
Tuan Jaya tersenyum tipis melihat seorang gadis kecil tengah merajuk kepada ibunya. Entah kenapa, dia teringat Argha kecil yang dulu merengek meminta skateboard sama bundanya. Sama persis dengan apa yang gadis kecil itu lakukan saat ini.
Seorang gadis kecil bermata kecoklatan yang tengah merajuk itu, menarik perhatian Tuan Jaya. Seolah menjadi sebuah magnet yang menarik Tuan Jaya untuk mendekatinya. Namun, saat hanya tinggal beberapa langkah lagi, telepon Tuan Jaya berdering. Sontak Tuan Jaya berbalik badan saat melihat nama ibu mertuanya di layar ponsel.
"Assalamu'alaikum, Bu!" sapa Tuan Jaya kembali melangkahkan kaki ke luar Toserba.
"Permisi, Mas. Saya mau minta tolong untuk membungkus mainan itu. Bisa?" tanya Pak Munir seraya menunjuk skateboard yang tergantung di hadapan gadis kecil yang masih setia merengek.
"Oh, bisa Pak. Sebentar, saya ambilkan dulu," jawab si pelayan.
Pak Munir mengangguk. Dia pun mempersilakan pelayan toko untuk mengambil mainannya.
Si pelayan berjalan menghampiri Putri dan Gintani. "Maaf, Bu. Apa skateboard-nya jadi dibeli?" tanyanya.
Gintani, Putri dan Mina, seketika menoleh. Tampak si pelayan merasa kikuk melihat tatapan heran dari ketiga gadis, pengunjung toko
"Ma-maksud sa-ya, ada orang yang ingin membeli mainan itu. Jika Ibu tidak jadi membelinya, saya akan membungkus mainan tersebut untuk orang itu, Bu," papar si pelayan mencoba menjelaskan kepada pelanggannya agar tidak salah paham.
"Oh, begitu Mas. Silakan, ambil saja Mas. Saya tidak jadi kok, beli mainan itu," balas Gintani.
"Ish, Mama ..." rengek Putri yang sepertinya tidak rela jika mainan itu jatuh ke tangan orang lain.
"Sudah, Put. Itu bukan mainan kamu. Kalau kamu mau beli mainan, belilah sesuai dengan usia dan gender kamu, Put" ucap Gintani, lembut.
"Ah, Mama enggak asyik, Putri enggak mau!" balas Putri, berlalu pergi dari hadapan Gintani seraya menghentak-hentakan kedua kakinya.
Haish, anak itu, keluh Gintani dalam hati. "Min, tolong kamu ikuti Putri, saya ingin membeli dulu kebutuhan untuk menjahit," perintah Gintani.
"Baik, Nyonya," Sahut Mina.
Setelah berpamitan, Mina kemudian keluar toko untuk mencari keberadaan Putri.
Di kassa utama. Pak munir masih setia menunggu seorang pelayan yang sedang membungkus mainan pesanannya. Dari kejauhan, dia mengamati anak yang sepertinya marah karena tidak mendapatkan keinginannya.
Aih, kenapa tingkah laku anak itu mirip sekali dengan den Argha? batin Pak Munir.
Berjalan sambil menggerutu saat merajuk, mengingatkan Pak Munir kepada sosok Argha kecil saat sang bunda tidak mengikuti keinginan.
Ah, Bunda enggak asyik. Adi enggak mau, ah! gerutu Argha saat Bunda Dewi membelikan sepatu roda dan bukan skateboard yang diinginkan.
__ADS_1
"Silakan, Pak. Hadiahnya sudah jadi," ucap pelayan toko yang sontak membuyarkan lamunan Pak Munir.
"Eh, iya Mbak. Semuanya jadi berapa?" tanya Pak Munir mengeluarkan dompetnya.
"Dua ratus ribu, Pak," jawab pelayan toko.
Tanpa banyak bicara, Pak Munir menyerahkan uang untuk pembayaran skateboard yang diminta majikannya. Sejurus kemudian, dia berjalan ke luar toko untuk menyusul gadis kecil yang masih asyik bersungut-sungut.
"Nak, tunggu!" panggil Pak munir saat berada do belakang, beberapa meter dari gadis kecil itu.
Seorang gadis berperawakan tinggi. Namun, cukup lincah dalam bergerak, membuat napas Pak Munir ngos-ngosan mengejarnya. Lagi-lagi, cara berjalan cepatnya mengingatkan dia pada Argha jika sedang merasa kesal dan pergi begitu saja.
Putri menghentikan langkah saat mendengar seseorang memanggilnya. Dia kemudian membalikkan badan. Dahinya mengernyit saat melihat pria tua yang mendekatinya setengah berlari.
Tak tega melihat kondisi Pak tua yang terengah-engah, putri pun melangkahkan kaki untuk menghampirinya.
"Apa kakek memanggil Putri?" tanyanya begitu tiba di hadapan pria tua itu.
Pak munir tersenyum. Namun, dahinya sedikit berkerut saat melihat guratan yang tidak asing terpahat pada wajah gadis kecil di hadapannya. Kenapa gadis ini begitu mirip dengan mendiang nyonya Dewi?
"Kek, kok kakek ngelamun?" tegur Putri yang merasa heran saat pria itu terpaku sembari menatapnya tanpa berkedip.
"Terus ... kenapa bengong?" tanya Putri yang semakin heran melihat kakek tua yang tampak kikuk.
"Kakek hanya merasa jika Kakek pernah melihat kamu, tapi di mana, ya?" ucap Pak Munir seraya memainkan janggutnya yang sudah memutih.
"Hmm, Kakek aneh!" tukas Putri sambil hendak pergi dari hadapan pria tua itu.
"Eh, mau ke mana?" ucap Pak Munir, mencekal pergelangan gadis kecil itu.
"Putri mau pulang, Kek. Putri bosan berada di sini," ucap Putri.
"Kok, bosan," tukas Pak Munir.
"Habisnya mama ngelarang Putri buat beli mainan yang Putri suka," jelas Putri.
"Ya sudah, lupakan soal mainan itu. Ini, kakek punya sesuatu buat kamu," ucap Pak Munir menunjukkan kado yang sedari tadi dibawanya.
"Apa itu, Kek?" tanya Putri mengerutkan kening.
__ADS_1
"Anggap aja ini hadiah untuk kamu, Nak," jawab Pak Munir.
Putri semakin menautkan kedua alisnya. Jujur saja, dia sendiri merasa penasaran dengan bungkusan kado yang cukup besar. Namun, saat tangannya hendak terulur untuk mengambil kado tersebut. Tiba-tiba pepatah ibunya mengiang di telinganya.
"Jangan pernah menerima pemberian orang asing. Ingat itu!"
Putri pun menarik tangannya kembali, membuat pak munir mengerutkan keningnya yang memang sudah keriput
"Loh, kenapa enggak jadi diambil, Nak?" tanya Pak Munir.
"Maaf, Kakek. Mama ngelarang Putri supaya enggak menerima pemberian dari orang asing, jawab Putri polos.
Pak Munir tersenyum. Sedetik kemudian, dia mengulurkan tangan untuk bersalaman dengan Putri.
"Nama saya, Munir Syamsuddin. Tapi, kamu bisa panggil kakek dengan nama Pak Munir," ucap Pak Munir panjang lebar.
"Oh, saya Putri, Kek. Adina Putri Disastra. Tapi ... Kakek boleh panggil Putri Putri. Soalnya orang-orang di sini panggil Putri juga," balas Putri.
Akhirnya, tangan Putri dan Pak Munir berjabatan sebagai simbol pertemuan mereka.
"Nah, karena sudah tidak asing lagi. Sekarang Putri mau, 'kan menerima hadiah kecil dari Kakek?" kata Pak Munir kembali menawarkan kado yang dibelinya memang khusus Putri.
"Apa ini, Kek?" tanya Putri, heran.
"Buka saja!" perintah Pak Munir.
Putri berjongkok untuk menyimpan kado tersebut. Dia pun ikut duduk bersila di atas lantai. Dengan cekatan, dia merobek kasar bungkus kertas kado yang membungkus kotak itu.
Kedua bola matanya membelalak sempurna saat melihat skateboard yang tadi tergantung jelas di hadapannya.
"Apa benar ini untuk Putri, Kek?" tanya Putri memastikan.
"Tentu saja, memangnya siapa lagi orang yang berada di sini selain kita?" jawab Pak Munir.
"Hehehe ..." Putri hanya cengegesan mendengar gurauan Pak Munir
"Dengan ragu, tangannya terulur untuk mengambil skateboard dari tangan Pak Munir.
"Sudah, terima saja!"
__ADS_1