Aku Yang Tak Diakui

Aku Yang Tak Diakui
Mulai Mendapatkan Hinaan


__ADS_3

"Huft!"


Miki membuang napas dengan kasar begitu tiba di depan kamar mandi murid laki-laki. Sekolah Miki yang sekarang, memang termasuk kategori sekolah terbaik di kota Jakarta. Namun, baik saja tidak cukup untuk bisa membuat siswanya berdisiplin. Masih saja ada beberapa siswa yang tidak bertanggung jawab saat menggunakan kamar mandi. Hingga pada akhirnya, kebersihan beberapa kamar mandi pun terbengkalai.


Miki mengeluarkan masker dari saku celana dan mengenakannya. Sedikit menggulung celana panjangnya agar tidak terkena cipratan air. Dengan berlapang dada, Miki menerima hukuman dari wali kelasnya. Sesaat kemudian, dia mulai membuka kran air dan mengisi ember dengan air bersih.


Miki mengambil cairan pembersih lantai yang tersimpan di ujung koridor. Dia kemudian menuangkan secara sembarang cairan tersebut di atas lantai kamar mandi. Setelah menunggu beberapa menit, Miki akhirnya menggosok lantai kamar mandi menggunakan sikat bergagang panjang.


Waktu terus berlalu. Tanpa terasa, sudah sepuluh kamar mandi yang telah dibersihkan oleh Miki. Masih tersisa dua kamar mandi murid perempuan yang belum dia bersihkan. Peluh sudah bercucuran di kedua pelipis anak laki-laki itu. Namun, Miki masih berusaha untuk melaksanakan hukuman gurunya sebaik mungkin.


Brakk!


🍁🍁🍁


Tuan Jaya memasuki rumah mertuanya. Tampak Enin Ifah sedang menata makanan di atas meja.


"Ah, akhirnya kamu pulang juga, Jay. Ibu baru saja hendak menelepon kamu," ucap Enin Ifah saat Tuan Jaya mendekatinya.


"Maaf, Bu. Jaya suka lupa waktu kalau sudah berada di makam Dewi," jawab Tuan Jaya.


Ini hari kedua Tuan jaya mengunjungi makam mendiang istrinya. Entahlah, rasanya Tuan Jaya begitu betah tinggal di kampung halaman mertuanya.


"Hmm, pasti curhat, ya," tebak Enin Ifah yang sudah tahu betul akan tabiat mantunya saat pulang kampung.


"Hehehe, sedikit Bu," jawab Tuan Jaya seraya menarik kursi dan mendudukinya.


Enin Ifah menaruh makanan terakhir di atas meja. Dia meraih lap tangan dan membersihkan kedua tangannya. Setelah itu, Enin Ifah menarik kursi yang berada di samping Tuan Jaya dan menduduki kursi tersebut.


"Apa ini tentang Adi lagi, Jay?" tanya Enin Ifah mulai menyelidik.


Tuan Jaya menghela napas. Dia kemudian menganggukkan kepala, mengiyakan pertanyaan ibu mertuanya.


"Kali ini, apa lagi yang dilakukan Adi, Nak? Jujur saja, Ibu merasa kasihan pada anak itu. Terakhir kali dia datang, dia seperti orang yang putus asa," tutur Enin Ifah yang teringat akan cucu semata wayangnya.


"Semua ini salah Jaya, Bu. Keputusan Jaya, yang telah membentuk pribadi Adi menjadi sosok pria yang arogan. Seandainya waktu itu Jaya tidak cepat-cepat menikah, mungkin Adi bisa tumbuh menjadi laki-laki baik dan bijaksana," tutur Tuan Jaya yang selalu menyalahkan dirinya sendiri atas sikap Argha.


"Ish, Nak ... tidak baik menyalahkan diri sendiri. Apa pun yang terjadi, semuanya telah berlalu. Toh kita tidak akan pernah bisa memutar waktu. Yang harus kita lakukan saat ini, memperbaiki diri agar apa yang telah terjadi, tidak akan pernah terulang lagi." Enin Ifah mencoba memberikan nasihat kepada menantunya.

__ADS_1


"Iya, Bu," jawab singkat Tuan Jaya.


"Lantas, apa yang terjadi kepada Adi, Nak?" Enin Ifah mengulang pertanyaannya.


"Tiga tahun yang lalu, Adi pergi ke Amerika. Dan dia membawa seorang anak kecil berusia tujuh tahun," papar Tuan Jaya.


"Anak kecil?" ulang Enin Ifah.


"Iya, Bu. Seorang anak laki-laki yang ternyata ...."


Tuan Jaya menjeda kalimatnya. Sungguh, dia merasa bingung harus berkata apa. Setiap kali mengingat anak itu, dada Tuan Jaya seolah terimpit benda yang sangat besar dan juga berat.


"Ternyata apa, Jay?" Enin Ifah semakin penasaran.


"Ternyata ... anak itu adalah anaknya Adi. Hasil hubungan gelap Adi, jauh sebelum dia mengenal istrinya," jawab lirih Tuan Jaya.


"Astaghfirullah!" ucap Enin Ifah.


Tanpa mereka sadari, Aki Surya telah berdiri di ambang pintu ruang makan dan mendengar semua pembicaraan istri dan menantunya.


"A-adi, cu-cuku," gumam Aki Surya.


🍁🍁🍁


"Rumah Putri memang kecil, tapi sangat nyaman. Putri tinggal sama mama dan Uteng. Mama selalu mem–"


"Siapa itu Uteng, Put?" tanya salah seorang teman Putri yang membuat kalimat Putri terputus begitu saja.


Putri tersenyum sembari membayangkan orang yang sudah berjasa mengasuhnya.


"Uteng itu, pengasuh Putri. Namanya mbak Mina. Dia yang mengasuh Putri sejak Putri bayi," jawab Putri.


"Kenapa di rumah Putri tidak ada ayah? Apa putri tidak punya ayah?" celetuk teman Putri yang berjenis kelamin laki-laki.


"Putri ada ayah, kok. Cuman ayah Putri kerjanya jauh, jadi enggak bisa tiap hari tinggal di rumah," balas Putri.


Bu Ika tersenyum mendengar ucapan Putri yang sudah bisa menjawab pertanyaan temannya dengan lugas. Hmm, sepertinya Putri punya bakat untuk berdebat, batin Bu Ika yang tak lain guru kelasnya Putri.

__ADS_1


"Apa ayah Putri suka pulang seminggu sekali, atau dua minggu sekali, atau bahkan sebulan sekali?" tanya Bu Ika.


Bingung. Putri cukup bingung untuk menjawab pertanyaan gurunya. Pasalnya, Putri sendiri tidak pernah tahu frekuensi berkunjung sang ayah.


"Kok putri diam?" tanya Bu Ika lagi.


"Maaf, Bu. Putri enggak tahu. Papa Heru datang ke rumah Putri kalau Putri sakit, atau kalau Putri lagi ngambek," jawab Putri polos.


Sontak jawaban spontan Putri membuat teman-temannya tertawa terbahak-bahak. Putri pun tambah kebingungan, dia tidak mengerti kenapa teman-temannya menertawakan dirinya.


Apa ada yang salah dengan ucapan Putri? batin Putri menatap penuh tanya pada teman-temannya yang masih tertawa terpingkal-pingkal.


🍁🍁🍁


Ember yang digunakan Miki untuk menampung air bersih, tiba-tiba terlempar jauh akibat tendangan seseorang. Miki yang tengah mengepel lantai, seketika mendongak. Tampak seorang anak laki-laki tengah berkacak pinggang di depan pintu kamar mandi yang sedang dibersihkan Miki. Dua orang lagi tengah berdiri di belakang anak laki-laki yang postur tubuhnya lebih tinggi dari mereka.


"Hahahaha, rupanya anak Sultan sedang mendapatkan hukuman," ledek salah seorang anak laki-laki yang tengah berdiri di belakang anak yang sedikit tinggal dari mereka.


Miki mengernyitkan kening. Sudah hampir satu semester dia bersekolah di tempat baru. Namun, baru kali ini dia mendapatkan perilaku seperti ini.


"Ish, siapa bilang dia anak Sultan. Dia itu cuma anak pungut yang diambil dari panti asuhan," timpal anak yang berkacak pinggang.


"Benarkah? Kamu tahu dari mana, Bos?" tanya seorang anak yang berdiri di belakang anak yang dipanggil bos.


"Dari sepupu gua yang pernah satu sekolahan sama dia," jawab si anak yang dipanggil Bos tadi.


"Oalah ... ternyata anak pungut toh, ish-ish-ish ... sungguh memalukan! Jangan-jangan, dia cuma anak yatim piatu yang dititipkan kedua orang tuanya," kata anak laki-laki yang dilihat dari papan namanya bernama Gebriel.


"Hahaha, masih mending anak yatim piatu. Kalau dia anak yang sengaja dibuang emak bapaknya? Gimana dong ...? Hahaha," ejek anak laki-laki yang berdiri di samping Gebriel.


"Ais, Daren. Tega banget, lu!" celetuk anak laki-laki yang berkacak pinggang. "Tapi bisa jadi, sih. Karena anak haram, jadi dia dibuang di panti asuhan. Mungkin saja, 'kan?" lanjutnya.


Ketiga anak laki-laki itu tertawa terbahak-bahak sambil memegangi perutnya.


Telinga Miki terasa panas mendengar hinaan ketiga anak laki-laki yang sama sekali tidak dia kenal. Namun, Miki sudah tidak memiliki tenaga untuk menanggapi ejekan mereka. Miki melemparkan sikat yang sedari tadi dipegangnya ke sembarang arah. Sejurus kemudian, dia berlalu pergi meninggalkan ketiga anak itu.


Tawa ejekan pun semakin menggema di lorong koridor kamar mandi murid perempuan. Tegar, Gebriel dan Darel terlihat puas menghina Miki.

__ADS_1


"Yuk, cabut!"


__ADS_2