
Semenjak pertemuan malam itu sama Deby, setiap ada kesempatan di kampus Angga selalu menyempatkan cerita kebersamaan mereka.
Tadinya Hania ikut senang beberapa bulan ini perkembangan Angga dan Deby ada kemajuan karena sudah antar jemput pulang kerja walau tidak sesering orang pacaran katena mereka baru pendekatan.
Tapi hari itu Deby cerita kalau Ayahnya menjodohkan dia dengan anak temen Ayahnya yang umurnya terpaut jauh dari Deby tapi memang sudah mapan.
Hania menjadi ikut prihatin saingan Angga cukup berat, apalagi Deby sepertinya tidak sepenuh hati menjalanin pendekatan dengan Angga, Hania menjadi bingung menjelaskan pada Angga perihal perjodohan itu, Hania berharap Angga nanti mengerti dan lebih baik menjauhkan diri dari Deby sebelum perasaannya terlalu dalam.
sepulangnya Rido pelatihan sebulan lalu, Rido sedikit berubah dia sepertinya banyak menghabiskan waktu di menwa dan waktu dengan Hania untuk ketemu pun gak lama, kadang Hania menghabiskan waktu diruang senat dengerin curhatan Angga tentang Deby yang teman Hania itu, dan sepertinya Hania cukup lega Angga sudah mengetahui perjodohan itu dan mau menerima keadaannya dan tidak terlalu berharap terlalu jauh dengan Deby.
selepas Istirahat jam pertama kuliah, Hania mengurungkan niatnya untuk keluar ruang kuliah karena masih fokus merapihkan catatan penjelasan dosen tadi, dan perutnyanya jg tidak lapar lapar banget, terdengar sunyi didalam ruangan hanya kadang masih terdengar suara langkah kaki yang lorong lorong ruangan.
__ADS_1
karena posisi Hania tidak terlalu jauh dengan pintu ruangan, terdengar suara cowok yang Hania kenal sedang mengobrol, makin kesini makin terdengar jelas, dan samar samar suaranya hanya ngobrol sendiri tidak terdengar lawan bicara, sepertinya sedang terima telepon, pikir Hania dalam hati.
"iya, ini aku lagi mau istirahat, kamu sendiri lagi ngapain, San?" suara cowok yang Hania kenal sedang ngobrol ditelepon.
" Sama aku juga jadi inget kamu terus, tapi kalau telepon nanti malam aja, jam 9 nan aku dah sampe rumah, gak enak kalau sekatang gak bisa lama, ucap cowok itu lagi dengan mesra.
Hania makin tidak sabar ingin segera keluar ruangan dan membuka pintu ingin memastikan apakah cowok yang Hania pikirkan itu memang dia.
Riiido, kamu sedang telepon siapa?, tanya Hania sedikit terbata bata dan raut muka mulai menahan rasa amarah.
" Hania, kamu sejak kapan didalam, aku pikir kamu sedang diruang senat, aku baru mau kesana dan tiba tiba aku terima telepon dari teman pelatihan kemarin, jawab Rido sedikit agak gugup.
__ADS_1
" Owh,temen, ucap Hania, " kenapa kamu gak pernah cerita, ?" tanya Hania menyelidik.
" Ini baru mau cerita sama kamu, eh dianta telepon ya udah kebetulan deh, " ucap Rido santai.
Sebenarnya Hania belum benar benar mempercayai alasan Rido yang barusan Rido utarakan, tapi Hania juga tidak ada bukti untuk meragukan Rido, tapi pembicaraan ditelepon tadi masih terngiang nfiang di ingatan Hania,..mungkinkah mereka hanya berteman atau ada sesuatu yang Hania tidak tahu ucap Hania dalam hati.
" kita ke mushola yuk, kamu pasti belum sholat magrib 20 menit lagi jam 2 dimulai." ajak Rido sengaja mengalihkan pembicaraan.
Hania hanya mengangguk walau hatinya dipenuhi piliean pikuran yang tidak pernah terlintas sebelumnya, Hania menyadari, siapalah aku hanya teman dekat bukan istrinya.
Dan Hania bergegas kedalam ruangan sebentar mengambil tasnya, hanya peralatan tulis dan bukunya yang masih tergeletak diatas meja, karena dirapihkanpun juga percuma jam kuliah akan dimulai lagi sekitar 20 menitan lagi.
__ADS_1
Dan Rido masih menunggu Hania didepan pintu ruangan, dan mereka berjalan menuju mushola area kampus.