AKULAH HIDUPMU

AKULAH HIDUPMU
Ruang Senat


__ADS_3

Sejak Rido mengungkapkan perasaannya waktu malam itu, hari hari Hania menjadi berwarna lagi, Rido yang lebih mensuport kegiatan Hania, apalagi kegiatan Hania yang padat tetapi tidak jadi suatu masalah buat hubungan mereka.


Hampir sebagian penghuni kampus tau hubungan Hania dan Rido, juga Angga, apalagi tiga cewek temen dekat Hania kalau bukan Ema, Citra dan Rani.


Rido memang cowok yang perhatian hampir setiap hari dia bawa buah kesukaan Hania yaitu kelengkeng, didalam tasnya, lucu dan romantis menurut Hania.


Disaat jam kuliah tetap aja kadang Rido suka bolos atau telat mengikuti mata kuliah, dan sering pinjem catatan Hania, waktunya dikampus lebih banyak dihabiskan di menwa yang meripakan salah satu organisasi dikampus yang dididik secara militer( setiap organisasi ada ruang khusus) dan Rido sering dihabiskan diruang menwa begitu juga Ema tak lama Rido bergabung, ikut bergabunh juga.


Semenjak mereka ikut menwa, Hania lebih banyak menghabiskan waktu istirahat kadang ngobrol dengan Rani atau Citra, dan kadang Angga sering minta bantuin untuk kegiatan senat.


Seperti sore itu saat jam istirahat mata kuliah pertama, Hania nendengar suara Angga memanggil manggilnya.


" Hania, Hania, " suara Angga terdengar Hania dari arah ruangan senat. dan Hania pun mau gak menoleh ke belakang, padahal perutnya udah teriak teriak minta diisi.


Terlihat Angga melambaikan tangannya ke arah Hania. dan Hania dengan langkah berat mendekati Angga, " urusannya kalau Angga udah minta tolong pasti lama, "ucap Hania dalam hati.

__ADS_1


Sorry, Hania, lagi sibuk gak, ? (sambil kepalanya ditengokin kanan kiri, seperti mencari sesuatu) ngomong ngomong si Rido mana, kok gak bareng kamu, Han," tanya Angga sedikit heran.


" Lagi di menwa dia, mau menyiapin berkas berkas, khan awal bulan depan Rido mau pendidikan selama sebulan perwakilan dari kampus, kamu lupa emangnya," ucap Hania serius.


Owh iya ya, Rido kemarin udah ijin yah gak bisa bantu bantu disenat, maaf aku lupa, saking banyak yang dipikirin." ucap Angga sambil tangannya garuk garuk kepala, padahal gak ada yang gatal, reflek yang sering banget Hania liat kalau orang lagi keabisan kata kata.


" Ya udah kamu ngapain manggil aku kesini, gak tau apa aku dah lapar nih, " ucap Hania sambil memegang perutnya diarahkan ke Angga.


Eh iya, Aku minta buatin draft kegiatan apa aja dikampus yang kamu tau, terus aku minta tolong kamu cari info disetiap organisasi kampus kita acara apa aja yang bulan ini mereka akan adakan, buat bahan isi buletin, tolong yah, biasanya kalau sama cewek mereka lebih open, ucap Angga sedikit nada merayu.


" iya nanti aku cari infonya, tapi jangan sendirian donk, aku ngajak Rani yah, Ga," ucap Hania berharap.


" owh iya Hania, nih buat kamu satu bungkus ambil gih jatah pengurus buat makan sore, terserah mau makan disini atau tetep mau dikantin, tapi jangan bilang dari aku gak enak cuma ada 4 bungkus, ini sisa 2 buat kamu sama Aku, tadi 2 bungkusnya udah diambil Erwin sm Citra."ucap Angga, sambil.menyodorkan satu nasi bungkus ke Hania.


" Nah gitu donk, baru aku semangat, jadi uang saku aku utuh, lumayan buat besok khan. "ucap Hania tersenyum senyum

__ADS_1


" ini kebetulan ada donatur minta masukin iklan di buletin kampus," kata Angga sembari membuka nasi bungkusnya.


" ya udah, aku makan disini juga deh, mumpung sepi juga, kalau makan dikantin malah gak enak, ucap Hania sambil mendudukan tubuhnya di barisan meja yang tertata diruang senat, jarak Angga dan Hania duduk hanya terhalang satu bangku.


Disela makan, Angga menanyakan salah satu teman Hania yang pernah tidak sengaja Angga liat (waktu Angga mampir ke kantor Hania kasih materi buletin, yang harus Hania ketik, karena disini sekertaris merangkap jadi juru ketik buletin juga, jadi disela jam istirahat Hania dikantor, diselingi dengan mengetik bahan buletin, ini dikerjakan bagi dua dengan Rani, tugas Angga untuk membaginya).


" owh, Deby bukan Ga," ucap Hania sambil tetap mengunyah disela sela makanannya.


" Iya mungkin, yang punya lesung pipit, badannya tinggi semampai, dan rambut segi lurus itu, waktu aku pertama kali datang kekantor kamu ketemu dia pas banget lagi didepan, anaknya juga ramah, gak judes kebanyakan kalau cewek cakep," ucap Angga dengan mudahnya berseloroh bercerita.


" iya itu Debi, kenapa emangnya, ucap Hania sesekali menengok ke arah angga yang serius menyatap makannanya.


" he..he..salamin yah, kamu ngerti donk Hania, maksud aku, ucapAngga sedikit dengan muka cengengesan.


" siaap, nanti aku sampaiin, kalau perlu aku combalngin ntar, ucap Hania dengan seriusnya.

__ADS_1


" Nah itu Aku suka, ucap Angga dengan berbinar binar wajahnya.


Hania hanya mengeleng geleng kepala liat tingkah Angga yang mulai jatuh cinta.


__ADS_2