
Waktu terus berlalu. Hari demi hari, datang silih berganti. Namun, kesehatan Aki Surya malah semakin memburuk. Setiap hari, hanya nasib sang cucu yang selalu menggelayut dalam pikiran Aki surya. Nasib rumah tangga Argha dan juga kabar Argha yang telah memiliki anak, terus menerus menjadi beban pikiran Aki Surya.
"Apa Adi belum juga memberikan kabar, Ambu?" tanya Aki Surya kepada istrinya. Kecemasan tampak jelas di raut wajah Aki Surya.
"Belum, Bah. Mungkin Adi masih sibuk,"sahut Enin Ifah sambil membuka butiran obat yang harus diminum oleh suaminya.
Aki Surya hanya bisa menghela napas dengan berat. Entah kenapa dia merasa jika Argha seperti sedang menjauhinya. Jangankan datang berkunjung, memberikan kabar pun, Argha tidak pernah melakukannya lagi.
🍁🍁🍁
Sementara itu, di sekolah Miki. Pembullyan semakin kerap terjadi kepada Miki semenjak dia dihukum oleh wali kelasnya. Terlebih lagi, saat diketahui jika Miki hanyalah seorang anak adopsi, ketiga penguasa sekolah pun semakin gencar menghina Miki. Mereka selalu mencari celah dan kelemahan Miki untuk dijadikan bahan ejekan.
Seperti pagi ini, di sebuah kantin sekolah, Gebriel, Tegar dan Darel kembali mengusik Miki yang sedang makan di kantin sekolah.
"Eh-eh, lihat tuh si anak pungut!" Tunjuk Darel kepada Miki yang sedang menikmati bakso di bangku sudut kantin sekolah.
Gebriel dan Tegar yang tengah asyik mencari makanan favoritnya di kantin sekolah, sontak menoleh ke arah yang ditunjukkan oleh Darel. Senyum menyeringai terpancar jelas pada raut wajah Tegar yang terlihat bengis. Sebenarnya, bukan terlihat lagi. Namun, Tegar benar-benar anak yang sangat bengis dan selalu menggangu teman-teman sekelas yang lemah. Dia juga kerap mengganggu adik-adik kelasnya.
"Kita samperin dia, yuk!" ajak Tegar kepada dua sahabatnya.
"Ayo!" sahut Darel dan Gebriel berbarengan.
Dengan semangat empat lima, ketiga preman sekolah itu menghampiri meja Miki yang terletak di pojok ruangan.
Brak!
"Hei, anak pungut! Ngapain lo duduk di meja tempat gua!"
Dengan gaya sombongnya yang selangit, Tegar menggebrak meja Miki dan menghinanya. Sementara itu, di belakang Tegar, tampak Darel dan Gebriel yang tengah tertawa terbahak-bahak karena mangkuk bakso Miki terbalik hingga isinya tumpah.
"Ish!"
Miki meringis pelan saat kuah bakso yang masih panas membasahi celana seragamnya. Namun, meskipun merasa kesal dengan tingkah laku ketiga preman kecil tersebut, Miki masih memilih mendiamkan perbuatan mereka.
__ADS_1
"Bhahahaha ...."
Tawa ketiga preman sekolah itu pecah saat melihat mangsanya meringis. Mereka pun mulai menikmati ekspresi wajah Miki yang terlihat sedikit kesakitan. Mungkin lebih tepatnya, kepanasan akibat kuah bakso yang tumpah di pahanya.
"Gua enggak nyangka, ternyata si anak pungut itu alay juga. Hahaha ..." ledek Tegar sambil tertawa terbahak-bahak.
"Yup! Wajahnya aja yang sok dingin. Padahal, aslinya, cemen. Masak hanya karena kuah bakso yang tumpah di atas paha, dia sampai meringis begitu. Huh, lebai!" celetuk Tegar.
Celetukan tegar lagi-lagi membuat Miki kembali menjadi bahan ejekan. Merasa sudah tak mampu lagi membendung emosinya, Miki bangkit dari tempat duduk. Dia hendak pergi menuju taman belakang. Miki sama sekali tidak punya niat untuk meladeni ketiga preman kecil di sekolahannya.
"Mau ke mana kamu?" Tegar menyambar tangan Miki.
"Bukan urusan kamu!" tegas Miki.
"Eit, tentu saja ini menjadi urusan gua saat lu memutuskan untuk pindah kemari!" teriak Tegar.
"Sudah hajar aja, Bos. Dia sama sekali enggak ngehargain lo sebagai kakak kelas," celetuk Gebriel, mencoba mengompori orang yang dipanggil bosnya.
"Hahaha, dasar banci!" cemooh Tegar kepada Miki.
"Sepertinya, tiap malam dia tidur dikelonin emaknya tuh. Hahahaha ...." Gebriel menimpali cemoohan Tegar.
Darah Miki berdesir hebat saat mendengar mereka menyangkut pautkan dirinya dengan sang ibu yang sangat dia benci. Miki bergerak cepat menuju lawan yang sedang tertawa. Satu tendangan maut dengan kekuatan penuh, dia layangkan hingga Gebriel terbang dan mendarat di sebuah roda mie ayam. Untungnya roda itu tidak sedang berpenghuni.
Brak!
"Uugh!"
🍁🍁🍁
Argha duduk bersandar di kursi kerjanya. Wajahnya sedikit menengadah seraya memejamkan mata. Namun, entah kenapa dadanya terasa sesak. Seperti sedang ada beban yang mengimpit dadanya hingga dia sedikit kesulitan untuk bernapas.
"Astaghfirullahaladzim ... ada apa sebenarnya ini? Kenapa hatiku terasa kacau balau seperti ini," gumam Argha.
__ADS_1
Tangan kanan Argha meraba dada sebelah kirinya. Entah kenapa, ritme detak jantungnya mulai tidak beraturan. Ada rasa gundah yang merasuki hati Argha, tapi Argha tidak mengerti alasan dibalik kegundahan itu.
Sementara itu, di kediaman kakek nenek Argha.
Wanita renta itu hanya mampu berdiri mematung di samping ranjang. Wajah pucat yang sedang memejamkan mata sambil sedikit tersenyum, membuat kaki Enin Ifah seolah terpaku di atas lantai. Masih terngiang ucapan dokter puskesmas desa beberapa detik yang lalu setelah memeriksa denyut nadi Aki surya.
"Maafkan saya, Enin. Saya harus menyampaikan berita duka ini," ucap dokter muda itu seraya menundukkan wajahnya.
Sungguh, sangat berat sekali bagi Dokter Rudi untuk memberitahukan kebenaran tentang pasien di hadapannya. Namun, apa pun yang terjadi, Dokter Rudi harus mengungkapkan kebenarannya.
"Sepertinya, Aki surya sudah tidak ada beberapa menit sebelum saya sampai kemari," tutur Dokter Rudi yang seketika membuat Enin Ifah bergeming di tempatnya.
"Innalillahi wa inna ilaihi rajiun," gumam lirih Enin Ifah seraya menatap kosong pria yang sudah terbujur kaku.
Pria tua yang menjanjikan sehidup semati hingga akhir hayatnya. Namun, rupanya takdir berkata lain. Pria ini malah terlebih dahulu meninggalkan Enin Ifah.
"Enin!" sapa Dokter Rudi yang langsung membawa Enin Ifah kembali ke alam sadarnya.
Enin Ifah menoleh. Gurat kesedihan tergambar jelas di wajahnya. Dokter Rudi pun merasa kasihan melihat kondisi Enin Ifah yang cukup shock.
"Mungkin sebaiknya Enin menyuruh orang untuk memberikan pengumuman tentang kematian Aki Surya. Biar jenazah Aki Surya segera diurus. Kasihan jika Aki surya terlalu lama dibiarkan seperti ini," ucapnya.
"Iya, Nak Dokter. Saya akan menyuruh tetangga saya untuk mengumumkan kabar kematian suami saya ini di masjid. Jika Nak Dokter tidak keberatan, saya titip dulu almarhum. Saya hendak pergi ke rumah tetangga saya," tutur Enin Ifah.
"Iya, mangga silakan Enin," jawab dokter muda itu lagi.
Dengan langkah terseok-seok, Enin Ifah pergi mengunjungi tetangga samping rumahnya. Dia hendak memberikan kabar duka tentang kematian suaminya kepada sang tetangga. Hingga tiba di rumah kerabatnya, Enin Ifah mengetuk pintu rumah tetangganya.
"Iya, sebentar!" Terdengar sahutan dari dalam rumah.
Namun, saat pintu rumah terbuka. Tetangganya merasa heran ketika melihat sembab di kedua mata tetangganya.
"Ada apa Enin?"
__ADS_1