Heru menundukkan kepalanya sejenak. Sejurus kemudian, dia mendongak dan menatap Gintani dengan tajam.
"Mas mencintaimu, Gin. Maukah kamu menjadi pendamping hidup Mas untuk selamanya?"
Deg!
__ADS_1