Aku Yang Tak Diakui

Aku Yang Tak Diakui
Kembali Membuat Ulah


__ADS_3

Bel untuk jam istirahat kedua telah berbunyi. Semua siswa berhamburan keluar kelas. Begitu juga dengan Miki. Seperti siswa lainnya, dia pun ikut keluar untuk mengistirahatkan otaknya yang penat setelah mengkaji materi yang diberikan oleh guru kelasnya.


Namun, kali ini ada ekspresi lain yang ditunjukkan oleh si pemilik wajah dingin itu. Dengan mimik kesal, Miki mengayunkan langkahnya menuju bangku di belakang taman.


"Huh, apa tidak ada pertanyaan yang lain lagi. Rasanya aku benar-benar muak sekolah di tempat ini. Setiap hari, wanita itu selalu menanyakan perkembangan hubungan aku dengan laki-laki itu. Menyebalkan!"


Miki terus menggerutu sambil menendang kaleng bekas minuman di hadapannya. Namun, sesaat kemudian dia menyadari jika perbuatannya itu salah. Miki sedikit berlari kemudian berjongkok untuk mengambil kaleng yang tadi dia tendang. Lepas itu, dia pun membuangnya ke tong sampah.


Dengan hati yang masih dongkol, Miki kembali melanjutkan langkahnya. Koridor yang menuju taman belakang sekolah terlihat cukup sepi. Miki terus melangkahkan kakinya hingga tanpa terasa, dia tiba di taman sekolah.


"Aww!"


Saat Miki hendak menuju sebuah bangku kosong di taman belakang, tiba-tiba dia mendengar teriakkan seorang anak perempuan dari balik pohon beringin yang cukup besar. Miki pun menghampirinya.


"Kau?!"


🍁🍁🍁


Sepanjang pagi sampai siang, Alex tidak mampu bekerja dengan baik. Dia sendiri menyadari akan hal itu. Pikiran Alex terus terbayang pada apa yang telah dia lihat di taman belakang panti asuhan yang dikelola oleh Bu Ningsih.


Hmm, apa Gintani telah menerima perasaan Heru? Apa dia juga menyambut ungkapan cinta Heru? Apa setelah kejadian kemarin, mereka akan segera hidup bersama? Ya Tuhan ... kenapa aku merasa penasaran sekali dengan jawaban Gintani? Ish, seharusnya kemarin aku tidak langsung pergi, supaya aku bisa mendengar percakapan mereka. Astaga, aku bisa gila memikirkan semua ini. Monolog Alex dalam hatinya


Ding-dong!


Bel jam istirahat para karyawan terdengar begitu nyaring. Alex segera menghentikan pekerjaannya. Sejenak, dia melirik sebuah buku basar. Buku laporan keuangan bulanan yang sedari tadi dipegangnya tanpa dicorat-coret


"Astaghfirullah! Rupanya dari tadi aku hanya melamun saja. Buktinya, tak ada setitik pun noda tinta yang aku tinggalkan pada buku bergaris ini. Saking sibuk memikirkan jawaban Gintani pada Heru, aju jadi ikut-ikutan melamun begini. Uuh, bisa mati berdiri, nih. Apa tidak sebaiknya aku temui Heru saja untuk bertanya?" gumam Alex tersenyum tipis saat telah menemukan sebuah solusi.


Alex keluar dari ruangannya. Dia kemudian melangkahkan kaki untuk memasuki ruangan atasannya yang hanya berjarak beberapa meter di depan ruangan tempat dia bekerja. Alex kemudian mengetuk pintu ruang kerja Heru.


"Masuk!" teriak Heru dari dalam ruangan.


Pintu terbuka, tampak Alex menyembulkan kepala dari balik pintu.


"Sudah waktunya jam makan siang, Her. Kau tidak ingin makan siang denganku?" tanya Alex.

__ADS_1


"Ah, ya ... dengan senang hati, Lex. Sebentar, aku membereskan berkas-berkas ini terlebih dahulu," jawab Heru sambil merapikan meja kerjanya.


"Baiklah, aku tunggu di meja sekretaris," timpal Alex.


"Oke!" balas Heru.


Alex kemudian melangkahkan kakinya menuju meja sekretaris. Seraya menunggu Heru, dia mulai berbincang ringan tentang beberapa agenda pertemuannya dengan agen-agen penyalur bahan makanan instan yang diproduksinya. Hingga tepukan pelan di bahu Alex, mengakhiri perbincangan mereka.


"Ayo!" ajak Heru.


Alex tersenyum. Setelah berpamitan kepada sekretarisnya, kedua pria dewasa itu pun berjalan beriringan menuju kantin pabrik.


Tiba di kantin, mereka memesan makanan. Setelah itu, mereka mencari meja yang cukup nyaman untuk menikmati santap siangnya. Sambil menunggu makanan datang, Alex dan Heru berbincang ringan seputar perusahaan. Hingga perbincangan mereka mengerucut pada hal yang sedari tadi ingin ditanyakan oleh Alex.


"Oh iya, Her. Apa kamu sudah mengutarakan isi hati kamu kepada Gintani?" tanya Alex saat mempunyai kesempatan untuk membicarakan janda muda itu.


"Hmm ... sepertinya, ada yang penasaran, Nih," jawab Heru, tersenyum kecut.


"Hahaha,..." Alex melepas tawa untuk menutupi Kegugupannya. Sedetik kemudian,dia pun melanjutkan perkataannya, "tentu saja aku penasaran. Sebagai calon kakak ipar yang baik, aku harus menyeleksi dulu apakah yang akan menjadi suami adikku itu memiliki kualitas yang baik atau tidak? Sehingga dia layak menjadi adik iparku."


Alex berhasil menghindari kerupuk terbang itu. Sedikit terkekeh, dia kembali bertanya pada atasan yang sudah menjadi sahabatnya.


"Hehehe, sudahlah, aku hanya bercanda. Jadi benar, kamu sudah melamar Gintani? Bagaimana tanggapan dia? Apa jawaban dia terhadap lamaran kamu?" cecar Alex.


Heru hanya bisa menarik napasnya panjang, sesaat kemudian, pria berwajah oriental itu mengembuskan napas dengan perlahan.


"Dia menolak perasaanku, Lex," ungkap Heru.


Alex sangat terkejut mendengar jawaban Heru. Dia tidak menyangka jika Gintani akan menolak lamaran Heru. Ini artinya, masih ada nama Argha terselip dalam hati mamanya putri.


"Tapi kenapa, Her?" Alex kembali bertanya. Jujur saja, dia merasa heran dengan alasan Gintani menolak pria sebaik Heru.


"Entahlah. Dia hanya bilang, dia ingin fokus mengurus Putri," jawab Heru.


"Jujur, aku tidak tahu harus bilang apa, Her. Tapi, mungkin kalian memang tidak berjodoh," lanjut Alex.

__ADS_1


"Kata-katamu sungguh menyakitkan, Boy. Tapi aku akui, apa yang kamu bilang memang ada benarnya juga. Mungkin memang kami tidak berjodoh," timpal Heru.


"Bersabarlah Her. Tuhan sedang mempersiapkan hal yang indah untuk kamu di masa depan," ucap Alex mencoba menyemangati sahabatnya.


"Hahaha, aku nggak selebay itu kali. Aku hanya berharap, semoga Gintani menemukan orang yang tepat untuk masa depannya," pungkas Heru.


Alex tersenyum. Dia kemudian mengamini harapan Heru barusan. Tak berapa lama, makanan datang dan mereka mulai menyantapnya.


🍁🍁🍁


Di kantor APA Architecture. Hena, sekretaris baru Argha, segera menghampiri Argha setelah laki-laki arogan itu keluar dari ruang rapat. Wajah Hena terlihat panik.


"Permisi Pak, tadi ada telepon dari pihak sekolah, katanya Bapak ditunggu secepatnya di sekolah den Miki," ucap Hena dengan bibir bergetar.


Argha mengernyitkan keningnya seraya bertanya, "Kenapa pihak sekolah tidak langsung menghubungi saya?"


"Katanya mereka sudah menghubungi Anda, tapi ponsel Anda tidak aktif," tutur Hena.


Argha merogoh ponsel dari saku bagian dalam jas.


"Hmn, rupanya ponselku mati," gumam Argha. "Baiklah, setelah makan siang, saya akan pergi ke sana," lanjutnya


"Tapi, Pak ..." ucap Hena, ragu.


"Ada apa lagi?" tanya Argha yang mulai merasa kesal oleh sikap sekretaris barunya itu.


"Mereka meminta Anda untuk segera datang. Karena den Miki ... emh ... dian... anu, itu Pak. Den Miki ..."


"Ada apa lagi dengan anak itu?" Tiba-tiba Bram ikut nimbrung pembicaraan Argha dan sekretarisnya.


"A-anu Pak, Den Miki dituntut agar dikeluarkan dari sekolah oleh para wali murid," ungkap.Hena.


"Apa?" teriak Argha.


Pria arogan itu sangat terkejut mendengar ucapan sekretarisnya. Secepat kilat, dia pun berlari menuju lift pribadinya.

__ADS_1


Bram hanya mendengus kesal. "Ish, kekacauan apa lagi yang sudah diperbuat anak itu?"


__ADS_2