Aku Yang Tak Diakui

Aku Yang Tak Diakui
Negosiasi


__ADS_3

Setelah bersekolah, tidak butuh waktu lama bagi Miki untuk mengenal lingkungan di mana ia tinggal saat ini. Miki memang punya tingkat kecerdasan di atas rata-rata. Sehingga dia bisa mudah mengingat berbagai macam tempat yang pernah ia kunjungan. Ditambah lagi, Miki senang berpetualang dan mengunjungi tempat-tempat baru.


Satu tempat yang telah membuat hati Miki begitu tertarik saat tanpa sengaja melihatnya, yaitu Danau Nirmala. Entah kenapa tempat ini seolah menyimpan magnet saat Miki tengah melintasinya. Sejak saat itu, dia pun mulai berselancar di internet untuk mencari tahu tentang tempat tersebut. Hingga akhirnya, tempat inilah yang selalu dia sambangi di saat hatinya merasa kacau.


"Sudah aku bilang jangan pernah mengusik kehidupanku. Inilah akibatnya jika kamu mengganguku. Cih, Menyebalkan!"


Miki mendengus kesal saat membayangkan kembali apa yang telah dia lakukan kepada teman sekelasnya.


"Astaga, Ilona! Kenapa kau lahirkan aku ke dunia ini jika hanya untuk kau campakkan begitu saja! Kau benar-benar iblis, Ilona! Semoga kau membusuk di neraka!" umpat Miki seraya melempar kerikil ke tengah danau.


Hatinya perih ketika teringat kembali hinaan yang dilontarkan temannya.


"Dasar anak pungut!" dengus Dion terlihat kesal saat Miki tidak mau mentaati perintahnya.


Miki beranjak dari tempat duduk. Dia sama sekali tidak ingin berurusan dengan si ketua kelas yang sok berkuasa itu.


"Berhenti aku bilang, Bodoh! Apa kamu tidak tahu kalau aku ketua kelas di sini? Sebagai ketua kelas, aku perintahkan kamu untuk menghapus papan tulis itu sebelum guru datang. Cepat kerjakan!" Dion kembali memberikan perintah.


Miki yang pada dasarnya bukan tipe anak yang suka diperintah, hanya bisa tersenyum sinis menanggapi ucapan Dion.


"Sudahlah Dion, jangan mengganggu dia. Kamu bisa memerintahkan bagian piket hari ini, 'kan untuk melakukan tugasnya. Bukankah hari ini giliran kamu dan kelompok kamu untuk tugas piket kelas?" tegur Clara mencoba menjadi penengah.


"Hidih, enggak bisa, Ra. Aku, 'kan ketua kelas, suka-suka aku mau kasih perintah ke siapa saja," elak Dion.


"Ish, itu sama aja kamu menyalahgunakan kekuasaan kamu," gerutu Clara kesal.


"Sudahlah, anak babu diam saja! Sudah syukur kamu bisa sekolah di sini. Coba kalau bukan karena papa aku, kamu enggak mungkin bisa sekolah di tempat mahal ini. Kamu tuh enggak ada bedanya sama si anak pungut itu. Sama-sama sekolah di tempat elite hanya karena belas kasihan dari orang-orang kaya. Hahaha,...."


Bugh!


"Jika memang kamu ayahku, kenapa kamu tidak berusaha untuk melegalkan identitas aku? Cih, Munafik!"


Kembali Miki melemparkan kerikil ke tengah danau dengan perasaan yang sangat kesal.


🍁🍁🍁


Tok-tok-tok!

__ADS_1


Argha mengetuk pintu ruang kepala sekolah begitu tiba di SD Mutiara Bangsa.


"Masuk!"


Terdengar perintah dari dalam ruang kepala sekolah. Argha pun menekan handle pintu dan membukanya perlahan.


"Ah, Tuan Argha. Silakan masuk!" ucap Pak Budi, menyambut kedatangan Argha.


Pria arogan itu sedikit mengerutkan keningnya saat melihat begitu banyak orang di ruang kepala sekolah. Dua di antaranya, adalah pasangan suami istri yang menjadi teman baik Argha.


"Silakan duduk, Tuan Argha!" ucap Kyara mempersilakan Argha duduk.


Argha yang masih kebingungan, akhirnya duduk di samping Bagas. Di depannya, telah duduk sekitar lima orang wanita yang rata-rata seumuran dengannya.


Ish, ada apa ini? batin Argha.


"Tenanglah Tuan Argha, semuanya pasti akan baik-baik saja," ucap Bagas.


Argha kembali menautkan kedua alisnya.


🍁🍁🍁


"Ish, aku pikir setelah jadi iparnya, dia tidak akan menyuruhku seenak jidatnya, tapi ternyata ... hmm, malah makin semena-mena. Dasar ipar enggak ada akhlak!" dengus Bram selama berada di dalam lift.


Ting!


Lift berhenti. Sedetik kemudian, pintu lift terbuka. Saat Bram melangkahkan kaki keluar dari lift, tiba-tiba Mita memanggilnya.


"Pak, Bram! Ah, syukurlah Anda datang," sambut Mita dengan napas tersengal.


"Kamu kenapa, Mit? Seperti dikejar hantu saja," celetuk Bram.


"Aih, ini mah lebih seram dari hantu, Pak!" balas Mita yang membuat kening Bram mengernyit.


"Ada apa, Mit?" Sepertinya jawaban Mita telah membuat Bram penasaran.


"Bapak tahu Mr. Prank, 'kan? Yang katanya pernah bekerja sama dengan perusahaan ini saat mendesain perumahan elit," ucap Mita.

__ADS_1


"Iya, kenapa?" tanya Bram.


"Hari ini dia sedang dalam perjalanan menuju kantor ini," imbuh Mita.


"Ya sudah, biarkan saja. Mungkin dia datang kemari untuk bersilaturahmi. B aja kali, Mit, nanggepinnya," ucap Bram santai.


"Ish, Mr. Frank kemari bukan untuk bersilaturahmi, Pak. Tapi untuk meeting," tukas Mita.


"Meeting?" ulang Bram.


"Iya, Pak. Dua hari yang lalu, perusahaan kita memenangkan tender pembangunan apartemen yang akan dibuat oleh Mr. Frank. Dan siang ini, kedua belah pihak akan mengadakan meeting penting untuk membahas kontrak kerja," tutur Mita.


"Ya elah, Mit. Meskipun kamu baru, di perusahaan ini, tapi kamu, 'kan memiliki pengalaman yang bejibun di dunia sekretaris. Tibang meeting siang aja, kok heboh," gerutu Bram yang mulai merasa kesal dengan pembicaraan ngalor ngidul sekretaris perusahaan.


"Tapi masalahnya, pak Argha tidak ada di kantor, dan dia membatalkan meeting ini sebelah pihak, Pak."


"Apa?!"


🍁🍁🍁


Negosiasi berjalan cukup alot. Argha tidak ingin meminta maaf kepada para wali murid karena dia sendiri belum mendengar penjelasan dari Miki.


"Saya yakin, anak saya tidak akan melakukan tindakan bodoh yang akan merugikan dirinya sendiri jika tidak dalam keadaan tertekan," kata Argha.


"Jadi maksud Anda, anak saya sudah menekan anak Anda, begitu? Huh, alasan! Bilang saja kalau Anda tidak becus ngurusin anak. Gimana bisa mendidik anaknya dengan baik, lah wong mendidik istrinya saja tidak becus. Uh, pantas saja kalau istrinya selingkuh!" ejek Nyonya Gita, mengungkap skandal rumah tangga Argha beberapa bulan yang lalu.


Mendengar orang lain menghina istrinya, Argha mulai geram. Darahnya seketika mendidih. Jika saja yang berbicara itu bukan seorang wanita, tentunya Argha sudah merobek mulutnya yang pedas.


"Jangan bawa-bawa masalah lain dalam kasus ini. Bukankah kita sedang membahas masalah anak di sini. Kenapa kita tidak fokus saja dalam masalah itu. Urusan rumah tangga saya adalah urusan saya sendiri. Anda tidak berhak ikut campur, apalagi jika Anda tidak tahu akar permasalahannya. Jadi diam saja!" jawab Argha, tegas.


"Halah, alasan!" celetuk wanita lain.


"Iya, sudah tahu anaknya salah, masih terus dibela. Padahal korbannya sudah jelas, anaknya Nyonya Gita tanggal giginya karena ditonjok si Miki itu. Harusnya, sebagai orang tua pelaku, Anda bertanggung jawab dan mengganti kerugian yang disebabkan anak Anda. Baik itu secara moril ataupun materil," imbuh wanita yang tengah duduk di samping Nyonya Gita.


Huh, jadi ini urusan duit, dengus Argha dalam hatinya.


Argha mengeluarkan ponselnya.

__ADS_1


"Berapa biaya rumah sakit yang telah Anda keluarkan. Saya akan menggantinya lima kali lipat. Tulis nominal dan nomor rekening Anda di sini!" pungkas Argha seraya menyerahkan ponselnya.


Nyonya Gita tersenyum penuh kemenangan. Nah, gini kek, dari tadi, batinnya, senang.


__ADS_2