Aku Yang Tak Diakui

Aku Yang Tak Diakui
Meminta Penjelasan


__ADS_3

"Tolong tinggalkan Papa sendiri. Kalian keluarlah?"perintah Tuan Jaya begitu tiba di kamar pribadinya.


"Tapi, Pa?!" tukas Nyonya Rosma. "Bagaimana mungkin kami meninggalkan Papa dalam keadaan seperti ini?" lanjutnya.


"Mama benar, Pa. Izinkan kami tinggal di sini untuk menjaga Papa. Kami sangat mengkhawatirkan keadaan Papa," timpal Nadhifa.


"Turunlah, Fa. Tidak baik meninggalkan para tamu undangan. Lagi pula, Papa tidak selemah itu hingga harus mendapatkan perhatian berlebih dari kalian," kata Tuan Jaya.


"Paa ..." rengek Nadhifa.


"Fa benar, Pa. Setidaknya, biarkan Mama tinggal di sini. Boleh, ya!" bujuk Nyonya Rosma.


"Keluarlah, Ma!" tegas Tuan Jaya.


"Sudahlah, Nyonya ... tidak perlu memaksakan diri. Mungkin saat ini Tuan sedang tidak ingin diganggu. Mari kita keluar," ajak Pak Jamal yang kini sudah menjadi besan Tuan Jaya.


Sambil mendengus kesal, Nyonya Rosma keluar dari kamar khusus Tuan Jaya. Diikuti oleh Nadhifa dan Bram.


Pak Jamal mendekati atasannya seraya berkata, "Saya di kamar sebelah jika Anda membutuhkan sesuatu."


Tuan Jaya hanya mengangguk menanggapi ucapan Jamal.


🍁🍁🍁


Tiba di rumahnya, Alex langsung menuju kamar. Dadanya masih bergemuruh karena menahan amarah. Panggilan Geisha pun tidak dia hiraukan. Alex malah membanting pintu kamar dan menguncinya.


Bang Alex kenapa? Ish, kelihatannya dia kesal sekali. Bukankah dia pergi ke kota untuk menghadiri pernikahan kawan karibnya? Kenapa dia pulang dengan menekuk wajah seperti itu? Hmm, apa yang terjadi padanya? batin Geisha seraya menautkan kedua alis.


"Sebaiknya aku tanya Gintani saja, deh," gumam Geisha seraya mengeluarkan ponsel dari saku celananya. Tak berapa lama kemudian, Geisha pun menghubungi sahabat barunya itu.


"Assalamu'alaikum, Ge!" sapa lembut suara Gintani di ujung telepon


"Wa'alaikumsalam. Lagi ngapain, Gin?" tanya Geisha.


"Oh, ini ... Gintan lagi suapin Putri. Kenapa, Ge?" Gintani balik bertanya.


"Emang kamu enggak ikut ke pernikahan temannya bang Alex?" Geisha kembali bertanya.


"Enggak, Ge. Kebetulan Gintan lagi banyak kerjaan," sahut Gintani.


"Oh ... aku pikir kamu ikut, Gin. Tadinya aku mau nanyain sesuatu sama kamu. Ya sudah kalau kamu enggak ikut mah," lanjut Geisha.

__ADS_1


"Hidih ... enggak jelas banget sih kamu, Ge!" tukas Gintani. "Memangnya, apa yang mau kamu tanyain?" imbuhnya.


"Hmm, barusan bang Alex pulang, Gin. Tapi kok, wajahnya kelihatan kusut banget. Tadinya, aku kira kamu ikut sama bang Alex, mangkanya aku nanya kamu. Barangkali ada kejadian yang bikin bang Alex kesel, apa," tutur Geisha menceritakan kondisi Alex saat tiba di rumah.


"Hmm, Gintan sendiri enggak tahu sih, Ge. 'Kan Gintan enggak ikut juga. Maaf, ya ...."


"Iya Gin, enggak pa-pa. Ya sudah, nanti aku coba tanya sama bang Al, deh. Makasih ya, Gin. Sorry udah ganggu waktunya nih."


"Iya, sama-sama. Enggak ganggu kok, Ge. Gintan enggak lagi sibuk ini," pungkas Gintani.


Geisha memutus sambungan teleponnya. Sejenak, dia menatap kamar Alex yang tertutup rapat. Entah apa yang pria itu lakukan di kamarnya. Hanya saja, kedua bahu Geisha terangkat saat mendengar bunyi pukulan di dinding.


🍁🍁🍁


Beberapa hari berlalu. Merasa sudah baikan, Tuan Jaya memanggil Argha ke rumahnya untuk meminta penjelasan.


"Pagi Bik!" sapa Argha begitu pintu utama terbuka.


"Eh, selamat pagi Den Argha. Alhamdulillah, akhirnya bisa ketemu lagi sama Den Argha," ucap Bik Siti.


Argha hanya tersenyum menanggapi ucapan asisten rumah tangga yang sudah membesarkannya.


"Papa ada, Bik?" tanya Argha.


"Ya sudah, Bik. Argha temui papa dulu. Nanti kita ngobrol lagi ya," pungkas Argha menepuk pelan bahu Bik Siti.


"Nggih, Den," sahut Bik Siti.


Argha kemudian memasuki mansion besar ayahnya dan langsung menuju ruang kerja Tuan Jaya.


Tok-tok-tok!


"Masuk!"


Argha menekan handle pintu dan mendorongnya saat terdengar perintah sang Ayah dari dalam ruangan. Tiba di sana, Argha langsung mendapatkan tatapan tajam dari Tuan Jaya. Sedetik kemudian, Argha duduk di sofa tamu yang berada di ruangan itu. Untuk sejenak, keheningan tercipta di antara mereka. Hingga akhirnya....


"Apa kamu sadar dengan apa yang telah kamu lakukan, Ar?" tanya Tuan Jaya menatap dingin kepada Argha.


Si Tuan Arogan itu hanya bisa diam menanggapi perkataan sang ayah.


"Jawab Papa, Argha! Apa kamu tidak punya mulut, hah?" teriak Tuan Jaya yang sudah merasa geram dengan kebisuan Argha.

__ADS_1


"Bukankah Papa sudah melihat kenyataannya? Lantas, apalagi yang bisa Argha jawab? Papa sangat menginginkan seorang cucu, 'kan? Seharusnya, Papa sekarang bahagia karena keinginan Papa sudah terwujud," tutur Argha tak kalah dinginnya.


Tuan Jaya menghela napas. Dia mulai sedikit mengatur emosinya. Sesaat kemudian, Tuan Jaya menatap sendu putra sulungnya.


"Tapi tidak seperti ini caranya, Ar. Entah berapa banyak lagi kamu akan mempermalukan keluarga kita? Papa ini sudah tua. Papa sudah tak sanggup menerima lagi kejutan demi kejutan dari kamu, Ar. Katakan yang sejujurnya, siapa anak itu? Dan kenapa kamu membawa dia tanpa izin Papa?" tanya Tuan Argha meminta penjelasan anaknya.


Maafkan Argha, Pa. Argha tidak mungkin mengatakan kebenaran tentang Miki kepada Papa. Argha tidak mau menghancurkan perasaan Nadhifa. Argha juga tidak mau menghancurkan kepercayaan Papa terhadap Bram. Biarlah Argha yang berkorban dalam masalah ini. Karena hidup Argha pun sudah tidak berarti lagi tanpa kehadiran Gintani di sisi Argha.


Melihat anaknya kembali diam, Tuan Jaya semakin geram. "Jawab Papa, Ar!"


Teriakan tuan Jaya seketika membuyarkan lamunan Argha.


"Seperti yang sudah Argha bilang, itulah kenyataan yang sebenarnya, Pa. Argha minta maaf jika kenyataan ini membuat Papa kecewa. Tapi Papa juga tidak bisa mengingkarinya. Maafkan Argha. Permisi!"


Tuan Jaya benar-benar tidak percaya mendengar jawaban Argha.


"Tunggu, Argha Putra Adisastra!" teriak Tuan Jaya, menghentikan langkah Argha.


"Siapa ibu dari anak itu? Apakah perempuan itu, Ilona?" cecar Tuan Jaya.


Argha bergeming.


"Jadi benar dia Ilona?" tanya Tuan Jaya penuh tekanan.


Argha masih bungkam.


"Hmm ... pantas saja bertahun-tahun perempuan itu menghilang tanpa kabar. Rupanya dia pergi untuk menyembunyikan hasil perbuatan bejatmu. Ya Tuhan, Ar ... Papa tidak menyangka jika kamu bisa serendah itu memperlakukan wanita. Dan Gintani? Dia akhirnya menjadi korban keegoisan kamu juga. Ya Tuhan ... menantu Papa yang malang ...."


Terserah Papa mau menganggap Argha seperti apa. Namun, yang jelas cinta Argha pada Gintani itu tulus. Meski Argha akui, Argha sering mengecewakan Gintani. Asal Papa tahu, sampai kapan pun, tidak akan ada orang yang bisa menggantikan posisi Gintani di hati Argha, batin Argha.


Tak ingin berdebat lagi, Argha pergi meninggalkan Tuan Jaya di ruang kerjanya.


.


.


Perasaan Heru mulai gusar saat tanpa sengaja mendengar pandangan Gintani terhadap sebuah hubungan. Entah kenapa Heru merasa, Gintani seolah menutup hatinya tentang cinta dan perasaan. Seperti ada luka yang teramat dalam sehingga wanita itu enggan memiliki sebuah hubungan lagi.


Dan Alex? Hmm ... apa sebelumnya Alex pernah mengenal Gintani? Kenapa mereka telihat akrab sekali? Seperti sudah lama saling mengenal saja. Gintani pun seperti tidak merasa canggung lagi untuk bercerita kepada Alex. Seolah tidak pernah ada jarak di antara mereka. Apa mereka mempunyai hubungan spesial jauh sebelum aku bertemu dengannya? batin Heru.


"Ya Tuhan ... aku bisa gila jika hanya menerka-nerka seperti ini. Apa sebaiknya aku bertanya saja kepada Alex?" gumam Heru.

__ADS_1


Heru menghentikan pekerjaannya. Sesaat kemudian, dia keluar untuk menemui Alex di ruangannya.


__ADS_2