
Heru tersenyum lebar setelah mengetahui bagaimana hubungan Alex dan Gintani. Bahkan, kini dia bisa bernapas dengan lega saat Alex mengatakan tentang perasaannya terhadap gadis cantik berhijab itu. Masih terngiang jelas di telinga Heru tentang ucapan Alex siang tadi.
"Bagiku, Gintani adalah sosok wanita yang layak untuk dikagumi. Dia wanita yang sangat mandiri, tegar dalam menghadapi cobaan dan selalu bersabar ketika diterpa ujian. Selama aku mengenalnya, tak pernah sedikit pun dia mengeluhkan hidupnya. Itulah yang membuat aku selalu mengaguminya. Namun, seiring berlalunya waktu, aku selalu melihat ketidakadilan menimpa hidup Gintani. Karena itu, aku bertekad untuk selalu melindungi wanita itu seperti aku melindungi Geisha. Kebahagiaan Gintani adalah tanggung jawabku. Seperti aku bertanggung jawab akan kebahagiaan Geisha."
"Ini artinya, aku masih memiliki kesempatan untuk mendapatkan cinta Gintani," gumam Heru.
πππ
"Dion kenapa, Bu?" tanya Kyara saat melihat rekan kerjanya sedang berusaha menenangkan seorang murid laki-laki.
Ini, Bu. Katanya dipukul sama murid baru itu," ucap Bu Rani.
Kyara menautkan kedua alisnya. "Miki?" tanya Kyara, lirih.
"Iya, Bu. Astaghfirullah, saya tidak tahu lagi harus bagaimana menangani anak itu, Bu. Kelihatannya saja dia alim dan pendiam. Tapi sekalinya marah, meja dan kursi pun hancur berantakan," keluh Bu Rani, wali kelas Miki.
"Benarkah?" tanya Kyara seakan tak percaya dengan apa yang dikatakan rekan kerjanya.
"Serius, Bu. Ini juga Dion ditonjok sampai giginya rontok. Tuh!" ucap Rani seraya menunjukkan dua buah gigi Dion yang tanggal. "Hmm, saya rasa kita harus segera melaporkan kasus ini kepada kepala sekolah, Bu. Supaya orang tuanya dipanggil ke sekolah. Ini bukan kasus sepele, loh," lanjut Bu Rani yang merasa geram dengan ulah Miki.
Untuk sejenak Kyara bergeming. Sebagai seorang guru konseling, Kyara selalu berusaha terlebih dahulu untuk menyelesaikan kasus kenakalan muridnya tanpa melibatkan wali murid. Terlebih lagi jika kenakalan itu terjadi di lingkungan sekolah. Dia baru akan memanggil wali murid jika para murid yang bermasalah tersebut, sudah tidak mengindahkan lagi SP 3 yang dia berikan.
Tapi Miki? Meskipun ini adalah kasus pertamanya. Namun, kasus yang dibuat Miki sungguh kasus yang tidak bisa dibiarkan begitu saja.
"Bagaimana, Bu?" tanya Bu Rani lagi.
Pertanyaan Bu Rani sontak membuyarkan lamunan Kyara. "Tahan dulu, Bu. Biar saya bicara terlebih dahulu dengan Miki. Lagi pula, kita belum tahu duduk permasalahannya."
"Sudah jelas Miki yang salah, Bu. Padahal Dion cuma menegur dia, eh dia malah menghajar Dion. Huhuhu, ..." timpal anak itu kembali menangis.
"Tuh, 'kan. Ibu dengar sendiri pengakuan, Dion," tukas Bu Rani.
"Iya, Bu. Saya mengerti. Tapi kita baru mendengarnya dari sebelah pihak. Kita belum tahu alasan dari pihak Miki kenapa dia bisa sampai melakukan pemukulan itu. Izinkan saya bicara terlebih dahulu dengan Miki, Bu. Setelah itu, baru kita putuskan apakah kasus ini akan dilanjutkan ke dewan penasihat sekolah atau tidak," pungkas Kyara.
πππ
"Assalamu'alaikum, Pa!" sapa Bram seraya membuka pintu ruang kerja ayah mertuanya.
__ADS_1
Tuan jaya mendongak senyumnya terbit saat melihat menantunya.
"Kemarilah, Bram!" titahnya.
Bram mengayunkan langkah mendekati Tuan Jaya. Dia menarik kursi yang berada di depan meja kerja sang mertua dan mendudukinya.
"Fa bilang, Papa manggil Bram?" tanya Bram berbasa-basi.
"Iya, Nak. Papa hanya ingin memberikan ini sama kamu," jawab Tuan Jaya seraya menyodorkan sebuah amplop yang bergambarkan destinasi Labuan Bajo.
Bram mengernyitkan keningnya, "Ini apa, Pa?"
"Itu tiket bulan madu kalian. Maafkan Papa karena baru bisa memberikannya hari ini. Jujur saja, kejutan yang diberikan Argha kemarin, sempat membuat Papa tidak fokus dalam melakukan apa pun," tutur Tuan Jaya.
"Terima kasih, Pa. Tapi Papa tidak perlu repot-repot seperti ini. Lagi pula, pekerjaan Bram sama Fa di kantor masih numpuk. Mana sempat memikirkan untuk bulan madu, Pa," jawab halus Bram.
"Tinggalkan pekerjaan kalian, biar Argha dan sekretarisnya yang akan mengurusi pekerjaan kalian. Pergilah berbulan madu. Lagi pula, dulu papa sudah janji akan memberikan tiket honeymoon ini setelah Fa memiliki pendamping.
Bram tersenyum. "Baiklah, Pa. Nanti Bram bicarakan lagi sama Fa. Apa ada lagi yang ingin Papa sampaikan?" tanya Bram.
"Apa kamu tahu sejauh mana hubungan Argha dengan mendiang Ilona, dulu?"
Bram terkejut mendengar pertanyaan mertuanya.
"Kenapa Papa menanyakan hal itu?"
"Entahlah, Bram. Papa hanya merasa jika anak yang diakui Argha adalah anaknya dia bersama Ilona. Papa harap Papa salah, tapi Papa sudah tidak bisa memikirkan wanita lain lagi selain Ilona dan Jessica. Seburuk-buruknya sikap Argha, Papa yakin jika dia tidak akan jajan di luar."
"Hhh ..." Kini Bram yang menghela napasnya, "jujur saja, Pa. Bram sendiri tidak tahu siapa ibu dari anak yang diakui Argha. Rasanya Bram ingin menyangkal jika dia Ilona. Karena setahu Bram, hubungan mereka hanya sebatas persahabatan. Kalaupun ada cinta, tentunya itu hanya cinta sepihak. Argha tidak pernah menanggapi rasa cinta Ilona. Namun, harus Bram akui jika secara fisik, ada beberapa bagian tubuh anak itu yang mirip dengan Ilona. Seperti hidung, mata dan juga kulit sawo matangnya," papar Bram.
Tuan Jaya hanya bisa memegang dadanya kembali. Entahlah, rasanya sesak sekali membayangkan jika dia memiliki keturunan dari pembunuh anak angkatnya.
"Maaf, Pa. Bram tidak bermaksudβ"
"Tidak apa-apa, Bram. Pergilah!"
Tak ingin mendapatkan kejutan lagi, akhirnya Tuan Jaya memerintahkan Bram untuk meninggalkan ruang kerja.
__ADS_1
πππ
Kyara hanya mengaduk-aduk makanannya saat sedang makan siang bersama sang suami. Seperti biasa, Bagas akan meluangkan waktu untuk mengunjungi Kyara di sekolah. Dia selalu ingin menikmati jam istirahatnya bersama sang istri. Bagas sadar betul jika perusahaan yang telah dia rintis, telah begitu banyak menyita waktu kebersamaannya dengan Kyara. Karena itu, meskipun hanya satu jam, Bagas selalu menyempatkan diri untuk melewati jam makannya bersama Kyara.
"Dimakan dong, Bun. Jangan cuma diacak-acak seperti itu. Kakang pusing loh, lihat tangan kamu berputar-putar tak karuan begitu," tegur Bagas kepada istrinya.
Kyara terhenyak, "Iya? Kenapa Kang?"
"Tuh, kan ... enggak fokus. Lagi mikirin apa sih, Bun?" tanya Bagas.
"Kya lagi mikirin anaknya Tuan Argha, Kang."
Bagas menautkan kedua alisnya. "Miki?" tanya Bagas.
Kyara mengangguk.
"Memangnya Miki kenapa?"
"Tadi dia memukul teman sekelasnya, Kang. Bu Rani meminta Kya untuk melaporkan hal ini kepada kepala sekolah. Bu Rani cemas jika tidak segera ditindaklanjuti bersama wali murid, maka sikap Miki akan semakin semena-mena terhadap teman-temannya," tutur Kyara.
"Ya sudah, tinggal kamu laporkan saja," ucap Bagas.
"Ish, Kang. Semua, 'kan ada prosedurnya," tukas Kyara.
"Lantas?"
"Tadi Kya coba bicara dari hati ke hati dengan anak itu. Awalnya, Kya rasa pasti akan sangat mudah untuk mengorek informasi kenapa dia berbuat ulah di kelas. Tapi nyatanya, sampai bel pulang berdering, anak itu hanya bisa bungkam. Baru kali ini Kya kehabisan cara untuk mengorek informasi dari seorang anak kecil berusia tujuh tahun. Miki itu benar-benar anak yang sangat misterius. Semakin gencar kita bertanya, maka mulutnya akan semakin rapat. Kya sendiri tidak tahu lagi harus berbuat apa," keluh Kyara
Bagas menggenggam tangan istrinya. "Sayang, jika memang kamu sudah tidak bisa menangani sebuah kasus sendirian, tidak ada salahnya kamu meminta bantuan pihak ketiga. Terlebih lagi pihak ketiga itu adalah orang tua si anak yang mengetahui karakternya saat di rumah. Saran Kakang, sebaiknya kamu bicarakan masalah ini dengan kepala sekolah dan dewan penasihat yayasan. Agar mereka bisa memanggil arang tua Miki untuk berdiskusi. Siapa tahu anak itu memang sedang memiliki beban, tapi tidak terbiasa untuk bercerita. Kalau Kakang lihat, sepertinya karakter Miki tidak jauh beda dengan Elang. Dingin dan pendiam."
"Iya, sama seperti Abapnya!" tukas Kyara seraya memijit hidung suaminya.
"Eh, Kang. Kapan kita jenguk Elang lagi? Kya kangen banget sama anak kita."
"Insya Allah minggu depan. Ayo, habiskan makanannya!"
"Pokoknya saya tidak mau tahu. Saya minta, keluarkan anak itu dari sekolah ini. Sekarang!"
__ADS_1