Aku Yang Tak Diakui

Aku Yang Tak Diakui
Lagi-lagi, Skandal CEO


__ADS_3

Pasangan raja dan ratu sehari itu berjalan begitu gagah dan anggunnya menuju pelaminan. Setelah melakukan acara sungkeman, mereka kemudian berdiri diapit oleh kedua orang tua masing-masing untuk menerima ucapan selamat dan do'a dari para tamu undangan yang hadir di ballroom hotel Crown.


Satu per satu, para tamu menaiki pelaminan untuk mengucapkan selamat dan mendo'akan kelanggengan pernikahan Nadhifa dan Bram. Begitu juga dengan Alex. Karena rasa setia kawannya terhadap Bram, akhirnya Alex memutuskan untuk menghadiri pernikahan sahabat baiknya itu.


"Selamat ya, Bram," ucap Alex begitu tiba di hadapan sahabatnya.


"Alhamdulillah Al, akhirnya kamu datang juga. Padahal tadi malam aku sempat kecewa karena Kevin bilang, kamu tidak akan datang," jawab Bram.


"Manusia hanya punya rencana, Bram. Tuhan juga yang menentukan," balas Alex, selalu bijaksana dalam memilih kalimat untuk menjawab.


"Hahaha, kamu benar, Al. Ayo, silakan dinikmati jamuannya!" lanjut Bram sambil menepuk pelan bahu sahabatnya.


Alex tersenyum, dia kemudian melanjutkan langkahnya dan berhenti di depan Nadhifa. "Selamat ya, Fa," kata Alex.


"Terima kasih, Kak," jawab Nadhifa.


"Semoga langgeng sampai tua," lanjut Alex.


"Aamiin," pungkas Nadhifa.


Setelah foto bersama, Alex turun dari pelaminan. Dengan langkah tegap, dia berjalan menuju stand-stand makanan dan mulai mencicipi jamuannya. Tiba-tiba, pandangan Alex terkunci pada seorang anak kecil yang tengah duduk sendirian di meja VVIP. Melihat wajahnya yang berkharisma, menjadi magnet tersendiri bagi Alex untuk mendekati anak laki-laki tersebut.


🍁🍁🍁


Di lain tempat, Aldi semakin gelisah. Ayahnya terus mendesak dia untuk menikah lagi. Sementara, di hati Aldi telah terpatri nama Aira begitu kuat. Aldi sendiri tidak tahu apakah dia bisa jatuh cinta lagi terhadap perempuan lain selain mantan istrinya?


Ya Tuhan ... harus ke mana mas Aldi cari kamu, Ra? batin Aldi.


Tiba-tiba, terdengar ketukan di pintu kamar Aldi. Pria yang sudah menduda lama itu, hanya bisa menghela napasnya dengan berat. Dia yakin jika orang yang tengah berdiri di balik pintu adalah Tuan Satria, ayah kandungnya.


Tok-tok-tok!


"Di, apa Papa boleh masuk?" tanya Tuan Satria di balik pintu.


"Ya, sebentar Pa!" teriak Aldi menjawab pertanyaan ayahnya.


Sedetik kemudian, Aldi turun dari ranjang. Dia mulai mengenakan sandal rumah dan segera berjalan menuju pintu.


Klek!


Aldi membuka kunci pintu kamarnya. Dia tersenyum tipis saat melihat sang ayah tersenyum lebar di depannya.

__ADS_1


"Bangun tidur, Di?" tanya Tuan Satria seraya berjalan memasuki kamar putranya.


"Enggak, Pa," jawab Aldi, berjalan di belakang Tuan Satria.


"Kok enggak gabung untuk sarapan?" Tuan Satria kembali bertanya.


"Lagi malas, Pa," jawab Aldi.


Tuan Satria hanya tersenyum. Sejurus kemudian, dia pun duduk di tepi ranjang Aldi. Matanya kembali menatap sendu putra keduanya.


Melihat gelagat Tuan Satria yang menatapnya seperti itu, seketika hati Aldi merasa tidak nyaman. Hmm, papa pasti mau ngomongin soal perjodohan lagi, nih, batinnya.


Dan ternyata benar, Tuan Satria memang datang untuk membicarakan rencana pertemuan keluarganya dengan keluarga sang teman.


"Sekali lagi, tolong jangan salah paham dulu, Di. Papa hanya ingin mengenalkan perempuan itu sama kamu, bukan menjodohkan! Hanya itu saja," pungkas Tuan Satria sebelum akhirnya keluar dari kamar Aldi.


🍁🍁🍁


Di ballroom hotel Crown.


Resepsi yang diadakan sesaat setelah akad nikah, berjalan dengan sangat meriah. Tampak kolega kedua belah pihak berdatangan. Tak ingin merasa sesak dengan suasana pesta, Alex mendekati anak kecil tadi. Terlebih lagi, entah kenapa wajah dingin anak itu sangat menarik perhatiannya.


"Boleh Om duduk di sini?" tanya Alex begitu tiba di meja VVIP yang sedang diduduki anak itu sendirian.


Alex mengernyitkan kening melihat sikap dingin dan jawaban yang begitu singkat. Ekspresi wajahnya begitu datar. Sama sekali tidak ada senyum menghiasi anak itu. Biasanya anak seumuran dia, akan terlihat senang dengan suasana pesta, tapi dia? Entah kenapa kalau Alex merasa ada yang berbeda dalam diri anak tersebut.


"Mama papa kamu di mana?" tanya Alex.


Tiba-tiba saja, anak itu mengalihkan pandangannya. Dia menatap Alex dengan tatapan sinis dan tajam. Sungguh, itu adalah pertanyaan yang paling dia benci dalam hidupnya.


Ya! Miki paling tidak suka ketika ada orang yang menanyakan kedua orang tuanya. Pertanyaan itu hanya menambah kebencian Miki terhadap Argha dan almarhumah Ilona yang dia ketahui sebagai kedua orang tuanya.


Karena tak mendapatkan jawaban, Alex kembali bertanya, "Nak, apa kamu mendengar pertanyaan Om, mama papa kamu ada di mana? Kenapa kamu hanya duduk sendirian di sini?"


Miki menghela napasnya. Dia sama sekali tidak berniat menjawab pertanyaan orang yang tidak dikenalinya. Masih dengan ekspresi yang sangat datar, telunjuk mungil Miki menunjuk ke arah Argha yang sedang asyik berbincang-bincang dengan para koleganya yang datang dari luar kota.


Wajah Alex seketika memerah bak kepiting rebus saat telunjuk Miki mengarah kepada Argha. Kedua rahang tegasnya mengeras karena merasa marah kepada sahabat yang paling arogan itu.


"Uuh, ulah apalagi yang dia buat?" gumam Alex.


Tak ingin menahan rasa penasaran lebih jauh lagi, Alex kemudian menghampiri Argha dan langsung menyeretnya.

__ADS_1


"Eh, apa-apaan ini?" tanya Argha, sedikit bingung dengan ulah rivalnya itu.


Alex tidak menghiraukan pertanyaan Argha. Dia terus menyeret Argha menuju sudut ruangan. Hingga tiba di sana, Alex menghempaskan tubuh Argha.


"Ish, lo udah enggak waras, Al ... maen seret orang seenaknya," dengus Argha seraya merapikan kembali jasnya.


Alex menghampiri Argha. Kedua tangan )nya mencengkeram kerah jas yang dikenakan Argha.


"Sekarang juga katakan padaku kebenarannya, apa dia anakmu, hah?" tanya Alex, geram.


Argha yang memang tidak mengerti apa-apa, hanya bisa bergeming menanggapi pertanyaan Alex.


"Jawab gue Ar, apa dia anak lo?" teriak Alex.


Karena tak mampu menguasai emosinya, Alex berbicara cukup keras kepada Argha. Tanpa dia sadari, teriakannya telah menjadi pusat perhatian para tamu undangan yang tengah menikmati jamuan. Tak terkecuali dengan keluarga Bram dan Nadhifa yang tengah duduk di meja VVIP. Sontak kedua keluarga itu menoleh untuk mencari sumber suara.


Mendengar keributan dari sudut ruangan, kedua keluarga itu akhirnya beranjak hendak menghampiri Alex dan Bram yang sedang bersitegang.


"Gua tanya sekali lagi, apa anak kecil yang sedang duduk di meja VVIP itu, anak lo, Ar?!"


Alex kembali bertanya penuh penekanan. Telunjuk Alex menunjuk ke arah Miki yang sedang duduk tegak melipat kedua tangan di dadanya.


Seketika, semua orang menoleh ke arah bocah kecil bertampang dingin yang seolah tidak terusik dengan keributan yang terjadi.


Sekilas, Argha melirik anak itu. Dalam hati dia kembali merutuki mendiang Ilona yang telah memberinya beban seberat ini. Tak ingin membuat Alex salah paham, Argha pun memutuskan untuk menyangkal tuduhan Alex.


"Dia bu–"


"Ada apa ini?"


Kalimat Argha terhenti saat dia mendengar pertanyaan adiknya. Dia melihat Nadhifa dan Bram sudah berdiri di sampingnya.


"Ya, dia anak gua, puas lo!" teriak Argha.


Bugh!


Satu pukulan, mendarat tepat di rahang kanan Argha.


"Kau?! Dasar bajingan! Ingat Argha Putra Adisastra. Hari ini aku tidak akan main-main dengan ucapanku. Akan aku rebut Gintani dari tanganmu untuk selamanya. Camkan itu!"


Tak ingin mengacaukan pesta sahabatnya, Alex pun pergi. Dadanya bergemuruh karena menahan amarah yang begitu membuncah. Seandainya ini bukan di sebuah pesta, tentunya dia akan menghajar habis CEO arogan itu. Alex benar-benar tak menyangka. Lagi-lagi, CEO arogan itu membuat skandal.

__ADS_1


Ya Tuhan, Gin ... entah apa yang akan terjadi sama kamu jika kamu masih bersanding dengan CEO busuk itu!


__ADS_2