
Walau hati Hania masih terasa sedih, Hania tetap berusaha semangat karena semua memang sudah Hania bayangkan seperti ini akan terjadi.
Hari ini seperti biasa, Hania ke kampus untuk kuliah, dan terlihat beberapa mahasisa masih duduk duduk diarea sekitar kampus, sepertinya hari ini Hania datang lebih cepat, biasa tidak seramai ini.
Hania melangkah menaiki tangga menuju ruang kuliah, kebetulan ruangnya ada dilantai 2, saat hampir sampai ruang kelas seseorang ikut mendekat dan ternyata Rido tanpa Hania sadari sudah ada disebelah Hania.
" hai, Hania tumben udah datang, biasanya telat mulu, " ucap Rido sekenanya.
Dan Hania hanya tersenyum, sambil berjalan memasuki ruang kuliah, dan Rido mengikuti dari belakang, dan ikut duduk disebelah Hania.
" Hania, kemarin kamu yah yang kasih nomor aku sama Angga, makasih yah, untung Angga kepikiran nanya kamu kalau enggak aku bingung hubungi Angga, aku lupa nanya nomor handphonenya
" iya, bawel sama sama" ucap Hania sambil mengeluarkan peralatan tulisnya, karena dari tadi Rido nyerocos terus gak ada jeda sedikitpun buat Hania ngomong.
__ADS_1
" iya,deh emang aku bawel, abis kamu kalau ditanya cuma senyum senyum aja, owh iya, Han, nanti makan bareng lagi yuk dikantin, aku traktir deh, ucap Rido dengan santainya.
" Nah, kalau itu aku setuju, he..he, "ujar Hania sambil terkekeh.
Tak lama, Dosen memulai mata kuliah hari ini, dan Hania dengan serius mengikutinya, sesekali Rido mengusiknya dengan memberikan secarik kertas pada Hania untuk dibaca, dan Hania mengerutkan alis matanya dan melirik kearah Rido dan menggeleng geleng kepalanya.
Dan Rido hanya tersenyum senyum penuh arti.
Selang 120 menit berlalu, tanda mata kuliah telah selesai, jam menujukkan pukul 5.50 sore, dan Hania merapihkan peralatan tulisnya begitu juga Rido disebelahnya.
Dan mereka pun akhirnya berjalan beriringan menuju kantin, sesekali bertegur sapa dengan temen satu angkatan yang berpapasan dengan mereka.
Ceplas ceplos Rido, kadang buat Hania tertawa, setidaknya Hania bisa melupakan masalah dengan ka Randy yang belum bisa hilang dari pikirannya, karena bagaimanapun Hania harus move on, dan membuka lembaran baru walau belum terbesit untuk mencari pengganti ka Randy, mungkin semua butuh proses.
__ADS_1
" Han, ya ampun nih cewek yak, aku ada ampe pegel ngomong, eh dia malah ngelamun, mikirin apaan sich Han, mikirin pertanyaan aku tadi yah, "ucap Rido asal bunyi.
ih, enak aja geer banget kamu, lagian ngapain sich kamu iseng banget nanya nanya aku ada yang disuka gak dikampus ini, aku tuh kuliah tujuannya untuk belajar bukan cari cowok, " jawab Hania sambil bibirnya mengkerucut kearah Rido.
"Biasa aja kali, Han, he..he..khan kali aja gitu, aku khan takut jadi penghalang," ucap Rido terkekeh.
Kamu mah bukan penghalang cowok yang mau deketin aku atau sebaliknya tapi penghalang kosentrasi aku kalau lagi dengerin penjelsan dosen, " ucap Hania dengan mimik santai.
"Iya,iya apa maaf, aku tuh emang gak bisa kalau nggak ngobrol, kalau terlalu serius aku cepet bosen," ujar Rido dengan mimik cemberut.
"Gak usah serius juga kali, he..he, aku khan becanda,Do" ucap Hania sambil tersenyum.
"Aku seneng kok ada temen baru yang cerewet kaya kamu jadi gak sepi, gak usah baperan, kaya cewek aja, aku aja yang cewek gak baperan kaya kamu." ucap Hania terkekeh kekeh.
__ADS_1
Tak terasa mereka sudah sampai kantin dan seperti biasa menu andalan kami berdua itu mie ayam pangsit dan es teh manis, menjadi menu sesuai dompet, he.he..gak enak untuk Hania minta traktir yang mahal mahal karena Hania tau Rido belum bekerja.