Aku Yang Tak Diakui

Aku Yang Tak Diakui
Ziarah


__ADS_3

Putri mengapit mainan barunya di bawah ketiak. Meski sesekali, mainan itu terlepas karena terlalu besar. Dengan berlari kecil, Putri menuju taman yang selalu digunakan anak-anak pecinta skateboard untuk bermain di sana.


"Hai, Bang Dino!" sapa Putri kepada seorang anak laki-laki yang usianya tiga tahun lebih tua darinya.


"Hai, Put!" balas Dino sambil melambaikan tangannya. Sedetik kemudian, pandangan Dino terkunci pada sebuah skateboard yang sedang dipegang oleh Putri.


"Wah, kamu punya skateboard, Put?" seru Dino.


"Iya, nih. Baru," jawab Putri mendekati kerumun anak laki-laki yang rata-rata usianya di atas Putri.


"Coba lihat, Put!" kata Dino lagi.


Putri kemudian menyerahkan skateboard miliknya kepada Dino dan kawan-kawan. Semua teman Putri berdecak kagum melihat skateboard baru milik Putri.


"Akhirnya, mama kamu bolehin kamu main skateboard, Put?" Dino kembali bertanya.


"Emm ... enggak juga, Bang," jawab Putri.


"Lah, ini!" Tunjuk Dino pada skateboard yang sedang dipegangnya.


"Oh, itu dikasih sama kakek tuan," sahut Putri.


"Kakek tuan?" ulang Dino seraya mengerutkan keningnya. "Kakek kamu?" tanya Dino.


"Bukan," jawab Putri singkat.


"Lalu?" Rupanya Dino semakin penasaran.


Putri menggedikkan kedua bahunya. "Enggak tahu, Bang. Putri juga enggak kenal, tapi orangnya baik kok. Tuh, buktinya dia kasih itu sama Putri," celoteh Putri, dagunya menunjuk skateboard yang masih dipegang oleh Dino.


"Oh, gitu ya. Kamu beruntung banget ya, Put. Ya sudah, ayo Abang ajarin kamu cara main skateboard!" ajak Dino.


Putri terlihat sumringah mendengar ajakan Dino. Memang sudah sangat lama Putri ingin mencoba permainan yang menantang itu. Karena itu, Putri terlihat antusias saat Dino menunjukkan teknik dasar bermain skateboard.


🍁🍁🍁


Malam semakin merangkak. Selepas salat isya di masjid, Tuan Jaya berjalan berkeliling kampung untuk mengenang masa-masa indah saat tinggal bersama mendiang istrinya di kampung.

__ADS_1


Tiba di depan sebuah rumah sederhana, Tuan Jaya menghentikan langkahnya. Dia menatap rumah bercat putih yang masih tampak rapi, meskipun pagar kayu di sekelilingnya terlihat lapuk.


"Maafkan aku, Arya. Aku memang teman yang tidak pernah berguna. Bahkan aku tidak bisa menjaga putrimu yang notabene adalah menantuku sendiri. Aku benar-benar bodoh, terlalu percaya pada apa yang terlihat tanpa mencari tahu terlebih dulu kebenarannya," gumam Tuan Jaya. Tanpa terasa bulir bening sudah menggenang di kedua sudut matanya.


Tuan Jaya terhenyak saat merasakan tepukan pelan di bahunya.


"Sudah malam Tuan, sebaiknya kita segera pulang. Udaranya sudah sangat dingin," ucap Pak Munir yang sedari tadi masih setia mengikuti tuannya.


Tuan Jaya menoleh. Senyum tipis terukir di bibirnya. "Hmm, kamu benar, Nir. Cuaca dingin juga tidak baik untuk kesehatan kita yang sudah tua ini," timpal tuan Jaya.


"Hehehe, Anda tepat sekali, Tuan," sahut Pak Munir seraya terkekeh.


"Ya sudah, ayo kita pulang!" lanjut Tuan Jaya.


Majikan dan sopir yang sudah seperti sahabat itu pun, kembali berjalan berdampingan menuju rumah Aki Surya.


🍁🍁🍁


Minggu pagi. Putri sudah bersiap-siap hendak kembali ke taman untuk belajar bermain skateboard. Kemarin, dia sudah memiliki janji bersama Dino hendak berlatih skateboard. Putri seorang pemula dalam permainan ini. Namun, keinginannya untuk menjadi pemain skateboard handal, membuat Putri berlatih dengan sungguh-sungguh.


"Ma, Putri mau main ke taman. Boleh, 'kan?" tanya Putri saat sedang sarapan bersama.


"Gimana? Boleh, 'kan Ma?" Putri mulai memasang wajah imut untuk meluluhkan hati ibunda tercinta.


"Ya sudah, tapi sarapan dulu yang benar. Mama enggak mau ya, kamu terus main skateboard sampai lupa waktu," tegas Gintani.


"Iya Ma, iya," jawab Putri. Gadis kecil itu pun mulai duduk manis menunggu ibunya menyiapkan sarapan.


🍁🍁🍁


Sementara itu, di tempat lain. Tuan Jaya berpamitan kepada ibu mertuanya untuk mengunjungi makam mendiang istrinya.


"Sarapan dulu, Jay!" tawar Enin Ifah.


"Iya, Bu. Nanti saja, pulang dari makam," jawab Tuan Jaya.


"Kamu Jadi pergi ke makam hari ini?" tanya Enin Ifah lagi.

__ADS_1


Tuan Jaya mengangguk. "Iya, Bu. Mumpung Jaya masih di sini juga," jawabnya.


"Oh ya sudah. Tapi jangan lama-lama, Nak. Nanti kita sarapan bareng," tukas Enin Ifah.


Tuan Jaya kembali menganggukkan kepala. Sesaat kemudian, dia keluar rumah. Tiba di halaman depan, Pak Munir sudah setia menunggunya di samping mobil. Dia membuka pintu belakang untuk tuannya.


"Apa kita langsung ke makam saja, Tuan," kata Pak Munir setelah duduk di kursi kemudi.


"Langsung saja, Nir," jawab Tuan Jaya.


"Baik, Tuan."


Pak Munir menyalakan mesin mobil dan melajukannya keluar dari halaman rumah Aki Surya. Setelah melewati perjalanan selama 20 menit, mobil yang dikendarai Pak Munir tiba di kaki bukit kenangan. Pak Munir kemudian mulai mencari tempat yang cukup aman untuk memarkirkan kendaraannya.


"Apa mau saya panggilkan ojeg, Tuan?" tanya Pak Munir sesaat setelah dia mematikan mesin mobil.


"Tidak usah, Nir. Biar saya jalan kaki saja," jawab Tuan Jaya.


"Baiklah, Tuan. Kalau begitu, saya temani," timpal Pak Munir.


Tuan Jaya mengangguk. Di pun turun dari mobil. Sejenak menunggu Pak Munir. Hingga beberapa saat kemudian, mereka berjalan berdampingan menuju tempat pemakaman keluarga yang letaknya di balik bukit kenangan


Tuan Jaya terus menapaki jalan setapak yang cukup menanjak. Meskipun sesekali dia berhenti karena napas yang mulai tersengal. Namun, semua itu tidak menyurutkan langkah Tuan Jaya untuk ziarah ke makam mendiang istrinya.


Setelah berjalan selama setengah jam, akhirnya Tuan Jaya tiba di atas bukit. Sesaat dia menarik napas panjang untuk menghirup udara segar pegunungan. Berhenti sejenak, melepaskan lelah. Hingga sepuluh menit kemudian, Tuan Jaya melanjutkan langkahnya menuruni bukit menuju tempat pemakaman keluarga.


Tiba di sana, Tuan Jaya segera berjongkok di hadapan pusara mendiang istrinya. Sedangkan Pak Munir berdiri beberapa meter di belakang Tuan Jaya.


"Assalamu'alaikum. Apa kabar, Bun!" sapa Tuan Jaya memecah kesunyian.


Tangannya yang mulai keriput, tapi masih terlihat kekar, mengusap pusara dengan tatapan sendu.


"Maafkan Ayah karena baru bisa menjenguk Bunda. Ayah tahu, mungkin Ayah sudah sangat keterlaluan karena tidak bisa meluangkan waktu untuk mengunjungi Bunda, meskipun hanya setahun sekali. Namun, setiap saat Ayah selalu berdo'a. Semoga Allah senantiasa memberikan tempat yang terbaik untuk Bunda," lanjut Tuan Jaya, kembali mengelus pusara istrinya.


"Ayah juga minta maaf karena telah lalai dalam mendidik Adi. Ayah menyesal, Bun. Selama ini, Ayah pikir materi yang Ayah berikan untuk Adi, itu sudah cukup membuat Adi bahagia. Namun, kenyataannya, Adi justru tidak bahagia dengan semua materi itu. Bahkan, dia tumbuh menjadi sosok yang arogan dan sulit diatur. Hingga akhirnya, para wanita pun menjadi korban sikap arogansinya dia. Ah, Bun ... entah berapa wanita yang menjadi korban keegoisan putra kita. Sungguh, Ayah sendiri tidak tahu. Mungkin kelalaian Ayah juga yang menjadikan Adi bersikap seperti itu." Kembali Tuan Jaya menceritakan apa yang dia rasakan, di depan pusara mendiang Dewi.


"Bahkan, karena kelalaian Ayah juga, kita harus kehilangan cucu kita, Bun. Cucu yang selalu Ayah rindukan gelak tawanya. Ayah bingung, Bun. Ayah tidak tahu harus ke mana lagi mencari menantu dan cucu kita. Tak ada satu pun petunjuk. Bahkan, pasangan suami istri asisten rumah tangga ayah Wira juga tidak mengetahui di mana keberadaan Gintani. Rasanya, semua beban ini terlalu berat, Bun. Ditambah lagi dengan ulah Adi yang ternyata memiliki seorang putra dari wanita lain. Wanita yang mungkin saja dia adalah orang yang sama yang telah melenyapkan nyawa putra angkat kita. Jujur saja, Ayah memang mengharapkan kehadiran seorang cucu, tapi tidak dari hasil hubungan gelap. Terlebih lagi hubungan Adi dengan pembunuh itu. Sakit, Bun. Rasanya sakit sekali hati Ayah mengingat semua kelakuan Adi."

__ADS_1


Di depan pusara mendiang sang istri, Tuan Jaya menumpahkan semua isi hatinya.


__ADS_2