Aku Yang Tak Diakui

Aku Yang Tak Diakui
Kembali Tersakiti


__ADS_3

Semua orang tampak tercengang saat mendengar pengakuan sang CEO. Terlebih lagi Tuan Jaya. Pria tua itu sungguh sangat terkejut mendengar ucapan Argha. Dia tidak menyangka jika telah memiliki cucu seusia anak itu, tapi siapa ibunya?


Tuan Jaya sendiri tahu jika pernikahan Argha dan Gintani hanya berumur kurang dari dua tahun. Lantas, kenapa putranya bisa memiliki anak yang sudah cukup besar? Apakah anak tersebut adalah anak Argha di luar nikah? Tapi dari perempuan mana? Siapa ibunya? Siapa perempuan yang menjadi kekasih gelap Argha selama ini? Atau jangan-jangan ... mungkinkah anak itu adalah anak hasil dari hubungan gelap putranya dengan wanita malam?


Hmm, berbagai pertanyaan timbul dalam benak Tuan Jaya. Hingga beberapa detik kemudian, Tuan Jaya membungkukkan badan seraya memekik perlahan.


"Aargh!" pekik Tuan Jaya sambil memegang dada sebelah kirinya yang mulai terasa sakit.


"Papa!" pekik Nyonya Rosma sembari memegang lengan suaminya agar tidak terjatuh ke lantai.


Argha dan Bram mendekati Tuan Jaya. Mereka segera memapah Tuan Jaya untuk kembali duduk di meja VVIP.


"Argha antar ke rumah sakit ya, Pa?" ucap Argha, berjongkok di hadapan Tuan Jaya seraya menyentuh paha sang ayah.


Tuan Jaya menepiskan tangan Argha dengan begitu kuat. Sungguh, saat ini dia merasa jijik melihat wajah tak berdosa yang terpancar dari raut wajah anaknya.


"Bram, tolong antar Papa ke kamar!" perintah Tuan Jaya pada menantunya.


Sesaat, Tuan Jaya menatap tajam kepada Argha. "Dan kamu, Ar ... kamu masih punya hutang satu penjelasan pada Papa!" tegasnya. "Ayo Bram!" ajak Tuan Jaya kepada sang menantu.


Bram mengangguk, dia beranjak dari kursi dan mendekati Tuan Jaya yang baru saja resmi menjadi ayah mertuanya beberapa jam yang lalu. Sejurus kemudian, Bram memapah ayah mertuanya menuju kamar hotel.

__ADS_1


Setelah ayahnya pergi, Argha hanya mampu terduduk lemas di meja VVIP. Dia tahu, kali ini dia telah membuat kesalahan yang sangat fatal. Demi kebahagiaan Nadhifa, dia sampai membuat pengakuan yang akan melunturkan kepercayaan sang ayah kepadanya. Hati ayahnya pasti kembali tersakiti saat ini. Namun, Argha tidak punya pilihan lain.


Argha tidak mungkin mengatakan jika anak itu adalah anaknya Bram. Darah daging sang pengantin pria. Bagaimana nasib Nadhifa nanti? Dia pasti akan merasa sakit hati. Dan yang lebih menyakitkan lagi, Argha takut jika Nadhifa akan mengalami depresi karena harus menerima rasa malu di hari bahagianya.


Tidak ... aku tidak bisa mempertaruhkan kebahagiaan Nadhifa, batin Argha.


Argha menghela napasnya, berat. Dia menyandarkan tubuh pada sandaran kursi. Kedua tangannya dia lipat ke belakang untuk dijadikan bantal di bawah kepalanya. Pikiran Argha sangat kacau, kepalanya terasa berat. Argha hanya mampu memejamkan mata untuk menghilangkan semua kepenatan dalam otaknya.


Tiba-tiba, Argha teringat akan perkataan Alex saat laki-laki itu sedang marah dan memukulnya.


Apa yang tadi Alex katakan? Dia akan merebut Gintani dariku? Hmm, Apa dia tidak tahu jika aku dan Gintani telah berpisah? Ya Tuhan ... jangan sampai Alex menemukan Gintani terlebih dahulu. Aku tidak mau seseorang merebut apa yang pernah menjadi milikku, batin Argha.


Di meja VVIP yang lain, Miki menatap sinis ke arah Argha. Senyum menyeringai terukir sempurna di kedua sudut bibir Miki yang kecil.


Miki memang tidak mengerti arti kericuhan yang baru saja dia saksikan. Namun, satu hal yang pasti, Miki sangat bahagia melihat apa yang terjadi pada Argha, orang yang dia anggap sebagai ayahnya. Melihat laki-laki itu menderita, adalah hal yang paling dia nantikan dalam hidupnya.


"Sayang Anda sudah mati, Nona ilona. Kalau tidak, akan lebih menyenangkan jika kau pun bisa melihat laki-laki itu menangis," gumam Miki tersenyum sinis


Sepertinya Anda tidak pernah mengerti bahasa halus Tuan. Saya sudah memberikan Anda kesempatan untuk mengakui saya secara baik-baik. Namun, rupanya Anda harus diberi penekanan agar mau berkata jujur. Ah, Ayah ... seandainya kamu bisa sedikit lebih terbuka, tentu aku tidak akan mempermalukan kamu seperti ini, batin Miki.


Bocah kecil itu segera melompat dari kursinya. Dia keluar ballroom dan segera memesan taksi online. Tak lama kemudian, dia menaiki sebuah taksi online. Miki lantas pergi meninggalkan pesta yang mulai terlihat kacau.

__ADS_1


🍁🍁🍁


Di sebuah jalanan ibu kota.


Berulang kali Alex memukul kemudi yang tak bersalah. Rasa kesal, marah, kecewa ... semuanya bercampur menjadi satu di hati Alex. Dia benar-benar tidak menyangka jika Argha telah memiliki anak sebesar itu. Jika dia tidak salah lihat, mungkin usia anak itu sudah memasuki usia kelas satu SD.


Ish, sempurna sekali kamu menyembunyikan kebobrokan kamu, Ar. Bahkan aku sendiri sampai tidak pernah tahu tentang anakmu. Aku pikir, di antara kita berempat, sudah tidak ada lagi rahasia. Namun, nyatanya ....


ish, kamu memang bajingan Ar! Andai aku tahu kamu sehina ini ... tentu aku tidak akan pernah menyerahkan Gintani padamu dulu. Ish, brengsek kamu Ar!" umpat Alex yang merasa telah dibohongi oleh sahabatnya sendiri. Orang yang pernah menyelamatkan nyawa ibunya.


Alex mulai memperlambat laju kendaraannya. Dahinya berkerut saat menyadari sebuah fakta. Setahu Alex, Argha hanya berhubungan dengan dua orang wanita, sebelum dia menikahi Gintani. Ilona dan Jessica. Lantas, siapa di antara keduanya yang pernah memiliki hubungan serius dengan Argha hingga sejauh itu? pikir Alex.


"Ya Tuhan, Tan ... kenapa takdir kamu selalu buruk? Dinodai dan bahkan dicampakkan dalam satu waktu. Lalu tiba-tiba saja dinikahi oleh laki-laki itu. Hmm ... Abang pikir, semua penderitaan kamu telah berakhir sejak Argha menikahi dirimu. Tapi nyatanya ... hidup kamu malah semakin menderita karena ulah laki-laki sombong dan bejat seperti Argha. Maafkan Abang, Tan. Secara tidak langsung, Abang memiliki andil yang cukup besar dalam pertemuan kamu dengan orang brengsek itu. Abang lah yang menjadi jembatan pertemuan kamu dengannya. Maafkan Abang, Tan," gumam Alex penuh penyesalan.


Setelah semua ini, aku janji, aku tidak akan mengalalah lagi. Aku tidak akan pernah membiarkan laki-laki brengsek itu mengusik kehidupan Gintani lagi. Aku akan selalu menjaga Gintani dan putrinya. Mulai detik ini, kebahagiaan kamu dan anak kamu adalah prioritas utamaku," batin Alex.


Alex terus melajukan mobilnya hingga tanpa sadar dia telah melewati perbatasan kota. Alex menepikan mobil di bahu jalan. Dia meraih sebotol air mineral dan meminumnya.


Aku harus bisa menguasai emosiku. Jangan sampai Gintani mengetahui kenyataan yang sebenarnya, atau dia akan kembali tersakiti lagi oleh kenyataan yang diberikan argha, batin Alex.


Setelah beristirahat untuk beberapa menit, Alex pun kembali melajukan mobilnya.

__ADS_1


__ADS_2