
Ketegasan Miki dalam mengucapkan keinginannya, membuat Argha terpaku. Untuk sejenak, Argha mencoba mencerna perkataan anak angkatnya.
Apa maksud Miki membutuhkan identitas? Bukankah selama ini dia telah memiliki nama? Dalam surat keterangan adopsinya pun, sudah dijelaskan tentang siapa ibu yang telah melahirkannya. Ya, meskipun tanpa tertera nama sang ayah, tapi rasanya itu sudah cukup ....
Argha menautkan kedua alisnya. Tunggu-tunggu! Tanpa ayah? monolognya lagi.
Ya! Dalam surat keterangan sebagai penunjang surat adopsi yang diterima Argha dari pihak panti asuhan St. Jose, memang tidak tertera siapa nama ayah Miki.
Apa identitas yang diinginkan Miki adalah nama ayahnya? Nama keluarga yang akan disandang sebagai sebuah nama belakang? Astaga ... apa memang itu yang diinginkan Miki? Tapi bagaimana bisa, aku sama sekali tidak memiliki hubungan darah dengannya. Ya Tuhan, Ilona ... apa kesalahan kakak hingga kamu tega menghukum kakak seumur hidup seperti ini?
Argha menggerutu kesal. Sikap arogannya begitu jelas kentara. Bagaimana bisa aku memberikan nama belakang kepada orang lain, sedangkan anakku sendiri ...? Uh, aku bahkan tidak tahu bagaimana rupa dia. Apa dia seorang anak perempuan atau laki-laki? Tapi yang jelas, jika dia laki-laki, dia pasti mewarisi ketampanan aku. Dan jika dia seorang perempuan, tentunya kecantikan Gintani yang akan tergambar jelas di raut wajah anakku. kembali Argha berbicara dalam hatinya.
Argha tersenyum tipis. Membayangkan rupa anaknya, menjadi obat tersendiri bagi Argha. Tak ingin terlalu pusing dengan perkataan Miki yang dianggapnya sebuah kesepakatan, Argha pun berlalu begitu saja.
Miki menarik napas, panjang. Kembali lagi, hanya kekecewaan yang dia dapatkan dari laki-laki berahang tegas itu. Jika dia boleh jujur, tubuhnya seakan lemas tak berdaya mendapatkan berlalunya Argha sebagai sebuah jawaban.
Miki sendiri tidak habis pikir. Kenapa di dunia ini ada seorang ayah yang dengan terang-terangan tidak ingin mengakui anaknya? Meskipun sang anak telah berdiri tegak di hadapannya.
Apa dosa aku padamu Ilona? Kenapa kamu tega melahirkan aku ke dunia ini jika hanya untuk mendapatkan kenyataan, kekasihmu tidak pernah mau mengakui keberadaanku. Ya kekasihmu, aku yakin aku hanyalah anak hasil hubungan terlarang kamu dengannya. Cih, begitu rendah sekali harga dirimu, Ilona! umpat Miki dalam hatinya.
Miki mulai limbung. Kedua kakinya tidak mampu menopang tubuh yang semakin terasa lemas. Sakit! Rasanya sakit sekali saat Miki menyadari, ayahnya selalu menatap rindu gambar seorang wanita cantik berhijab yang berada dalam bingkai foto raksasa di ruang keluarga. Rasanya sesak saat tanpa sengaja, dia menguping rintihan kerinduan yang terucap dari bibir ayahnya untuk wanita tersebut.
Hingga akhirnya, bocah kecil itu menarik kesimpulan sendiri. Mungkinkah dirinya hanya seorang anak yang tidak diharapkan akibat hasil hubungan gelap kedua orang dewasa itu?
__ADS_1
Miki memegang dashboard ranjang untuk menahan tubuhnya agar tidak ambruk ke lantai. Perlahan, dia mulai duduk di tepi ranjang. Pilu yang menderanya, tak mampu meneteskan air mata. Miki lelah. Ya dia begitu lelah dengan kehidupan tanpa warnanya.
🍁🍁🍁
Minggu berganti bulan. Hingga tanpa terasa, telah satu tahun Miki bersekolah di tempat barunya. Dia merasa cukup kerasan bersekolah di tempat baru. Meskipun bukan termasuk kategori sekolah terfavorit, tapi sejauh ini para siswa dan gurunya tidak pernah menyinggung perasaan Miki. Terlebih lagi, tidak ada strata dalam kamus sekolah di sana. Semuanya sama. hanya satu nama, yaitu siswa yang hendak menimba ilmu sebagai bekal untuk kehidupannya di masa yang akan datang.
Di lain tempat.
"Diminum atuh obatnya, Ki. Katanya mau sembuh dan pengen ketemu cucu, tapi kok minum obat aja, susah," keluh Enin Ifah kepada suaminya.
"Pahit atuh, Nin. Aki teh enggak tahan sama rasanya," jawab Aki Surya, sedikit merajuk.
"Ish, ari si Aki. Ya atuh yang namanya obat mah pasti pahit. Kalau manis, itu mah gula namanya," gerutu Enin Ifah.
"Sudah lama cucu kita tidak datang kemari, Nin. Hmm, Aki sangat merindukan Adi, Nin," gumam Aki Surya seraya menatap hamparan tanaman mawar putih peninggalan mendiang Dewi, anaknya
"Iya Aki. Enin juga sama. Kangeeeen sekali sama Adi. Tapi ya mau gimana lagi ... mungkin Adi masih sibuk dengan pekerjaannya. Apalagi setelah mengetahui calon istrinya yang justru merusak hubungan rumah tangganya dengan Gintani, tentu anak itu merasa sedih sekali. Enin yakin, kesibukan Adi dalam bekerja, itu hanya untuk mengalihkan perhatiannya dari rasa bersalah karena sudah menceraikan Gintani," balas Enin Ifah.
"Iya, Enin benar. Aki juga tahu jika Adi pasti sangat menderita dengan rasa bersalahnya. Kehidupan dia pasti akan kembali seperti saat dia kehilangan bundanya, kehidupan yang tanpa warna hingga membuat Adi tumbuh menjadi pribadi yang, uhuk... uhuk... uhuk..."
"Ish, Aki ... sudah jangan banyak bicara. Tuh, batuk lagi, 'kan? Sok atuh, diminum geura obatnya!" perintah Enin Ifah seraya menyodorkan beberapa butir obat yang memang harus rutin dikonsumsi suaminya.
Aki Surya menerima butiran obat dan segelas air putih dari tangan istrinya. Dia kemudian menelan obat tersebut. Sejujurnya, dia sendiri sudah merasa mual karena harus mengkonsumsi obat-obatan demi kelangsungan hidupnya. Sejak divonis mengidap penyakit tuberkulosis, Aki Surya terpaksa harus mengkonsumsi obat-obatan secara rutin.
__ADS_1
🍁🍁🍁
Di sebuah toko mainan.
"Enggak! Pokoknya sampai kapan pun, Mama enggak akan membelikan kamu mainan itu!" tolak Gintani dengan tegas.
"Ih, Mama jahat! Mama Eca kerja, 'kan buat beliin mainan Eca. Tapi Putri? Uuh, nasib Putri memang sangat mengenaskan. Putri punya mama yang bekerja, tapi sama sekali enggak mau beliin mainan anaknya. Ah, entah untuk siapa dia bekerja, huhuhu ...." rengek Putri.
"Hadeuh, mulai drama lagi, deh," gerutu Gintani, pelan.
Mina hanya tersenyum melihat akting majikan kecilnya. "Wah, Non Putri memang sangat berbakat menjadi aktris," bisik Mina di telinga Putri.
"Dengar Putri Sayang, kamu itu perempuan. Dan mainan itu!" Tunjuk Gintani kepada sebuah skateboard berwarna-warni yang tergantung. "Benda itu bukan permainan untuk anak perempuan," terang Gintani kepada putri semata wayangnya.
"Putri tahu, Ma," jawab Putri.
"Ya kalau Putri tahu itu bukan mainan untuk perempuan, kenapa masih minta juga? Udah deh, sebaiknya kita ganti etalase saja, ya. Yuk, kita ke sana! Sepertinya banyak boneka barbie yang sangat cantik-cantik tuh, di sana!" ajak Gintani seraya menunjuk etalase yang memajang aneka permainan untuk anak perempuan.
"Enggak ah, bosan! Mainan anak perempuan itu enggak ada tantangannya. Enggak bikin kehidupan Putri berwarna. Pokoknya Putri mau itu!" tegas Putri
Lagi-lagi Putri merajuk seraya menunjuk skateboard. Ekspresi wajah Putri sama persis dengan ayahnya jika sedang menginginkan sesuatu. Gintani pun hanya bisa menepuk dahinya melihat sikap Putri.
"Nir, tolong kamu minta pelayan membungkus mainan skateboard. Lantas, berikan pada gadis kecil yang sedang merajuk itu!"
__ADS_1
"Baik, Tuan!"