
Tiba di apartemen, Miki segera memasuki kamarnya. Sepanjang perjalanan pulang, tak ada pembicaraan di antara lelaki berbeda generasi itu. Begitu juga ketika sampai di apartemen. Masing-masing sibuk dengan kegiatannya sendiri.
Argha menata semua bahan makanan yang telah dibelinya ke dalam lemari pendingin. Sedangkan Miki, dia kembali berdiri di depan jendela kamar seraya menatap kosong jalanan ibu kota. Pikirannya melayang pada apa yang tadi dia lihat di depan supermarket. Sekelompok anak-anak berseragam, tengah bercanda ria di pelataran parkir supermarket.
Kenapa anak-anak itu mengenakan pakaian yang sama? Apa mereka anak-anak sekolah? batin Miki tersenyum tipis.
Dulu, saat dia masih tinggal di panti asuhan St. Jose, bu Maria pernah menyekolahkan Miki di sebuah kinder garten dekat panti. Namun, para siswa di sana sama sekali tidak mengenakan pakaian yang sama persis. Akhirnya, hati Miki tergelitik untuk mengetahui lebih lanjut tentang sistem sekolah di negara asing ini. Ya, bagi Miki, negara yang ditinggalinya saat ini merupakan negara asing. Meskipun secara hukum, Miki sudah mendapatkan hak kewarganegaraannya.
Tanpa mengetuk pintu, Argha memasuki kamar anak asuhnya. Keningnya mengernyit saat Miki tidak merasa terganggu dengan ulahnya. Biasanya, anak itu akan langsung memasang wajah kecut jika Argha masuk tanpa permisi.
"Apa yang kamu lakukan?" tanya Argha saat melihat Miki tengah asyik menatap ponselnya.
Miki mendongak, dahinya mengernyit melihat Argha yang sudah berdiri di ambang pintu. "Huh, seperti kadal saja," dengusnya kesal.
Argha terkejut, tapi dia enggan menanggapi ocehan Miki. Dia sudah sangat terlambat kembali ke kantor. Karena itu dia membiarkan perkataan Miki begitu saja.
"Om mau balik lagi ke kantor. Di meja sudah ada makanan. Jika kamu mau makan, hangatkan saja di microwave," ucap Argha.
"Hmm ..." Hanya dehaman yang menjawab perkataan Argha.
Seperti Argha yang tidak tertarik mendengar ocehan Miki, anak kecil itu pun tidak begitu tertarik dengan ucapan Argha barusan. Dia masih asyik membaca sebuah artikel tentang sekolah di negara Indonesia.
Karena merasa penasaran melihat sikap acuh tak acuhnya Miki, akhirnya Argha mendekat. Argha melirik tayangan slide show yang digulir Miki dalam benda pintarnya. Sepintas, tayangan itu seperti menggambarkan dunia persekolahan, dan Miki sangat antusias melihat tayangan itu. Bahkan dia sampai tidak menyadari keberadaan Argha yang sudah berdiri di depannya.
Melihat sikap Miki, Argha mulai menyadari jika bocah berusia tujuh tahun itu sedang memendam sebuah keinginan.
Hmm, usia Miki memang sudah matang untuk memasuki Sekolah Dasar. Sebaiknya aku cari sekolahan untuk Miki, supaya dia ada aktivitas dan tidak akan merasa jenuh juga tinggal di negaranya sendiri, batin Argha.
Tak ingin mengganggu konsentrasi Miki, Argha segera keluar dari kamar anak asuhnya. Sedetik kemudian, dia keluar dari apartemennya dan menuju tempat parkir. Rencananya, Argha hendak kembali ke kantor untuk mengadakan pertemuan dengan rekan kerjanya.
__ADS_1
🍁🍁🍁
Hari demi hari terus berlalu. Argha berniat menyekolahkan anak asuhnya. Namun, mencari sekolahan yang bagus dan tepat, ternyata tidak semudah menggambar sketsa bangunan.
Sudah hampir tiga hari Argha berselancar di internet untuk mencari sekolah yang bagus dan berstandar internasional. Akan tetapi, semakin Argha mencari, semakin terasa pusing juga kepalanya. Karena begitu banyak sekali sekolah-sekolah bonafide yang disuguhkan di jejaring sosial media itu.
"Huh, benar-benar membingungkan!" Argha mendengus kesal seraya melemparkan ponselnya di atas meja kerja.
"Hmm, sepertinya tuan arogan ini sedang merasa kesal."
Tiba-tiba suara bariton yang dia kenali terdengar di ruangannya.
"Tuan Bagas?" ucap Argha saat wajahnya mendongak untuk melihat siapa yang datang. "Masuklah, Tuan! Kenapa Anda berdiri di sana?" sambung Argha yang merasa heran melihat rekan kerjanya berdiri di ambang pintu.
"Hmm, tadi saya sudah ketuk-ketuk pintu, tapi sepertinya pikiran Anda sedang tidak berada di sini," balas Bagas seraya memasuki ruang kerja Argha.
"Hahaha, maafkan saya, Tuan. Karena terlalu fokus untuk mencari sekolahan, saya sampai tidak menyadari kedatangan Anda. Maaf!" jawab Argha seraya berjalan mendekati Bagas.
Sejurus kemudian, Argha membawa Bagas untuk duduk di sofa tamu. "Silakan duduk, Tuan!" lanjutnya.
Bagas membuka kancing jasnya. Dia kemudian duduk di sofa. Keningnya sedikit mengernyit saat mendengar kata sekolah. Bagas penasaran dan akhirnya bertanya kepada Argha. "Sekolahan? Untuk siapa?"
"Untuk anak saya, Tuan," jawab Argha.
Bagas semakin mengernyitkan keningnya. Setahu dia, Argha sudah bercerai dengan istrinya. Meskipun diketahui jika Gintani tengah mengandung saat diceraikan, tapi tidak mungkin jika anak mereka sudah memasuki usia sekolah juga.
"Tunggu Tuan Argha, saya benar-benar tidak paham. Bukankah pernikahan Anda dengan Nyonya Argha sudah berakhir? Dan bagaimana bisa Anda memiliki anak usia sekolah?" tanya Bagas bertubi-tubi.
Argha tersenyum tipis. "Sebenarnya ini untuk anak angkat saya, Tuan. Sebulan yang lalu, saya telah mengadopsi seorang anak laki-laki," jawab Argha, tak ingin membuat tamunya merasa kebingungan.
__ADS_1
Bagas tersenyum. "Hmm, pantas saja," ucapnya. Berapa tahun usia anak Anda?" tanya Bagas.
"Tujuh tahun, Tuan."
"Hanya terpaut satu tahun lebih muda dari anak saya," gumam Bagas yang masih bisa didengar oleh Argha.
"Ngomong-ngomong, di mana putra Anda bersekolah, Tuan? Siapa tahu sekolah putra Anda bisa menjadi rekomendasi yang bagus untuk putra saya," kata Argha.
Bagas menghela napasnya. Pancaran matanya berubah sendu saat mengingat putra semata wayangnya.
"Sebenarnya, putra saya dia tidak bersekolah di kota ini, Tuan. Karena banyak hal, saya dan Kyara terpaksa menyekolahkan Elang di pondok pesantren di daerah yang cukup terpencil," jawab Bagas terlihat sedih.
"Astaghfirullah! Tapi kenapa, Tuan?" tanya Argha cukup terkejut.
"Maaf, Tuan. Untuk saat ini, saya tidak bisa bercerita banyak. Tapi jika Tuan mau, Tuan bisa menyekolahkan putra Tuan di sana. Saya bisa menjamin jika pendidikan di sana juga tidak kalah kualitasnya dengan pendidikan bertaraf internasional di sini," lanjut Bagas.
"Hmm, Terima kasih Tuan, tapi saya tidak berniat menyekolahkan putra saya untuk mondok. Sejak kecil, dia sudah tinggal di panti asuhan, saya tidak ingin dia merasa terbuang lagi hanya karena saya memasukkan dia ke pondok pesantren," tutur Argha.
"Baiklah, saya mengerti," jawab Bagas. "Bagaimana kalau Anda memasukkan putra Anda, siapa namanya?" tanya Bagas.
"Miki," jawab singkat Argha.
"Ah, ya ...Miki. Bagaimana kalau Miki bersekolah di tempat istri saya bekerja. Kualitas di sana juga sangat bagus. Bahkan saya dengar, Mutiara Bangsa menjadi sekolah terbaik kedua di kota ini," imbuh Bagas.
"Benarkah? Hmm, rekomendasi yang sangat bagus Tuan. Dengan begitu, saya bisa lebih mudah memantau perkembangan putra saya lewat istri Anda. Menarik sekali," jawab Argha.
"Hahaha, Anda bisa saja. Ya sudah, saya pikir Anda sudah bisa menemukan solusinya untuk masalah sekolah putra Anda. Jadi ... kapan kita bisa mulai tanda tangan kontraknya?" tanya Bagas yang memang datang untuk melakukan penandatanganan kontrak kerja sama dengan perusahaan milik Argha.
"Sebentar, saya panggil asisten saya dulu, Tuan."
__ADS_1