
Puas bercerita di depan pusara mendiang istri yang teramat dicintai, akhirnya Tuan Jaya beranjak dari tempatnya. Matahari semakin naik. Cacing di perutnya mulai menjerit. Seketika, Tuan Jaya pun teringat akan pesan ibu mertuanya.
"Kita pulang sekarang, Nir. Sepertinya matahari mulai melakukan tugasnya," celetuk Tuan Jaya.
"Baik, Tuan," sahut Pak munir.
Kedua orang tua itu pun kembali berjalan beriringan menaiki bukit kenangan.
Tiba di atas bukit Kenangan, Tuan Jaya menghentikan langkahnya. Sejenak, dia menatap pohon Akasia. Pohon tua yang menjadi saksi bisu atas kisah cintanya dengan wanita yang telah melahirkan seorang pewaris.
Senyum Tuan Jaya pun mengembang saat dia melihat sepasang kekasih yang sedang duduk di bangku taman. Sesaat, keningnya mengernyit saat melihat postur tubuh sang wanita berhijab. Sepertinya, dia tidak asing dengan bentuk tubuh wanita itu. Namun, saat Tuan Jaya berniat mendekati mereka, tiba-tiba ponselnya berdering.
"Bram?" gumam Tuan Jaya ketika melihat nama si pemanggil.
Tuan Jaya mengurungkan niatnya menyapa pasangan tersebut. Dia kembali menuruni bukit seraya mengangkat telepon dari menantunya.
Di sebuah bangku panjang di bukit kenangan.
"Sudah, Gin. Tidak usah terlalu dipikirkan. Mas yakin jika sikap Putri itu hanya sesaat saja," kata Heru.
"Tapi Gintan khawatir jika sikap tomboy Putri akan terbawa hingga dia besar, Mas," keluh Gintani.
"Insya Allah tidak. Lagi pula, Putri memiliki ibu yang lemah lembut seperti kamu, Gin. Kamu adalah model pertama yang dia lihat. Mas yakin, semakin Putri dewasa, dia akan semakin meniru sifat dan sikap kamu. Percaya sama Mas," ucap Heru, mencoba menenangkan hati Gintani.
"Semoga saja, Mas," balas Gintani.
"Ngomong-ngomong, apa kamu sudah menyelidiki siapa yang telah memberikan mainan itu?" tanya Heru.
Gintani menggelengkan kepala. "Belum, Mas. Gintan enggak punya waktu untuk menyelidiki ke toko mainan itu lagi. Akhir-akhir ini, pekerjaan Gintan begitu banyak," jawab Gintani.
"Hmm, ya sudah ... mungkin orang itu hanya menyukai Putri saja, Gin. Lupakan saja, toh dia tidak pernah menemui Putri lagi, 'kan?" tanya Heru.
Gintani kembali menganggukkan kepala.
"Sudah siang, sebaiknya kita pulang. Kasihan juga Putri ditinggal sendirian di rumah," lanjut Heru.
"Hmm, Putri lagi asyik bermain di taman sama teman-temannya," balas Gintani.
"Sendirian?" tanya Heru yang seketika memasang raut wajah cemas.
__ADS_1
Gintani menganggukkan kepala.
"Ish, Gin. Jangan terlalu dilepas begitu saja. Mas khawatir dengan keselamatan Putri. Nanti, kalau sesuatu terjadi sama diri Putri, gimana Gin?" ucap Heru, khawatir.
"Sudah, Mas. Putri sudah besar. Dia pasti bisa menjaga dirinya sendiri," sahut Gintani.
"Hmm semoga saja," timpal Heru.
🍁🍁🍁
Di lain tempat.
Miki terus membolak-balikan buku paket yang diberikan guru kelas. Tugas membuat silsilah keluarga, masih terus menggaung jelas di telinga. Seandainya bisa, Miki pasti akan memilih tugas lain. Sesulit apa pun tugasnya, dia pasti akan berusaha keras untuk mengerjakan. Namun, silsilah keluarga? Ah, rasanya kepala Miki sudah mau pecah memikirkan tugas tersebut.
Sejenak, Miki merebahkan tubuh di atas ranjang. Rasanya, dia ingin bertanya kepada orang yang dianggapnya papa untuk membantu tugas yang diberikan oleh guru. Namun, rasa gengsi Miki terlalu besar. Hingga akhirnya, dia lebih memilih mengabaikan tugasnya.
Keesokan harinya.
"Silakan kumpulkan tugas kalian!" seru Pak Candra.
Pak Candra Wicaksana, wali kelas 5 yang menjunjung tinggi kedisiplinan di sekolah. Selain guru kelas, dia juga menjabat sebagai pembina kesiswaan di sekolah. Karena itu, dia sangat disiplin dan selalu tepat waktu memasuki kelas. Dia paling tidak menyukai siswa-siswi yang menyepelekan waktu dan tugas. Bagi Pak Candra, siswa-siswi yang tidak menghargai waktu dan menganggap remeh tugas yang diberikan, mereka adalah cikal bakal orang-orang yang tidak bertanggung jawab.
Kening Pak Candra mengernyit ketika mendapati Miki duduk terpaku di tempat duduknya.
Tumben anak itu tidak ke depan. Apa dia tidak mengerjakan tugasnya? Tapi kenapa? Bukankah selama ini dia tidak pernah absen untuk mengerjakan tugas? Monolog Pak Candra dalam hatinya.
Semua siswa-siswi yang btelah mengumpulkan tugas, kembali ke bangkunya masing-masing. Setelah itu, Pak Candra berjalan ke depan untuk menyampaikan materi.
"Baiklah anak-anak, materi yang akan kita bahas hari ini adalah tentang ekosistem. Ada yang tahu apa itu ekosistem?" pancing Pak Candra terhadap anak didiknya.
Seketika suasana menjadi riuh. Para siswa mulai mencari tahu tentang ekosistem dalam buku paketnya masing-masing.
Miki tahu persis tentang materi yang sedang disajikan. Namun, dia enggan menjawab. Sikap pendiamnya membuat dia enggan bersuara.
"Tidak ada yang tahu apa itu ekosistem?" tanya Pak Candra lagi. "Ish, apa kalian tidak belajar semalam? Lantas, apa yang kalian lakukan? Hanya nonton TV saja? Bermain saja? Main HP saja?" cecar Pak Candra yang mulai merasa kesal karena tak ada seorang pun yang menjawab pertanyaannya.
"Hhh ..." Pak Candra menghela napas. "Baiklah, akan Bapak terangkan apa itu ekosistem. Silakan dicatat!" perintahnya.
Kembali para murid sibuk membuka buku dan menyiapkan balpoin. Hanya Miki yang masih terlihat duduk bersandar dengan melipat kedua tangannya di depan dada.
__ADS_1
"Ekosistem adalah suatu sistem ekologi yang terbentuk oleh hubungan timbal balik tak terpisahkan antara makhluk hidup dengan lingkungannya," ucap Pak Candra seraya berjalan mondar-mandir di depan kelas.
Pandangan Pak Candra terkunci kepada sikap Miki yang hanya diam saja. Sejurus kemudian, Pak Candra mendekati mejanya dan memeriksa buku tugas murid satu per satu. Keningnya mengernyit saat tidak melihat nama Miki dalam sampul buku yang dikumpulkan. Pak Candra pun sudah bisa menyimpulkan jika Miki tidak mengerjakan tugas.
Pak Candra membalikkan badan. "Miki, ke depan!" titah Pak Candra.
Miki menarik napas dalam-dalam. Hmm, inilah saatnya, batin Miki. Dengan langkah tegap, Miki kemudian berjalan menghampiri wali kelasnya.
"Apa kamu mengerjakan tugas?" tanya Pak Candra
"Tidak," tegas Miki.
"Kenapa?" Selidik Pak Candra.
"Saya tidak berminat untuk mengerjakannya," jawab Miki.
Pak Candra mengernyitkan keningnya. Dia tidak mengerti dengan jawaban Miki.
"Mengerjakan tugas yang diberikan guru itu sebagai bentuk tanggung jawab siswa. Jika kamu tidak mengerjakannya, itu artinya kamu tidak bertanggung jawab atas pekerjaan kamu," tutur Pak Candra.
"Saya tahu," jawab Miki.
"Lantas, kenapa kamu tidak mengerjakannya?" Kembali Pak Candra bertanya.
"Sudah saya bilang, saya tidak berminat untuk mengerjakannya. Bapak boleh memberikan saya tugas apa pun. Tapi tidak dengan tugas yang satu itu!" Kini, Miki menjawab pertanyaan gurunya dengan panjang lebar.
"Kenapa? Apa kamu tidak memiliki keluarga?" tanya Pak Candra lagi.
Miki diam. Dia sama sekali tidak berniat untuk menjawab pertanyaan gurunya.
"Ah, Miki. Setiap orang pasti memiliki keluarga. Ayah dan ibu. Tidak mungkin jika kamu terlahir dari batu, hehehe," gurau Pak Candra sambil terkekeh.
Kedua tangan Miki mengepal mendengar gurauan yang sama sekali tidak dia harapkan. Untungnya, dia masih bisa menguasai emosinya.
"Bapak tidak perlu menghina saya seperti itu. Saya punya hak untuk melakukan apa pun yang saya suka. Jika Bapak ingin memberikan saya sanksi, silakan! Tapi Bapak tidak punya hak untuk menghina saya!" tegas Miki yang seketika membuat wajah Pak Candra memerah.
Pak Candra sendiri tidak menyadari jika Miki akan menamparnya dengan ucapan pedas. Dia tidak menyangka gurauannya akan mendapatkan balasan telak dari anak kecil itu.
Sejenak, Pak Candra menghela napas. "Baiklah, Miki. Karena kamu tidak mengikuti salah satu aturan sekolah, saya akan memberikan kamu sanksi. Sebagai hukumnya, silakan kamu bersihkan kamar mandi siswa yang ada di sekolah ini!" perintah Pak Candra.
__ADS_1
Tanpa banyak bicara, Miki melangkahkan kaki ke luar kelas.