Aku Yang Tak Diakui

Aku Yang Tak Diakui
Tekad Seorang Miki


__ADS_3

Gintani bergeming. Mulutnya seakan terkunci saat mendapatkan ungkapan cinta dari Heru. Jujur saja, Gintani sudah tidak ingin mengenal lagi apa yang namanya cinta. Dia tidak ingin mengecap rasa apa pun tentang cinta. Cukup Argha saja yang telah memberikan manis pahitnya cinta. Dia tidak akan memberikan jalan kepada laki-laki mana pun untuk membuka lagi pintu hatinya. Gintani sudah cukup bahagia hidup bersama putrinya. Dia tidak butuh pendamping lagi.


Sama sekali tidak perlu! tegas Gintani dalam hatinya.


"Gin, apa kamu bersedia menjadi istri Mas?"


Pertanyaan Heru sontak membuat Gintani menggerakkan kedua bahunya. Dia menatap Heru. Mencoba mencari celah ketidakseriusan atas ucapan Heru barusan. Namun, nihil! Sinar mata Heru memancarkan sebuah ketulusan yang begitu kentara. Ketulusan yang membuat lidah Gintani terasa kelu untuk menjawab.


Sakit! Rasanya sakit sekali saat Gintani menyadari ketulusan Heru. Jika saja, laki-laki itu adalah orang pertama yang dia temui, Gintani pasti akan menjawab iya. Bagaimana tidak? Heru adalah sosok laki-laki yang penuh tanggung jawab.


Heru memiliki hati seluas samudera. Hati yang begitu tulus dalam menyayangi. Siapa pun yang akan menjadi pasangannya, dia pasti akan menjadi wanita paling beruntung. Hanya saja, Gintani merasa kalau dirinya bukan orang yang tepat untuk mendapatkan keberuntungan itu.


Bagaimanapun, lelaki yang baik hanya tercipta untuk wanita yang baik pula. Dan Gintani merasa, dia tidak cukup baik untuk lelaki baik itu. Heru berhak mendapatkan wanita yang sempurna. Seorang wanita yang masih gadis. Bukan seperti dia yang hanya seorang janda beranak satu.


"Gin, kok diam? Apa itu artinya ... kamu menolak lamaran Mas?" Heru kembali bertanya.


"Mas ... Gi-Gintan minta maaf. Tapi jujur saja, Gintan sudah tidak memikirkan lagi untuk mencari pasangan. Gintan sangat berterima kasih atas perasaan Mas terhadap Gintan. Tapi maaf, Mas ... Gintan tidak bisa membalas perasaan Mas," jawab Gintani, lirih.


Lemas. Rasanya begitu lemas sekali seluruh tubuh Heru saat mendengar jawaban Gintani. Dugaannya selama ini terbukti nyata. Heru sudah merasa, jika Gintani akan menolak perasaannya. Dia sudah siap untuk hal itu. Namun, saat mendengar penolakan itu keluar langsung dari bibir tipis wanita berhijab itu, tidak bisa Heru pungkiri, terselip rasa kecewa yang amat sangat di hatinya. Heru pun hanya bisa menundukkan kepala untuk menyembunyikan rasa kecewa itu.


Rasa bersalah mulai menggelayut di relung sanubari Gintani. Perasaan bersalah karena tak mampu menyambut cinta laki-laki yang telah menolong hidupnya. Namun, dia juga tidak bisa berpura-pura mencintai Heru. Lebih baik laki-laki itu terluka sekarang daripada terus berharap pada sesuatu yang tidak akan mungkin dia berikan.


Ya ... Gintani tidak mungkin memberikan cintanya untuk Heru. Bahkan untuk pria mana pun di dunia ini. Karena sejatinya, cinta Gintani telah terkikis habis untuk si Tuan Arogan.


Perlahan, Gintani menyentuh bahu kanan Heru. Dia menatap Heru dengan perasaan bersalah. Dadanya terasa sesak melihat Heru tertunduk di hadapannya.


"Mas," panggil Gintani pelan, "Mas Heru enggak apa-apa, 'kan?" tanyanya.


Sejenak, Gintani menghela napas. "Gintan minta maaf jika Gintan sudah menyakiti hati Mas Heru," lanjutnya.

__ADS_1


Heru mengangkat wajahnya. Tak ingin membuat Gintani merasa bersalah, dia kemudian tersenyum seraya menatap Gintani. Sejurus kemudian Heru berkata, "Mas baik-baik saja, Gin. Ayo, sebaiknya kita kembali ke aula sebelum ada yang menyadari kita menghilang."


"Tunggu, Mas!" Gintani mencekal pergelangan tangan Heru. "Sekali lagi Gintan minta maaf, Gintan tidak bermaksud melukai perasaan Mas. Gin–"


Spontan, Heru menempelkan telunjuknya di bibir Gintani. Dia menatap intens kepada wanita yang telah membuat darahnya berdesir setiap memandangnya.


"Ssst, jangan katakan apa pun lagi, Gin. Insya Allah, Mas ikhlas menerima semua keputusan kamu. Mas hanya ingin yang terbaik untuk kamu dan Putri. Maafkan Mas karena sudah lancang mencintai kamu," kata Heru memotong kalimat Gintani.


Gintani kembali semakin merasa bersalah. "Tidak apa-apa, Mas. Gintan tidak menyalahkan perasaan Mas. Setiap orang memiliki hak untuk mencintai," jawab Gintani.


"Dan, setiap orang memiliki hak untuk menolak perasaan itu," balas Heru.


"Maaas ..." rengek Gintani.


"Hehehe, maaf Gin, Mas hanya bercanda. Ayo kita ke aula!" ajak Heru seraya berdiri dan meraih tangan Gintani.


"Sebentar, Mas!"


Gintani menggelengkan kepalanya. "Gintan cuma mau bilang. Semoga suatu hari nanti, Mas Heru bisa menemukan jodoh yang tepat, yang terbaik untuk masa depan Mas Heru," katanya.


"Hmm, ayo kita pergi!"


🍁🍁🍁


Sementara itu, di kantor APA Architecture. Tampak Miki melangkah tegap memasuki lobi kantor. Tiba di kantor, dia langsung menaiki lift khusus CEO. Semua karyawan hanya menatap Miki dengan tatapan heran. Semakin besar, anak itu semakin terlihat dingin. Tatapan matanya begitu tajam, membuat nyali seseorang yang menatapnya langsung menciut.


Tiba di lantai lima belas, Miki berpapasan dengan asisten sang ayah. Dia pun hanya berlalu begitu saja tanpa menghiraukan keberadaan asisten itu.


Bram mengerutkan kening saat melihat Miki hendak menaiki tangga darurat di kantor APA Architecture. Karena penasaran, Bram kemudian bertanya, "Mau ke mana kamu?"

__ADS_1


"Bukan urusanmu!" Miki menjawab sambil terus berlalu meninggalkan Bram yang hanya bisa menggelengkan kepala dan mendengus kesal.


"Astaga, sarapan apa tuh bocah ampe ketus begitu," gerutu Bram.


Sedetik kemudian, Bram melanjutkan langkahnya menuju ruangan Argha. Dia membuka pintu ruangan Argha dengan wajah yang ditekuk.


"Kenapa pagi-pagi wajahmu sudah kusut seperti itu?" tegur Argha.


"Gimana muka gua nggak kusut, gua nanya baik-baik, jawabannya malah bikin gua darah tinggi," jawab Bram, sewot.


"Siapa?" tanya Argha, mengernyitkan keningnya.


"Siapa lagi kalau bukan anak lo! Ponakan gue yang manisnya melebihi gula!" Bram mendengus kesal.


Argha hanya terkekeh mendengar ucapan asisten sekaligus adik iparnya. Apa lo nggak sadar kalau itu juga kelakuan lo terhadap orang-orang yang nggak lo kenal baik, balas Argha dalam hatinya.


"Sudahlah, nggak usah ditanggapi. Namanya juga anak kecil," tukas Argha mencoba menghibur adik iparnya.


"Huh, anak kecil sih anak kecil, tapi lo juga harus ngajarin dia gimana caranya bersikap sopan sama orang dewasa." Lagi-lagi Bram menggerutu karena menurutnya, Argha terlalu memanjakan anaknya.


"Iya-iya, nanti gue ajarin. Sekarang, di mana dia?" tanya Argha.


"Gue lihat, dia tadi menaiki tangga darurat. Mungkin dia mau pergi ke rooftop. Dia, 'kan kek burung walet, doyan hinggap di atap," celetuk Bram.


"Emang lo nggak kek dia," gumam Argha, pelan sambil tersenyum nipis.


🍁🍁🍁


Miki berdiri di atas rooftop gedung APA Architecture. Matanya menatap nyalang pada hamparan kota metropolitan di bawahnya. Kedua tangannya dia sembunyikan di saku celana. Entah apa yang bocah kelas 4 SD itu pikirkan. Namun, guratan wajahnya terlihat jelas jika dia tengah bertekad, suatu hari nanti, dia akan membuktikan sesuatu untuk ayahnya.

__ADS_1


Di atas langit masih ada langit. Itu memang benar. Namun, kita lihat saja nanti. Akulah yang akan menjadi langit itu, tekad Miki dalam hatinya.


__ADS_2