
Sabtu ini pas satu minggu waktu yang diberikan ka Randy kepada Hania, menerima lamarannya atau atau tidak yang berarti memutuskan hubungan ini secara baik baik.
Hania dengan malasnya beranjak dari tempat tidur, yang biasanya dia semangat beraktifitas apalagi ini hari libur, walau harus menghadapi setumpuk baju kotor yang hampir seminggu memenuhi keranjang baju, belum kamarnya yang berdebu, seprai yang harus diganti, kasur yang harus dijemur..rasa malasnya membuat Hania baru beranjak dari tempat tidur, setidaknya sudah hampir 3 jam Hania berleha leha dikamar harusnya semua pekerjaan ini sudah selesai.
Saat Hania menuju dapur dilihatnya bunda sedang sibuk memasak makanan untuk Hania dan adik adiknya, karena semenjak ka Nita tinggal diJogja diboyong suaminya setahun yang lalu, semenjak menikah, jadi bunda yang menggantikan memasak hari biasa maupun hari libur, entah kenapa Hania sama sekali tidak ditugaskan untuk memasak, mungkin karena masakaan Hania masih kurang enak..he..he..tapi Hania malah senang.
Bunda memang memanjakan anak anaknya, tidak dipaksakan mengerjakan pekerjaan rumah selama beliau bisa kerjakan, bunda tifak akan minta tolong anak anaknya. " Bunda, masak apa, tanya hania sambil merangkul pundak bunda sampai bundanya kaget dan hampir teriak,
" aduh, Hania, kamu ini ngagetin aja, ucap Bunda berkata dengan halusnya.
__ADS_1
" he..he.. maaf Bunda, Hania tidak sengaja, Hania pikir bunda udah tau Hania datang," ucap Hania sambil berjalan ke meja makan dan duduk sambil memperhatikan Bunda masak, dan dilihat dimeja makan baru ada bakwan jagung kesukaan Hania.
Hania melirik bundanya yang masih sibuk goreng ikan,..
"Bun, Hania minta yah bakwan jagungnya, laper nih, ujar Hania merengek manja.
" kamu tuh kebiasaan, Bunda belum selesai masak udah diicip icip awas yah nanti habis, jangan sampe adikk adik kamu gak kebagian ntar, ujar bunda sambil tak lepas pandanganya ke ikan yang sedang digoreng.
" ehm, enak banget bakwan jagung ini, apalagi pas ketemu jagung yang rada garing tambah enak banget, tak terasa abis 4 potong Hania memakannya, dan dia hitung masih ada 8 potong, Hania cukup lega tidak menghabiskan semua.
__ADS_1
Tak lama Hania bersendawa tanda perutnya kenyang terisi bakwan dan juga segelas teh manis hangat yang tadi Hania sempat buat.
"Owh ya Bunda nanti siang mungkin ka Randy akan datang,dan keputusan Hania sudah Hania bicarakan dengan ka randy melalui telp dan Hania tetap sama pendirian, Hania menolak halus lamaran ka Randy, dan ..(sejenak Hania terdiam dan menunduk ) walau Hania akan merasa berbeda situasinya tapi Hania menerima dengan ikhlas, semoga ka Randy juga bisa menerima dengan iklas dan Hania yakin kalau jodoh gak kemana yah bund, "ucap Hania pelan.
" iya, Bunda hanya bisa mendukung kamu Hania, Bunda tidak bsia memaksa, walau Bunda yakin Randy itu anak yang baik, bertanggunga jawab dan yang pasti sayang sama anak Bunda, dengan dia melamar kamu itu menunjukan bahwa dia serius sama kamu, semoga kamu berjodoh suatu saat nanti. "ucap Bunda sambil mengelus puncuk kepala Hania dan kembali untuk memasak.
Dan Hania pun beranjak ke kamarnya mengambil cucian kotor dan mulai mengerjakan pekerjaan rumahnya, terngiang ngiang di kepalanya, ucapan ka Randy yang akan memperjelas apa yang dikatakan Hania lewat telepon kemarin dan berniat mengambil barang barang yang tertinggal dirumah Hania untuk dibawa pulang olehnya.
Hania hanya mengambil nafas berat mengjngat ngingat semua perkataan itu, begitu terasa menyakitkan, sebegitu baik dan lembutnya tingkah lakunya selama ini saat hubungan ini berakhir, ka Randy bersikap Hania seolah olah orang lain bukan seseorang yang pernah dekat dengannya, sebegitu berubahkah pikiran manusia.
__ADS_1
Tetapi Hania juga memahami bahwa manusia tidak ada yang sempurna dan kesempurnaan hanya milik Allah. Dan lamunannya terus saja mengikutin kemanapun Hania pergi, tapi tetap semangat Hania dengan cepat cepat menyelesaikan pekerjaan rumahnya karena kemungkinan sejam lagi ka Randy akan datang mengambil batang barangnya, atau mungkin pemberiannya akan diminta lagikah? Hania hanya menarik nafas berat untuk kesekia kali, tetapi semua sudah merupakan keputusan yang Hania buat dan Hania harus berlapang dada untuk menerima konsekuensinya.