
Enin Ifah menyapa menantunya begitu tiba di depan. Tuan Jaya dan Pak Munir mendekati wanita renta yang masih kelihatan bugar.
"Alhamdulillah, Bu. Perjalanannya cukup lancar," ucap Tuan Jaya sesaat setelah mencium punggung tangan ibunya. "Bagaimana keadaan bapak, Bu?" tanya Tuan Jaya lagi.
"Begitulah, Jay. Mungkin karena usianya sudah tua juga, jadi bapak sering sakit-sakitan," sahut Enin Ifah.
"Perubahan cuaca akhir-akhir ini juga sangat berpengaruh pada kesehatan, Bu. Mungkin karena itu juga penyakit bapak kambuh lagi," timpal Tuan Jaya.
"Iya, kamu benar. Ayo, masuklah!" perintah Enin Ifah lagi.
Tuan Jaya dan Pak Munir membuka sepatunya. Mereka kemudian memasuki rumah sederhana yang masih memiliki arsitektur kuno pada zaman penjajahan.
Tiba di ruang tamu, pandangan tuan Jaya terkunci pada bingkai foto yang memasang wajah cantik mendiang istrinya. Seulas senyum terbersit di bibir Tuan Jaya. Foto lama yang masih terawat baik. Tiba-tiba, dahi Tuan Jaya berkerut melihat senyum milik mendiang istrinya.
"Senyum itu?" gumam Tuan Jaya yang masih bisa didengar Pak Munir.
"Mirip dengan senyum gadis kecil tadi, 'kan Tuan," celetuk Pak Munir.
Sontak Tuan Jaya menoleh. Dia menatap heran kepada Pak Munir.
"Apa kamu juga menyadarinya?" tanya Tuan Jaya.
"Iya, Tuan. Entah kenapa saya seperti melihat bayangan almarhumah nyonya Dewi pada diri anak kecil tadi," tutur Pak Munir.
"Iya, kamu benar, Nir," timpal Tuan Jaya.
🍁🍁🍁
Miki menatap kosong danau luas yang berada di hadapannya. Kejadian di sekolah hari ini sempat membuat Miki kesal. Guru kelasnya meminta siswa untuk membuat tugas rumah, yaitu menulis tentang silsilah keluarga . Ah, keluarga ... satu kata yang paling dia benci dalam hidupnya.
Satu-satunya orang yang dia miliki dalam hidupnya, hanyalah ibu Maria. Sayangnya, garis takdir malah memisahkan Miki dengan wanita paruh baya itu. Wanita yang selalu pasang badan jika ada seseorang yang mengganggu dirinya.
"Miki kangen Ibu. Apa kita akan bertemu lagi, Bu?" gumam Miki, sambil melemparkan kerikil kecil ke tengah danau.
"Rupanya kamu ada di sini."
Teguran suara anak perempuan, sontak membuat Miki menoleh. Keningnya berkerut saat dia melihat teman dari sekolah lamanya tengah berdiri di samping bangku yang dia duduki.
"Clara?" gumam Miki.
__ADS_1
Gadis kecil itu tersenyum. "Apa aku boleh duduk di sini?" tanya Clara.
Miki diam. Di tidak menolak ataupun mengiyakan. Pandangannya kembali menatap lurus danau Nirmala.
Clara menganggap kediaman Miki sebagai bentuk jawaban tidak keberatan. Pada akhirnya, Clara pun duduk di bangku yang sama, berdampingan dengan anak laki-laki yang membuat dia penasaran sejak lama.
"Aku mau minta maaf padamu," ucap Clara memecah kesunyian.
Hening.
Miki masih enggan menanggapi omongan Clara. Meski jauh di lubuk hatinya, Miki merasa heran kenapa kata minta maaf terucap dari bibir Clara.
"Hhh ... aku tahu, mungkin memang semuanya sudah terlambat, dan saat ini ... akan terasa sulit bagi kamu untuk memaafkan kesalahanku. Namun, aku benar-benar berharap jika suatu hari nanti, kamu bisa memaafkan aku," lanjut Clara.
Miki semakin menautkan kedua alisnya. Dia sendiri merasa heran, entah sejak kapan gadis kecil itu berubah menjadi sosok gadis yang cerewet.
"Aku harap, saat kamu telah memutuskan untuk memaafkan aku, saat itu pula kita bisa menjadi teman baik, atau mungkin menjadi sahabat." Kembali gadis kecil itu berbicara.
Miki tersenyum sinis. Dia beranjak dari bangku yang sedang dia duduki.
"Jujur saja, aku tidak tahu apa yang sedang kamu bicarakan. Namun, yang jelas aku bukan orang yang tepat untuk kamu jadikan teman," sahut Miki seraya berlalu dari hadapan Clara.
Miki mengayunkan langkahnya meninggalkan danau Nirmala. Dia sendiri tidak peduli dengan teriakan Clara yang memanggilnya. Teriakan yang memancing orang untuk memperhatikan dirinya. Dalam hati, Miki merasa kesal dengan sikap Clara.
"Apartemen Andalusia, Pak!" ucap Miki begitu menutup pintu belakang mobil.
Tanpa banyak bicara, sopir taksi itu melajukan kendaraannya. Selama dalam perjalanan, Miki menyandarkan tubuh seraya memejamkan mata.
Tugas gurunya kembali membuat kepala Miki terasa berat.
Ya Tuhan ... aku benar-benar benci dengan keadaanku. Uh, kenapa aku harus terlahir ke dunia jika hanya untuk menanggung dosa kedua orang tuaku. Rasanya, aku sudah muak dengan kehidupan ini. Aku muak setiap hari harus melihat wajah tanpa dosa laki-laki brengsek itu. Cih, menyebalkan! gerutu Miki dalam hatinya.
🍁🍁🍁
Tuan Jaya melangkahkan kaki menuju kamar ayah mertuanya. Sudah lama sekali dia tidak bertemu dengan beliau. Kesibukan yang sudah menyita waktunya, membuat Tuan Jaya tidak pernah bisa mengunjungi mertuanya, meski hanya setahun sekali.
"Apa kabar, Pak?" sapa Tuan Jaya seraya berjongkok di tepi ranjang.
Aki Surya membuka mata. Senyumnya terbit setelah melihat menantu satu-satunya. Ya, meskipun anaknya sudah meninggal, tapi hubungan baik antara dia dan menantunya, tetap terjaga. Terlebih lagi, ada Argha yang menjadi pengikat hubungan mereka.
__ADS_1
Aki Surya mendongak, matanya menatap lurus ke arah pintu. Dahinya sedikit berkerut setelah beberapa detik, dia tidak melihat seorang pun masuk selain sang menantu.
"Apa Adi tidak ikut bersama kamu?" tanya lirih Aki Surya.
Tuan Jaya menggelengkan kepala. "Ada banyak proyek yang harus dia urus, Pak. Jadi Adi tidak bisa ikut. Dia bilang, setelah urusan proyeknya selesai, secepatnya dia akan mengunjungi Bapak," jawab Tuan Jaya.
"Tapi dia sehat, 'kan, Jay?" tanya Aki Surya lagi.
"Alhamdulillah, Adi sehat Pak," jawab Tuan Jaya.
Aki Surya tersenyum. "Syukurlah kalau dia sehat. Bapak sama ibu begitu mencemaskan dia. Terakhir kali dia datang kemari, kondisi dia cukup memprihatinkan. Bapak tidak menyangka jika rumah tangga Adi akan berakhir seperti itu," tutur Aki Surya.
"Iya, Pak. Semua ini juga salah Jaya. Ah, entah kenapa saat itu Jaya tidak pernah mencari tahu kebenarannya," ucap Tuan Jaya terlihat bersedih.
"Sudahlah, yang lalu biarlah berlalu. Masa lalu itu bukan untuk dikenang. Namun, untuk dijadikan sebuah pembelajaran agar tidak terulang lagi. Yang terpenting, saat ini anak kamu baik-baik saja," papar Aki Surya.
"Iya, Pak," sahut Tuan Jaya.
Tak berapa lama kemudian, Enin Ifah datang untuk memberi tahu jika makanan sudah tersaji dan siap untuk disantap.
"Makanlah dulu Jay, setelah itu beristirahatlah. Kamu pasti lelah," kata Aki Surya.
Tuan Jaya mengangguk. Setelah mendapatkan izin ayah mertuanya dia kemudian keluar kamar.
🍁🍁🍁
Tiba di rumah, Putri segera berganti pakaian. Kali ini, dia mengenakan celana panjang dan juga t-shirt lengan pendek berwarna maroon. Tak lama kemudian, Putri berlari lagi keluar dari kamarnya. Putri sudah tidak sabar ingin menunjukkan mainan barunya kepada teman-teman yang selalu nongkrong di taman setiap sore hari.
"Ma, Putri pergi dulu ya!" pamit Putri sambil berteriak.
"Eh, mau ke mana?" tanya Gintani, menyembulkan kepalanya dari jendela ruang menjahit.
"Putri mau main ke taman," jawab Putri.
"Kamu baru datang, Put. Istirahat dulu!" Gintani kembali berteriak.
"Putri enggak capek, Ma. Dah Mama ... i love you!" Putri kembali berteriak seraya berlari ke luar pagar.
"Astaghfirullah ... anak itu," ucap Gintani sambil mengelus dadanya.
__ADS_1
Dari balik jendela, Gintani hanya menatap punggung Putri yang mulai menghilang di balik pagar. Tanpa sadar, seulas senyum tipis terukir saat menyadari kelakuan Putri sama persis dengan kelakuan ayahnya.
"Astaghfirullah! Aku harus bisa melupakannya." gumam Gintani yang mencoba kembali menepis bayangan mantan suaminya.