AKULAH HIDUPMU

AKULAH HIDUPMU
kesedihan dan kebahagiaan


__ADS_3

Suara tangisan Mama di tengah malam, membuatku terbangun, saat itu umurku mungkin sekitar 4 tahun, lalu entah yang kuingat tangisan mama itu dikarenakan adikku Heni yang berumur setahun waktu itu tiba tiba meninggal dan aku gak ingat bapakku kemana waktu itu, yang kuingat setelah itu aku dititipkan ke rumah nenekku di Bogor, berdua dengan kakakku Nita dan Mama membawa adikku yang paling kecil yang masih bayi balik ke Jakarta.


Kehidupanku dan kakaku dirumah nenekku tidak semanis yang kubayangkan, setiap hari aku suka mendapat cubitan, entah karena aku yang lama kalau disuruh atau karena memang mereka tidak suka kami berdua disana, bibiku atau adik adik mamaku bukan type bibi yang sabar dan menyayangi kami dengan tulus, padahal setiap bulan mamaku juga mengirimkan uang untuk biaya kami, dan bibiku secara diam diam menemui bapakku untuk meminta uang dengan alasan untuk kebutuhan aku dan kakakku selama tinggal di Bogor, aku tau itu dari mamaku saat sudah besar, Sering kami berdua untuk makan saja dijatahin tidak boleh banyak banyak, sorot mata bibi bibiku yanf tajam saat makan membuat kami berdua takut bila masih ingin nambah makan jadinya kami urungkan niat mengambil nasi atau lauk lagi. Jadi memoriku tentang bibi bibiku itu tidaklah menyenangkan tapi aku dan kakakku tidak membenci mereka.


Walau mereka memang terkesan tidak menyayangi kami berdua sepenuhnya, aku dan kakakku tidak terlalu memikirkannya, karena masih ada kakekku yang sangat menyayangi kami berdua , karena beliau kerja jadi tidak mengetahui perilaku perilaku bibi bibiku pada kami berdua, kadang nenekku juga hanya diam saja saat aku mendapat perlakuan tidak semestinya.


Dan setelah hampir setahun tinggal dengan nenekku, Mamaku membawa kami berdua ke Jakarta lagi, setelah aku ceritakan tentang perilaku bibi bibiku.


Dan ternyata Mamaku sudah menikah lagi dan yang kutahu duda beranak 3 dan anak anaknya sepantaran dengan kami juga, namun dibawa oleh Ibu mereka ke Bandung.


Yang ku ingat Bapak sambungku itu sangatlah baik pada kami malah, yang kuingat figur seorang bapak justru dari bapak sambungku itu bukan bapakku sendiri entah menghilang kemana.


Setahun kemudian lahirlah adikku dari bapak sambungku itu, seorang bayi perempuan yang mungil waktu itu, kebahagian itu sepertinya bertambah tapi selang sebulan setelah adikku lahir bapak sambungku mengalami kecelakaan dan meninggal beberapa hari kemudian.


Samar samar ku hanya mengingat sebagian masa kecilku, tapi yang kuingat dengan jelas adalah Mamaku yang mengurus kami berempat, menghidupi kami dengan berdagang lontong sayur dan gorengan setiap pagi dipinggir jalan, untuk sekedar menyambung hidup anak anaknya tidak kekurangan makanan.


Dan setelah aku SMP, mamaku tidak berdagang lagi tapi bekerja di salah aatu salon kecantikkan di Mall ternama di kotaku dan kehidupan ekonomi keluargaku lebih baik.


Ditambah kirimin uang dari Bapakku yang ikut meringankan biaya hidup kami. Saat Aku SMP baru semua terjawab sudah, saat berpisah dengan Mamaku, Bapakku sudah memiliki Istri dan Anak anak yang pasti umurnya jauh diatasku, ada yang seumuran denganku itupun yang paling bungsu kata mamaku, jadi bapakku memiliki anak 5 dari istri pertama dan 3 dari istri kedua yaitu mamaku. Jadi sebenarnya Bapakku bukan menghilang sepertinya tapi memang mamaku yang ingin berpisah karena tidak sanggup berpoligami, ditambah meninggalnya adikku buat mamaku shock dan kecewa saat dia membutuhkan bapakku saat itu tapi tidak bisa karena sibuk, mungkin bila bapakku bisa cepat cepat bawa Heni adikku kerumah sakit saat itu akan tertolong nyawanya. itulah salah satu alasan kuat mamaku minta berpisah.

__ADS_1


tiga tahun kemudian..


Saat lulus SMP aku menyetujui keinginan mamaku untuk meneruskan sekolah dikejuruan agar lulus bisa menjadi tenaga keahlian atau bekerja, walau sebenarnya keinginan terbesarku ingin menjadi Insinyur pertanian.


Tak terasa Aku sudah naik kelas 2 SMK dimana diwajibkan untuk PKL ( praktek kerja lapanfan) dan disitulah awal kehidupan sebenarnya Aku dimulai dengan berbagai konflik dalam hidupku dimulai.


“Hania…, Hania… bangun sayang... sudah Adzan Subuh tuh...”


Terdengar lembut suara mama sambil mengusap pipiku membangunkan aku dari tidurku.


Hari ini hari pertama magang untuk Hania. Ia harus bangun lebih pagi dikarenakan jarak tempatnya magang cukup jauh dari tempat tinggalnya.


Hari masih gelap, Adzan Subuh baru saja selesai berkumandang. Mama Hania selalu bangun lebih awal dari keempat anaknya yang semuanya wanita. Mama Hania adalah sosok Single Parent yang lembut namun pekerja keras yang tidak pernah menyerah pada keadaan.


Mama Hania sudah menyiapkan bekal untuk makan siang Hania di tempatnya magang. Nasi putih, tumisan kacang panjang dan tempe goreng. Sederhana, tapi itulah makanan kesukaan Hania.


Hari pertama magang, Hania dan ketiga temannya diperkenalkan oleh manager perusahan untuk mengelilingi ruang produksi perusahan tempatnya magang, dan sesuai dengan surat ketetapan dari sekolah, ia akan magang di peruahaan yang bergerak di bidang percetakan itu selama 3 bulan.


Hari pertama kita ditempatkan dibagian pracetak, selama 2 minggu kita berempat terjun langsung mengerjakan oder perusahaan tempat Hania magang dibantu oleh karyawan disana.

__ADS_1


Dan awal mulai disitulah Randy nama cowok dibagian itu yang mengajari kami, Hania tadinya tidak selintas apapun akan ketertarikan karena fokusnya untuk mengenal sistim kerja dipracetak, namun dikarenakan Anna temanku yang antusias baru pertama kali ketemu Randy langsung menyukainya. tadinya aku tidak terlalu memperhatikan siapapun yang mengajari, namun semenjak anna bilang Randy itu cakep, Aku jadi penasaran dan ikut memperhatikan Randy dengan rasa ingin tahu, dan memang ternyata Randy cowok satu satunya yang masih single diruangan itu dan memang aku juga sependapat dengam Ana kalau Randy lumayan cakep, badan tinggi, kulit kuning langsat, hidup mancung dan bibir tipis, tapi semua Aku buang jauh2 rasa ketertarikan itu dikarenakan menghargai Anna, karena Anna sudah duluan menyukai Randy, tidak ada kata bosannya menceritakan tentang Randy, kadang sampe panas kuping denger celotehnya.


Dan hari berganti selama seminggu Randy begitu sabar mengajari kita berempat, sampai suatu ketika dalam satu ruangan Aku mengalami situasi hanya berdua Randy, dan tiba tiba Randy menanyakan alamat rumah, dan menjurus ke hal pribadi mengenai punya pacar atau tidak.


"Hania, maaf apakah kamu sudah punya cowok"? tanya Randy pada Hania.


Dan Aku agak sedikit gugup untuk menjawab, sebenarnya kalau diruangan itu pencahayaannya terang, bakalan teelihat mukaku yang merona karena tersipu malu.


"Eh, ditanya malah diem aja, "tanya Randy untuk kedua kalinya.


"ehm, aku belum punya pacar ka, "jawabku."kenapa ka emangnya?" tanyaku agak sedikit gugup dan rasa penasaran menyelidik.


Dan Aku lihat respon Randy hanya tersenyum, sepertinya terlihat samar samar diraut mukanya ada perasaan lega dan senang. duh kenapa jantungky merasa ingin copot liat senyumnya ka Randy, kalau tidak ingat Anna menyukainya, udah Hania cerocos dengan pertanyaan pertanyaan tentang Ka Randy juga.


Tanpa disadari Aku juga menyukai ka Randy dikarenakan selama mengajar bawaannya sabar dan senyumnya itu bikin cewek cewek klepek klepek liatnya. tapi Aku berusaha bersikap biasa aja, jinak jinak merpatilah lagipula pede banget ka Randy menyukainya, soalnya belum pernah sampe umur 17 tahun gini ada yang menyatakan cinta...haduh jomblo yang terlama kayanya. hatiku seakan akan ikut meratapi.


"eh, malah bengong," suara ka Randy mengangetkan Aku, dan secepatnya tanpa berkata Aku bergegas ingin meninggalkan ruangan itu namun ka Randy mencegahnya hampir tangannya berusaha menahan gerakan tubuhku, tapi secepatnya Aku mundur beberapa langkah,


"sebentar hania, boleh gak sabtu depan aku main kerumah kamu?" jelebeb, mataku hampir melotot karena shock dan gak percaya, Ka Randy menanyakan itu.

__ADS_1


"tolong tolong cubit pipiku ini," jeritku dalam hati.


Dan entah keberanian dari mana Aku hanya mengangguk, dan berlalu meninggalkan ka Randy yang tersenyum puas.


__ADS_2