Aku Yang Tak Diakui

Aku Yang Tak Diakui
Pemakaman Aki Surya


__ADS_3

Argha melajukan kendaraannya dengan kecepatan tinggi. Berulang kali dia hampir menabrak kendaraan yang berada di depan. Umpatan dan cacian pengguna jalan lain, tidak dia hiraukan. Kabar kematian sang kakek, membuat Argha menyetir secara ugal-ugalan.


Sejenak, Argha menepikan mobilnya. Mencoba menstabilkan kembali degup jantung yang semakin tidak beraturan. Sesaat kemudian, kenangan masa kecil Argha satu per satu melintas dalam benaknya.


🍁🍁🍁


Sementara itu, di mansion utama.


Tuan Jaya yang sedang terbaring lemah tak berdaya, hanya mampu bergeming ketika mendengar kabar kematian mertuanya. Sudah hampir dua minggu Tuan Jaya beristirahat total. Dia terserang penyakit demam berdarah. Karena itu, untuk menstabilkan kembali tubuhnya, Tuan jaya disarankan untuk bedrest.


Tok-tok-tok!


"Tuan, apa Siti boleh masuk?" ujar asisten rumah tangga Tuan Jaya dari balik pintu kamar.


Untuk beberapa saat, tak ada sahutan dari dalam kamar. Entah sedang apa majikannya di balik pintu ini, pikir Bik Siti.


"Tuan, Siti bawa makanan untuk makan siang Tuan," imbuh Bik Siti.


"Masuk saja, Sit!" perintah tuan Jaya, serak.


Wanita berusia paruh baya itu, menekan handle pintu dan mendorongnya dengan perlahan. Setelah pintu kamar terbuka, Bik Siti pun memasuki kamar majikannya.


"Ini makanannya, Tuan," kata Bik Siti sambil menaruh nampan yang berisi makanan tuan Jaya di atas nakas.


Tuan Jaya tersenyum. Sedetik kemudian, dia pun berkata, "Terima kasih, Sit."


"Sama-sama, Tuan," sahut Bik Siti.


"Oh iya, Sit. Apa nyonya kamu belum pulang?" tanya Tuan Jaya, menanyakan istrinya.


"Be-belum, Tuan," jawab Bik Siti, gugup.


"Memangnya ke mana perginya nyonya kamu, Sit?" Tuan Jaya kembali bertanya.


"Ka-katanya, emh ... nyo-nyonya Rosma a-ada arisan, Tuan." Bik Siti semakin terbata-bata menjawab pertanyaan Tuan Jaya.


Huft!

__ADS_1


Tuan Jaya membuang napasnya dengan kasar. Dia tersenyum sinis seraya menatap kosong langit-langit kamarnya.


"Bahkan, suami sedang terbaring sakit pun, dia masih mementingkan grup sosialitanya," gumam Tuan Jaya.


Bik Siti yang mendengar gumaman sang majikan, merasa iba. Sudah hampir 28 tahun dia mengabdi di keluarga ini. Namun, semenjak 20 tahun terakhir, dia sudah tidak melihat kebahagiaan terpancar di raut wajah majikannya. Tawa lepasnya seolah menghilang. Bahkan senyum lebarnya pun sirna. Terkubur bersama jasad istri pertamanya. Kehadiran nyonya kedua di mansion ini pun tak mampu mengembalikan sinar bahagia di wajah tuannya.


"Apa Tuan butuh sesuatu?" tanya Bik Siti.


"Tidak, Sit. Saya tidak butuh apa-apa," jawab Tuan Jaya.


"Jika Tuan butuh sesuatu, jangan sungkan untuk memerintah saya," lanjut Siti.


Tuan Jaya kembali tersenyum menanggapi ucapan asisten rumah tangganya.


🍁🍁🍁


Menjelang asar, Argha tiba di kediaman Enin Ifah. Saat Argha tiba di rumah neneknya, ternyata jenazah Aki Surya sudah diberangkatkan ke masjid. Rencananya, sebelum dimakamkan, Aki Surya hendak dishalatkan terlebih dahulu di masjid kampung. Dengan diantarkan oleh salah satu kerabat dari pihak neneknya, Argha pergi ke masjid untuk melihat wajah kakeknya yang terakhir kali.


Di dalam masjid. Para pelayat terus berdatangan untuk melakukan shalat jenazah. Begitu pun dengan Argha. Setelah mengambil wudhu, Argha kemudian ikut berjamaah menyalatkan kakeknya. Setelah selesai, kerabat Aki Surya menuntun Argha untuk mendekati keranda.


"Tolong buka kain penutup wajahnya, Nak!" perintah Kakek Abdul kepada salah seorang santri yang berada di samping keranda.


"Sudahlah, Adi. Aki kamu sudah tenang di alam sana. Tidak perlu memberatkan langkah beliau dengan tangisanmu," ucap Kakek Abdul.


Argha mengangguk. Sesaat kemudian, kedua tangannya menyeka air mata yang terus mengalir.


Tiba-tiba, ulama setempat bertanya kepada keluarga almarhum. "Apa jenazah Aki Surya sudah bisa dimakamkan sekarang?"


Kakek Abdul mengedarkan pandangannya. Entah siapa yang dia cari. Namun, saat dia tidak menemukan orang tersebut, dia kembali mengalihkan pandangannya kepada Argha.


"Apa ayah kamu tidak ikut, Adi?" tanya Kakek Abdul.


"Kebetulan Ayah sedang sakit, Kek. Beliau terkena DBD dan diharuskan beristirahat total di rumah. Karena itu, beliau tidak bisa datang," jawab Argha.


"Baiklah. Sepertinya sudah tidak ada yang ditunggu lagi. Sebaiknya, kita makamkan saja jenazah sekarang. Kasihan juga jika terlalu lama belum dikebumikan," ucap Kakek bAbdul yang tak lain adalah adik kandungnya Aki Surya.


Setelah ustadz setempat memberikan perintah, akhirnya keranda itu diangkat oleh para pemuda yang sudah ditugaskan untuk mengangkat. Namun, sebagai seorang cucu yang ingin berbakti di detik-detik terakhir sang kakek, Argha meminta izin untuk ikut ambil bagian mengangkat keranda almarhum kakeknya.

__ADS_1


"Baiklah, silakan Nak Adi!" kata ustadz Zakaria, mempersilakan Argha untuk mengusung jenazah kakeknya.


🍁🍁🍁


Begitu banyak sekali orang-orang yang mengantarkan jenazah Aki Surya menuju tempat peristirahatannya yang terakhir. Di kalangan masyarakat di kampungnya, Aki Surya memang dikenal sebagai orang baik yang sangat dermawan. Terlebih lagi, statusnya sebagai tokoh masyarakat, membuat Aki Surya begitu disegani warga.


Rencananya, Aki Surya akan dimakamkan di pemakaman milik keluarga. Letak pemakaman keluarga itu berada di belakang bukit kenangan. Satu-satunya akses menuju tempat pemakaman, yaitu melalui bukit kenangan itu sendiri dengan jalanan yang cukup terjal dan berbatu.


Sesekali, Argha menyeka peluhnya yang bercucuran. Mungkin, karena faktor usia, atau kurang berolahraga, dia merasa lelah saat menaiki bukit yang semakin menanjak. Namun, demi penghormatan terakhir kepada kakeknya, Argha harus bisa kuat.


Tiba di tempat, proses pemakaman Aki Surya pun dilangsungkan. Setelah melewati satu jam prosesi pemakaman, akhirnya satu pet satu, para pengantar membubarkan diri.


Melihat cucu almarhum kakaknya masih berjongkok di depan pusara, Kakek Abdul mendekati Argha.


"Ayo kita pulang, Adi!" ajak Kakek Abdul seraya menyentuh bahu Argha.


Argha mendongak. Namun, tak lama kemudian, dia kembali menatap nisan kayu yang tertancap untuk sementara waktu.


"Sebentar lagi, Kek. Adi masih ingin bersama aki," jawab Argha.


Kakek Abdul menarik napas panjang. Dia bisa memahami kesedihan cucunya. Pada akhirnya, Kakek Abdul membiarkan Argha untuk menjalani kesendiriannya.


"Ya sudah, kalau begitu Kakek pulang duluan," kata Kakek Abdul.


"Iya, Kek," jawab singkat Argha.


Namun, sebelum pulang, Kakek Abdul memberikan amanat kepada Argha.


"Tolong jangan terlalu lama, Adi. Sebentar lagi azan magrib berkumandang. Kasihan enin kamu kalau ditinggalkan sendirian di rumah," kata Kakek Abdul.


Argha hanya menganggukkan kepalanya menanggapi ucapan kakek Abdul.


Setelah Kakek Abdul meninggalkan makam, Argha mengelus nisan kayu itu. Sedetik kemudian, dia bermonolog," Aki tidak usah khawatir. Sesuai dengan janji Adi, sekuat tenaga Adi akan menjalankan amanat dari Aki, yaitu menjaga enin. Selamat tinggal Aki. Surga selalu menanti orang-orang baik seperti Aki."


Tanpa terasa, hari sudah semakin sore. Setelah melihat penunjuk waktu menunjukkan pukul setengah enam sore, Argha pun berdiri. Dia mulai mengayunkan langkahnya untuk meninggalkan makam Aki Surya.


Ketika melewati bukit kenangan. Kedua mata Argha seolah terhipnotis dengan keceriaan seorang gadis yang tengah bermain skateboard di atas rumput.

__ADS_1


"Siapa dia?"


__ADS_2