Aku Yang Tak Diakui

Aku Yang Tak Diakui
Diskors


__ADS_3

Di ruangan Pak Budi, ada sekitar lima belas para ibu muda yang sedang melayangkan sebuah tuntutan kepada pihak sekolah. Ya! Mereka merasa dirugikan dengan keberadaan Miki di sekolah ini. Pasalnya, selalu ada kejadian yang membuat anak-anak mereka mengalami cedera jika berkelahi dengan Miki.


Sebenarnya, Miki bukanlah anak yang senang memancing keributan. Dia sendiri membenci dengan yang namanya perkelahian. Namun, emosi Miki begitu labil. Sekali saja ada yang menyinggung dirinya, maka dia akan bertindak seperti singa yang sedang mencabik-cabik mangsanya.


Seperti kejadian hari ini. Berniat menolong teman perempuan sekelasnya, Miki malah terlibat perkelahian dengan lima orang kakak kelasnya. Cibiran kelima anak itu tentang statusnya membuat darah Miki mendidih. Tak ayal lagi, Miki melayangkan tendangan mautnya kepada kelima anak laki-laki tersebut hingga jatuh terjungkal.


"Sudah kubilang, jangan pernah mengungkit keberadaan aku di sini. Ini akibatnya jika kalian terlalu ikut campur terhadap pribadi orang lain," ucap Miki dingin seraya menghempaskan tubuh Dion yang lagi-lagi menjadi provokator kelima kakak kelasnya.


Miki meraih tangan mungil Clara. Tanpa berbicara sepatah kata pun, dia menarik tangan Clara untuk segera pergi dari balik pohon beringin yang cukup sepi. Tiba di halaman belakang, Miki menyuruh Clara untuk duduk di bangku taman.


"Tunggulah!" perintah Miki singkat.


Setelah memberikan perintah kepada Clara, Miki pergi ke kantin untuk membeli air mineral. Tak lama kemudian, dia kembali lagi ke taman belakang untuk menemui teman sekelasnya.


"Minumlah!" titah Miki seraya memberikan sebotol air mineral kepada Clara.


Tangan mungil Clara terulur untuk meraih botol air mineral yang diberikan Miki. Sedetik kemudian, Clara mereguk minumannya.


Miki sama sekali tidak berniat untuk bertanya tentang apa yang telah menimpa gadis kecil itu. Dia sendiri bukan tipe anak yang suka ikut campur urusan orang lain. Karena itu, Miki hanya bisa berdiri di samping Clara seraya menyusupkan kedua tangannya di balik saku celana seragam.


"Te-terima ka-sih," ucap Clara terbata.


"Hmm." Hanya dehaman yang menyahuti ucapan terima kasih Clara.


"A-apa ka-mu tidak i-ngin bertanya tentang ke-kejadian barusan?" tanya Clara masih berbicara dengan terbata-bata.


"Bukan urusanku!" sahut Miki.


Clara diam. Memang benar itu bukan urusan Miki. Tapi setidaknya, temannya itu bisa sedikit bersikap baik dengan hanya menjadi pendengar keluh kesahnya.


Merasa tidak ada gunanya dia duduk bersama teman pendiam seperti Miki, Clara pun akhirnya pamit undur diri.


"A-aku pergi dulu. Sekali lagi, terima kasih atas bantuannya," pungkas Clara sembari beranjak dari bangku taman. Sedetik kemudian, Clara pergi meninggalkan Miki sendirian di bangku taman.


Miki diam. Sedikit pun dia tidak menoleh kepergian temannya itu.

__ADS_1


🍁🍁🍁


Bram mendekati meja sekretaris. Sejak mendengar sesuatu terjadi kepada keponakannya, hati Bram tergelitik untuk bertanya kepada Hena. Pikirnya, mungkin saja Hena mengetahui apa yang terjadi di sekolah Miki.


"Apa pihak sekolah membicarakan sesuatu yang melibatkan anak Bos?" tanya Bram.


Hena mendongak mendapatkan suara seseorang yang datang tiba-tiba. Dahinya sedikit berkerut saat melihat asisten bosnya sudah berdiri di hadapannya. Hena sendiri tidak cukup mendengar apa yang diucapkan sang asisten. Dirinya tengah sibuk mengkaji ulang jadwal Argha esok hari.


"Eh, Pak Bram. Ada yang bisa saya bantu?" tanya Hena, sambil mengenakan kacamata tebalnya.


"Hhh ..." Bram menghela napas. Sekretaris baru kakak iparnya ini, selain culun, ternyata dia juga cukup lemot dalam menanggapi sesuatu. Bram sendiri heran, entah atas dasar apa sehingga Mita merekomendasikan orang ini. Padahal, dari segi penampilan dan ketangkasannya, sungguh berbanding terbalik dengan pribadi Mita sendiri.


Bram menarik kursi yang berada di depan meja sekretaris. Dia kemudian mendudukinya. Kedua tangannya bertumpu pada meja seraya sedikit mencondongkan badan.


"Apa kamu tahu apa yang terjadi di sekolah anaknya pak Argha?" tanya Bram setengah berbisik.


"Maksud Bapak?" tanya Hena, membenarkan kacamatanya yang melorot karena harus menunduk mendengarkan bisikan Bram.


Lagi-lagi, Bram menghela napasnya. Dia pun kembali duduk tegak seraya jari telunjuknya mengetuk-ngetuk meja sekretaris. Hatinya benar-benar diuji oleh sikap sang sekretaris.


Hena ikut-ikutan duduk tegak. Lagi-lagi dia membenarkan kacamatanya. Entah memang wajahnya yang tirus, atau memang kacamatanya yang kebesaran, sehingga Hena harus berulang kali membenarkan kacamata yang selalu saja melorot melewati setengah hidungnya.


"Maaf, Pak. Saya tidak tahu. Tadi pihak sekolah tak ada ngomong apa-apa sama saya. Dia hanya meminta pak Argha untuk datang saja. Saat saya bertanya, orang itu malah bilang to–"


"Cukup-cukup!" kata Bram memotong pembicaraan Hena.


Huh, jadi tidak ada gunanya aku duduk dari tadi di sini jika tidak mendapatkan berita apa pun, dengus Bram dalam hatinya.


Dengan perasaan dongkol, Bram kembali ke ruangannya. Namun, entah kenapa hati dan pikirannya merasa tidak tenang. Sekelebat bayangan Miki melintas di benaknya. Memang tidak ada yang menarik dari bocah yang kini sudah berusia sepuluh tahun itu. Namun, sampai detik ini, Bram masih penasaran dengan maksud Argha mengadopsi anak itu.


Anak siapa sebenarnya Miki? Kenapa Argha sebegitu membelanya sampai-sampai rela kehilangan hak waris dari papa? batin Bram seraya mengetuk-ngetukkan kembali jari telunjuknya di atas meja.


🍁🍁🍁


"Tunggu! Saya berani jamin jika Miki sama sekali tidak memiliki kemampuan bela diri. Jadi, bagaimana mungkin dia bisa menendang putra kalian hingga terkapar seperti itu," tukas Argha saat para ibu-ibu muda itu mengeluhkan sikap brutal Miki.

__ADS_1


"Jika memang putra Anda tidak bisa bela diri, lalu apa artinya ini? Coba lihat ini!" teriak Bela seraya mengangkat baju seragam bagian atas putranya. Tampak warna kebiruan di sekitar perut putranya.


"Iya, Jeng. Jangan percaya ucapan Pak Argha. Dia hanya ingin menutupi kelakuan anaknya yang seperti preman. Orang anak saya aja sampai dibuat ompong sama si Miki," timpal Nyonya Gita yang masih memiliki dendam kepada Miki.


Argha hanya bisa membuang napasnya dengan kasar. Rasanya sulit dipercaya jika anak pendiam seperti Miki, bisa melakukan kekerasan. Apalagi terhadap teman sekolahnya.


"Jika Anda tidak percaya dengan apa yang kami katakan, Anda bisa bertanya pada anak perempuan itu!" lanjut Nyonya Gita seraya menunjuk anak pembantunya yang sedang menundukkan kepala.


"Tolong katakan yang sebenarnya, Miki. Atau papa harus bertanya pada gadis kecil itu?" kata Argha seraya menatap lekat ke arah Miki.


Miki bergeming. Dia sama sekali tidak berniat untuk menjawab pertanyaan Argha. Baginya, semakin Argha menanggung malu, maka hatinya semakin merasa senang.


"Huft!"


Lagi-lagi Argha membuang napasnya dengan kasar. Dia pun melirik anak perempuan yang masih menundukkan kepala.


"Tolong katakan sama Om, apa kamu memang melihat Miki berkelahi dengan kakak kelasnya? Apa memang dia yang telah menendang mereka?" tanya Argha.


"Be-nar, Om," jawab lirih Clara yang langsung membuat tubuh Argha merasa lemas.


"Tuh, benar, 'kan? Ini sudah ada saksinya loh, Pak Budi. Jadi kami harap, Pak Budi bisa menindak tegas anak pembuat onar itu. Memangnya Pak Budi mau, jika sekolah ini dicap menjadi sekolah preman?" tekan Nyonya Gita.


"Putra saya bukan preman, Nyonya! Jangan sembarangan kalau bicara. Lagi pula, putra saya pasti memiliki alasan kenapa dia melakukan itu. Siapa tahu jika putra kalian mengganggu putra saya, hingga putra saya berbuat nekat," tukas Argha membela Miki.


"Sudah cukup. Semuanya dimohon tenang!" teriak Pak Budi selaku kepala sekolah.


"Saya paham dengan keluhan ibu-ibu yang merasa khawatir dengan keselamatan para putranya di sini. Namun, seperti apa yang dikatakan Tuan Argha, kita juga tidak bisa menghakimi seseorang secara sepihak. Sekarang, kita dengarkan saja penjelasan Miki kenapa dia sampai bertindak kasar seperti itu kepada kakak kelasnya," tutur Pak Budi, menengahi perdebatan para wali murid.


Pak Budi menatap Miki. "Baiklah Nak Miki, sekarang katakan kebenarannya kepada kami. Apa alasan Nak Miki hingga bisa berkelahi dengan kakak kelas?" tanya Pak Budi dengan suara yang cukup lembut.


"Tadi Bapak berniat menskors saya, 'kan? Katakan saja untuk berapa lama saya diskors?"


Bukannya menjawab, Miki malah menantang hukuman yang memang telah terucap sebelumnya dari bibir Pak Budi. Sebuah jawaban menantang yang membuat mulut Argha dan pak Budi menganga seketika. Sedangkan para ibu-ibu muda itu, mereka tersenyum tipis. Setidaknya, untuk beberapa waktu dia tidak akan mencemaskan keberadaan putra putrinya di sekolah, jika sampai Miki diberikan hukuman skors.


Tak ingin memperpanjang urusan, akhirnya Pak Budi memutuskan satu bulan skors sebagai hukuman dari perbuatan yang telah dilakukan Miki.

__ADS_1


"Kalau tidak ada yang ingin dibicarakan lagi, saya permisi!"


__ADS_2