
Miki terus berjalan menuju kelas. Karena tidak ingin meladeni hinaan anak-anak jahil itu, Miki terpaksa tidak menyelesaikan hukuman dari gurunya. Tiba di kelas, jadwal pelajaran sudah berganti dengan mata pelajaran olahraga. Tak berniat mengikuti kelas, Miki akhirnya meminta izin untuk pulang.
"Kamu sakit?" tanya guru piket ketika Miki meminta izin pulang.
Miki hanya menganggukkan kepala.
"Kalau sakit, seharusnya kamu tidak usah memaksakan diri untuk sekolah. Istirahat saja di rumah. Toh, pihak sekolah pun tidak akan menuntut anak sakit untuk bersekolah," cerocos guru piket sambil menuliskan surat izin pulang untuk Miki.
Diam. Lagi-lagi Miki hanya diam. Hingga beberapa menit kemudian, surat izin pulang untuk Miki pun telah selesai dibuat.
"Ini surat izin pulang untuk hari ini. Mintalah orang tua kamu untuk mengantarkan ke dokter, supaya sakit kamu tidak bertambah parah," ucap guru piket.
"Terima kasih, Bu," jawab Miki, mengambil surat tersebut.
Setelah semua prosedural selesai dilakukan, Miki pun melangkahkan kaki ke luar gerbang sekolah.
🍁🍁🍁
Aki Surya kembali ke kamar. Dadanya terasa sakit ketika tanpa sengaja mendengar kelakuan cucu satu-satunya. Aki Surya memang tidak terlalu mengerti apa-apa tentang kehidupan sang cucu. Namun, mendengar nada kesedihan dari ucapan menantunya, Aki Surya bisa menarik kesimpulan jika cucunya telah melakukan kesalahan yang cukup fatal.
Astaghfirullah Adi ... kenapa kamu seperti itu, Nak? Seandainya ibu kamu masih hidup, dia pasti akan merasa kecewa melihat tingkah laku kamu, batin Aki Surya, memegang dadanya yang semakin sakit.
Aki Surya meraih foto almarhumah putrinya yang terpajang di atas nakas. Menatapnya penuh kerinduan. Hingga tanpa sadar, bulir air mata mulai turun menyusuri kedua pipi keriputnya.
Di ruang makan.
"Sudah, Jay. Tidak usah terlalu dipikirkan juga. Apa yang sudah terjadi, biarkan terjadi. Jalani kehidupan ini seperti air yang mengalir. Ikuti arusnya, tapi jangan sampai terbawa arus. Anak kamu sudah besar. Biarkan dia memilih jalan kehidupannya sendiri, Nak. Tidak usah terlalu dikekang, karena dia bukan anak kecil lagi. Satu hal yang harus kamu ingat, Nak. Bahwa pengalaman hidup itu adalah guru yang terbaik." Enin Ifah memberikan nasihatnya kepada sang menantu.
"Iya, Bu. Ibu benar," sahut Tuan Jaya.
"Ya sudah, ayo kita makan. Nanti keburu dingin," ajak Enin Ifah seraya menepuk pundak mantunya.
"Bapak belum makan, Bu?" tanya Tuan Jaya.
"Tadi sudah Ibu siapkan bubur ayam di kamarnya," jawab Enin Ifah. "Kamu makan saja dulu, biar Ibu yang panggil Munir," lanjutnya.
"Iya, Bu." jawab Tuan Jaya.
Enin Ifah meninggalkan Tuan Jaya di ruang makan. Dia berjalan ke luar untuk memanggil pak Munir yang sedang mencuci mobil di halaman belakang.
"Berhenti dulu, Nir. Kamu temani Jaya sarapan, gih!" perintah Enin Ifah kepada supir menantunya.
"Eh, iya Bu. Ini sedikit lagi, kok," sahut Pak Munir.
__ADS_1
Nin Ifah tersenyum. "Ya sudah, setelah selesai, cepat kamu temani tuan kamu sarapan. Ibu mau pergi ke warung dulu" lanjut Enin Ifah.
🍁🍁🍁
Di kediaman Amijaya.
Nyonya Rosma mendengus kesal. Sudah dua hari suaminya pergi untuk menjenguk mantan mertua. Namun, sampai detik ini tidak ada sedikit pun kabar dari Tuan Jaya.
"Uuh, heran. Kenapa sih, papa kamu itu betah banget tinggal di rumah mantan mertuanya. Padahal cuma mantan, tapi sikap papa kamu ke mereka, sama sekali tidak menggambarkan kata mantan," keluh Nyonya Rosma di depan Nadhifa.
"Ish, sabar dong Ma. Lagian, papa pergi ke sana, 'kan buat jenguk kakek Surya yang lagi sakit," tukas Nadhifa.
"Tapi enggak selama ini, Fa," balas Nyonya Rosma.
"Lama dari mananya sih, Ma? Baru juga dua hari," balas Nadhifa.
"Ish, ngomong sama kamu emang nggak pernah nyenengin hati Mama," gerutu Nyonya rosma. "Udah ah, Mama mau ke kamar dulu," imbuhnya seraya beranjak dari tempat duduk.
Nadhifa hanya menggelengkan kepala melihat sikap ibundanya.
🍁🍁🍁
Setelah hampir seminggu berada di rumah mertua, hari ini Tuan Jaya memutuskan untuk kembali lagi ke Jakarta. Sejak dua hari yang lalu, ponselnya terus berdering karena ulah sang istri. Hampir setiap jam, Nyonya Rosma menelepon hanya untuk menanyakan kepulangan dirinya.
"Beneran?" tanya Nyonya Rosma penuh penekanan.
"Iya, beneran," jawab Tuan Jaya.
"Abisnya, Papa suka bohong terus sama Mama," rajuk Nyonya Rosma.
"Papa enggak bohong, Ma. Kemarin Papa sudah berniat untuk pulang. Namun, penyakit Bapak kambuh lagi. Papa tidak mungkin meninggalkan beliau dalam keadaan sakit seperti itu, Ma," tutur Tuan Jaya, mencoba memberikan penjelasan kepada istrinya.
"Huh, ngapain sih Papa masih ngurusin mereka? Papa itu sudah tidak punya kewajiban untuk ngurus mereka lagi. Ikatan kalian itu sudah tidak ada. Satu-satunya yang masih memiliki ikatan dengan mereka, hanyalah Argha. Harusnya, Argha dong, yang ngurusin mereka," cerocos Nyonya Rosma di ujung telepon.
"Hallo, Ma! Mama! Hallo-hallo! Maaf, Ma. Sepertinya jaringan di sini jelek. Papa tutup dulu teleponnya ya. Assalamu'alaikum!"
Tanpa menunggu jawaban dari sang istri, Tuan Jaya menutup sambungan teleponnya secara sepihak. Dia enggan harus mendengar kata-kata buruk dari bibir istrinya.
Ya Tuhan ... entah apa yang aku pikirkan dulu sampai aku menikahi wanita itu, batin Tuan Jaya yang mulai mengeluh akan sikap sang istri.
Tuan Jaya melangkahkan kaki menuju kamar mertuanya. Ketika dia hendak mengetuk pintu kamar mertuanya, tiba-tiba pintu kamar terbuka dan Enin Ifah keluar.
"Loh, Nak Jaya? Kenapa berdiri di luar? Ayo masuk!" tegur Enin Ifah yang melihat menantunya terpaku di depan kamar.
__ADS_1
"Sebenarnya, Jaya baru saja ingin mengetuk pintu kamar, Bu. Tapi pintunya keburu terbuka," jawab Tuan Jaya.
Enin ifah tersenyum. "Ya sudah, ayo masuk. Tolong temani Bapak dulu, Ibu mau ke dapur."
"Iya, Bu. Ini Jaya juga mau sekalian pamit sama Bapak," jawab Tuan Jaya.
"Pamit?" Enin Ifah mengulang perkataan Tuan Jaya seraya menautkan kedua alisnya. "Memangnya kamu mau ke mana, Jay?" tanya Enin Ifah.
"Hari ini Jaya mau pulang, Bu. Ada banyak pekerjaan yang harus Jaya selesaikan," jawab Tuan Jaya.
"Oh, begitu ya. Hmm, Ibu paham kesibukan kamu, Nak. Ya sudah, masuklah Nak. Ibu ke dapur dulu," ulang Enin Ifah
Tuan Jaya melangkahkan kaki memasuki kamar mertuanya. Dia mendekati Aki Surya yang tengah berdiri di depan jendela, menghirup udara segar di pagi hari.
"Assalamu'alaikum, Pak," sapa Tuan Jaya.
Aki Surya menoleh, sedikit mengernyit ketika melihat menantunya telah berpakaian rapi.
"Wa'alaikumsalam," jawab Aki Surya, "kok sudah rapi, Jay. Apa hari ini kamu mau ke makam Dewi lagi?" lanjut Aki Surya.
"Rencananya begitu, Pak. Jaya mau singgah dulu ke makam Dewi sebelum pulang," jawab Tuan Jaya.
Aki Surya menghela napas saat mendengar kata pulang. Rumahnya pasti terasa sepi lagi setelah menantunya pulang.
_Jadi, kamu hendak pulang hari ini, Nak?" ucap lirih Aki Surya.
"Iya, Pak. Pekerjaan Jaya sudah menumpuk. Adi dan Bram tidak bisa Jaya andalkan, karena mereka juga memiliki pekerjaan masing-masing. Kasihan juga kalau besan Jaya harus meng-handle semua urusan kantor sendirian," papar Tuan Jaya, memberikan alasan yang masuk akal. Tuan Jaya tidak mau menyinggung perasaan ayah mertuanya.
"Bapak ngerti, Nak. Ngomong-ngomong soal Adi ... katakan agar dia meluangkan waktunya sejenak. Bapak benar-benar kangen sama anak itu. Minta dia untuk menjenguk kami yang sudah renta ini, Nak. Tidak ada yang tahu urusan usia. Bapak takut jika Bapak pergi tanpa melihat terlebih dulu cucu Bapak satu-satunya," tutur Aki Surya dengan raut wajah sendu.
"Ish, Pak. Tidak baik berbicara seperti itu. Jaya yakin, Bapak pasti akan segera sembuh. Urusan Adi, nanti Jaya perintahkan Adi untuk menjenguk Bapak. Atau ... bagaimana kalau Bapak sama ibu ikut Jaya? Kita tinggal bersama di Jakarta. Adi pasti sangat senang," tawar Tuan Jaya.
Aki Surya hanya tersenyum tipis mendengar tawaran menantunya. Bagaimanapun, tinggal serumah dengan menantunya bukanlah ide yang baik, mengingat tabiat istri dari menantunya.
"Terima kasih atas tawaran kamu, Nak. Tapi jiwa Bapak tidak pernah cocok untuk merantau. Rasanya berat untuk meninggalkan kampung halaman, Nak. Apalagi, keluarga besar Bapak berada di sini semuanya," tolak halus Aki Surya yang menyembunyikan alasan sebenarnya.
Aki Surya enggan hidup satu atap dengan Rosma. Ada banyak hal dari sifat Rosma yang berbanding terbalik dengan almarhumah anaknya. Terlebih lagi, rasa sakit saat Rosma mengatakan benalu pada istrinya, belum sirna dari hati Aki Surya.
"Jaya mengerti, Pak. Insya Allah, Jaya akan sering meluangkan waktu untuk menjenguk Bapak dan ibu," kata Tuan Jaya.
Aki Surya hanya tersenyum menanggapi ucapan Tuan Jaya.
"Terima kasih, Nak."
__ADS_1