Aku Yang Tak Diakui

Aku Yang Tak Diakui
Mencari Sekolah Baru


__ADS_3

Heru melajukan kendaraannya cukup kencang. Mungkin karena suasana masih pagi, jalanan pun terlihat sepi. Karena itu, hanya dalam waktu setengah jam, Heru pun tiba di rumah Gintani.


Kedatangan Heru bertepatan dengan usaha Gintani yang sedang mencekal tangan Putri, saat gadis kecil itu hendak pergi. Begitulah memang sifat Putri. Di saat keinginannya belum terpenuhi, jika marah Putri selalu pergi dari rumah untuk mencari ketenangan.


Ya ampun, Dek. Sifat papa kamu kok ditiru banget, gerutu Gintani dalam hatinya.


"Tunggu, Putri. Kamu mau ke mana?" tanya Gintani, mencekal pergelangan tangan anaknya.


"Lepasin, Putri mau pergi!" teriak Putri meronta.


"Ish, Dek ... enggak baik pergi dari rumah dengan keadaan marah seperti ini," tukas Gintani.


"Abisnya Mama bohong terus sama Putri. Ih, Putri kesel-kesel-kesel!" teriak Putri.


"Mama enggak bohong, Nak. Memangnya kapan Mama pernah bohongi Putri?" tanya Gintani.


"Mama janji mau sekolahin Putri, tapi enggak pernah Mama penuhi janjinya," jawab lirih Putri.


"Iya Sayang, nanti Mama akan sekolahin kamu, tapi tunggu usia kamu cukup dulu?" jawab Gintani.


Heru yang melihat perdebatan ibu dan anak itu, segera berlari kecil menghampiri mereka. Dia tidak ingin salah satu dari mereka melempar ucapan, yang pada akhirnya akan membuat luka di hati. Maklum lah, marah dan emosi itu bagian dari sifat syaiton. Heru tidak ingin kedua wanita yang dicintainya, memiliki salah satu sifat syaiton tersebut.


"Assalamu'alaikum!"


"Papa!" teriak Putri seraya menghambur untuk memeluk ayahnya.


Gintani menautkan kedua alisnya. Dia merasa heran mendapati Heru datang ke rumahnya sepagi ini. Pasalnya, semalam Heru bilang jika dia akan pergi ke luar kota untuk rapat penting.


"Kok, Mas datang ke sini? Bukankah Mas ada pertemuan penting di luar kota?" tanya Gintani.


"Tadinya memang begitu, Gin. Tapi saat hendak pergi, Mina nelepon. Katanya Putri rewel ya, hari ini," jawab Heru seraya berjongkok, mensejajarkan tubuhnya dengan tubuh gadis kecil itu.


"Astaghfirullah, Mas ... kenapa harus mengorbankan pekerjaan Mas demi Putri? Dia memang cukup manja hari ini, tapi Gintan bisa mengatasinya, kok," sahut Gintani.


"Tidak apa-apa, Gin. Lagi pula, Putri, 'kan anakku juga. Ayah mana yang bisa tenang bekerja setelah mengetahui anaknya rewel," tukas Heru. "Ayo bilang sama Papa, sebenarnya Putri mau apa, sampai bikin Uteng panik gitu?" tanya Heru seraya memainkan rambut Putri yang tengah duduk di kedua pahanya

__ADS_1


"Putri mau sekolah, Pa. Tapi Mama jahat ... Mama nggak bolehin Putri sekolah," rengek manja Putri kepada Heru.


"Eits! Mama bukan enggak bolehin Putri sekolah ya, tapi tunggu dulu sampai usia Putri cukup matang untuk bersekolah," ucap Gintani, meralat omongan putrinya.


"Tapi semua teman-teman Putri sudah sekolah. Cuma Putri saja yang belum masuk sekolah." Putri kembali merengek kepada ayahnya.


"Putri, Mama nggak mau ya, kalau niat Putri sekolah itu cuma sekadar ngikutin teman-teman Putri," tukas Gintani, memasang muka yang tak sedap dipandang.


Melihat suasana yang mulai memanas, Heru pun kembali menengahi.


"Sudah-sudah, sekarang juga Papa daftarin Putri sekolah. Memangnya, cantiknya Papa ini mau sekolah di mana?" tanya Heru, mencium pipi putrinya.


Mendengar ucapan Heru, Gintani pun langsung protes. Namun, protes wanita cantik berhijab itu hanya dibalas oleh kerlingan mata Heru.


"Putri mau sekolah di Kober Siti Fatimah saja, Pa. Biar nanti bisa barengan sama Eca. Soalnya, Eca juga sekolah di sana," jawab Putri.


"Ya sudah, ayo sana mandi sama Uteng!" perintah Heru.


"Hore, Putri mau sekolah. Makasih Papa, Putri sayang Papa ... mmuah ... mmuah ..." ucap gadis kecil itu sambil melayangkan ciuman di kedua pipi Heru.


Senyum Heru seketika terbit saat pipinya basah oleh bibir Putri. Sesaat kemudian, Putri turun dari pangkuan Heru. Putri berlari menghampiri Mina. Tangan kecilnya meraih tangan Mina seraya berkata, "Ayo bantuin Putri mandi, Uteng!"


🍁🍁🍁


Argha memijit pelan pelipisnya ketika mendapatkan panggilan lagi dari sekolah Miki. Kali ini, entah apa lagi yang dilakukan oleh anak angkatnya itu. Hanya saja, semenjak perkelahian Miki dengan kakak kelasnya hingga mendapatkan hukuman skors, pihak sekolah pun mewanti-wanti Argha agar kejadian seperti itu tidak terulang lagi. Mereka bilang, jika sekali lagi mereka mendapati Miki berkelahi dan terbukti bersalah, maka mau tidak mau pihak sekolah akan mengeluarkan Miki.


Biasanya, setiap ada masalah, Argha selalu meminta Kyara untuk membujuk kepala sekolah. Namun, kali ini Kyara sedang menjalani cuti hamil. Argha pun sudah pasrah bila akhirnya Miki mendapatkan DO dari pihak sekolah.


Dengan langkah tak bersemangat, Argha keluar dari ruangannya. Sapaan sang sekretaris pun tidak dia hiraukan. Beruntungnya, hari ini dia sama sekali tidak memiliki agenda penting, karena itu Argha tidak perlu menitipkan pesan kepada sekretarisnya.


Argha melajukan mobilnya cukup pelan. Sepertinya dia enggan berurusan lagi dengan sekolah Mutiara Bangsa. Hmm, sebelum Miki lebih malu lagi karena dikeluarkan, sebaiknya aku pindahkan saja sekolahnya, batin Argha mengambil keputusan sepihak tanpa bertanya kepada siapa pun.


Saat ini Argha memang tidak memiliki siapa pun untuk berbagi. Bayangan cantik istrinya seketika melintas dalam benak Argha. Ah, seandainya dulu aku tidak dikuasai oleh hawa nafsu, mungkin keadaannya tidak akan seperti ini. Sihir syaiton telah menutup mataku, hingga aku dibutakan oleh penglihatan tanpa ingin mendengarkan penjelasan. Astaghfirullah ... maafkan Mas, Gin, batinnya


Argha meraih ponselnya dari atas dashboard. Dia kemudian menghubungi seseorang. Setelah tersambung, Argha memerintah orang tersebut untuk mencarikan Sekolah Dasar terbaik di kota ini.

__ADS_1


🍁🍁🍁


Di ruang asisten. Bram mengernyitkan kening saat mendengar perintah dari bosnya.


"Carikan Sekolah Dasar terbaik di kota ini, sekarang juga!"


Tut-tut-tut....


"Selalu saja seperti ini. Main perintah seenaknya!" gerutu Bram, memasang wajah kecut.


"Assalamu'alaikum, Sayang!" sapa Nadhifa sambil membuka pintu ruang kerja suaminya.


Namun, karena tatapan Bram masih fokus pada layar ponsel, Bram tidak menjawab salam istrinya.


Nadhifa memasuki ruangan Bram. Dahinya sedikit mengernyit melihat suaminya anteng menatap ponsel, tapi raut wajahnya terlihat kesal.


Ish, kenapa dia? batin Nadhifa sambil mendekati kursi suaminya.


"Sedang apa, Sayang?" tanya Nadhifa, melingkarkan kedua tangannya di leher sang suami.


Bram terkejut mendapatkan Nadhifa sudah berada di belakangnya.


"Kamu, Fa? Kapan datang?" tanya Bram, meraih tangan Nadhifa dan menyuruhnya duduk di pangkuan.


"Barusan," jawab Nadhifa. "Mas lagi ngapain?Serius amat sampai enggak denger salam Fa," tegur Nadhifa.


Bram meraih tangan Nadhifa dan mengecupnya. "Maaf ya, Sayang. Ini Mas lagi melaksanakan tugas dari kakak kamu," ucap Bram yang wajahnya kembali berubah masam.


"Hmm, memangnya kak Argha memberikan tugas apa sama Mas?" tanya nadhifa.


"Mencarikan sekolah baru yang terbaik di kota ini," sahutd Bram.


"Sekolah baru?" ulang F, a mengerutkan dahinya. "Untuk?" lanjutnya.


"Siapa lagi kalau bukan untuk keponakan ketemu gede kamu," ledek Bram.

__ADS_1


"Maas, ih!" Nadhifa langsung mengerucutkan bibirnya mendengar ledekan Bram.


Selama ini, Nadhifa sangat menyukai anak kecil. Namun, memiliki Miki sebagai keponakannya, rasanya aneh sekali. Terlebih lagi Nadhifa mengetahui hubungan itu saat Miki sudah cukup besar. Mungkin karena hal itu juga, Nadhifa tidak bisa menerima Miki sepenuhnya sebagai keponakan.


__ADS_2