
Tiba-tiba saja, terdengar lengkingan suara seorang wanita begitu nyaring dari arah koridor kantor kepala sekolah.
"Sayang, ada apa di sana?" tanya Bagas seraya menoleh dan menatap ke ujung koridor yang mengarah ke ruang kepala sekolah.
"Kya tidak tahu, Kang. Sebentar, Kya lihat dulu," pamit Kyara sembari beranjak dari bangku taman belakang.
Setengah berlari, Kyara mengayunkan langkahnya menuju koridor yang menghubungkan taman belakang ke ruang kepala sekolah.
Tiba di sana, Kyara melihat seorang wanita berusia sekitar 40 tahunan, yang mengenakan berbagai macam perhiasan layaknya etalase emas berjalan, sedang berkacak pinggang sambil terus berbicara di depan bapak kepala sekolah. kedua satpam yang berdiri di kiri kanannya pun tak mampu menghentikan cerocosan wanita itu.
"Saya tidak mau tahu, pokoknya Anda harus mengeluarkan anak itu dari sekolah ini, sekarang juga!" pekiknya dengan suara bak petasan.
Tak lama kemudian, datanglah para ibu-ibu yang diduga adalah para wali murid di sekolah Mutiara Bangsa.
"Iya, benar. Keluarkan murid baru itu!"
"Keluarkan sekarang juga, atau kami akan menuntut sekolah ini karena tidak bisa mendidik siswanya dengan baik!'
"Sudah, beri tindakan tegas saja, Pak. Bila perlu, laporkan ke pihak yang berwajib!"
"Mohon tenang semuanya ... tenanglah! Kita bicarakan semua ini secara baik-baik. Jujur saja, saya sendiri tidak paham dengan maksud kedatangan ibu-ibu. Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa ibu-ibu semua datang bergerombol ke sini? Seperti sedang demo sembako saja!" teriak Pak Budi selaku kepala sekolah.
Pak Budi memang tidak mengerti dengan apa yang terjadi, sehingga para orang tua murid datang berdemo. Saat jam istirahat pun, Pak Budi tidak mendengar keributan di sekolah yang dipimpinnya.
"Ada apa ini?" tanya Kyara.
"Entahlah, Bu. Saya sendiri tidak tahu," jawab Pak Budi.
"Alaah, enggak usah pura-pura sok tidak tahu, Bu Kya. Bukankah Bu Kya sudah membela si pembuat onar itu?" tuduh si wanita yang mengenakan gelang rantai, sebesar kalung rantai binatang.
Kyara mengernyit. "Maaf, Bu. Saya tidak mengerti maksud Ibu," lanjutnya.
"Dengar ya Ibu Kya, jangan mentang-mentang murid baru itu anaknya pengusaha di kota ini, lantas Ibu membela dia mati-matian. Sebagai seorang guru konseling, seharusnya Ibu sudah bisa melihat siapa yang menjadi korban. Anak saya, Bu!" tegas wanita itu.
"Maksudnya?" Kyara memang masih tidak mengerti dengan alasan kemarahan si wanita yang telunjuknya mulai terangkat di depan wajahnya.
__ADS_1
"Turunkan telunjuk Anda!"
Suara tegas dan berwibawa terdengar menggelegar di depan ruang kantor kepala sekolah. Seketika, semua mata menoleh ke arah Bagas yang sudah berdiri di belakang Kyara.
"Tu-tuan Bagas?" gumam wanita itu yang ternyata mengenali Bagas.
"Ada apa ini, Bu Gita?" tanya Bagas.
Kyara menautkan kedua alisnya.
"Kakang kenal wanita itu?" tanya Kyara yang merasa heran karena suaminya mengenal wanita yang telah menuduhnya tanpa alasan.
"Dia istrinya, pak Darma. Salah satu akuntan anak cabang perusahaan Kakang," jawab Bagas.
"Oh." Hanya itu yang keluar dari bibir Kyara.
"Ya sudah, ibu-ibu semuanya, sebaiknya kita bicara di dalam saja. Malu dilihat anak-anak berkerumun di sini. Ayo!" pungkas Pak Budi mengajak para tamu tak diundang untuk memasuki ruangannya.
🍁🍁🍁
"Apa itu, Kak?" tanya Nadhifa begitu melihat sesuatu dalam genggaman tangan suaminya.
Nadhifa mengernyit, senyumnya seketika terbit saat menyadari sesuatu.
"Jadi, papa enggak mengingkari janjinya," gumam Nadhifa
"Maksud kamu?" Kali ini Bram yang menautkan kedua alisnya karena tidak paham dengan apa yang digumamkan sang istri.
"Dulu, saat papa memberikan tiket bulan madu untuk kak Argha dan kak Gintan, Fa pernah meminta juga. Papa berjanji jika papa akan memberikan apa yang Fa minta setelah Fa menikah. Tapi, setelah seminggu menikah pun, papa sama sekali tidak membahas hadiah itu. Fa pikir, papa sudah melupakan janjinya," tutur Nadhifa.
Bram tersenyum seraya memeluk Nadhifa dari arah belakang. Dagunya menumpu di bahu Nadhifa.
'Sebenarnya papa bukan lupa, Yang. Hanya saja papa sedang banyak pikiran, sehingga tanpa sengaja dia melupakan janjinya kepadamu," ucap Bram.
"Hmm, dari mana Kakak tahu?" tanya Nadhifa.
__ADS_1
"Papa sendiri yang bilang. Tadi saat beliau memanggil Kakak ke ruang kerjanya untuk memberikan tiket itu, papa cerita jika akhir-akhir ini dia banyak pikiran karena kelakuan kakak kamu. Karena itu papa lupa untuk memberikan ini pada kita," papar Bram
"Hmm, kak Argha memang hidupnya selalu nyusahin orang. Huh, Fa jadi ngerasa kesal kalau ingat, ternyata dia punya anak di luar nikah. Menyebalkan!" Nadhifa mendengus kesal.
"Huss, tidak boleh seperti itu, Fa. Bagaima–"
Drrt... Drrt...
Kalimat Bram terpotong saat merasakan ponsel di dalam saku celananya bergetar. Bram merogoh saku celananya untuk mengeluarkan benda pintar tersebut.
"Hmm, panjang umur nih bocah, baru saja diomongin, eh sudah menghubungi," tukas Bram.
"Siapa kak?" tanya Nadhifa.
"Siapa lagi kalau bukan si Tuan Arogan, abang kamu itu," jawab Bram seraya menggeser tombol jawab.
"Ha–"
"Balik ke kantor sekarang juga!"
🍁🍁🍁
Selepas menelepon asistennya, Argha segera keluar dari ruang kerja.
"Mit, tolong cancel meeting saya untuk sore ini!" perintah Argha begitu tiba di depan meja sekretarisnya.
"Tapi, Pak?!"
"Cancel saja!" tegas Argha seraya berlari meninggalkan Mita, sang sekretaris.
"Aish, selalu seenak jidatnya sendiri. Uuh, apa yang harus gua bilang sama klien?" gumam Mita, mendengus kesal.
Ish, ulah apa yang telah dia lakukan sampai menuai protes dari para wali murid segala? Aih Bram ... harusnya elo yang berada di posisi gua sekarang. Kalau saja lo enggak kawin ma adek gua, sudah dari awal gua bilang tentang anak lo! batin Argha, menggerutu.
Ya Tuhan ... hamba tahu hamba telah menelantarkan anak hamba sendiri. Tapi tolong jangan hukum hamba seberat ini. Lagi pula, hamba sedang berusaha untuk mencari keberadaan anak dan istri hamba. Tolong lembutkan hati anaknya Ilona, agar dia tidak selalu membuat masalah, pinta Argha dalam hatinya.
__ADS_1
Awalnya Argha berpikir jika pengakuannya akan membuat hubungan dia dan Miki semakin membaik. Namun, ternyata Argha salah. Meskipun dia telah mengakui Miki sebagai anaknya di depan semua orang, itu tak membuat sikap Miki berubah. Anak itu justru tumbuh semakin dingin dan pendiam.
Argha sengaja memasukkan Miki ke sebuah Sekolah Dasar yang sangat elit dan populer di kota Jakarta. Sekolah itu bahkan menjadi salah satu sekolah terfavorit di kota metropolitan. Akan tetai, semua itu sama sekali tidak merubah sifat Miki. Bahkan, di sekolahnya pun, Miki dikenal sebagai anak pendiam dan tidak suka bergaul. Dan sepertinya, satu lagi julukan yang akan didapatkan bocah kecil itu. Pembuat Onar!