Aku Yang Tak Diakui

Aku Yang Tak Diakui
Dia Ibumu!


__ADS_3

Argha menyandarkan punggung pada sandaran kursi kebesarannya. Dia mulai memikirkan langkah apa yang akan dia ambil untuk masa depan Miki. Tidak mungkin Argha terus menyembunyikan Miki di apartemennya. Lambat laun, keluarganya pasti akan mengetahui keberadaan Miki. Hmm, apa sebaiknya aku bilang soal adopsi Miki kepada papa dan Nadhifa? pikir Argha.


Sementara itu, di meja sekretaris. Tampak Bram dan Nadhifa tengah berbincang. Entah apa yang mereka bicarakan. Namun, dari raut wajah keduanya, sepertinya mereka sedang memiliki kebingungan.


"Apa Kakak tahu untuk apa kak Argha pergi ke Amerika?" tanya Nadhifa.


"Entahlah, Fa. Sejak tahu jika dia telah tertipu Ilona, kakak kamu itu seperti orang asing saja bagiku. Dia sudah tidak pernah berbagi apa pun lagi sama Kakak," jawab Bram.


"Hmm, Kak Bram benar," timpal Nadhifa, "bahkan kak Argha pun sudah berubah menjadi laki-laki introvert," imbuhnya.


"Ya sudah, Fa. Kita beri dia waktu saja. Mungkin memang dia butuh menyendiri untuk menyadari semua kesalahannya," ujar Bram.


"Hhh, padahal rumah tangganya sudah mulai harmonis sebelum wanita jahat itu datang. Uuh, semoga saja dia digodok terus di neraka," dengus Nadhifa penuh emosi.


"Huss, enggak boleh gitu, Fa!" tegur Bram.


"Kenapa? Engga rela mantan ceweknya Fa kutuk," sewot Nadhifa.


"Ish, Fa ... kok jadi menjalar ke sana, sih? Udah ah, Kak Bram mau kerja dulu. Positif thinking saja, bentar lagi kita nikah. Kak Bram enggak mau ya, urusan yang lalu diungkit lagi," tegas Bram. Sedetik kemudian, Bram beranjak dari kursi di hadapan Nadhifa dan memasuki ruang kerjanya.


🍁🍁🍁


Heru mengetuk pintu kamar adiknya.


"Masuk!" teriak sang adik dari dalam kamarnya.


Heru menekan handle dan mendorong daun pintu. Tampak Aldi duduk bersandar pada dashboard ranjang seraya menyelonjorkan kedua kakinya. Kedua tangannya terlipat di dada. Sejenak, dia menatap Heru. Namun, sedetik kemudian dia kembali menatap foto Aira yang berada di pangkuannya.


"Apa kabar, Di?" tanya Heru.


"Hmm, seperti yang kamu lihat, Mas," jawab Aldi.


"Kamu tahu, 'kan kenapa Mas disuruh pulang sama papa?" tutur Heru.

__ADS_1


"Hhh, pasti soal perjodohan lagi," tebak Aldi.


Heru duduk di tepi ranjang. Sejenak, dia menarik napas panjang dan mengembuskannya dengan perlahan.


"Maafkan Mas, Di. Jujur saja, Mas tidak ingin ikut campur terlalu jauh. Namun, melihat wajah papa murung, Mas enggak tega, Di," ungkap Heru.


"Mas tahu kamu sangat mencintai Aira. Tapi kamu sendiri tahu jika Aira telah pergi dari hidup kamu. Mau sampai kapan kamu menunggu dia kembali, Di? Sampai senyum papa sirna karena tiada?" cecar Heru.


"Astaghfirullah, Mas. Kok Mas ngomongnya gitu, sih. Bukannya do'ain yang baik-baik buat kelangsungan hidup papa,"tukas Aldi.


"Jangan salah paham dulu, Di. Tentu saja Mas selalu mendo'akan yang terbaik untuk papa. Tapi kamu juga harus meyakini kalau sesuatu yang bernyawa, pasti akan mengalami kematian juga," papar Heru.


"Iya, Mas. Tapi Aldi juga sedang berusaha untuk mencari Aira. Aldi yakin Aldi bisa menemukan Aira sama anak Aldi, Mas," sanggah Aldi.


Kini Heru yang menghela napasnya. "Iya, Di. Mas salut sama keyakinan kamu. Semoga saja kamu bisa menemukan Aira sebelum papa yang pergi meninggalkan kamu, kata Heru seraya menepuk bahu sang adik. "Mas keluar dulu, besok Mas akan coba bantu kamu buat cari Aira. Kebetulan Mas cuti kerja selama dua hari," imbuhnya.


"Makasih, Mas," kata Aldi.


"Hmm, sama-sama," pungkas Heru seraya beranjak dari kamar Aldi.


🍁🍁🍁


"Sudah siap, Ki?" tanya Argha saat menjemput Miki di apartemen.


Miki enggan menjawab pertanyaan Argha. Dia mengayunkan langkahnya ke luar apartemen.


Sekali lagi, Argha hanya bisa mengelus dada melihat sikap bocah itu. "Mungkin dosa hamba terlalu besar, hingga Engkau memberikan hamba ujian melalui anak itu," gumam Argha. Dia kemudian menyusul Miki yang sudah duluan manaiki lift.


Setelah melewati perjalanan selama 45 menit, akhirnya mereka tiba di tempat pemakaman umum.


Miki mengernyitkan keningnya. Dia heran kenapa orang dewasa itu membawanya ke tempat ini? Apa tujuannya? Apa dia ingin melenyapkan aku? Berbagai pikiran buruk timbul dalam benak Miki.


"Untuk apa kita kemari?" tanya Miki masih dengan bahasa tubuhnya yang kaku.

__ADS_1


"Turunlah, nanti juga kamu akan tahu sendiri," jawab Argha.


Tak ingin beradu argumen lagi, Miki pun turun dari mobil. Dia mengikuti Argha yang sudah berjalan duluan. Setelah melewati beberapa blok, akhirnya mereka tiba di depan makan Ilona.


"Chantika Ilona Prasetya," gumam Miki. Apa dia orang yang sama yang mengaku sebagai kakakku Ilona Prasetya? batin Miki.


"Makam siapa ini? tanya Miki, dengan nada yang dingin.


Argha berjongkok di depan makam itu. "Ini makam kakak kamu," jawab Argha.


Miki bergeming.


Ternyata ini makam orang yang sama, yang mengaku sebagai kakakku, padahal dia ibuku. Huh, pantas saja dia sudah tidak menghubungi aku lagi. Rupanya dia telah mati.


Miki bermonolog dalam hatinya. Entah kenapa, semuanya terasa hambar. Tak ada gurat kesedihan yang terlihat pada raut wajah Miki.


"Berjongkoklah, Ki. Kita do'akan agar kakak kamu diberikan tempat yang terbaik di sisi Tuhan," ucap Argha.


Miki masih bergeming di tempatnya. "Percuma, dia lebih pantas tinggal di neraka daripada di sisi Tuhan," gumam Miki yang masih bisa di dengar oleh Argha.


Seketika Argha bangkit dan berteriak. "Miki! Jaga bicaramu!" Argha begitu emosi mendengar perkataan Miki.


"Kenapa? Apa aku salah? Apa hukumannya bagi seorang ibu yang tidak mau mengakui anak kandungnya sendiri? Dosa!! Dosa yang sangat besar. Tak ada yang tak mungkin, Tuhan Maha Pengampun. Tapi ampunan tersebut akan orang dapatkan jika dia bertobat. Lalu, apakah Anda yakin jika wanita yang terbaring di bawah tanah itu sudah bertobat? Bahkan hingga ajal menjemputnya pun, wanita itu tidak pernah mau mengakui aku sebagai anaknya. Apa orang seperti itu akan mendapatkan tempat di sisi Tuhan, hah?" jawab Miki panjang lebar.


Sungguh sebuah jawaban yang sangat mengejutkan bagi Argha. Ilona bilang jika selama ini Miki mengenal dia sebagai kakak perempuannya. Tapi pada kenyataannya, Miki telah mengetahui keadaan yang sebenarnya. Dia tahu jika selama ini Ilona adalah ibu kandungnya.


"Dengar Miki, urusan pengampunan dan tempat yang terbaik, itu adalah urusan Tuhan. Tugas kita hanya mendo'akan orang yang sudah meninggal, semoga Tuhan mengampuni segala dosanya dan menempatkannya di tempat yang terbaik," ucap Argha, memegang kedua pundak Miki.


"Aku tidak butuh ceramah Anda!" jawab Miki sambil menepiskan kedua tangan Argha dari pundaknya. Miki kemudian pergi meninggalkan Argha.


"Dia ibumu, Miki! teriak Argha.


"I don't care!" jawab Miki tak berniat untuk menghentikan langkahnya

__ADS_1


Astaghfirullah, Bram ... gue nggak tahu lagi harus bagaimana ngedidik anak lo....


__ADS_2