
Hari demi hari terus berlalu. Sudah hampir dua minggu Miki tinggal di apartemen laki-laki yang dia anggap ayah. Meskipun merasa bosan, tapi Miki tidak bisa pergi ke mana-mana. Jangankan negara, kota ini pun terlalu asing bagi Miki. Setiap hari, hanya jalanan padat yang dia lihat dari balik jendela kamarnya.
"Apa kau merasa bosan di rumah?" tanya Argha, pagi ini.
"Menurut Anda?" Miki malah balik bertanya, hingga membuat Argha kembali menghela napasnya.
"Baiklah, siang ini kita akan pergi ke supermarket. Kebetulan stok bahan makanan sudah menipis juga. Nanti Om akan menjemput kamu pada saat jam makan siang," kata Argha.
Miki tersenyum sinis.
Om, bahkan kamu menyebut dirimu sendiri dengan panggilan om di depan anakmu. Cih, ayah macam apa? Kalian memang benar-benar pasangan yang menjijikkan, batin Miki menatap tajam pria dewasa di hadapannya.
Astaga! Tatapan anakmu, Bram ... keluh Argha dalam hatinya.
Sungguh sebuah tatapan yang bisa membuat ngilu orang yang sedang dipandangnya. Beruntungnya Argha pun memiliki karakter yang tak kalah dinginnya dengan Miki. Tatapan seperti itu tidak akan pernah berarti apa-apa bagi Argha si tuan arogan.
"Cepat habiskan makanannya, keburu dingin!" perintah Argha.
Miki memutus tatapannya. Dengan begitu santainya, dia meletakkan sendok di atas piring.
"Aku kenyang," jawab Miki seraya turun dari kursi. Tanpa permisi, dia meninggalkan Argha yang lagi-lagi mengusap dadanya.
🍁🍁🍁
Heru terlihat bahagia setelah berhasil membujuk Gintani untuk menerima pengasuh anaknya lagi. Setidaknya, dengan adanya Nina di rumah Gintani, Heru bisa memantau kegiatan Gintani sehari-hari.
Selain sebagai pengasuh, Mina juga merupakan orang kepercayaan Heru yang selalu melaporkan kegiatan Gintani di rumahnya dulu. Entahlah, hanya mendengar wanita berhijab itu sedang mengerjakan pekerjaan rumah saja, sudah membuat hati Heru berbunga-bunga.
Hmm, mungkin memang benar, aku sudah jatuh cinta pada janda beranak satu itu, batin Heru senyam-senyum sendirian.
"Wuisss, kayaknya ada yang lagi seneng, nih?" goda Alex saat melihat sahabatnya mesam-mesem tak karuan.
"Hais, ngagetin aja kamu, Lex!" Heru cukup terkejut melihat Alex sudah berdiri di hadapannya.
__ADS_1
"Wajar lah, kaget. Orang Bos lagi ngelamun," timpal Alex.
"Apaan sih, Lex ... Bas bos-bas bos. Enggak enak banget didengernya. Ayolah, Lex ... aku, 'kan sudah bilang kalau di sini tuh enggak ada bawahan sama atasan, ngerti!" balas Heru penuh penekanan.
"Iya-iya," sahut Alex. "Lagi ngelamunin apa, sih? Kok, senyam-senyum sendiri?" Karena tak tahan membendung keingintahuannya, akhirnya Alex bertanya.
"Aku sudah ketemu Gintani, Lex. Dan syukurlah, Gintani mau mempekerjakan lagi Mina di rumahnya," jawab Heru.
"Mina?" ulang Alex menautkan kedua alisnya.
"Ya, Mina ... orang yang mengasuh Putri sejak bayi," jawab Heru.
"Oh ... baguslah," timpal Alex.
"Ya. Dengan begitu, aku bisa memantau kegiatan Gintani sehari-hari," lanjut Heru.
"Memantau apa memata-matai?" goda Alex.
"Ya elah ... apaaan sih, Lex," sangkal Heru.
Dulu, Argha sahabatnya. Sekarang Heru, bosnya. Hmm, besok-besok, entah siapa lagi yang bakalan membuat perasaanku tak nyaman, batin Alex tersenyum tipis melihat tawa bahagia Heru.
🍁🍁🍁
Tepat jam makan siang, Argha kembali ke apartemen. Sesuai dengan apa yang sudah dia janjikan kepada Miki, Argha pun datang untuk membawa Miki keluar. Ya meski cuma jalan-jakan ke supermarket untuk membeli kebutuhan dapur. Biasanya anak kecil, 'kan cukup antusias meski cuma berbelanja.
Argha membelokkan kendaraannya menuju tempat parkir. Sesaat kemudian, dia mematikan mesin mobil. Argha menatap wajah datar Miki yang nyaris tanpa ekspresi. Sama sekali tidak ada binar kesenangan dari pancaran mata berwarna kecoklatan.
"Ayo kita turun, Ki!" ajak Argha.
Tanpa menyahut, Miki membuka pintu mobil dan segera turun. Sejenak, dia menatap gedung supermarket yang hanya satu lantai, tapi begitu luas. Dia mengayunkan langkah kaki tatkala melihat Argha mendekatinya.
Huft!
__ADS_1
Lagi-lagi, Argha membuang napas dengan kasar. Gimana mungkin kita bisa akrab kalau dia menjaga jarak terus, keluh Argha dalam hatinya.
Argha melangkahkan kaki dengan ritme yang cukup cepat. Bocah itu, meskipun kakinya kecil, tapi langkahnya cukup lebar juga. Hingga dalam waktu lima menit, dia sudah memasuki pintu supermarket.
"Belilah apa pun yang kamu suka," ucap Argha seraya menyerahkan troli ke hadapan Miki.
Namun, lagi-lagi Miki menghindari keberadaan Argha. Dengan memasukkan tangan ke dalam saku kiri kanannya, Miki kembali melangkahkan kaki mengelilingi barisan produk yang berjejer rapi.
"Ya Tuhan ... berikan kesabaran yang tanpa batas pada hamba," gumam Argha seraya mendorong troli di hadapannya.
Argha mulai asyik berbelanja kebutuhan bahan makanan. Dalam sekejap, dia lupa jika dia tengah membawa seorang anak kecil. Saat argha menyadari Miki hilang, Argha mulai berkeliling untuk mencarinya.
"Astaga ... anak lo bener-bener bikin gua jantungan, Bram!" Argha mendengus kesal. Dia terus berlari ke sana kemari mencari keberadaan Miki.
Fix, Miki hilang! Sudah setengah jam Argha berkeliling mencari Miki. Namun, batang hidung anak itu sama sekali tidak terlihat. Akhirnya Argha memutuskan untuk pergi ke bagian informasi dan menginformasikan tentang hilangnya seorang anak berusia tujuh tahun.
"Permisi! Saya ingin melaporkan kejadian anak hi–"
Kalimat Argha tertahan saat melihat Miki berada di depan pintu supermarket. Pandangan matanya menatap lurus ke depan.
"Iya, kenapa Mas?" tanya wanita yang bertugas di bagian informasi.
"Tidak, Mbak. Tidak apa-apa," jawab Argha
Tanpa mengucapkan kata permisi, Argha meninggalkan bagian informasi. Dia berjalan lurus menghampiri Miki yang sedang asyik menatap segerombolan anak-anak berseragam. Sontak Argha terkejut melihat hal itu. Dia pun baru menyadari jika usia Miki sudah cukup matang untuk mengenyam bangku sekolah.
Argha mendekati Miki dan berdiri di sampingnya. Namun, anak itu tengah fokus memperhatikan siswa-siswi yang sedang bercanda di pelataran parkir supermarket, hingga tidak menyadari kehadiran Argha.
"Apa kau ingin sekolah?" tanya Argha.
Pertanyaan Argha sontak membuat Miki terkejut. Bocah itu mendengus kesal saat melihat Argha berdiri di sampingnya. Tanpa berkata, dia kembali mengayunkan langkah menuju mobil Argha yang terparkir di dekat segerombolan anak-anak berseragam itu.
"Miki, Tunggu!" teriak Argha.
__ADS_1
Namun, Miki tidak menggubris teriakan Argha. Dengan tegap, dia terus melangkah mendekati mobil sport berwarna hitam.
Argha menghela napas melihat kelakuan Miki. Setelah merasa yakin Miki menghampiri mobilnya, Argha pun kembali berbalik arah. Dengan langkah terburu-buru, dia mendorong troli yang tadi dia tinggalkan di dekat kasir. Argha membawa troli tersebut menuju kasir yg kosong. Tak lama kemudian, Mbak kasir mulai menghitung belanjaan Argha.